‘’Yellow poppy, lambang kesuksesan. Semoga karier mama sukses selalu.’’
—Kugy
==========0o0==========
‘’Gimana habis antar Oma check up semalam?’’
Vas plastik bening dalam pelukan Kugy melonggar, begitu luncuran pertanyaan tiba-tiba Kesy. Wanita dengan bercepol asal berdeham beberapa kali, mencoba menguasi diri kembali.
‘’Oi! Ditanyain malah melamun!’’ Karyawati super bawel yang pernah Linda pekerjakan itu menyenggol Kugy yang berjalan di sampingnya. ‘’Awas aja lo kesand— Astaga Kugy!’’
Heboh, Kesy menghampiri tubuh menjulang Kugy untuk dibantu berdiri.
Belum juga selesai Kesy mewanti-wanti, Kugy sudah lebih dulu menangkap kodok alias tersungkur di lantai. Temannya itu memang sangat juara dalam hal menjatuhkan diri, kaki-kaki jenjang Kugy selalu saja membuatnya terjerembab.
Terkadang Kesy merasa beruntung memiliki tubuh kecil, setidaknya jika ia terjatuh tak akan sesakit Kugy punya tinggi lebih menjulang.
‘’Duh! Kasihan tau bunganya. Lo malah pakai acara jatuh, sih!’’
Mata besar Kugy kontan melotot garang. ''Bisa-bisa lebih kasihan sama bunga dibanding gue?''
''Yaiyalah, bunga kan mahal. Lah lo?''
''Murah gitu maksudnya?'' Hardik Kugy.
Kesy tergelak. ''Bukan gue yang bilang. Tapi lo sendiri!''
Kugy berdecak kesal. Menonton Kesy yang tengah mengomel sambil sibuk memungut setiap tangkai bunga yang berceceran di lantai, hingga sebuah tawa menyebalkan menginterupsi celotehan bawel Kesy.
‘’Lo tau gak, kalau semalam Kugy juga tangkap kodok waktu di RS?'' Satu kalimat menarik terlontar dari bibir Alan.
Mengundang tanda tanya besar dalam jiwa kepo seorang Kesyana Malia. Wanita kecil berkulit pucat itu bangkit dari jongkoknya, buru-buru merapikan bando merah di kepala sebelum merapat pada tubuh tiang Alan.
‘’Dia jatuh lagi gitu?’’
Alan mengangguk semangat. ‘’Tapi jatuh yang ini beda,’’ bisiknya dengan mata mengejek melirik Kugy yang sudah mendelik.
Wajah wanita itu memanas, jika teringat kejadian sial yang menimpanya. Rumah sakit memang sebuah petaka untuk Kugy, tak jarang keberuntungan yang sudah ogah-ogahan di dekatnya menjadi kabur sekalian bila menginjakkan kaki di tempat penuh obat itu.
Alasan lain mengapa Kugy membenci rumah sakit dan tidak nyaman berada di sana.
Baginya, bangunan berbau khas itu hanyalah sebuah memori kesedihan.
Tempat yang lebih sering dijatuhi air mata, daripada tawa bahagia. Berhubungan dengan hal medis sudah sejak lama ia benci dan semakin tak suka ketika memori masa lalunya terlintas. Tentang kehidupan Kugy yang pernah menjadi mahasiswa kedokteran, sebelum berakhir gugur hingga menciptakan murka pada ibunya.
‘’Beda gimana? Itu anak kan emang doyan ciuman sama lantai. Lagian matanya diletakin di dalam lubang hidung, sih. Wajar kalau sering kesungkur.’’
Kugy mendengkus mendengar cemohan Kesy. Mulutnya akan ringan sekali kalau sudah menghina, seolah yang dibicarakan sedang tak berada di sana. Kesy menyelipkan potongan rambut selehernya ke belakang telinga, bersiap mendengar bahan ghibahan dari tukang ghibah TOP bernama Alan.
‘’Terus bagian menarik dari Kugy jatuh itu di mana?’’
‘’Bagian menariknya itu ... yang ini dia jatuhnya empuk!‘’ Lanjut Alan. ‘’Kugy jatuh—‘’
‘’Alan! Udah, ya. Jangan sembarangan sebar gosip murahan!’’
‘’Ih, Gy. Bisa diam gak? Gue kepo, nih!’’ Semprot Kesy. Haram hukumnya jika acara pergosipan seorang Kesy diganggu.
Dengan kesal, Kugy segera menghampiri wanita dengan tinggi hanya sebatas bahunya itu. Kedua telapak tangan Kugy menutup rapat telinga Kesy. ‘’Diam atau gue bolongin semua tengah sempak lo!’’ Ancamnya serius menatap Alan, sebelum membawa pergi si kecil secara paksa. Tubuh seuprit Kesy meronta minta dilepas, setelah mereka sampai di ruang utama floral florist.
‘’Iihh Kugy!’’
‘’Iiih Kesy!’’ Tiru Kugy yang sejenak memasang wajah sok menggemaskan, sebelum menjadi galak. ‘’Lo! Gak usah kepo sama berita gak benar Alan. Percaya, deh gue gak ada apa-apa!’’
Mata besar Kesy spontan memicing, mengendus aroma kebohongan dari bau mulut temannya.
‘’Percaya sama lo, ya musyrik lah! Percaya itu sama Tuhan!’’
‘’Ya, ya ... terserah!’’ Kalah Kugy, berjalan menuju meja kebesarannya. Tempat ia bekerja sebagai kasir, sekaligus salah satu dalang di balik setiap rangkaian indah bunga yang terjual dari floral florist.
Wanita itu enggan mengingat peristiwa memalukan yang ia lakukan. Sifat ceroboh selalu berakhir dengan menceburkan Kugy ke dalam lubang ke malangan. Perlahan Kugy melirik tangan kanan, si nakal yang sudah lancang memegang sesuatu yang tak seharusnya dipegang.
Ia bergidik sembari mengibas-ngibaskan tangan ke udara karena tiba-tiba merasa geli dan ... ternodai.
Melihat itu kerutan di kening Kesy semakin mendalam, tingkah abstrak Kugy jelas mengalahi lukisan abstrak yang berbentuk tak jelas itu.
‘’Terus ... kenapa muka lo mendadak jadi merah?’’
‘’Hah?’’
‘’Ngaku!’’
Kugy menangkup wajah, terkadang ia benci dengan warna kulit cerah warisan Gyna yang sulit membuatnya menyembunyikan rona merah di pipi. Kenapa ia tidak berkulit kecokelatan gelap saja seperti Kusuma— ayahnya. Pasti Kugy tidak akan serepot ini berhadapan dengan si pengorek berita di depannya.
Denting bel berbunyi, setiap kali ada yang mendorong pintu kaca floral florist.
Linda masuk dengan rona bahagia, melempar senyum pada Kesy yang pertama kali tertangkap netranya. Sampai lengkung indah itu meredup, begitu mendapati Kugy masih memakai piyama tidur dengan penampilan super acakadul. Walau tetap mempesona, hanya saja bukan pemandangan itu yang ingin Linda lihat.
‘’Kugy Aviora!’’
‘’Astaghfirullah, Oma.’’ Kugy dan Kesy sama-sama terkejut mendengar seruan lantang wanita tua itu.
‘’Kamu kenapa belum mandi?!’’ Linda mendekat dengan langkah tergesa, diliriknya jam dinding yang tepat berada di atas kepala Kugy. ‘’Kamu gak ingat hari ini hari apa?’’
Yang ditanya melirik Kesy panik meminta bantuan. Sementara Kesy susah payah membuka mulut untuk menjawab.
‘’Ha ... hari Kamis, Oma,’’ jawab Kesy mewakilkan. Sadar jika wanita kucel di dekatnya itu pasti tak tau ini hari apa.
Linda memijat pelipis, pusing dengan pola pikir cucu cantiknya. Wanita itu hendak menjawab, kalau saja denting bel tidak menginterupsi. Seorang wanita dengan senyum secerah mentari menerpa ketiga penghuni yang kini tertoleh ke arahnya.
Tiga orang itu memberikan respon yang berbeda, jika Linda juga menghadirkan senyum ramah untuk menyambutnya. Lain pula Kesy yang terlihat menatap sinis kedatangan saudara kandung dari temannya itu. Begitu pula dengan Kugy, air mukanya seketika berubah murung mendapati sang adik berjalan menghampiri.
‘’Pagi, Oma,’’ tutur Kana lembut, mengambil tangan sang nenek untuk mencium dengan sopan. Sorot indah Kana berbelok menatap Kugy yang masih membatu. ‘’Pagi, Kak.’’
Jantung Kugy jatuh entah ke mana ketika suara yang sangat dirindunya itu menyapa. Bibir itu hanya mampu membalas dengan senyum tipis. ‘’Pagi.’’
Linda memandang kedua cucunya, lalu kembali fokus pada Kugy. ‘’Kamu benar lupa sama hari ini? Kana sudah beritahu kamu kan?’’ Tanya Linda lagi.
Mendengar namanya terseret, Kana membuka suara. ‘’Mungkin Kak Kugy lupa Oma. Pantas kalau belum siapan,’’ jawabnya cepat. Takut jika Kugy lebih dulu melempar pertanyaan lanjutan.
Sel-sel otak Kugy mencoba mencerna topik pembicaraan kedua orang depannya. Namun, nihil. Kugy buntu dengan hal yang sedang mereka bahas. Wajah polos penuh tanyanya terarah pada Kesy yang juga mengedikan bahu.
‘’Bagus Oma siapan aja duluan. Biar Kana yang ingatin Kak Kugy.’’
Linda mengangguk setuju dengan ide cucu bungsunya, ikut membawa Kesy untuk dimintai pertolongan jika dibutuhkan. Bicara dengan Kugy yang suka pelupa mungkin akan memotong jatah Linda bersiap diri.
Sepeninggal Linda dan Kesy, wanita yang dua tahun lebih muda dari Kugy itu menatap serius sang kakak yang terlihat meminta penjelasan.
‘’So?’’
‘’Hari ini mama wisuda.’’ Kana membuka obrolan. Atmosfer sekitar Kugy berasa runtuh karena baru mengetahui berita sepenting itu. ‘’Aku udah coba telepon Kakak dari kemarin, tapi—‘’
‘’Kamu bisa tinggalin pesan lewat chat!’’
Kana mengangkat bahunya acuh. ‘’Aku yakin nomor aku udah diblokir, right?’’
Wanita berpiayama itu tertawa sumbang, kepalanya mengangguk kecil. Seolah sadar jika Kana tak perlu repot untuk berusaha memberitahu perihal ini. Lagian ia berani bertaruh, jika yang bersangkutan pun tidak akan sudi menerima kedatang Kugy di hari memorable-nya.
‘’Kalau pun Kakak tau ... apa Kakak mau ikut?’’ Tanya Kana hati-hati.
Hubungan Kugy dengan Gyna, bukanlah contoh jalinan yang baik antara anak dan ibu. Seperginya Kugy dari rumah Gyna, saat itu juga sang ibu seperti menghapus segala ingatan tentang Kugy yang pernah menjadi anak emasnya.
Kugy mendesah berat. Ada sesak yang hendak ia legakan sesegara mungkin. ‘’Yah. Right!’’
Pasti akan sangat membanggakan ketika ia memeluk dokter spesialis penyakit dalam memberi ucapan selamat atas gelar konsultan yang baru yang didapat sang ibu. Namun, faktanya Kugy tidak siap menghadapi kenyataan itu.
Kana meminta selera Kugy untuk buket yang hendak dibawa. Dalam gerakan lugas, wanita bercepol asal itu begitu lihai menyusun setiap tangkai indah menjadi satu-kesatuan yang memanjakan mata.
‘’Kak ... mau sampai kapan kayak gini. Mama—‘’
‘’Ini.’’ Kugy menyodorkan buket mawar light pink yang difavoritkan Gyna. Bunga yang melambangkan atas rasa kekaguman, cinta sukacita dan kelembutan.
Bulu mata lentik Kana berkedip takjum menelusuri hasil karya Kugy.
Sejak kecil, wanita itu memang suka dengan hal berbau bunga dan unggul dalam bidang prakarya atau karya seni lainnya. Darah kental atas gen seni yang diturunakan sang ayah yang seorang seniman, memang mengalir deras dalam diri Kugy.
Begitu juga dengan Kana, walau darah seni yang dimilikinya tak setajam Kugy tapi ia juga punya taste yang bagus dalam berseni. Untuk kini, Kugy sudah bisa terbang bebas mengekspresikan jiwa seni yang selama ini terkungkung dalam sangkar buatan Gyna. Tidak seperti Kana yang harus bertahan menjadi boneka dari wanita ambisius yang berstatus sebagai ibu mereka itu.
Ia tidak berani memberontak seperti Kugy dan selamanya tidak akan punya nyali.
Kana tidak ingin Gyna juga menelatarkannya, seperti yang dilakukannya pada Kugy. Biarlah hidupnya diatur penuh oleh Gyna, toh ia sudah sangat terbiasa. Terlebih Kana cukup menikmati keadaan, setelah ketiadaan Kugy yang selama ini berperan menjadi anak emas.
Karena tanpa sadar, terkadang Gyna seakan membuat Kana merasa seperti anak tiri.
‘’Aku gak bisa datang ke wisuda mama. Jadi tolong sampaikan maafku lewat ini aja, ya.’’
Lengan Kugy terulur menyerahkan satu buket bunga lagi. ‘’Yellow poppy, lambang kesuksesan. Semoga karier mama sukses selalu.’’
Kana tertegun. Walau sudah dicampakkan Gyna, selamanya Kugy tak akan pernah bisa mengacuhkan wanita cerdas itu.
Satu hal yang membuat Kana membenci diri sendiri, selain tak mampu mengungguli kemampuan kakaknya dalam bidang seni. Ia juga tak bisa sebaik Kugy dalam memahami apa yang benar-benar Gyna sukai.
Kana tertawa hampa dalam hati. ‘’Gak heran kenapa mama lebih sayang kamu daripada aku, Kak!’’
Jari lentik wanita anggun itu sedikit bergetar, menerima rangkaian indah kumpulan kelopak kuning cerah yang berbaur dengan bunga baby breathe dalam balutan kertas pembungkus.
‘’Akan aku sampaikan.’’
''Thanks''
Tak ada lagi percakapan. Kana ingin pergi segera mungkin dari hadapan Kugy, tak kuasa menahan rasa cemburu dalam benaknya.
==========0o0==========