2. Setan Kecil

1605 Words
                                                                                            Dua tiga, cicak berenang. Ini anak pengin gue tendang!                                                                                                                                                                                 — Kugy                                                                               ==========0o0==========   ''Hari ini kamu yang temani Oma check up!''' Kunyahan dari lontong sisa peninggalan Alan membuat kegaduhan dalam tenggorokan Kugy. Wanita bare face yang masih memakai hiasan belek di mata itu, spontan mengikuti setiap tindak-tanduk anggun Linda dengan ekspresi melongo. Wanita tua yang merasa diperhatikan pun menoleh dari kegiatan membuat teh. "Kamu keberatan?" Tanya Linda memastikan. Susah payah Kugy menelan salivanya. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk berkata iya, tapi ia juga tak mau ambil resiko kalau Linda akan mengamuk dan baskom dapur pun seketika berubah menjadi UFO terbang. Tidak ... tidak ... Kugy tak akan mau repot ke pasar untuk membeli baskom baru. Jam rebahannya akan terpotong 45% dan itu adalah sebuah kerugian karena wanita itu bisa membakar lemak-lemak manjanya, hingga berakhir dengan penurunan berat badan. Kugy lebih rela menghabiskan tenaga dengan olahraga jempol di kasur, lalu duet bersama senam bibir a.k.a berjulid ria sembari meng-scroll feed i********: akun lambe_curah. Tidak seperti kebanyakan wanita, Kugy memang aneh. Bukan! Tapi sangat aneh. Jika para kaum hawa itu enggan untuk menimbun lemak, lain hal dengan wanita ceroboh itu. Dia akan senang jika memiliki sedikit glambir lemak yang sayangnya belum pernah terwujud. Kalau ada yang bertanya mengapa Kugy ingin memiliki banyak lemak, jawabannya sederhana. Berdasarkan yang pernah ia pelajari di maat menjadi mahasiswa kedokteran dulu, fungsi baik lemak teramat banyak. Salah satunya bisa membuat tubuh menjadi hangat seperti saat memakai pakaian tebal. Itu akan sangat berguna untuk wanita yang mudah kedinginan sepertinya. Namun, ada hal yang lebih Kugy khawatirkan. Rumah sakit. "Oma," lirih Kugy. ‘’Terus toko siapa yang jaga?’’ Manik kelamnya menatap takut-takut wanita tua yang masih terlihat bugar dari kebanyakan wanita seumurannya. Kugy tersenyum simpul, menemukan alasan yang cukup kuat untuk mengagalkan perintah Linda. Floral florist adalah toko bunga kepunyaan Linda yang dicintai dengan segenap jiwa raga, dirawat sepenuh hati seperti anak sendiri. Mirip bapak-bapak petani yang menanam Malika— si kedelai hitam pilihan. Apa pun yang menyangkut bangunan bewarna pastel berlantai dua itu, pasti Linda akan tanggap mengatasi. ‘’Kamu lupa kalau kita punya Kesy?’’ Mata besar Kugy berkedip cepat. Ah— ia lupa jika Linda juga cukup kaya untuk mempekerjakan satu karyawan yang tak lain adalah teman masa sekolah Kugy dulu. ‘’Apa guna dia digaji tiap bulan, kalau toko juga harus kamu yang selalu handle? Hm?’’ ‘’Oma percaya Kesy? Dia kan lemot.’’ Lirikan tajam Linda langsung membungkam Kugy. Tak lama cengiran tak ikhlas terlukis pada bibir polos sang cucu, menampilkan gigi kuning yang belum tersikat pagi ini. Linda menggeleng pasrah melihatnya. ‘’Mau sampai kapan kamu begitu? Menghindari rumah sakit?’’ ‘’Kugy gak suka, Oma.’’ ‘’Jadi kamu tega biarin Oma check up sendiri?’’ Linda pura-pura memasang wajah kecewa. Air mukanya diatur sesedih mungkin agar hati lemah wanita berpiayama chibi maruko-chan itu luluh. Benar saja, detik berikutnya Kugy terlihat bersalah. Walau dalam hati ia berteriak ‘TEGA!’, tapi faktanya Kugy tak mampu bersuara. Linda mengesap sedikit teh melatinya, sebelum membawa gelas lain dalam genggaman. ‘’Habiskan! Setengah jam lagi kita berangkat. Jadi jangan banyak alasan!’’ Pemegang pangkat tertinggi di rumah itu melenggang pergi, usai meletakan satu gelas teh melati di dekat lengan Kugy. Helaan napas lesu Kugy terdengar. Memang apalagi yang bisa ia lakukan, jika Yang Mulia Ratu sudah memerintah. Menolak juga akan sia-sia karena Linda bukan tipikal nenek yang suka memanjakan cucu, terkecuali Alan pastinya. Selain selalu menjadi objek bucin para wanita nyaris dari semua usia, nasib Alan juga cukup beruntung karena berstatus sebagai cucu kesayangan. Sebab hanya dia seoranglah yang berjenis kelamin laki-laki di antara cucu Linda yang lainnya. Mengingat mengapa alasan Kugy bisa menjadi korban pagi ini, tentu tak lepas berkat Alan yang kabur dengan alasan jogging dan belum kembali hingga sampai sekarang. Gelas antik berisi cairan yang tak disukai itu sedikit tumpah ketika lengan Kugy menggeser dengan kasar. Jiwa pemberontaknya seakan terpanggil. ‘’Gue buang, nih!’’ ‘’Kugy Aviora!’’ Wanita itu tersenta, mendengar seruan Linda dari bagian depan rumah. Suara yang sukses menelan nyali Kugy— si kepala batu. ‘’Diminum tehnya, Oma tau kalau kamu buang!’’ ‘’I ... iya Oma. Gak dibuang, ini mau diminum!’’ Kugy memukul kesal bibirnya. Bisa-bisa mengucapkan kata yang terus bertolak belakang dengan hati. ‘’Jangan bohong, nanti Oma kutuk jadi batu bata!’’                                                                                  ==========0o0==========   Bau obat-obatan begitu kentara menusuk indera penciuman sejak awal Kugy menginjakkan kakinya ke dalam bangunan bernuansa serba putih itu. Suara lembut dari suster yang bertugas kembali terdengar memanggil nama pasien. Leher jenjang Kugy sedikit melongok, mengintip nomor antrean dalam genggaman Linda. Sesekali ia kembali mengecek arloji, menghitung akan berapa lama lagi harus terjebak dalam tempat yang dibencinya. Ingatkan Kugy untuk meng-smack down Alan saat bertemu si bule karbitan karena kabur dari tanggung jawab. Sehingga mau tak mau, ikhlas ataupun tidak, ia harus menemani Linda check-up rutin kondisi jantung dan darah tinggi. Padahal Kugy lebih suka berdiam diri dibalik meja kasir toko bunga, daripada berada di tempat penuh tenaga medis itu. Memiliki perasaan peka, Linda menyadari kegelisahan cucunya. Sejak tadi, wanita di sampingnya tak henti-henti bergerak. Ada saja yang membuat Kugy terus bergeser dari duduknya, mulai dari menggesek-gesekan b****g pada kursi besi, menghentak-hentak kaki tak beraturan, atau sekedar mengayunkan kaki jenjangnya hingga terseret-seret pada lantai. ‘’Tiap enam bulan, kamu rutin minum obat cacingkan?’’ Mendengar pertanyaan tiba-tiba Linda, wanita muda itu segera menoleh lalu mengangguk kikuk. Linda kembali memicing curiga. ‘’Masa? Tapi kenapa dari tadi badanmu bergerak terus mirip orang cacingan!’’ Rahang tegas Kugy jatuh ke bawah. Salut dengan pemikiran Linda yang salah menangkap kodenya yang ingin buang air tapi justru diartikan seperti orang cacingan. ‘’Bukan Oma! Tapi—’’ gantung Kugy. Takut Linda mengomel karena nomor antreannya sudah dekat. ‘’Mau ke toilet,’’ cicitnya memelan. Sesuai prediksi, Linda memasang wajah galak yang bersiap meluncurkan bombardir berjudul omelan panjang yang mungkin mengalahi panjang sungai nil. Namun, lain dari skrip khayalan Kugy. Suara judes Linda yang mengizinkan pergi, justru terdengar. ‘’Buruan. Tiga nomor lagi giliran Oma!’’ ‘’Siap 86! Laksanakan!’’ Kugy mengangkat tangan, membentuk tanda hormat. Dalam sekejap wanita jangkung itu melesat pergi dengan tergesa, merasa tak peduli dress putih selutut yang harusnya ia perlakukan dengan anggun. Dekat belokan lorong, Kugy semakin memacu langkah. Sampai kecerobohannya membuahkan hasil berupa corak kemerahan yang tertumpah minuman dari lawan tabrakkannya. Anak kecil berpakaian pasien rumah sakit itu menatap galak. ‘’Kakak kalau jalan pakai mata, dong! Minum aku jadi tumpahkan!’’ Bentaknya kesal. Lagi-lagi rahang Kugy jatuh ke bawah, terplongo mendengar kejudesan bocah ingusan itu. Anggaplah memang ia yang salah, tapi ... haruskah anak itu bicara seperti tadi? Kugy rasa tidak. Kugy berkacak pinggang, membalas dengan tatapan serupa. ‘’Kamu bilang apa?’’ ‘’Apa?’’ Tantang anak tadi. ‘’Kakak budeg? Gak bisa dengar?’’ ‘’Heh!’’ ‘’Padahal Kakak ini cantik dan kelihatan pintar. Tapi— ‘’Tapi?’’ ‘’Tapi boong!’’ Rasanya jari-jari Kugy sudah gemas hendak mengunyel setan kecil di depannya itu. Bukan mengunyel sayang, tapi penuh dendam. ‘’Aku bilang Kakak kalau jalan pakai mata, biar gak nabrak!’’ Pekik sang anak. Kugy menghela napas kesal. Kenapa anak ini jadi bawel dan menyebalkan. ‘’Mana, nih emaknya. Mau gue demo sekalian!’’ Gerutunya dalam hati. ‘’Kak!’’ ‘’Apa?! Di mana-mana orang jalan itu pakai kaki, mana ada jalan pakai mata!’’ Balas Kugy tak kalah nyolot. Bocah di depannya mendengkus penuh hina, menohok harga diri Kugy yang diremehkan anak di bawah umur. ‘’Ternyata Kakak, cantik-cantik bego. Pokoknya aku kesel minumanku tumpah!’’ ‘’Ap— Argh!’’ Satu tendangan mengenai tulang kering Kugy. Belum sempat Kugy mencerna semua kejadian, bocah itu lebih dulu kabur. Tentu Kugy tak tinggal diam karena telah ditendang dan dikatain bego walau faktanya 50% itu benar. Entah apa yang merasukinya, niat berkunjung ke toilet pun musnah karena Kugy lebih semangat menjumpai orang tua dari anak tadi. Langkah kecil penuh tawa anak kecil di depan sana cukup cepat untuk dikejar. ‘’Jangan lari!’’ ‘’Tangkap sini! Wleee ....’’ Kugy mempercepat lari, rasa kesal meningkat pesat karena juluran lidah setan kecil di ujung lorong sana. Ia berjanji akan mengomel panjang kali lebar, kali tinggi, kalikan kuadrat dua, jika nanti bertemu dengan orang tuanya. ‘’Jangan bergerak! Tunggu Kakak di situ!’’ ‘’Sini Kak, sini!’’ Tangan anak itu bergerak memanggilnya yang kian mendekat. ‘’Tapi boong lagi , dahhh!’’ ‘’Heh! Bocah!’’ Tepat Kugy hampir mencapainya, makhluk unyu menyebalkan itu lenyap ditelan perbelokan lorong. Kugy yang berlari dengan kecepatan penuh tak sadar bila tali sepatunya sudah terlepas sejak tadi. Belum sempat menyadari, kakinya malah menginjak salah satu tali. Jangan tanya apa yang terjadi. Tubuh jangkung itu terhuyung ke depan dan menabrak sesuatu yang keras, sebelum berakhir jatuh dengan suara cukup kuat. Rasa nyeri di lutut menjalar dengan cepat, untung saja kepala dan sikutnya aman karena menimpa sesuatu Waktu seperti berhenti, begitu juga aktivitas lorong rumah sakit yang membeku melihat pemandangan yang tersaji. ‘’Aw!’’ Kugy mengaduh menahan sakit. Tangan langsing itu menyibak rambut panjangnya yang menutupi wajah, tampak seperti Sadako— si setan milik negeri bunga sakura. Yakin tidak jatuh seorang diri, Kugy bergerak panik dan tak sengaja menekan sesuatu. Menimbulkan suara mengerang di dekatnya. Bak gerakan slow motion, wanita itu mendongak takut menatap arah depan. Seorang lelaki berjas putih dengan sorot tajam yang terlihat tak asing untuk Kugy, sedang memandang penuh amarah. ‘’Mau sampai kapan di atas situ?’’ Kugy tak merespon. Ia bagaikan kehilangan nyawa setelah mendapati tubuhnya sedang dalam posisi menimpa seseorang. ‘’Singkirkan tangan Anda ... Nona!’’ Kugy melotot melihat di mana letak tanganya. Refleks ia menarik diri sejauh mungkin, tak sadar kalau tangan nakal itu sempat berada di atas area pribadi dari orang yang ditimpanya. ‘’Ups!’’                                                                                  ==========0o0==========
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD