Part 6

1421 Words
“Rumah Sakit” tulisan itu yang membuat aku gundah. “Siapa yang sakit tante?” Tanyaku sambil berdiri kaku memandang tulisan besar di atas gedung itu. “Ayo masuk dulu nak” tante Sofi menghampiri ku. “Siapa yang sakit tante?” Aku mengulangi pertanyaanku. “Ayo tante jelaskan didalam.” Tante Sofi menggandengku, menuntunku untuk masuk kedalam Rumah Sakit. Kami berjalan lurus melewati lorong-lorong jalan Rumah Sakit, yang lampunya tidak terlalu terang, semakin membuat perasaanku gak nyaman. Kami terus berjalan menuju bagian belakang Rumah Sakit. Ada tulisan yang tak terlalu besar tertempel di tembok itu, membacanya membuat aku bergetar. ‘Kamar Mayat’ aku pernah ke ruangan sejenis ini ketika ayahku meninggal 2 tahun yang lalu, untuk dimandikan di ruangan ini. “Tante?” Aku menghentikan jalanku, dan sedikit menarik tanganku yang digandeng tante Sofi. Tante sofi mengangguk, “ayo masuk dulu.” Aku perlahan mendorong pintu itu, disana berdiri 2 orang pria, yang 1 berpakaian seragam perawat tidak terlalu tua, sedangkan yang 1 lagi berpakaian kemeja rapih kira-kira usianya hampir seperti ayahku. “Ma..” lelaki berpakian kemeja itu menyapa tante Sofi. “Manda, ini om Adam.” Tante Sofi mengenalkan aku pada om Adam, teman Ayahku yang memberikan aku dan ibu pinjaman apartemen. Aku mencium tangan om Adam, beliau menepuk pundakku pelan. “Kuatkan hatimu nak.” Kata-kata om Adam membuat aku sedikit terkejut. Tante Sofi membimbingku menuju sebuah belangkar, dengan kain putih yang menutup seluruhnya. Jantungku berdebar kencang, keringat dingin mulai mengalir deras dipelipisku. Saat petugas rumah sakit membuka penutup kain itu, aku terdiam kaku memandang sosok yang terbujur kaku di balik kain itu. “IBUUUUUU” aku histeris berhambur memeluk jasad ibu, menangis sekuat yang aku mampu. “Bu ayo pulang, kenapa tidur disini? Ibu janji sama Manda mau pulang kan.” Aku masih belum mampu menerima kenyataan ini. “Manda ikhlaskan nak.” Tante Sofi berusaha mengangkat pundakku. “Buuuu, Manda sama siapa? Kenapa ibu tinggalin Manda sendirian bu? Ibu gak sayang Manda lagi ya?” Aku masih tak mampu menerima semua kenyataan ini. “Manda masih punya tante Sofi sama om Adam, ayo nak biar ibu Manda di mandikan dulu ya, terus dibawa ke rumah tante ya.” Aku diam, pasrah dengan semua kenyataan. Tante Sofi memeluk pundakku, membimbingku keluar dari ruang jenasah. Kami duduk di depan ruang jenasah, disana sudah ada om Adam. “Manda, Manda mau ibu dimakamkan dimana? Disini? Atau mau di Malang dekat sama ayah Manda?” Om Adam mengajakku berdiskusi. “Bolehkah jika ibu dimakamkan di Malang om?” Tanyaku ragu. “Boleh, nanti om urus semua yang diperlukan.” “Terima kasih om, nanti biayanya biar Manda pakai uang tabungan untuk kuliah Manda aja om.” “Sudah, gak usah mikirin soal biaya. Biar om yang tanggung semua.” Aku hanya mengangguk-angguk saja. Sudah pukul 12 malam, aku masih menunggu jenasah ibu di rumah sakit, ponselku berdering panggilan masuk dari Adit. “Hallo Dit.” “Woy, di tungguin malah asik tidur.” “Dit…Ibu Dit..” “Man? Ada apa Man? Kamu dimana?” “Dirumah sakit Dit, ibu ku meninggal Dit.” Tangis ku kembali pecah. “Aku ke Jakarta sekarang, kamu tunggu.” “Gak usah Dit, ibu dimakamkan di Malang, malam ini berangkat dari Jakarta. Manda gak punya sapa-sapa lagi sekrang Dit.” “Kamu masih punya aku, masih punya Astrid, kita akan selalu sayang sama kamu.” “Kenapa ibu juga ninggalin Manda Dit? Apa Manda anak yang nakal?” “Tuhan menyayangi ibu, bukan karena kamu nakal.” “Berarti Tuhan gak sayang aku Dit?” “Tuhan sayang kamu, tapi Tuhan mau melatih kamu supaya lebih kuat, Tuhan mau kamu jadi seseorang yang luar biasa.” “Aku sendiri Dit, kenapa Tuhan ambil semua orang yang aku sayangi Dit?” “Karena Tuhan mau memberi kamu orang-orang baru yang juga akan sangat menyayangimu.” Aku terus menangis, dan Adit hanya menjadi pendengar setia tangisku. “Menangislah, aku akan mejadi pendengar setia tangismu.” Itu yang Adit katakan padaku. “Manda ayo berangkat.” Suara tante Sofi membuatku menghentikan tangis dan mengangguk. “Udah mau berangkat ya? Ya udah aku tutup dulu telponnya,nanti kabarin ya gimana-gimananya.” Adit mendengar apa yang tante Sofi ucapkan. “Iya Dit, makasih banyak ya. Sampai ketemu di Malang.” Aku mengakhiri sambungan telepon Adit, memasukkan kembali ponselku kedalam tas, kemudian menghampiri tante Sofi. Tante Sofi dan om Adam memintaku ikut di mobil mereka, tetapi aku menolak dan memaksa ikut di ambulance bersama dengan jenasah ibu. Akhirnya mereka mengijinkanku untuk ikut bersama dengan ambulance. Kami tiba di Malang pukul 09.17, kami langsung menuju ke pemakaman. Disana sudah ada kedua sahabatku yang menunggu. Aku berhambur memeluk Astrid, menangis tersedu, “Ibu As, Ibu ninggalin aku.” Aku masih memeluk Astrid, dan Astrid ikut menangis bersamaku. “Semua sudah ada yang mengatur Man, yang ikhlas ya. Aku sama Adit bakal selalu ada buat kamu.” Aku hanya mengangguk, karena aku merasa ini semua masih seperti mimpi bagiku. Adit hanya mengusap-usap rambutku. Aku melepaskan pelukanku dari Astrid dan berganti memeluk Adit. “Ibu Dit..” aku memeluk Adit dan wajahku menempel di dadanya, karena Adit yang berpostur tubuh tinggi. “Ssstttt.. aku disini. Ayo biar ibu dimakamkan dulu ya, nanti lanjut lagi nangisnya.” Adit membelai rambutku, dan aku mengangguk seperti anak kecil yang menurut pada kakaknya. Setelah pemakaman ibu selesai, tante Sofi memberitahuku. “Om sudah pesan kamar, kamu bisa istirahat dulu disana, besok kita balik Jakarta naik pesawat aja ya.” “Apa saya boleh pindah, kembali disini aja dulu tante?” Aku ingin dekat dengan ayah dan ibuku, supaya jika aku rindu, aku bisa sering-sering mengunjungi makam mereka. “Maaf nak, kamu harus kembali ke Jakarta, kamu akan ujian nasional. Dan kamu akan kuliah di Jakarta, seperi yang Almarhum ayah dan ibumu inginkan.” Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan tante Sofi. “Ayo kita ke hotel, kamu pasti sangat lelah sekali Manda.” Om Adam menghampiri kami yang sedang berbincang dengan tante Sofi. “Maaf om, apa Manda boleh ikut di mobil saya saja? Bersama dengan Astrid.” Adit meminta ijin pada om Adam agar aku ikut bersama dengan mobilnya. “Silahkan” jawab om Adam dengan tersenyum. Kami bersama-sama menuju hotel. Aku duduk di bangku tengah bersama dengan Astrid, sedangkan Adit di depan sendiri. Aku menatap nanar ke luar jendela mobil, jalan-jalan ini yang biasa aku lalui bersama ibu jika kami naik angkot, sekarang tak ada lagi ibu, tak ada lagi yang memeluku sehangat pelukan ibu. Aku melamun, tak menitikkan air mata. Sesampainya di hotel, tante sofi memberikanku kartu untuk membuka kamarku, kamar ku dan tante Sofi bersebelahan. Astrid dan Adit ikut mengantarku sampai ke kamarku. “Mandi dulu sana Man, aku bawain baju ganti punyaku nih, pakaian dalamnya masih baru ini bisa kamu pakai.” Astrid memberikan paperbag berisi baju dan pakaian dalam. “Thanks As” Aku menerima paperbag itu dan memasuki kamar mandi. Setelah selesai mandi aku duduk di tempat tidur. “Adit mana As?” “Tadi dipanggil tante Sofi, disuruh ambil makan dibawah.” Kata Astrid sambil memainkan HP nya. Aku menatap lurus kelayar TV didepanku, tetapi pikiranku entah ada dimana. Terduduk di tempat tidur dengan memeluk bantal, air mataku kembali menetes. Entah berapa lama aku melamun sambil menangis seperti ini. “HaPe teruss.” Suara Adit mengagetkan Astrid, sedangkan aku masih setia melamun dengan ditemani air mata. “Apa sih Dit? Ngagetin aja.” Astrid protes dengan teguran Adit. Kepala Adit mengarah padaku, yang di ikuti dengan tatapan Astrid ke arahku. Adit menhampiriku dan menghapus air mata yang netes dipipiku, aku terkejut dengan sikap Adit. “Hei, makan dulu yuk. Nanti lanjut lagi nangisnya gak papa, nangis juga butuh tenaga lho.” Adit menyodorkan sekotak nasi goreng padaku. “Aku gak lapar Dit.” Tolakku pada Adit. “Okey kalo gitu. As yuk balik, biarin Manda disini aja sendirian, nangis sendiri biarin ibunya jadi sedih liat anaknya kayak begini.” Adit menarik tangan Astrid yang terbengong belum memahami yang terjadi. “Iya iya aku makan Dit, tapi kalian jangan kemana-mana ya.” Aku menyerah pada ancaman Adit, dan menurut untuk makan. “Siap, kami disini gak kemana-mana.” Jawab Adit melepaskan tangan Astrid yang tadi di tariknya. “Eh jadi pulang gak sih Dit?” Tanya Astrid bingung melihat Adit yang duduk di sofa sebelah tempat tidur. “Gak jadi.” Kata Adit sambil mengeluarkan HP dari kantong celana jeansnya. “Lha plin-plan, tadi narik-narik ngajak balik, sekarang gak jadi.” Kata Astrid balik duduk di lantai kamar hotel. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD