Part 5

1232 Words
JAKARTA Sudah 1 minggu aku berada disini, menempati apartemen milik om Adam dan tante Sofi, yang bahkan sampai detik ini aku belum pernah bertemu dengan mereka. Kata ibu, mereka sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Saa pertama kali sampai di stasiun pun yang menjemput kami adalah supir suruhan tante Sofi. Ibu sudah mulai bekerja pada bagian administrasi sekolah tempat aku mendapatkan beasiswa. Sedangkan aku juga sudah mulai bersekolah, walaupun aku merasa tak nyaman bersekolah disini. Aku belum memiliki teman 1 pun disini mereka memandangku sinis, mungkin karena aku bukan berasal dari golongan yang sama seperti mereka. Mereka yang rata-rata berangkat kesekolah mengendarai mobil pribadi, atau di antarkan oleh sopir pribadi, sedangkan aku hanya naik metro mini bersama ibu. Ponsel yang mereka kenakan ponsel keluaran terbaru, sedangkan aku hanya memiliki ponsel yang dibelikan ayah saat aku berhasil mendapatkan peringkat pertama sekota Malang saat ujian nasional kelas 3 SMP kemarin, tapi aku selalu bersyukur dengan apa pun yang aku miliki. Dalam hal pelajaran aku selalu mampu mengimbangi, walaupun banyak dari mereka yang menatapku tak suka ketika aku mampu menjawab pertanyaan dari para guru kami. Aku tak terlalu memperdulikan mereka mau berteman denganku atau tidak, karena aku masih punya Astrid dan Adit yang selalu setia menemaniku setiap harinya, kami selalu berbagi cerita bersama, terkadang kami juga belajar bersama. Biarlah hanya 2tahun dan aku tak perlu lagi bertemu dengan mereka, para manusia kaya yang sombong, aku menguatkan hati setiap hari, memberi semangat untuk diriku sendiri. Didepan kedua sahabatku, aku tak pernah membicarakan sikap siswa disekolahku, karena itu semua tak penting untukku. *** 2 Tahun kemudian Aku adalah murid berprestasi disekolah ini, setiap semester aku selalu mendapatkan nilai terbaik. Para murid semakin tak menyukaiku, aku tahu dari pandangan mereka, aku sudah pernah memberanikan diri untuk memulai berteman dengan mereka, tapi tak ada 1 pun yang mau memperdulikan aku. Aku bukan gadis culun berkacamata yang buruk rupa, atau pun dengan rambut ikal dikepang, tampilanku biasa seperti anak-anak yang lain, yang membedakan hanyalah mereka mengenekan segala yang bermerk dan aku dengan merk murah yang gak sepadan dengan mereka. Mereka sering menyindirku dengan mengatakan aku gadis kampungan yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk bisa bersekolah disekolah elite bersama mereka, aku hanya bisa berpura-pura tidak mendengar, dan selalu fokus dengan buku-buku dan pelajaran. Hari ini ibu menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu, karena ibu masih harus membereskan administrasi untuk persiapan ujian nasional. Aku pulang seperti biasa, pukul 5 sore aku baru sampai apartemen, karena sekolahku yang fullday school, dan baru pulang pukul 4. Perjalanan pulang yang berbarengan dengan orang-orang pulang kantor, sehingga perjalanan kembali ke apartemen memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah sampai aku langsung mengganti seragamku kemudian mandi. Setelah selesai mandi aku memasak, memang terkadang aku bergantian memasak dengan ibu, aku tahu pasti ibu pun lelah karena seharian bekerja. Aku mengirimkan pesan pada ibu untuk menanyakan pukul berapa ibu pulang, aku akan menunggu ibu pulang supaya kami bisa makan bersama. To: Ibu Bu, pulang jam berapa? Manda sudah masak, kita makan malam bersama ya. Tak berapa lama ibu membalas pesanku, From : Ibu Makanlah dulu nak, mungkin ibu baru pulang pukul 9. Jaga diri baik-baik ya Manda. Setelah membaca pesan balasan dari ibu aku langsung mengambil piring dan makan, karena jika ibu tahu aku belum makan padahal beliau sudah menyuruhku makan, maka ibu akan marah. Setelah menyelesaikan makan aku masuk ke kamar untuk belajar, kembali mempelajari semua pelajaran untuk persiapan ujian. Aku memandang jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 8 lebih 15 menit, mungkin ibu sudah selesai lemburnya, aku mencoba untuk menghubungi ibu tetapi nomor ibu tidak aktif, aku kembali mencoba untuk menghubungi ibu tetap tak berhasil. Mungkin ibu sudah dijalan dan batrai HP nya lagi habis, aku mencoba untuk berpikir positif dan kembali belajar sambil menunggu ibu pulang. Waktu berlalu begitu cepat, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih 40 menit, aku mulai gundah menunggu ibu pulang. Berkali-kali aku mencoba menghubungi ibu tetapi belum juga terhubung. Aku menghubungi para sahabatku, “Hallo” “Hallo” jawab mereka berbarengan, karena aku menghubungi mereka melalui grup chat. “Gimana ini?” Kataku langsung tanpa berbasa basi. “Apanya yang gimana?” Tanya Astrid. “Jam segini telepon, kamu dilamar siapa sih? Sampai kebingungan begini.” Seperti biasa Adit dengan pertanyaan yang gak masuk akalnya. “Ibu belum pulang sampai jam segini, tadi jam tujuh masih balas pesanku katanya masih lembur, aku telepon juga nomornya gak aktif dari jam delapan tadi, gimana dong aku bingung. Masa aku harus balik ke sekolah buat mastiin?” “Tunggu-tunggu tenang dulu Man, kamu gak punya nomor telepon rekan ibu disekolah gitu? Atau kamu hubungi sekolah, kalau masih ada orang disana pasti teleponmu di angkat.” Astrid mencoba memberikan pendapat agar aku tak terlalu panik. “Jangan kemana-mana dulu sebelum kamu tahu pasti ibu ada dimana, ini udah malam dan kamu sendiri disana, jangan nekat.” Adit mewanti-wantiku. Ting tong !!! Suara bel apartemenku berbunyi. “Bentar ya ada yang mencet bel, semoga itu ibu.” Aku membuka pintu tanpa menutup sambungan teleponku dengan kedua sahabatku. “Hai Manda, apa kabar?” Seorang wanita yang sepertinya seusia ibu menyapaku, saat aku membukakan pintu. “Ba.. Baik..” jawabku terbata, aku masih menerka-nerka siapa sebenarnya wanita ini. “Lupa sama tante ya?” Wanita itu tersenyum padaku. “Maaf” aku menunduk karena aku benar-benar tak mengingat siapa wanita ini. “Tante Sofi.” Kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya. “Oh tante Sofi, maaf Manda belum pernah melihat tante.” Aku menerima uluran tangan tante Sofi. “Iya gak masalah nak.” Jawabnya dengan senyum manis dan masih menampilkan kecantikannya. “Eh mari masuk tante.” Aku membuka pintu lebar-lebar. “Gak usah nak. Tante mau ajak Manda keluar sebentar mau?” “Mau kemana tante? Ibu belum pulang soalnya.” Aku berusaha menolak tante Sofi, karena ini sudah sangat larut dan ibu belum pulang. Aku takut saat ibu pulang nanti mencemaskan aku yang tak ada dirumah. “Sebentar aja, nanti kamu akan tahu. Ibu mu nanti biar tante yang urus.” “Baik tante, sebentar ya tante, Manda ganti baju sebentar.” Di jawab denga anggukan kepala tante Sofi. Aku meninggalkan tante Sofi dan berganti pakaianku dikamar. “Nanti aku hubungi lagi ya, aku di ajak keluar sama tante Sofi, teman ayahku yang meminjamkan apartemen ini.” Aku berbicara pada teman-temanku, melanjutkan pembicaraan kami sebentar. “Ya udah, jangan lupa kabarin kita ya Man.” Jawab Astrid. “Hati-hati, sudah larut. Jangan lupa pakai jaket.” Adit yang giliran menjawabku. “Iya, makasih ya. Kalian sahabat terbaikku.” Aku mengakhiri sambungan telepon kami. Bergegas keluar setelah mengganti pakaianku dengan celana jeans panjang, kaos dan tak lupa menggunakan jaket. Aku mengikat rambutku seperti ekor kuda, membawa dompet dalam tas kecilku, dan tak lupa ponselku. “Mari tante.” Aku menemui tante Sofi. “Cantik sekali nak” tante Sofi mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca. “Tante kenapa?” Aku khawatir melihat ante Sofi yang tiba-tiba akan menangis. “Gak papa nak, ayo cepat. Sopir tante sudah menunggu dibawah.” Dalam perjalanan aku penuh tanda tanya, sebab saat tante Sofi aku tanya akan kemana, beliau hanya menggenggam tanganku erat, sambil sesekali menepuknya. Mobil tante Sofi memasuki pelataran parkir, yang aku belum jelas tempat apa ini. “Ayo nak turun.” Tante Sofi mengajakku untuk turun. Aku terkejut dan hatiku terasa gundah ketika aku melihat tulisan yang ada di atas gedung itu. Tiba-tiba firasatku merasakan tak baik. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD