Part 3

1230 Words
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dan melewati lapangan basket yang biasa digunakan untuk pelajaran olah raga murid-murid. Gudang penyimpanan bersebelahan dengan lapangan olah raga. Awalnya aku hanya mengintip untuk memastikan Adit ada disana. Benar saja, aku melihat Adit memunggungi jendela, dan dia sedang mengisap rokoknya. Aku membuka pintu perlahan, dan Adit menoleh ke arah pintu. “Ngapain kamu kesini? Pergi sana yang jauh.” Adit sangat marah padaku. “Dit, maafin Manda.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan didepan pintu yang sudah aku tutup. “Maaf? Aku kira kita sahabat, ternyata kamu gak anggap aku.” “Maaf Dit, Manda juga baru dikasih tau ibu semalam, bahkan rumah sudah ibu jual tapi Manda baru tahu semuanya tadi malam Dit. Manda juga gak mau pindah kalau Manda dikasih pilihan. Tapi Manda gak dikasih pilihan sama ibu.” Aku menunduk dan menangis, Adit adalah sahabatku, dia lah yang selalu membuat aku tertawa ketika ayahku sakit, dan meninggal. “Maafin Manda Dit. Tapi kalau Adit belum bisa maafin Manda, gak papa Manda bisa ngerti, yang pasti Adit selalu jadi sahabat terbaik Manda.” Aku sudah pasrah dengan kemarahan Adit. Adit menarik tanganku ketika aku hendak membuka pintu gudang, dan memelukku erat. Aku berusaha berontak, karena tak seharusnya Adit memelukku seperti ini. “Diamlah sebentar, aku hanya ingin meredakan emosiku Manda.” Aku terdiam, tak lagi memberontak. Kurasakan pundak Adit bergetar. Adit yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari aku menunduk saat memelukku, sedangkan aku hanya terdiam seperti patung. “Dit, kamu gak..” Aku ingin menanyakan apakah Adit baik-baik saja, tetapi Adit memotong kata-kataku. “Jangan bicara apapun dulu Manda.” Suara Adit parau, aku tahu dia sedang menagis. Adit yang usil, dan suka berkelahi ini berubah jadi Adit yang melow. 10 menit berlalu dan Adit masih setia memelukku. “Dit udah ya, ibu pasti sedang mencari Manda. Nanti Adit kerumah Manda sama Astrid ya, Astrid bilang mau keruma Manda nanti sore.” Aku mengusap punggung Adit berusaha mengatakan semua baik-baik saja, jangan bersedih. Adit mengangguk, “Pergilah, nanti sore aku kerumahmu sama Astrid.” Adit memalingkan wajah dan kembali duduk ketempat tadi. “Adit beneran gak marah sama Manda?” Aku bertanya ragu. “Kamu berharap aku marah sama kamu?” Aku langsung menggeleng seolah Adit bisa melihat gelenganku. “Pergilah Manda. Atau kamu masih mau disini aku peluk lagi?” “Eh enggak, Manda pergi dulu ya Dit.” Hanya d jawab dengan anggukan kepala Adit. Aku sedikit lega karena Adit sudah bisa bercanda, itu berarti Adit sudah redah amarahnya. Aku kembali ke ruang kepala sekolah, berpamitan dengan bu Ani dan beberapa guru yang lain. Kebetulan saat ini adalah jam istirahat sekolah, jadi guru-guru berkumpul di ruang guru. Aku dan ibu kembali menaiki angkot untuk menuju kesebuah pusat pembelanjaan, untuk membeli tas koper. Untuk menuju ke pusat pembelanjaan, kami harus berganti angkot 2kali. Setelah sampai disalah sattu mall yang terbesar dikota kami, ibu langsung menuju ketempat yang menjual tas-tas, dan memilih koper yang berukuran sedang 3buah. “Banyak banget bu beli kopernya?” Aku terkejut karena ibu membeli koper 3buah. “Iya yang 2 buat Manda, yang 1 buat ibu.” “Manda 1 aja bu.” “Gak akan cukup nak, percaya ibu.” “Naik angkot mana bisa bawa 3 koper gini bu?” “Nanti pulangnya naik taksi aja nak.” “Ow iya bu.” “Kita makan siang disini aja ya, Manda mau makan apa nak?” “Boleh makan nasi padang bu?” Aku bertanya ragu, karena biasanya ibu hanya memperbolehkan aku makan nasi padang jika bersama ayah saja, karena ibu tidak suka nasi padang. “Boleh dong, kita makan di foodcourt saja ya, biar banyak pilihannya.” “Oke bu.” Jawabku dengan semangat. Aku memesan nasi padang dengan lauk rendang kesukaanku, sedangkan ibu memesan nasi uduk dari stand berbeda. Kami menikmati makan siang dengan sangat lahap. “Bu nanti sore Astrid sama Adit mau main kerumah boleh ya?” Aku bertanya disela-sela makanku. “Boleh, nanti belikan bakso di depan gang aja nak.” “Iya bu, sekalian buat Manda makan malam ya bu baksonya.” “Ih Manda udah hampir tiap hari makan bakso mang Kus gak ada bosennya ya?” Tanya ibu setengah mengejekku. “Ya kan besok udah gak bisa makan bakso mang Kus bu, jadi ya itung-itung perpisahan lah bu.” Jawabku dengan tersenyum. “Bisa aja kalau jawab ank ibu ini.” Setelah selesai makan kami bergegas pulang dengan menggunakan taksi. Sesampainya dirumah aku langsung mengganti bajuku dan merebahkan tubuhku karena lelah dan tertidur. Aku terbangun karena guncangan pada kasurku, dan suara seseorang “WOIIII bangun” teriak suara itu kemudian berbisik “atau mau aku peluk lagi.” “Aaaaaaaahhhhhhh Adit.” Aku berteriak dan terduduk karena terkejut Adit sudah ada di atas kasurku, dan tertawa terbahak-bahak. “Adit ih suka banget ngerjain Manda.” Kata Astrid yang sudah berdiri didepan pintu kamarku. “Tau nih Adit, bikin Manda jantungan aja. Pusing tau, kebangun karena kaget begini.”sungutku dengan cemberut. “Yang bener yang mana? Jantungan apa pusing?” Dengan mengacak-acak rambutku, Adit turun dari kasurku “Tauk ah Adit nyebelin.” Aku beranjak dari tempat tidurku dan menyambar handukku. “Bentar ya, Manda mandi bentar terus kita makan bakso.” Aku mentraktir Adit dan Astrid bakso langgananku di ujung gang rumahku, bakso mang Kus. Kami makan sambil bersenda gurau, tetapi tiba-tiba Adit memasang wajah yang serius. “Manda, kalau udah pindah Jakarta ngomongnya di ganti ya.” “Maksud Adit?” Aku bingung dengan yang Adit bicarakan. “Ganti memanggil namamu sendiri, pakai kata ‘aku’ bukan nama kamu Man.” “Kenapa gitu Dit?” Aku bertanya heran. “Karena kamu sudah gede Manda, selama ini kalau kamu bicara dan menggunakan nama kamu sendiri itu terkesan kamu sangat manja.” (‘Dan itu menggemaskan’) kata Adit dalam hati. “Tapi Dit..” aku berusaha menyangkalnya. “Kamu yang berubah, atau aku yang berubah?” Dengan wajah datar dan ekspresi yang susah di artikan. “Mau aku peluk yang lebih lama dan aku kasih bonus cium, kalau kamu masih seperti itu?” Adit berbisik mengancamku, untung Astrid gak tau kejadian tadi siang di gudang, saat Adit memelukku. “Iya iya, Man… eh maksudnya aku, kasi waktu berubah dikit-dikit ya.” Kataku pada Adit. “Aduh Dit biarin napa sih, suka-suka Manda lah mau manggil dirinya sendiri apa, kenapa jadi kamu yang atur sih?” Astrid memarahi Adit yang mengaturku. “Yang di atur terima kok, kenapa kamu yang cemburu?” Adit malah balik mengejek Astrid. “Cemburu? Siapa? Aku cemburu? Ogah banget cemburu sama cecunguk kayak kamu wlekkk.” Astrid balik mengejek Adit. “Udah-udah kenapa kalian jadi saling ejek begini. Nanti aku pasti kangen sama celoteh kalian.” Aku mulai memasang wajah bersedihku lagi. “Yuk Dit, tinggalin Manda sendirian disini, biar dia nangis sendiri.” Astrid mengajak Adit untuk berdiri. “Yuk ah males sama Manda yang nangisan ya As.” Adit menimpali ucapan Astrid dan mereka melakukan tost sebagai tanda setuju, kemudian berdiri dan meninggalkan aku. “Tuh kan jahat, aku ditinggal sendiri, tunggu dong aku bayar dulu baksonya” kataku sembari bergegas membayar bakso kami. Adit dan Astrid yang awalnya berjalan santai, kemudian berlari karena melihatku sudah mendekati mereka. “Eh kalian berdua awas ya.” Kataku sambil berlari menyusul mereka, dan mereka jawab dengan tawa yang sangat keras. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD