"Anik, Sima! Udah selesai belom makannya. Bantuin beres-beres di dapur!" teriak Sumi memanggil keponakannya.
"Bentar, Budhe! Dikit lagi!"
"Udah, Taka. Kamu ke depan aja, habis ini sarapan." Sumi menarik menantunya, "Masa' pengantin baru malah kerja gini," ujarnya segan.
Taka hanya mengulas senyum kecil seraya menghampiri Yusa. Sedangkan Sumi pergi meninggalkan dapur.
"Aku bikinin kopi dulu, Ka. Kamu duduk dulu," ujar Yusa seraya menunjuk kursi kayu di samping meja makan.
Taka duduk dan memperhatikan wanita itu meracik secangkir kopi di meja makan. Sorot matanya ikut ke manapun Yusa pergi dengan banyak pikiran di kepalanya.
"Kamu nggak ke toko hari ini?"
"Kamu mau ke mana hari ini?"
Keduanya tertawa kecil kecil ketika kompak bertanya satu sama lainnya.
"Libur dulu, lah. Masa' pengantin baru udah disuruh kerja. Kejam amat Ayahku," jawab Taka, mendapat respon senyuman lebar dari Yusa. "Kamu sendiri?"
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, Ka."
"Aku antar."
"Aku naik angkot saja," tolak Yusa.
"Aku antar, Sa."
Yusa terdiam, ia baru saja menyelesaikan adukan kopinya. "Aku takut naik motormu, Ka," ucapnya lirih membuat Taka tertawa.
"Mau aku antar pake mobilnya Ayah apa pake motor matic-ku?" tanya Taka.
"Matic aja, Ka."
"Oke. Nanti sekalian pergi lihat rumahku, ya?"
Yusa mengangguk.
*
Sebelum matahari naik terlalu tinggi, Yusa dan Taka sudah pergi menuju sebuah bank swasta. Taka tak mencari tahu tujuan Yusa. Melihat proses yang dilakukan Yusa di depan teller bank sudah memberi jawaban atas pertanyaannya. Ia tak menyangka uang mahar yang ia berikan dibuat membayar hutang.
Kini terjawab sudah alasan kenapa Yusa menangis malam di mana wanita tersebut meminta bantuannya. Bukan hanya sekedar untuk keluar dari rumah itu, tetapi juga untuk sebuah hutang keluarganya.
Usai dari menyelesaikan masalah di bank, Taka mengajak Yusa pergi ke rumahnya yang terletak di salah satu perumahan mewah tengah kota Malang. Bukan rumah yang diberikan Cahyadi, Taka membeli dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Taka memang terlihat slengekan, tapi pria itu mampu menghidupkan kembali usaha furniture Ayahnya yang hampir bangkrut. Sejak Cahyadi sakit-sakitan, Toko dikelola oleh orang kepercayaan Cahyadi, karena Taka saat itu masih kuliah. Namun banyak kerugian yang didapatkan dan hampir saja mengalami kebangkrutan. Akhirnya, beberapa bulan lalu Cahyadi meminta bantuan Taka yang baru menyandang gelar Sarjana setelah hampir enam tahun menjadi seorang mahasiswa itu agar mau mengelola satu-satunya usaha keluarga.
Berat bagi Taka, karena ia terbiasa hidup bebas semaunya sendiri. Kini ia punya rutinitas baru, mengelola toko. Sehari dua hari ia tak acuh, dan hanya asal-asalan menjaga. Malam ia harus menjadi DJ di salah satu club malam, jam delapan ia harus bekerja. Tetapi, ia mulai bosan karena sehari-hari menjaga toko dengan bermain game, melihat para pegawainya hanya diam karena tidak mendapat pelanggan. Akhirnya, ia mengubah strategi penjualan dengan konsepnya dan toko menjadi ramai seperti sebelum-sebelumnya.
"Ini rumahku."
Taka menghentikan motor matic-nya di depan sebuah rumah yang paling berbeda dengan bangunan di sebelah-sebelahnya. Jika rumah di sebelahnya bisa full bangunan, rumah Taka justru lebih luas halamannya dari pada bangunannya.
Ia membuka pintu pagar tanpa turun dari motornya. Yusa ingin membantu, tapi dilarang. Ia sudah terbiasa seperti ini. Setelah pintu terbuka, ia lanjut menuju ke carport. Ada beberapa motor di sana dan ada suara sedikit berisik dari dalam rumah berlantai dua tersebut.
"Kok ramai, Ka?" tanya Yusa ketika turun dari motor.
"Anak-anak komplek sama anak club kadang kumpul di sini," jawab Taka. Ia membantu Yusa melepaskan helm kemudian mengajak wanita itu masuk.
Tak ada seorangpun di ruang tamu. Hanya ruangan kotor, bungkus snack di mana-mana, botol minuman berserakan dan bau rokok yang pekat menyambut kedatangan Yusa. Kakinya enggan melangkah masuk, bau-bau aneh itu membuatnya mual. Namun Taka menarik tangannya, masuk menemui teman-temannya.
"Ciyeee ... pengantin baru ...."
Ada sekitar sepuluh pasang pria dan wanita di ruang tengah rumah Taka. Meja yang ada di tengah ruangan penuh dengan botol miras, kulit kacang, dan sampah-sampah seperti di ruang tamu. Di antara teman-teman Taka tersebut, ada beberapa pria yang dikenal Yusa, karena masih satu komplek dengannya.
"Aku mau tinggal di sini malam ini, jadi beresin semuanya. Jangan bikin kotor!" perintah Taka. Ia mengabaikan candaan teman-temannya dan mengajak Yusa ke lantai dua rumahnya.
"Ada tiga kamar di lantai dua. Nanti kamu pilih saja dua kamar yang kamu mau, Sa." Ia menunjuk satu pintu setelah sampai di lantai dua. "Yang ini kamarku, Sa. Kamu bisa pilih di antara dua kamar itu." Taka menunjuk dua pintu lainnya.
"Tapi kan aku mau ke Surabaya, Ka. Nggak perlu kamu sediakan kamar untukku."
"Bagaimanapun juga kamu istriku, Sa. Aku harus menyediakan semua kebutuhanmu," jawab Taka. "Apa kamu masih mau tinggal di sana sambil menunggu keberangkatan ke Surabaya?"
Yusa menggeleng pelan.
"Tuh, kan ... udah, pilih kamarnya dulu."
Yusa mulai beranjak pelan menuju ke pintu kamar yang ditunjuk Taka sebelumnya. Pria itu mengikuti tepat di belakang Yusa. Pelan Yusa membuka pintu kamar tersebut.
"Astaghfirullahaladzim!"
Taka lekas membalikkan tubuh Yusa dan mendekap dalam pelukannya.
"b*****t, kalian! Bisa-bisanya panas-panas gini ngesex!" sentak Taka ketika melihat seorang pria dan wanita sedang berhubungan badan di atas ranjang. Tak ada jawaban dari mereka yang sedang asyik dibuai gairah tersebut.
Taka menutup pintu kamar itu keras-keras. Ia merasa bersalah pada Yusa.
Wanita itu mencengkram kaus di bagian d**a Taka dengan tangannya yang bergetar, wajahnya masih menempel di d**a Taka dengan napas tak beraturan.
"Maaf ya, aku nggak tau mereka lakuin itu siang-siang begini," ucap Taka.
Yusa menggelang, ia menatap Taka dengan matanya yang berair, wajahnya terlihat gelisah. "Aku mau pulang, Ka," pintanya dengan nada bergetar.
Tanpa menunggu persetujuan Taka, Yusa berlari menuruni anak tangga. Tentu saja pria itu lekas mengejarnya. Namun, sampai di lantai bawah, langkah mereka terhenti ketika melihat kehadiran Boby di sana.
BUG!
Sebuah pukulan keras dari Boby membuat Taka tersungkur. Yusa menghentikan langkahnya, keadaan hening seketika.
"Kau tahu kalau sudah lama aku menyukainya! Kenapa kau malah menikahinya!" Suara bentakan Boby menggema ke seluruh ruangan.
"Sorry, Bob."
"b*****t!"
Boby menendang Taka yang baru berdiri dan menghujani pria itu dengan beberapa pukulan sebelum akhirnya teman-teman mereka memisahkan.
"Mas Boby ... ini salahku, bukan salah Taka. Aku yang memintanya menikahiku. Tolong jangan salah paham." Yusa mencoba memberi penjelasan meskipun ia sedang ketakutan dengan keadaan ini.
"Kenapa dia, Sa! Kamu tahu aku menyukaimu. Kenapa tidak minta tolong padaku? Kenapa harus si b******k ini!" sentak Boby.
"Kau juga laki-laki b******k, Bob!" sahut Taka.
"Setidaknya aku nggak sebrengsek dan sebangsat kau!"
Taka yang geram melayangkan pukulan pada Boby. Kembali mereka beradu kekuatan tapi segera dipisahkan sebelum keduanya babak belur.
"Pergi kalian dari sini, b*****t!" teriak Taka. "Pergi!" sentaknya lagi ketika tak ada dari mereka yang beranjak pergi.
Satu persatu dari mereka beranjak pergi, termasuk Boby dan sepasang kekasih yang beradu gairah di lantai dua tadi. Suara deru mesin motor mulai terdengar bersautan di halaman rumah dan perlahan terdengar menjauh dan menyisakan hening di dalam rumah Taka.
Yusa sangat merasa bersalah atas kejadian barusan. Terlebih lagi ketika melihat Taka yang terluka Pria itu duduk bersandar di dinding, kepalanya tertunduk, lengan kanannya bertumpu pada lutut kanannya yang ditekuk. Yusa menghampiri Taka dan duduk disamping pria itu itu.
"Ka ... maafkan aku," nadanya bergetar. Setetes air matanya jatuh.
Taka mengangkat kepalanya, ia mengulas senyum di bibirnya yang berdarah. Dihapusnya air mata Yusa. "Kamu nggak salah, Sa. Jangan memikirkan hal itu," ucapnya seraya mengusap kepala Yusa.
Perlakuan Taka membuat Yusa semakin merasa bersalah. Wanita itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan menumpahkan tangisnya di sana. Ia benar-benar merasa bersalah pada Taka.
"Hei, jangan nangis, Sa." Taka mendekati Yusa dan memeluknya.
"Aku membuatmu bertengkar dengan temanmu, Ka. Aku menyulitkan hidupmu saat ini," keluh Yusa di antara tangisnya.
"Sst ... udah udah." Taka mengusap punggung Yusa, "aku juga yang memilih untuk membantumu. Jangan salahkan diri sendiri."
Yusa menggeleng dan tetap menyalahkan dirinya. Taka melepaskan pelukannya dan menarik kedua telapak tangan yang menutupi wajah Yusa. Diusapnya kembali sisa air mata di pipi Yusa.
"Kuatlah, Sa. Jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri," tegas Taka dengan sorot mata tajamnya. Kedua tangannya mencengkram erat bahu Yusa agar wanita itu menatapnya. "Jangan terlalu lama diam dalam keterpurukan, Sa. Kamu punya tujuan atas semua pilihanmu ini. Jika mereka yang kuat terus menerus menjatuhkanmu, kamu harus buktikan jika kamu cukup kuat juga untuk bangkit dan membuktikan keberhasilanmu pada mereka."
Air mata Yusa terhenti, menyisakan isakan tangis. Ia mencoba memahami setiap kalimat Taka.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri dan tumbuhkan rasa percaya dirimu, Sa. Kamu bisa!"