Part 13

1103 Words
Tokkk tokk tokk “Manda..Amanda..” Siska mengetok pintu apartemen Manda. “Gak ada jawaban dari dalam, apa mungkin mereka lagi dikamar ya?” Jawab Rani, sedangkan Indri sudah terlihat gusar. Dia takut jika lelaki yang di sukainya bercinta dengan orang yang dibencinya. Siska mencoba untuk menempelkan telinganya pada pintu, dan mencoba mencuri dengan dengan apa yang ada didalam. “Gak ada suara apa pun dari dalam, mungkin memang benar dia belum pulang.” Siska memberitahu kedua sahabatnya. “Terus kita cari kemana lagi sekarang?” Tanya Indri kembali. “Coba hubungi Roland terus sampai dia angkat.” Jawab Siska. “Gue coba telepon Rasyid dulu ya.” Rani mencoba menghubungi Rasyid, anak Arab yang ayahnya adalah pedagang kain besar di Tanah Abang, biasanya Rasyid yang sopan itu bergaul dengan Roland. “Hallo Syid.” Sepertinya seseorang mengangkat sambungan telepon Rani. “Iya, maaf ini siapa ya?” “Gue Rani, Syid.” “Owh iya, ada apa Rani?” “Lo tau gak Roland dimana?” “Tadi sore sih katanya mau ikut acara Prom.” “Lo tau gak biasanya Roland nongkrong dimana? Atau biasanya lo kalau nongkrong sama Roland dimana?” “Biasanya sih di cafe dekat apartemen Roland, kalau gak ya cuma main PS aja di apartemennya. Ada apa ya Rani?” “Ga pa pa, gue ada sedikit urusan sama Roland. Boleh kasi tau apartemen Roland dimana ya Syid?” “Aku ijin Roland dulu ya, takut gak enak kalau ngasi tau tanpa ijin.” “Eh jangan bilang Roland, ini Indri mau ngasi kejutan buat Roland soalnya, kasian Indri nih nangis soalnya bingung gimana caranya ngasi kejutan buat Roland.” Rani mulai berbohong pada Rasyid demi mendapatkan alamat Roland. “Oh baiklah, bilang Indri jangan nangis lagi, aku kasi tau alamat apartemen Roland. King Royal Apartemen kamar 1818 tower A.” “Oke thank you Syid.” Rani menutup sambungan telepon dengan Rosyid. “Ayo langsung ke apartemen Roland aja.” Siska menarik Indri dari depan pintu kamar Manda. “Eh tapi tempatnya lumayan jauh nih dari sini.” Rani yang mengechek lokasi apartemen Roland pada maps pun memberitahukan. “Mangkanya ayo bergerak cepat.” Siska berjalan cepat ke arah lift. *** “Aku apa sayang?” Roland terus mencium leherku, dan tangannya terus m*r*m*s b*k*ngku. “Ehhmm Ro..land..” tanganku berada dipundak Roland dan menarik-narik rambut Roland. “Jadi mau dipegang atau mau ngerasain kekuatannya?” Tangan Roland sudah mengangkat kaki kananku, dan jarinya bermain-main di inti tengahku. “Enghhh ahhhh.” Aku menempelkan mulutku pada d**a Roland, karena mulutku yang terus mendesah. “Enak?” Dan aku mengangguk pasti, “mau yang lebih-lebih enak lagi?” Lanjutnya, dan aku mengangguk dengan cepat, otak dan tubuhku diliputi kabut gairah yang tak berkesudahan. Roland mencium bibirku kembali, kedua tangannya berada di b*k*ngku dan hap sekali tarik, aku sudah menempel pada tubuh Roland menggantung seperti anak monyet yang digendong ibunya, kakiku melingkar pada pinggang Roland, mengunci kakiku agar aku tak jatuh saat Roland bergerak jalan. Jari Roland tak hanya berada pada b*k*ngku tetapi sesekali jarinya menusuk-nusuk ke lubang tengah intiku, membuat aku semakin merapatkan dadaku pada tubuh Roland. Roland berjalan dan membuka pintu kamar, wangi mint maskulin menyeruak dari sana. Dengan semilir angin yang dihembuskan oleh pendingin ruangan, semakin membuatku merinding. Roland membawaku ke atas tempat tidur yang berukuran tak terlalu besar, tetapi cukup besar jika hanya ditiduri seorang diri. Dia membuang handuk yang aku gunakan sedari tadi saat awal dia menggendongku, sedangkan handuk yang Roland gunakan, entah kapan handuk itu tak lagi menutupi batang itu. Tangannya mulai memainkan puncak gunungku, memilinnya dengan kelembutan tetapi penuh gairah. Dengan mulut yang masih terus bersilat lidah, dan saling memanjakan lidah, aku hanya belajar dari apa yang Roland lakukan, karena aku baru merasakan ciuman bibir kali ini, jika hanya cium di pipi seperti yang sering Ibu dan Astrid lakukan aku tak akan terkejut, tetapi dicium lelaki yang bahkan bukan siapa-siapaku ini adalah pertama kalinya. Setelah puas di bibirku Roland menurunkan ciumannya ke arah leherku, menggigitnya sesekali yang entah rasa gigitannya bukan terasa sakit tetapi justru terasa menggairahkan. Dengan tangan yang terus memanjakan gunungku, dan tangan kanan yang sudah meraba-raba pahaku. Dari leher ciumannya turun pada ujung gunung kembar yang sudah siap untuk didaki mulut dan lidahnya, tanpa menunggu lama Roland melahapnya langsung, memainkan lidahnya di ujung gunung kanan dan kiri secara bergantian, sesekali menggigitnya gemas. “Akhhh ssshhh Roland..” aku meremas-remas rambut Roland. “Apa sayang?” Dengan terus bermain di gunung kembarku. “Akkhhh emmmm..” aku tak tahu harus berkata apa. Ciuman yang terus menurun keperutku, menggigitnya di sekujur perutku, dengan jari yang menusuk-nusuk bagian intiku perlahan tapi pasti. “Ro..land..uda..ahhhkk” aku berusaha menghentikan Roland yang semakin turun dari perutku. “Udah apa sayang?” Tanya Roland menengadahkan kepalanya menatapku. “Udah jangan dilanjutkan..” jawabku dengan nafas yang terengah-engah. “Nanggung sayang, dikit lagi ya, panasnya gak bakal bisa hilang kalau cuma gini.” Roland menurunkan tubuhnya, depan kepala yang pas menghadap ke intiku. Dengan refleks aku menutupkan tanganku kearah intiku untuk menutupinya, aku merasa sangat malu berada di posisi seperti ini. Roland mencium tanganku, kemudian pahaku. Menjilat jari-jariku dan berusaha membuka tanganku. Setelah berhasil membuka tanganku yang dia genggam, “Beautyfull” Roland berbicara seperti pada dirinya sendiri, kemudian mendekatkan mulutnya dan melesakkan lidahnya untuk masuk. Aku terkejut dengan apa yang Roland lakukan, dia memainkan lidahnya disana. Menusuk dan menariknya kemudian mengisap, sungguh rasanya sekujur tubuhku seperti tersengat aliran listrik yang menghanyutkan. “Akhh Roland, ummm uhhkk” aku terus meracau. “Ssss Lebih cepat Roland ahh..” tiba-tiba Roland menjauhkan lidah dan mulutnya. “Jadilah pacarku sayang, jadilah istriku.” “Cepatlah Roland.” Aku tak menghiraukan apa yang Roland minta, aku hanya ingin semua ini berakhir. “Berjanjilah kamu mau jadi kekasih dan istriku, baru aku lanjutkan.” Roland mengancamku. “Iya iya aku janji, cepatlah Roland.” Biarlah untuk sekali ini aku berjanji tanpa harus aku tepati. Roland melanjukan memainkan lidahnya disana, “ahhkk uhh yaaaaa, lebih cepat lagi Roland.” Roland mempercepat gerakan lidahnya, dan tangannya terus meremas gunung dan memilin puncaknya. “Ahhhkkk aku mau pipis Roland, menyingkirlah.” Aku berusaha menjauhkan kepala Roland, tetapi Roland malah menekankan lidahnya, hingga aku tak dapat menahan lagi ledakan yang entah apa yang terjadi, aku menegang dengan nafas yang terengah-engah. Aku memejamkan mataku dan mengatur nafasku, dan saat aku membuka mataku, Roland sudah berada di atasku dengan bertumpu pada kedua tangannya. “Belum selesai sayang, sekarang giliranku.” Bersambung.. Hayo yang nahan nafas waktu baca ini, saatnya ambil nafas dulu yuk ? Nanti di lanjut lagi ya biar gak sesak nafas semua ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD