Sekitar pukul sepuluh malam keadaan rumah Yusa sudah kembali sepi, menyisakan saudara-saudaranya yang datang dari luar kota menginap di sana. Karena rumah terlalu kecil, ruang tamu dan ruang tengah yang sudah digelar karpet mereka gunakan menjadi tempat tidur. Masih banyak percakapan terjadi di antara keluarga. Sedangkan pengantin baru sudah masuk ke dalam kamar.
Yusa dan Taka sedang berada di dalam kamar kecil yang hanya berukuran sekitar tiga kali empat meter. Tempat tidur berukuran kecil berada di sudut kamar. Lemari yang sedikit reyot karena termakan usia berdiri tepat di seberang tempat tidur. Membuat Yusa jika termenung diatas kasur selalu menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Tumpukan novel-novel, alat-alat tulis, laptop keluaran lama, buku-buku diary yang terkunci, semuanya tertata rapi di atas meja kayu, tepat di sudut lain kamar.
Pemilik kamar itu sedang duduk di atas sajadah dan masih menggunakan mukenah meskipun sudah menyelesaikan salat beberapa jam yang lalu. Tentu saja ia merasa canggung dengan hadirnya pria yang sedang sibuk menyelesaikan sebuah misi game yang ada di ponselnya. Pria itu sejak tadi juga tidak beranjak dari kursi meja belajar Yusa.
"Aku kira Risa loh yang mau nikah sama anaknya Mas Cahyadi itu, Mbak. Lha kok malah Yusa. Kaget aku, pacarannya sama Risa nikahnya sama Yusa."
"Bener nggak tuh, Mbak. Denger-denger itu anaknya nggak beres?"
"Nanti Yusa dibuat mainan gimana? Lha wong Yusa itu gampang banget kalo dibohongi."
Yusa melirik Taka ketika mendengar perkataan saudaranya di luar sana. Meskipun mereka hanya berbisik, telinganya masih mendengar sangat jelas. Namun ketika melihat ekspresi Taka, pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda jika mendengar percakapan saudara-saudaranya.
"Uuuuggggh ...." Taka menarik tangannya keatas, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang beberapa jam berada di posisi yang sama. "Loh, kamu belum tidur, Sa?" tanya Taka ketika melihat Yusa.
Yusa menggeleng. Ia sedikit lega karena Taka tak mendengar gunjingan tentangnya.
"Kenapa? Udah malam loh, ini."
"Kamu tidur aja di kasur, Ka."
Taka berdiri dan menghampiri Yusa kemudian jongkok di depan wanita tersebut. "Tidur aja di kasurmu, jangan pikirkan aku," ucapnya seraya mengusap kepala Yusa. "Aku bisa tidur di lantai atau di kursi."
"Tapi, 'kan—"
Taka berdiri dan menarik tangan Yusa. Ia menarik karet mukanah yang melingkar di kepala Yusa kemudian melepaskan mukenah itu. Ada jilbab instan yang masih dikenakan wanita itu, Taka membantu merapikannya, bahkan menyelipkan kembali anak rambut Yusa yang terdorong keluar karena mukenah yang ditariknya tadi.
"Tidur aja, jangan dengerin kata orang." Senyum kecil terulas di bibir Taka. Tatapannya tajam tapi tak membuat wanita didepannya itu takut.
"Kamu dengar?" Yusa memastikan.
"Sedikit."
"Karena aku, kamu jadi tersudut, Ka."
Taka menggeleng dengan senyumnya yang semakin lebar. "Tidurlah, aku janji tidak akan melakukan apapun yang kamu khawatirkan." Ia menarik tangan kanan Yusa kemudian mengaitkan jari kelingking mereka dan membuat simbol janji. "Kita teman," tegasnya.
Yusa mengangguk. Ia berdiri melipat mukenahnya dan menyimpannya di atas lemari pakaian kemudian menggelar bedcover yang sudah agak tipis di lantai kosong yang ada di antara kasur dan lemari. "Kamu bisa tidur di sini, Ka. Aku akan pinjamkan selimut ke Risa, dia pasti mau meminjamkannya jika untukmu."
Taka menarik tangan Yusa. "Begini saja sudah cukup," ujarnya.
"Tapi—"
"Nurut aja udah, gini-gini aku suamimu." Taka mendorong tubuh kecil itu ke tempat tidur dan mendudukkan paksa di sana. "Sudah malam, tidurlah."
Yusa mengangguk. Ia memberikan bantalnya pada Taka.
"Kamu cuma punya satu bantal?" tanya Taka.
Yusa mengangguk. "Kamu pakai itu aja, aku bisa tidur tanpa bantal. Tapi enggak dengan ini." Ia memeluk gulingnya.
"Iya iya, aku tidak akan merebutnya." Taka merebahkan dirinya di atas bedcover Yusa. Meskipun ada bantal, ia menarik kedua tangannya ke belakang kepala dan menjadikan bantal. Ia melirik Yusa dan memberi isyarat agar wanita tersebut lekas berbaring. "Nggak bisa tidur kalau lampunya nyala?" tanya Taka.
Wanita itu mengangguk. "Tapi kalau kamu mau nyala aja nggak apa, kok."
"Matiin aja, aku juga nggak terbiasa tidur pake lampu."
Yusa kembali berdiri mematikan lampu kemudian kembali dan merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Tak ada lagi pembicaraan di kamar tersebut. Tak terlalu gelap, karena cahaya dari lampu ruang tamu masih menyelip dari lubang ventilasi udara. Hening, sudah tak terdengar lagi percakapan siapapun di luar sana. Suasana yang sebenarnya sudah sangat nyaman untuk tidur, namun Yusa sangat sulit untuk memasuki alam bawah sadarnya.
Beberapa menit berlalu, tak ada pergerakan dari Taka. Sedangkan Yusa masih berusaha mencari posisi yang nyaman agar cepat terlelap.
"Sa ...."
"Hah!" Yusa terkejut karena Taka yang memanggilnya tiba-tiba. Ia membalikkan badannya dan mengintip pria yang terbaring di bawah tersebut. "Aku kira kamu sudah tidur?"
"Aku cuma mau ngingetin satu hal sama kamu."
"Apa?"
"Kita akan tinggal bersama beberapa waktu dan banyak kemungkinan yang akan terjadi nanti. Termasuk dengan perasaan kita." Taka mengalihkan perhatiannya pada wanita yang hanya beberapa inci wajahnya bisa ia lihat dari posisinya saat ini. "Jangan sampai kamu jatuh cinta padaku," lanjutnya.
"Kenapa?"
Taka terkekeh kecil mendengar betapa polosnya pertanyaan Yusa. "Lakukan saja."
Yusa semakin heran.
"Ingat saja tujuan kita menikah."
"Kita akan jarang bertemu, Ka. Karena setelah ini aku akan segera ke Surabaya."
"Oh, ya?"
Yusa mengangguk.
"Kamu harus benar-benar menjaga diri di sana, Sa. Hubungi aku jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti atau kamu rasa aneh."
"Aku akan banyak merepotkanmu jika seperti itu."
"Lebih baik seperti itu dibandingkan aku harus menyesal karena tidak bisa melindungimu."
"Apa, Ka?" Yusa tak terlalu mendengar kalimat Taka yang terlalu lirih.
"Tidak apa-apa, tidur saja," ujar Taka seraya memunggungi tempat tidur Yusa.
Karena melihat sikap Taka seperti itu, Yusa memilih diam dan berusaha cukup keras untuk tidur. Kegiatannya besok pagi pastilah banyak.
*
Semalam Yusa hanya tidur sebentar. Sejenak tidur, sejenak terbangun. Seperti itu terus sampai ia akhirnya bangun mengerjakan salat malam. Meskipun Taka meyakinkan tidak akan melakukan apapun yang dikhawatirkannya, tetap saja ada sikap waspada yang membuatnya tak nyenyak.
Mengawali aktivitas paginya seperti biasa, yang mungkin pagi ini akan lebih sibuk dari pagi-pagi sebelumnya. Yang jelas, ia harus menyelesaikan semuanya lebih awal. Karena dia harus pergi ke bank untuk membayar tunggakan yang sudah ia janjikan sebelumnya.
Sedangkan Taka, baru membuka mata ketika mulai terdengar suara berisik anak-anak kecil yang berlarian. Ketika melihat keluar jendela, langit sudah sangat terang, jam di dinding sudah menunjuk ke angka tujuh. Ia membuka ikatan rambutnya, merapikan dan kembali menguncirnya.
Godaan dari keluarga baru menyambut Taka ketika pria itu keluar dari kamar. Mereka mengajak Taka untuk gabung menikmati sarapan, tapi pria itu menolak secara halus. Ada yang harus ia cari saat ini.
"Eh, kakak ipar baru bangun?"
Taka tak sengaja bertemu Risa yang baru sedang menuju ke kamar mandi. Pria itu mencoba menghindar, tapi Risa dengan cepat menghadang langkah Taka.
"Gimana? Enak ngerasain perawan?" bisik Risa.
"Bacot, Ri!" cetus Taka sambil menyingkirkan Risa dari hadapannya. Ia pergi menuju dapur dan menemukan orang yang dicarinya sedang jongkok mencuci peralatan dapur dibantu remaja perempuan.
"Sa!"
"Eh, udah bangun, Ka?" Yusa berdiri dan menghampiri Taka. "Mau aku buatin apa? Kopi? Apa teh?"
Pria itu terlihat kesal. "Nggak ada yang bantu kamu?" tanyanya, tak memedulikan pertanyaan Yusa.
"Itu, Fika. Ponakan aku," jawab Yusa.
Taka melihat tiga bak besar yang berisi peralatan makan yang sudah bersih. "Kamu melakukan itu hanya berdua saja?"
Yusa mengangguk. "Habis ini selesai, Ka."
"Udah sarapan?"
"Belum sempat, Ka."
Taka menghela napas berat. "Tolong bikinkan aku kopi, Sa." pintanya. Ia kemudian pergi duduk di tempat Yusa tadi untuk menggantikan pekerjaan istrinya.
"Ka—"
"Bikinkan aku kopi saja, Sa."
"Loh, Taka. Kok malah di situ?" Sumi yang baru datang di dapur terkejut melihat Taka. "Kamu gimana sih, Sa. Kok bisa biarin suami kamu cuci piring."
"Saya cuma bantu istri saya, Buk. Nggak tega saya lihat istri saya jadi pembantu di rumah sendiri," sindir Taka. Ia melihat Yusa, "Sayang ... kamu sarapan dulu aja. Aku bantu kamu selesaikan semua ini."
Selain terperangah dengan kalimat Taka yang pedas, Yusa juga kaget ketika mendengar Taka memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.