Angkot berjalan dengan diisi beberapa pekerja kantor sepertinya. Hanya aku yang menggunakan seragam sekolah, karena saat ini sudah bukan jam anak sekolah berkeliaran. Jam 8 kurang 10 menit saat ini, dan kami akan sampai disekolah sekitar pukul 8 lebih 5 menit, karena jalan yang tidak begitu macet.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, jantungku mulai berdegub kencang, mungkin karena aku akan meninggalkan sekolah ini. Ada rasa yang tak nyaman kurasakan.
“Pagi pak Amir” aku menyapa pak Amir yang terkejut melihat kedatanganku dan ibu.
“Pagi non, lho kok datang sama ibu non?” Tanya pak Amir heran, seraya membuka gerbang sekolah sedikit. Karena jika jam pelajaran sudah dimulai, maka gerbang akan langsung dikunci.
“Pagi pak” sapa ibu pada pak Amir.
“Pagi bu”
“Ibu kepala sekolah ada ya pak?” Tanya ibu pada pak Amir.
“Ada bu, monggo saya antar.” Setelah menutup gerbang kembali, pak Amir mengantarkan aku dan ibu ke ruang guru, dan meninggalkan kami disana, setelah terlebih dahulu memberitahu pada guru BK kalau ibu ingin bertemu dengan kepala sekolah.
Ibu berbincang-bincang dengan kepala sekolah, sedangkan aku hanya tertunduk seperti seorang anak yang sedang dimarahi.
“Dimana pun kamu bersekolah, tetap pertahankan prestasimu Manda. Ibu tahu kamu anak yang cerdas. Dan ingat, jangan terpengaruh pergaulan bebas, ada ibumu yang harus kamu jaga.” Ibu kepala sekolah menasehatiku.
“Iya bu, akan selalu Manda ingat pesan ibu.”
“Kamu ingin berpamitan dulu sama teman-temanmu?” Aku jawab dengan anggukan.
Bu Ani adalah nama kepala sekolah ku. Beliau kepala sekolah yang sangat baik padaku. Anaknya adalah salah 1 sahabatku di kelas, dari saat aku masih SMP sampai SMA ini, kami selalu sekelas.
Bu Ani beranjak dari kursinya dan memanggil bu Lita. “Bu Lita tolong panggilkan bu Widi sebentar ya.” Bu Ani memanggil bu Widi selaku wali kelasku.
Tak berapa lama bu Widi sudah mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
“Masuk bu Widi.” Bu Ani mempersilahkan bu Widi untuk masuk dan duduk bersama kami.
“Bu Widi, Manda ingin berpamitan. Manda akan pindah ke Jakarta besok dengan ibunya.” Bu Ani menjelaskan pada bu Widi mengapa aku tidak masuk pelajaran hari ini.
“Lho ini kan belum waktunya kenaikan kelas bu, gak sayang bu? Apa gak nunggu sekalian kenaikan kelas, kan kurang 3 bulan lagi.” Bu Widi berusaha mencegah kepindahanku.
“Kalau boleh memilih saya akan lebih senang Manda disini bu, tidak perlu pindah sekolah yang jauh. Tapi saya tidak mungkin meninggalkan Manda sendirian, sedangkan saya harus bekerja di Jakarta.” Ibu menjelaskan alasanku harus pindah.
“Bu Widi, tolong antarkan Manda berpamitan dengan teman-temannya dikelas.” Bu Ani menengahi pembicaraan ibu dan bu Widi.
“Baik bu. Ayo Manda” bu Widi mengajakku dan aku jawab dengan anggukan.
Kami berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke kelas. “Kamu keberatan pindah sekolah ya Manda?” Aku terkejut dengan pertanyaan bu Widi.
“Ibu tau dari mana?” Aku balik bertanya, bukannya malah menjawab pertanyaan bu Widi.
“Raut wajahmu yang mengatakan pada ibu.” Oh ternyata raut wajahku sudah mejelaskan.
“Mungkin karena akan berpisah dengan teman-teman bu, jadi perasaan saya gak enak.” Aku menjelaskan pada bu Widi saat kami sudah tiba didepan pintu kelasku.
“Woy Manda, tumben dateng telat? Gaya ih pakai minta dijemput sama bu Widi lagi.” Teriak Adit, temanku yang sangat usil, tapi paling baik hati suka traktir temen-temen kalau pas jam istirahat.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum saja, sedangkan teman-teman yang lain sudah tertawa dengan celoteh Adit.
“Anak-anak diam dulu ya, ada yang mau Manda sampaikan ke kalian.” Bu Widi berusaha untuk menenangkan suasana kelas, yang seketika menjadi sunyi, karena teman-teman sepertinya mengerti ada sesuatu yang penting harus aku bicarakan.
“Hai teman-teman” aku berusaha berbicara setenang mungkin, walaupun suaraku terdengar bergetar menahan air mata. “Maaf ya kalau Manda ada salah sama kalian, sengaja atau gak sengaja, Manda minta maaf..”
“Belum lebaran tau, ngapain maaf-maafan gak lucu.” Adit menyela ucapanku, aku tahu Adit gak suka dengan ucapan permintaan maaf ku, karena dia seperti memahami akan ada hal besar yang akan aku ucapkan.
“Adit, dengarkan apa yag mau Manda ucapkan dulu.” Bu Widi menegur Adit, dan Adit membuang wajahnya dari pandanganku.
“Maaf kalau selama jadi teman kalian Manda ada salah, mungkin bikin kalian jengkel. Manda mau pamit, karena hari ini Manda terakhir ke sekolah ini, besok manda berangkat ke Jakarta, Manda pindah kesana ikut ibu.” Air mataku sudah tak mampu ku bendung, menetes tanpa permisi.
Adit memukul meja kemudian berdiri, lewat didepanku, “Gak lucu Manda.” Kata-kata Adit menunjukkan kemarahannya, dia berlalu pergi meninggalkan kelas dengan kemarahan. Adit adalah temanku dari sekolah dasar hingga SMA ini.
Astrid berlari menghampiriku dan memelukku, disusul dengan teman-temanku yang lain. Mereka ikut menangis denganku. Astrid adalah sahabatku yang paling dekat, sama seperti Adit. Astrid adalah anak bu Ani kepala sekolahku.
Entah berapa lama aku dan teman-teman berpelukan dan saling menangis.
“Sudah yuk, jangan bersedih terus kan masih ada HP yang bisa buat kalian bertukar kabar, masih ada sosmed juga. Bahkan kalau liburan kalian masih bisa ketemu.” Bu Widi berusaha menghentikan suasana yang bertabur tangis ini.
“Iya teman-teman benar kata bu Widi, kita masih bisa berhubungan melalui HP, atau jika liburan kalian bisa main ke Jakarta, atau Manda bisa main ke Malang jika ada rejeki.”aku berusaha tegar, karena aku tak ingin teman-temanku terlarut dalam kesedihan.
“Ayo suda lepasin Manda, kasihan itu nanti jadi sesak nafas dia.” Dan teman-teman pun berhamburan kembali ke bangku mereka masing-masing, hanya Astrid yang masih setia memelukku.
“Bu, boleh Manda berbincang dengan Astrid didepan sebentar?” Aku meminta ijin pada bu Widi untuk mengajak Astrid berbicara ber2 didepan kelas.
“Boleh, silahkan Manda. Tapi jangan terlalu lama ya, nanti Astrid tertinggal pelajarannya.” Bu Widi mengijinkan kami untuk berbincang didepan kelas.
“Baik bu, terima kasih.” Aku membawa Astrid untuk kluar kelas dan duduk di tempat duduk panjang yang ada didepan kelas kami.
“Kamu kok jahat banget sih Man? Kenapa gak bilang dulu sama aku kalau mau pindah?” Astrid cemberut padaku.
“Maaf As, Manda baru di beri tahu ibu tadi malam. Manda juga kaget dengan keputusan ibu, tapi Manda gak bisa apa-apa. Kamu tahu sendiri, cuma ibu yang Manda punya sekarang.”
“Tapi kenapa mendadak banget sih Man?” Astrid masih tidak terima dengan kepindahanku.
“Karena ibu sudah diterima kerja As, dan ibu senin harus sudah mulai masuk. Besok Manda berangkat ke Jakarta, jadi ibu masih punya waktu 1 hari untuk mempelajari jalan menuju ke kantornya dari tempat tinggal kami.” Aku masih berusaha menjelaskan pada Astrid.
“Adit sampai marah banget itu sama kamu.” Aku tahu Adit pasti kaget dengan kabar mendadak ini, sama seperti Astrid yang merasa terkejut.
“Iya Manda tahu, nanti biar Manda bicara sama Adit. Maafin Manda ya As.” Aku menggenggam tangan Astrid dan menangis.
“Jangan nangis kalau masih mau jadi sahabatku.” Aku langsung mengusap air mataku dan menggangguk cepat.
“Iya Manda gak nangis lagi.”
“Ya udah sana cari Adit dulu, paling dia sembunyi di gudang alat olahraga.”
“Iya, Manda cari Adit dulu ya As.” Astrid mengangguk dan berdiri berjalan menuju pintu kelas.
“Nanti sore aku kerumahmu, kalau Adit mau nanti aku ajak sekalian.” Sebelum masuk kelas Astrid mengatakannya padaku.
“Okey siap.” Aku mengangkat tanganku seperti sedang hormat pada Astrid.
Bersambung..