Jangan sembarangan. Omongan adalah doa!
— Bule ganteng
==========0o0==========
Suasana sekitar tampak mendung. Hanya saja, udara dingin yang terus berhembus tetap tak mampu menghalau hasrat panas dalam tubuh sepasang manusia yang kini saling berhadapan.
‘’Hmmphh ... ahhh ...’’
‘’Huh! Ahh ... terus ... hahhh ...’’
‘’Tambah ... lagihh! Ahh ... udahhh!’’ Seorang wanita mengusap perlahan banjiran peluh,. sampai alat makan bernama sendok sukses mendarat pada kening lebarnya.
Wanita dengan bibir memerah itu memekik kecil, menatap garang partner makan kali ini.
Lelaki berambut ikal kecokelatan di depannya membalas dengan sorot lebih garang. ‘’Apa? Mau marah lo?! Lagian najis amat, sih lo. Minta tambah sambal aja pakai acara desah!’’ gerutu Alan yang nyaris seperti berbisik.
Bahaya kalau sampai omelannya terdengar oleh sekitar.
Mata biru Alan melirik sekitar, malu dengan kelakuan sableng sang sepupu. Hanya perkara sambal bakso mercon yang sedang mereka santap, wanita itu berhasil menjadikan meja nomor sepuluh sebagai panggung utama.
Wanita bercepol asal itu mengusap bawah mata yang basah karena keringat. ‘’Kanhh gueh ... kepedasan, bego!’’ Balas Kugy di sela desah tak senonoh. Menodai kuping pengunjung lain yang terkekeh geli melihat tingkahnya. ‘’Eh mata gue kok pedas, mampus!’’
Melihat aksi panik Kugy, Alan kembali memutar malas kedua bola mata.
Harusnya ia sudah memprediksi kelakuan Kugy yang memang selalu menyimpang dari kata normal. Walau sepupunya cukup mewakilkan makna dari kecantikan fisik, tapi percuma jika Kugy bersikap sememalukan ini saat diajak keluar.
Mungkin Alan akan lebih memilih Kesy— pegawai termini milik floral florist itu sebagai alat memanas-manasi mantan yang tengah duduk di pojok warung bakso bersama pacar baru.
‘’Gy!’’ Panggil Alan kesal.
Dilirik sang mantan yang tak bereaksi apa pun, walau melihat Alan makan berdua dengan wanita cantik. Justru senyum mengejek sejak tadi menghias wajahnya.
‘’Gy!’’ Ulang Alan, kali ini dengan tendangan kecil di bawah meja hingga yang dipanggil pun tersedak.
Wanita bercepol itu terlalu fokus menengak seluruh air es yang bisa dijangkau, tak terkecuali jus jeruk milik Alan yang tersisa separuh pun tak luput menjadi korban. Wanita itu menahan beberapa detik air es dalam mulut untuk meredakan rasa pedas yang menyiksa. Dirasa cukup lebih baik, Kugy menyeruput teh panas di bagian akhir sampai bulir kristal meluncur keluar dari mata besarnya.
‘’Hah! Siap juga, jontor bibir gue!’’ seru Kugy lega, tak sadar jika air muka Alan sudah kembaran dengan asam jawa. Masam.
Alan bersiap bangkit, rencana kompor meleduknya gatot pasa alias gagal total tanpa sisa.
Namun, cekalan tangan mulus Kugy lebih dulu menahan. ‘’Santuy my bro! Gue bukan sejenis tikus berdasi yang suka makan gaji buta. Berhubung udah ditraktir, sekarang biar gue yang balas sakit hati lo!’’ Bisiknya meyakinkan.
Sebenarnya Alan meragukan ucapan Kugy, entah apalagi yang akan diperbuat wanita jomlo sejak lahir itu.
Padahal Alan tak tau saja. Walau cuma modal pengalaman menonton catatan hati seorang istri di siaran Indosia*r, diam-diam Kugy telah menyiapkan skenario abal-abal untuk pembalasan hati Alan yang terluka karena diselingkuhi.
Lirikan elegan Kugy berpusat pada wanita berambut seleher yang pernah menghuni hati Alan. Desis lirih begitu saja keluar dari bibir ranum Kugy, ketika mendapati fisik yang tak sebanding dengannya. Bukan bermaksud sombong, cuma sadar diri. Sadar seratus persen kalau ia jauh beribu juta lipat lebih cantik daripada jelmaan Dora versi matre itu.
Gebrakan kecil pada meja, seperti komando dari Kugy untuk meminta perhatian para pengunjung yang ada. Ralat— faktanya tanpa begitu pun, sejak awal ia melempar b****g sintal itu pada bangku kayu sudah menjadi pusat perhatian berkat paras menawannya.
Tindak tanduk wanita jangkung itu kerap diikuti oleh tatapan buas para fakboi yang suka jelalatan, kala melihat yang wanita bening. Kulit kuning langsat nan halus milik Kugy begitu mencolok dengan warna gelap kaos lengan panjang ketat yang membalut tubuh, sukses menonjolkan apa yang patut ditonjolkan dari lekuk body goals idaman kaum hawa.
Peluh Kugy sudah mengering berkat sepoi angin sore yang teduh, menyegarkan sebersit ide.
Cepol asal rambut panjangnya terlepas menjadi geraian indah bergelombang. Pemandangan yang memikat pengunjung warung bakso mercon, karena terpana dengan gerakan rambut bak iklan shampo di televisi. Disibaknya rambut ke sebelah sisi, agar leher jenjang mulusnya dapat dipamerkan secara sempurna. Menggoda iman setiap lelaki yang menyaksikan, termasuk si atm baru kepunyaan mantan Alan.
Kugy memajukan duduknya, menatap Alan manja.
‘’Sayang ... aku keringatan, nih. Kamu gak niat keringin keringat aku?’’ rengek Kugy dengan nada sepert anak kecil. Menggetarkan jiwa gemas para kaum Adam yang mendengar.
Alan gelagapan, memasang ekspresi bodoh melihat kelakuan menggelikan pacar gadungannya.
Kugy menghela napas malas. Ternyata cara berpikir Alan jauh lebih lamban darinya. Dalam hati ia sudah memaki, ‘’Dasar bego! Gimana mantan mau panas, kalau dia cuma melongo tunggu lalat masuk ke mulut.’’
Kugy mengirim sinyal pada Alan, meminta lelaki itu untuk bersikap manis padanya. Nihil.
Makhluk hasil perkawinan silang WNI dan WNA itu hanya bagus di bagian fisik, tapi rusak di bagian isi kepala. Mungkin juga itu yang menjadi alasan mengapa ia dan Alan merasa pantas sebagai sepupu, ternyata sperpat kepala mereka satu tipe. Sama-sama lamban.
Tak menunjukan pergerakan, Kugy inisiatif menarik lengan kekar Alan lalu menyodorkan beberapa lembar tisu.
‘’Elapin,’’ ucapnya manja. Mengkode ke arah meja si Dora dan mesin uang barunya yang kini mulai memperhatikan mereka.
Mata Alan ikut melirik, dalam hati ia tak menyangka jika dalam otak Kugy masih terdapat sisa sel yang sehat. Perlahan tangan atletisnya merangkak naik, menyeka lembut pelipis Kugy yang setengah basah. Lelaki berlabel bule lokal itu mengakhiri aksi dengan cubitan gemas pada hidung mancung lawan dramanya.
Kugy tersenyum menang. Target sasaran mulai kesal dengan adegan menjijikan yang baru ia lakukan bersama Alan. Wanita itu memasang wajah innocent, menggaruk tak gatal garis rapi alisnya. Kugy mengangguk, bersiap melanjutkan skrip ftv mereka yang tertunda. Diakui sepupunya itu memang memprihatinkan dalam masalah finalsial, tapi luar biasa dengan penampilan luar.
Alan ikut memajukan duduknya, hingga wajah Kugy hanya berjarak satu jengkal saja. ‘’Gy!’’
‘’Hm?’’
‘’Gue harus ngapain lagi?’’ Bisik Alan sedikit panik.
‘’Ya buat kayak biasa sama pacar lo!’’
Lelaki itu bingung, ia tidak pernah bersikap romantis pada pacar-pacarnya dulu. Wajah rupawannya membuat Alan terbiasa diromantisin tanpa perlu meromantiskan balik, karena mantan terdahulu adalah bucin. Yah— kecuali si Dora petualang yang dideklarasi sebagai wanita pertama yang berani memutuskan Alan dengan dalih ‘kamu terlalu baik untuk aku.’
Padahal Kugy yakin, pemicu putusnya mereka berkat isi dompet Alan yang sering terisi struk belanjaan saja.
Kedua makhluk penuh visual itu terus melempar kode-kode bodoh, menggundang gelak mengejek dari wanita diujung sana. Wanita itu bangkit, berjalan santai menuju meja yang sejak tadi mencuri banyak perhatian orang.
‘’Alan?’’ Suara lembut yang menyapa refleks menolehkan kepala Alan pada sumbernya. ‘’Oh, ternyata benar kamu.’’
Wanita yang diketahui Kugy bernama Ema itu tersenyum manis, cukup berdampak untuk kuping Alan yang kini memerah. Ternyata pesona Ema masih berefek padanya.
‘’Kamu ... sama siapa?’’ Ema melirik Kugy sinis.
‘’Oh, Kugy kenalkan. Ini Ema, teman aku. Ema kenalkan, ini—‘’
‘’Kugy!’’ Lengan kurus Kugy terulur ramah yang disambut tak suka oleh lawannya.
Ema menoleh cepat kearah Alan. ‘’Teman? Wah. Hebat kamu, Lan. Dengan modal tampang begitu mudah dapa pengganti baru,’’ cibir Ema.
Kugy terkekeh anggun. ‘’Mbaknya juga hebat, dengan tampang pas-pasan bisa dapat yang sama.’’ Kemudian wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya, berbisik pada Ema. ‘’Sama pas-pasannya.‘’
Ema tertawa sumbang dengan ekspresi polos. ‘’Maksudnya ... gimana ya?’’
‘’Kayaknya Mbak udah bahagia sekarang, bisa nge-date di warung bakso karena Alan gak pernah mau diajak makan dipinggir jalan. Katanya kasihan sama isi dompetnya yang tersia-siakan.’’
‘’Gy,’’ panggil Alan lembut.
Kugy mencebik manja. ‘’Apa? Kan benar. Kamu selalu ajak aku makan di resto mahal, padahal aku lebih suka makan bakso.’’
Alis Ema bertaut tak senang, ada perasaan iri yang merong-rong batinnya. Memang benar Alan tak tak pernah mau makan dipinggir jalan, tapi selalu mengajaknya makan di depan rumah saja. Lelaki itu jarang mau mengeluarkan uang secara sukarela jika diajak berkencan.
‘’Pasti Mbak putus sama Alan karena itukan? Pecinta bakso yang dilarang-larang makan bakso, makanya jadi kesal terus selingkuhin Alan sama Mas-Mas yang bisa diajak makan bakso bareng?’’
Suara gaduh bisik-bisik tetangga seketika terdengar, setelah lontaran ucapan Kugy. Wajah Ema memerah menahan malu. Harusnya ia menolak ajakan Bimo untung terdampar di warung mercon ini.
“Alan! Kayaknya pacar kamu ngelantur!’’
Bule KW super itu menatap Kugy panik. ‘’Gy! Gak baik buka kartu.’’
Wanita itu melirik remeh, mengintimidasi si kecil dengan tinggi badannya yang menjulang.
‘’Apa pun itu. Saya ucapin terima kasih sebesar-besarnya buat Mbak, karena udah ngelepas lelaki sebaik Alan.’’ Kugy sedikit membungkukan tubuhnya, mendekakan bibir pada telinga Ema untuk kembali berbisik. ‘’Alan ternyata tajir melintir, yah. Thanks.’’
Tarikan lembut Kugy membawa keduanya melangkah panjang keluar dari sana.
‘’Gimana? Gokil gak?’’ Kugy berjalan terbalik, memandang Alan yang beberapa langkah tertinggal dibelakang.
Alan mengangguk puas. ‘’Good. Omongan lo setara sama pedasnya bakso mercon!’’
‘’Iya, dong. Namanya Kugy—‘’
‘’Manusia Kurang Gyzi!’’
“Ck!’’
‘’Jalan yang benar, nanti kesandung!’’ Kugy tak mengindahkan ucapan Alan. ‘’Gy! Ini banyak batu, lho.’’
‘’Biarin, salah lo yang parkir kejauhan!’’ Omel Kugy, sampai tak sadar akan ada batu yang mengganjal kakinya.
Alan yang berjarak cukup jauh, mencoba berlari menangkap. Jantung lelaki itu mencelos melihat sang sepupu terhuyung ke belakang. Sedangkan Kugy sudah menutup rapat matanya, bersiap menahan sakit ketika jatuh.
Namun, hingga detik berikutnya ia tak merasakan apa pun pada bagian b****g. Melainkan suara panik Alan yang sudah mendekat.
‘’Lo gak apa-apa? Anjir, panik gue!’’
Kugy tak bereaksi. Setelah berhasil berdiri tegak, ia berbalik pada seseorang yang menagkapnya. Sang penolong itu hanya membalas tatapannya sekilas, sebelum mengangguk kecil pada Alan dan berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Punggung lebar lelaki itu berbelok memasuki mobil merah yang tak jauh dari tempat Kugy berpijak.
‘’Gy! Lo gak apa-apakan?’’
‘’Dia—‘’ ucap Kugy menggantung.
‘’Kenalan gue.’’
Kugy terdiam sebentar. ‘’Lan, kalau kecerobohan gue, bisa buat ketemu titisan dewa kayak dia. Gue rela jadi manusia ceroboh seumur hidup.’’
‘’Jangan sembarangan. Omongan adalah doa!’’ Sembur Alan. ‘’Tapi lo gak apa-apakan?’’
Mata sayu Kugy menatap Alan. ‘’Gue kenapa-napa, Lan.’’
‘’Hah? Mananya? Mana yang sakit?’’
Telapak tangan Kugy mendarat pada bagian kiri dadanya, meraba sesuatu yang kini berdetak kencang karena sebuah tatapan. ‘’Gue ... takikardi, Lan.’’
Kerutan kening Alan mendalam. Otaknya buntu jika Kugy sudah membawa-bawa istilah kedokteran yang pernah wanita itu pelajari.
‘’Taki apa? Taki-Taki? Lo ... maksudnya mau joget?’’
==========0o0==========
NB : Takikardi adalah Denyut jantung yang cepat, mungkin teratur atau tidak teratur, namun tidak berhubungan dengan proporsi usia dan tingkat pengeluaran tenaga atau aktivitas. Dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit. Contohnya termasuk olahraga, ketakutan, kecemasan, stres, marah, atau kasmaran.