'’Just call me Raga.’’
—Saraga Nabastala
==========0o0==========
Linda menggengam erat pergelangan tangan Kugy, khawatir jika wanita itu benar-benar kabur sebelum menginjakan kaki ke dalam ruang pemeriksaan. Ia tau dan sangat paham kalau cucu pertamanya itu tak bisa nyaman berada rumah sakit. Yang Linda ingat, terlalu banyak duka yang Kugy pernah alami dengan latar tempat penuh tenaga medis itu.
‘’Oma udahan kali gandengnya. Jadi berasa kayak truk, tau gak?’’ Cemberut Kugy, mencoba lagi melepaskan tangan kurusnya.
Tapi nihil, cengkraman Linda benar-benar membuatnya tak berkutik.
Bisa saja ia menarik tangannya dengan taruhan mungkin Linda akan terjatuh akibat perbuatannya dan mana mungkin melakukan itu. Kugy tak mau jika bibir Linda sampai meluncurkan sumpah serapah, lalu mengutuknya menjadi ikan lele albino.
‘’Omaaa ...,’’ rengek Kugy seperti anak TK dan langsung terdiam ketika wanita tua di depannya menoleh galak.
‘’Berisik Kugy!‘’
‘’Makanya lepas.’’
‘’No! Ini itu tindakan preventif biar kamu gak kabur!’’ Jawab Linda tenang, melanjutkan aksi tarik-menarik.
Tak peduli di belakangnya Kugy semakin misuh-misuh karena cekalan wanita itu. Bahkan kesuraman langit seolah menular pada air muka sang cucu yang terlihat mendung.
Kugy mensejajarkan langkah di samping Linda. Melongok penasaran dengan alasan nenek dari tiga cucu itu. ‘’ Kita ngapain, sih kemari lagi? Bukannya Oma baru check-up?’’
‘’Ambil resep obat. Kemarin belum sempat ditebus resepnya malah hilang dibuat Alan,’’ jawab Linda singkat.
Sebenarnya Linda tak perlu repot mendatangi RS, karena Raga bersedia mengirimkan obat ke floral florist lewat orang suruhan. Namun, Linda menolak dan memilih bertatap muka langsung dengan dokter residen itu. Tentu bukan tanpa sebab, diam-diam ia cukup senang karena Kugy dan Raga sudah pernah bertemu sebelumnya. Walau dalam situasi yang lumayan vulgar untuk awal perkenalan.
Tapi, bukankah kejadian yang memorable itu yang akan paling melekat dalam ingatan?
Misi makcoblang Linda semakin menggebu-gebu untuk memancing Raga dengan pesona cucunya.
‘’Lagian kamu harus minta maaf langsung sama dokter Raga, bukan malah Oma yang mewakilkan!’’
‘’Ya kan, bukan salah Kug— Iya iya!’’ Bibir ranum itu mengerucut sebal.
Padahal menurut Kugy, adegan timpa-timpahan waktu lalu bukan penuh atas kesalahan dirinya. Lelaki jangkung bermata tajam itu juga sama terburu-buru ketika berbelok di lorong rumah sakit. Kugy juga sudah meminta maaf langsung saat di TKP, yah ... walau ucapannya hampir setara dengan nada Eminem ketika nge-rap dan kabur secepat kilat meninggalkan Raga begitu saja.
Balutan kemeja kebesaran yang menutupi potongan baju tanpa lenganya melorot ketika menerima satu tarikan dari Linda. Terpaksa membuat Kugy mengekor setia dari belakang, menuju ruang pemeriksaan.
‘’Lho? Gak ambil nomor antrean dulu?’’
Linda tersenyum tipis. ‘’Gak perlu. Oma kan pasien VVIP.’’
Kugy menghela napas. ‘’Lantas yang kemarin ngapain pakai acara ngantre kalau ternyata bisa langsung?’’ runtuknya dalam hati.
Seorang suster muda melempar senyum ramah sampai membentuk eyes smile pada mata kecilnya, begitu mendapati langkah Linda yang kian mendekat. ‘’Selamat pagi, Oma Linda,’’ sapanya ramah.
Hingga detik berikutnya, mata penuh senyum tadi berubah sinis melihat kehadiran Kugy yang berwajah masam.
‘’Tumben sama cucu perempuannya lagi Oma. Memang pangeran ganteng yang biasa antar Oma lagi ke mana?’’
Senyum tipis Linda kembali hadir. ‘’Dia lagi sibuk.’’
‘’Iya. Sibuk rebahan!’’ tambah Kugy dalam hati, dongkol dengan kelakuan seorang Alandamar.
Sudah lelaki itu yang menghilangkan resep obat Linda, justru Kugy yang harus terseret dibawa ke RS. Menyebalkan, jika Alan terus berulah mungkin ia tak segan akan membuat poster super besar bertuliskan :
‘Dibuang, bule KW. Keahlian tebar pesona, menerbangkan Anda ke langit ke tujuh lewat kata-kata dan memberi harapan palsu. Visual trusted! Minat kutip? Hubungi kontak di bawah ini.’
Tepat saat suster hendak membuka pintu, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam ruangan. Seingat Kugy, lelaki itu adalah teman sekaligus dokter konsultan yang waktu lalu ikut memeriksa kesehatan Linda, dibantu dengan residen yang bertugas yang tak lain adalah Raga. Dokter tersebut pamit setelah memberi pesan jika ada Raga yang menggantikannya. Berhubung karena Oma hanya meminta resep obat baru, bukan untuk check up rutin seperti biasa.
Semilir sejuk dari AC cepat menyambut, membuyarkan lamunan Kugy dari kepingan rencana melenyapkan Alan.
‘’Pagi, Oma. Apa kabar hari ini?’’
Detak jantung Kugy menjadi tak beraturan. Suara berat itu, sorot mata dan senyum sehangat mentari yang beberapa waktu lalu juga ia lontarkan pada Linda, kini kembali Kugy saksikan. Lelaki berjas putih yang sedang berdiri gagah di balik meja sana, membungkuk hormat menyambut kedatangan Linda. Sejak pertama melihat Raga melakukan itu hingga kali kedua ini, Kugy tanpa sadar selalu berdecak kagum dengan kesopanan dan keramahan sang dokter residen.
Sayang saja, tatapan bersahabat Raga akan langsung menghilang begitu netra setajam katana itu bertemu dengan iris legam Kugy. Juga senyum indah yang suka menimbulkan kebisingan pada jantung Kugy, akan lenyap ketika pandangan Raga tertuju pada wanita berhidung mancung di depannya.
Lama Kugy memperhatikan, ia tertegun memperhatikan interaksi pasien dan dokter itu. Mungkin jika orang lain melihat, mereka tampak seperti cucu dan nenek sungguhan karena pembicaraan yang begitu hangat. Berbeda saat Linda bicara bersama Kugy yang tak jauh-jauh dari omelan, membuat rambut lurus sang cucu menjadi keriting seketika.
‘’Oiya, Dok. Untuk kejadian kemarin, ini Kugy datang sekalian mau minta maaf lagi katanya.’’ Linda menarik bagian lengan kemeja kebesaran itu hingga tak sengaja membuat bahu putih mulus Kugy terpapar.
Wanita yang terfokus melihat rerintik hujan lewat jendela pun menoleh bingung. Terserang panik dadakan, Kugy menanggapi dengan gerutuan lirih sembari membenarkan posisi kemejanya. Melihat reaksi wanita itu, Raga refleks tertawa kecil yang memamerkan taring menggemaskan yang selalu berhasil mengunci fokus lawan bicara. Tak terkecuali Kugy yang rela barang mengedipkan matanya saat ini.
Senggolan pelan, mengusik wanita itu. ‘’Minta maaf,’’ bisik Linda, mengkode lewat mata ke arah Raga yang sedang menuliskan sesuatu.
Kugy balas mendelik, menggeleng kecil. Tak terima jika harus minta maaf atas kejadian yang tidak penuh kesalahannya. Sampai adegan adu plotot Linda dan Kugy terpaksa selesai begitu Raga menyerahkan selembar kertas pada pasiennya.
‘’Berhubung stok obat baru masuk di apotek RS. Jadi Oma tebus dari sana aja ya, biar resepnya gak keselip lagi.’’ Lelaki itu mengakhiri ucapan dengan senyum manis.
‘Linda mengangguk paham. ‘’Ah ... soal itu.’’ Lagi, Linda menatap Kugy dengan sorot mengintimidasi. Seakan berkata, ‘minta maaf atau kamu Oma pulangkan ke rumah mamamu!’
Ia tak berdaya. Pulang ke rumah Gyna— wanita cantik yang sudah melahirkannya itu, sama dengan hidup bagai di penjara untuk Kugy. Ragu-ragu ia menatap Raga yang sekarang fokus padanya.
Wanita itu berdeham sebelum memulai, memutuskan menundukkan kepala daripada berkontak mata dengan Raga. Sungguh jantungnya langsung bereaksi tak normal karena tatapan lelaki berkulit kecokelatan itu. ‘’Yang kemarin ... itu ... anu—‘’ Linda kembali menyenggol Kugy.
‘’Maksudnya. Saya minta maaf Pak dokter!’’ ucap Kugy cepat tanpa jeda.
Batin Kugy benar-benar tidak ikhlas harus mengulang kata maaf untuk kesekian kali, ia bukan tipikal yang mudah mengucap maaf. Sebab dibandingkan dengan dalamnya palung mariana, mungkin gengsi Kugy bisa lebih dalam dari itu. Gen angkuh warisan sang ibu yang mengalir deras dalam darah Kugy.
Wanita tua di samping Kugy mendesah frustrasi menanggapi sifat absurd cucunya. Semantara Raga hampir menyemburkan gelak tawa, kalau saja lupa masih ada Linda di sana. Perilaku Kugy terlalu menggemaskan untuknya.
‘’Saya benaran gak sengaja Pak dokter—‘’
‘’Raga. Just call me Raga,’’ potong lelaki itu. ‘’Saya juga udah lupa soal kemarin. Oke clear?’’
Pupil Kugy membesar, sedikit kaget mendengar lelaki itu. Jika mengingat betapa dingin nada suara dan sorot kemusuhan yang selalu Raga suguhkan untuk Kugy, terutama saat perjumpaan tak senonoh mereka di lorong rumah sakit. Nyawa Kugy dirasa melayang terbang sesaat begitu melihat tatapan setajam silet Raga.
‘’Nah. Gitukan enak, masalahnya selesai,’’ komentar Linda. ‘’Habis saya kira Pak dokter masih marah karena belakangan ini tidak ada order pesanan seperti biasa.’’
Raga terkekeh ringan. ‘’Tidak, Oma. Saya miss order karena memang lagi sibuk. Tapi tadi pagi saya udah orderkan?’’
‘’Iya, saya terima. Bunga yang biasa Dokter pesan lewat kurir itu hasil buatan Kugy, lho.’’
Decak malas seketika lolos tanpa sengaja dari mulut Kugy.
‘’Oma ... please, deh!’’ Dumel dalam hati. Bosan karena sejak tadi Linda tak henti membicarakan segala hal positif tentangnya pada Raga, seolah sedang menawarkan barang dagangan untuk dibeli.
‘’Good! Saya suka,’’ jawab Raga tulus. Tanpa melunturkan senyum menawan.
Satu senggolang kembali mengusik Kugy. “Dengar, tuh. Kamu dipuji.’’
Tawa tak ikhlas terlihat jelas pada raut wajah Kugy. ‘’Hahaha ... iya, makasih.’’
‘’Cantikkan, Dok?’’ Kekeh Linda.
Lelaki berahang tajam di hadapannya tersenyum lagi, menatap lucu cengiran kaku Kugy. Raga mengangguk singkat sebelum membalas dengan sederet kalimat yang hampir membuat wanita muda berwajah suram itu tersedak ludah sendiri.
‘’Iya, cantik. Sama seperti yang merangkai.’’
==========0o0==========
NB : Tindakan preventif à KBBI ; Bersifat mencegah (supaya jangan terjadi apa-apa).