Prolog

425 Words
Ruangan ber-AC itu nyatanya tak begitu banyak memberi efek dingin. Sepasang tubuh yang saling menyatu itu terus mengucurkan peluh dari hasrat panas melewati pelipis, beriringan bersama lenguh tertahan yang kerap terdengar memenuhi penjuru kamar. Lelaki itu—Raga, suara jantannya terdengar nikmat di tengah permainan mereka. Ketika wanita dipangkuan Raga semakin bergerak cepat, memberikan sensasi melayang pada keduanya. Tangan nakal lelaki itu naik perlahan menjelajah kembali setiap inci lekuk polos tubuh wanitanya, bersambut dengan suara terengah yang membakar nafsu jiwa. Wanita itu mendongak gelisah dengan napas terengah-engah, pipinya memerah meresapi setiap rasa. Surai sepunggung yang dibiarkan tergerai, ikut berayun menyamai pergerakkannya di atas tubuh atletis Raga. Saat sampai pada bagian yang diinginkannya, jemari Raga meremas dua gundukan menggemaskan itu yang berhasil meloloskan desah panjang si empunya. Raga mendudukkan diri, mendekap erat wanitanya. Tersenyum tipis, menikmati jengkal jambakkan pada rambut lebatnya. Bibir Raga tergesa menemui bibir lawan bercintanya, saling membungkam, melumat satu sama lain, bermain bersama tanpa keraguan. Kecupan bagai sengatan listrik yang candu milik Raga itu turun, tak ingin absen memberikan tanda cinta di bagian leher mulus di depannya. Sebelum berlabuh mendaratkan mulut pada gundukkan kesukaannya. Raga menghisap seperti bayi rakus yang kehausan, tangan lain ia perdayakan untuk meremas sisi satunya. ‘’Engghh ....’’ Lenguhan indah itu kembali terdengar, kian menambah energi sang lelaki. Bayi besar melepas isapan dari main kesayangan, menatap sang wanita. ‘’Kamu suka?’’ ‘’Yah ... faster please,’’ lirihnya. Wanita itu menggangguk cepat, mengelus sensual rahang tegas Raga. Tempat tidur berukuran king size semakin menggila, sejalan dengan desah yang saling bersautan. Raga hampir mendapat puncak kenikmatannya dan berakhir begitu saja, kala suara melengking dari samping meja yang berhasil menarik lelaki itu ke alam nyata. Sepersekian detik berikutnya, yang terngar hanya suara bantingan dari suatu benda. Sepasang mata elang itu memandang puas pada korban amarahnya pagi ini. Entah jam weker ke berapa yang sudah pecah dalam beberapa bulan belakangan, tentu dengan alasan yang sama— mengganggu mimpi indah yang nyaris terselesaikan. Raga mengacak rambut frustrasi, belum pernah ia segila ini karena seseorang. "Sial! Perempuan sialan!" kesalnya setelah menyadari telah bermimpi basah dengan wanita yang sama. Sepasang bilah bibir seksi itu berniat melanjutkan makian jika saja denting ponsel tak mengganggu. Satu pesan masuk dari Jendra yang mengingatkan, ada operasi yang menunggu dokter residen itu. Lama Raga menatap layar ponsel, menampilkan sosok perempuan tertawa lepas dengan gaya candid. Perlahan, seringaian penuh makna terlukis. ‘’Perempuan sialan! Gue pastiin suatu hari nanti mimpi ini bakal jadi kenyataan.’’                                                                         ==========0o0========== NB : Dokter residen adalah seorang dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis. Bahasa resminya kalau di Indonesia adalah Peserta untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis atau dapat disingkat menjadi PPDS.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD