Ponsel di atas nakas terus saja bergetar ketika Yusa masih mengerjakan rakaat pertama salat Dhuhur. Dering yang terus menerus seperti sebuah panggilan yang penting, karena si Penelepon tak menyerah meskipun berulang kali tidak mendapat respon. Setelah mengucap salam, Yusa meraih ponselnya. Nama Sakhiy membuat Yusa memutar bola matanya. Malas ia mau menerima. Ia letakkan ponsel itu, tapi kemudian ia ambil kembali. "Assalamu'alaikum, Mas. Kenapa?" "Wa'alaikumussalam. Sa! Dengerin gue baik-baik. Jangan kasih gue pertanyaan. Cukup lo denger semua ini dan lakukan persis dengan apa yang gue bilang!" Yusa mengernyit heran sambil menunggu kalimat Sakhiy selanjutnya. "Lo nggak tahu Taka seorang pengedar, apa lagi bandar narkoba! Lo cuma tahu dia pemakai dan udah bantu dia buat rehab." Ada ses

