Part 4

1267 Words
Sepanjang sore hingga malam menjelang, aku dan kedua sahabatku menghabiskan waktu dengan bersenda gurau. Mereka membantuku memasukkan barang-barangku kedalam koper. “Man, janji ya kalau libur main kesini. Jangan lupain aku sama Adit ya?” Astrid menarik tanganku dan bergelayut manja. “Ih apa’an sih As. Gak bakal lah aku lupain kalian, sahabat tersayangku yang paling nyebelin.” Jawabku dengan bercanda. “Adit aja yang nyebelin, kalau akan kan cute dan ngangenin.” Dengan mata yang di buat berkedip-kedip cepat. “Enak aja, aku tuh yang paling Manda sayang.” Jawab Adit asal. “Haduh fix, aku bakal kangen kalian walaupun kita jauh, jangan lupa berbagi kabar kalian ya.” Kataku dengan mata yang berkaca-kaca. “Yuk timpuk Manda, kalau sampai air matanya netes.” Kata Adit sembari menarik bantal dari tempat tidurku. “Nyebelin deh, momment mengharu biru jadi menyebalkan gara-gara Adit nih.” Aku tak jadi bersedih karena ulah Adit. “Ya udah, udah malem nih. Balik yuk Dit, kasian Manda butuh istirahat.” Adit mengangguk dan berdiri. “Man, aku sama Adit pamit dulu ya, besok kabarin kita berdua kalau udah mau berangkat.” Astrid memelukku dan mengusap punggungku. “Ikutan boleh gak?” Tanya Adit dengan merentangkan kedua tangannya, seolah ingin memeluk kami. “Ogah”, “Ogah” jawabku dan Astrid bebarengan dan keluar dari kamar meninggalkan Adit. Aku mengantarkan mereka sampai kedepan rumah. Mereka berangkat bersama naik mobil Adit. Ketika mereka sudah masuk kedalam mobil dan menyalakan mobil, tiba-tiba Adit keluar lagi dan menghampiriku yang sedang berdiri didepan pagar. Menarik tanganku sedikit masuk kedalam teras rumah, dan memelukku erat. “Dit” aku bingung dengan sikap Adit. “Jaga diri baik-baik disana, jaga ibu. Jangan aneh-aneh disana. Kalau kamu gak bisa kesini waktu libur, biar aku yang kesana.” Kemudian Adit mengecup keningku sekilas, dan berlari masuk kedalam mobilnya. “See you Manda.” Astrid membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya padaku, dan mobil Adit berlalu pergi meninggalkan rumahku. Sikap Adit hari ini benar-benar membuatku terkejut. Mulai dari disekolah memelukku dan barusan dia mencium keningku. Mungkin dia terlalu kehilangan sahabat yang biasanya dia kerjain. Aku masuk kerumah dan mengunci pagar. Serta mengunci pintu rumahku. Ibu sudah tidur terlebih dahulu karena esok kami harus bangun lebih pagi karena jadwal kereta kami pukul 07.00. *** Pukul 04.00 aku sudah terbangun karena mendengar suara ibu yang sedang berbincang-bincang entah dengan siapa. “Masuk dulu nak.” Suara ibu mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalam rumah. Aku keluar kamar dengan kesadaran yang kurang karena baru terbangun. Dengan mengucek-ngucek mataku, dan ternyata Adit yang datang. “Dit, ngapain subuh-subuh bertamu?” Tanyaku kemudian menguap. “Mau ngantar ibu sama kamu ke stasiun.” Katanya enteng. “He? Kok gak bilang?” Tanyaku mendelik. “Aku sudah bilang ibu kok.” “Tapi ibu gak bilang aku.” Jawabku sambil duduk dikursi sisi sebelah Adit. “Ibu lupa mungkin.” “Adit mau teh hangat nak?” Tawar ibu dari arah dapur. “Boleh bu kalau gak ngerepotin ibu.” Dengan sopan Adit menjawab tawaran ibu. “Buruan mandi sana, siap-siap dulu terus nanti kita mampir sarapan dulu.” Adit menyuruhku untuk segera mandi. “Tunggulah Dit, masih ngantuk nih, sebentar lagi ya.” Aku menyandarkan kepalaku di tembok dan memejamkan mataku. Ibu datang dengan membawakan teh hangat untuk Adit. “Diminum tehnya nak.” “Iya bu terima kasih. Bu, gak usah masak nanti berangkat sekalian kita mampir beli nasi pecel aja untuk sarapan ibu dan Manda.” Sambil menerima teh dari ibu, Adit mengutarakan rencananya. “Nanti kamu terlambat masuk sekolah nak.” Tolak ibu sopan. “Gak kok bu, nanti kita berangkat jam 5an aja jadi masih keburu beli sarapan dan nganter ibu sama Manda.” Adit tetap bersikeras mengantarkan ibu dan aku. “Ya udah kalau gitu ibu mandi dan siap-siap aja dulu. Kalau kamu mau istirahat sebentar tidur disofa sini gak papa nak.” “Iya bu, saya gak ngantuk kok.” Tolak Adit halus. Ibu meninggalkan Adit diruang tamu, sedangkan aku masih juga tertidur. Aku terbiasa bangun jam 5 pagi, jadi jika harus terbangun lebih awal aku pasti akan tertidur kembali. Adit menarik kepalaku dan diletakkan di atas pangkuannya, aku yang masih mengantuk tanpa sadar ikut saja kemana kepalaku diletakkan. Di atas pangkuan kaki Adit membelai rambutku, berkata lirih. “Siapa yang jagain kamu disana kalau aku gak ada? Kamu harus jaga diri ya cantik.” Dia seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku memang memejamkan mata, tetapi telingaku masih mendengar apa yang Adit ucapkan. Menyelipkan rambutku di belakang telingaku, dan membelai pipiku. Selama ini memang Adit lah yang selalu menjagaku, menemani aku dan Astrid kemana pun. Sedangkan Astrid adalah gadis yang pintar beladiri, berbeda dengan aku yang lebih kalem. Setelah selesai mandi ibu membangunkan ku perlahan. “Man.. Manda, ayo bangun mandi dulu nak.” Kata ibu sembari menepuk-nempuk pipiku. “Ehhhh iya bu.” Jawabku sambil mulet meregangkan otot-ototku. “Ssstttt..” Ibu meletakkan telunjuknya pada bibir, menyuruhku untuk diam. Aku bingung maksud ibu, sampai ibu menunjuk pada sebelahku, Adit sedang tertidur bersandar pada tembok. ‘Berarti tadi aku tidur di pangkuan Adit dong? Berarti tadi itu beneran Adit yang ngomong, bukan mimpi ya.’ Aku membatin dan dikejutkan dengan tepukan tangan ibu dibahuku. “Ayo buruan mandi dan siap-siap. Jam lima kita berangkat kata Adit.” Aku jawab dengan anggukan kepala, dan berlalu pergi megambil handuk dan mulai mandi. Setelah aku dan ibu sudah siap untuk berangkat, baru aku membangunkan Adit. Ibu menyuruh Adit untuk menghabiskan teh nya, dan mencuci gelas bekas minum Adit. Sedangkan aku membantu Adit untuk membawa koper dan memasukkannya ke dalam mobil Adit. Setelah semua beres, ibu mengunci pintu dan menitipkan kunci rumah pada tetangga sebelah, sekalian berpamitan pada tetangga sebelah rumah kami. Kami mampir di penjual pecel kaki lima, sarapan dulu bertiga dengan Adit. Tempatnya tak jauh dari stasiun, jadi kami masih bisa menikmati sarapan dengan santai. “Bu, kalau Manda nakal, ibu telepon saya ya, biar saya gantung kaki manda dipohon ciplukan.” “Hahahaha” ibu tertawa dengan ucapan Adit. “Apa’an coba mau gantung aku dipohon ciplukan, kamu tuh aku ikat dipohon cabe.” Jawabku membalas Adit. “Pohon cabe-cabean ya, hahahaha” Adit selalu punya jawaban yang selalu behasil bikin aku kesel. “Kalian ini ya kalau deket bertengkar terus, ntar jauhan baru terasa ya.” Kata ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan ikut-ikut pergaulan yang gak bener Man, ingat ibu yang sedang berjuang demi pendidikanmu.” Adit menasehatiku didepan ibu. “Nggeh mbah.” Aku memanggil Adit mbah, karena dia sudah seperti kakek-kakek yang menasehati cucunya. “Manda, jangan gitu dong. Yang Adit bilang itu ada benarnya nak.” Ibu membela Adit. “Iya bu, aku ngerti kok.” Setelah selesai sarapan kami beranjak menuju stasiun. Adit memarkirkan mobilnya dan membantu ibu mendorong 2 koper ibu, sedangkan aku membawa 1 koperku, dan koper yang 1 lagi dibantu ibu. “Nak Adit terima kasih ya sudah membantu ibu dan Manda. Mainlah ke Jakarta jika liburan.” Ibu menjabat tangan Adit, dan dibalas Adit dengan mencium tangan ibu. “Sama-sama bu, nanti saya akan main kesana dengan Astrid jika liburan.” “Adit terima kasih untuk semuanya, nanti kita sambung di telepon dan chat bareng Astrid ya.” Aku mengulurkan tangan tapi gak Adit terima, dia malah melingkarkan tangannya dipundakku. “Jangan nakal-nakal, jaga diri baik-baik, jagain ibu juga. Bu kalau Manda nakal, titip dijitak kagak gini ya bu.” Adit memperagakan menjitak kepalaku dengan pelan. Ibu hanya tertawa dan menganggukan kepala saja. Kami masuk melewati penjaga tiket. Aku melambaikan tanganku kearah Adit, dan dibalas dengan lambaian tangan Adit dan senyumnya. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD