‘’Cakep, sih. Tapi kelakukan kayak bulldog juga buat apa?!’’
—Kugy
==========0o0==========
Kugy menjerit tertahan begitu tangan kokoh Sehun membelai lembut wajahnya.
Member termuda boyband asal negeri ginseng yang nyaris membuatnya gila berkat pesona bak pangeran dalam cerita disney. Shining, shimmering, splendid.
Cocoklah jika disandingkan dengannya yang mirip upik abu ini. Kira-kira, begitulah yang selalu tertanam dalam kehaluan seorang Kugy Aviora. Berharap menjadi Cinderlelah bertemu pangeran, walau presentase kenyataannya semustahil Lusinta Lona balik menjadi lelaki normal. Ada harapan, tapi kecil.
‘’Kugy!’’
‘’Iya, Oppa?’’ Wanita itu tersenyum manis, masih dengan mata terpejam memeluk guling.
‘’Buka toko sana.’’
Kugy mengernyit tak paham. ‘’Toko?’’
‘’Iyee ... kan tadi udah gue bilang!’’
‘’Lho ... kok Oppa kasar?‘’
‘’Gue bukan Opa lo! Lagian gue gak setua itu.’’
‘’Sehun, Oppa ....’’
‘’Bangun, Gy!’’
‘’Gak mau!’’ Kugy semakin bertingkah sok imut. ‘’Panggil aku sayang, Oppa!’’
‘’Bodo amat. Buruan bangun atau gue siram!’’
‘’Oppa jahat! Siram aja kalau beran—‘’ ucapan Kugy terpotong begitu wajahnya basah karena sesuatu.
Tangan Kugy mengapai-gapai udara, terplongo dengan ekspresi konyol tak terkontrol. Mata membelo dengan mulut terbuka lebar membentuk huruf ‘O’ sembari panik ke kiri dan kanan.
‘’Bocor ... bocor!!’’ Heboh wanita itu menyerupai iklan cat dinding.
‘’Buruan buka toko, sebelum UFO terbang menyerang!’’ Celoteh Alan disela pikal tawa menyebalkannya, kemudian meninggalkan Kugy yang masih memasang ekspresi yang sama. Terplongo.
Ternyata kebejatan Alan tak dilakukannya sendiri. Kesy memegang perut yang keram setelah menyimpan ponsel yang sudah mendokumentasikan kelakukan upnormal teman dekatnya itu.
‘’Bagun, Gy. Sebelum videonya nyebar lewat instastory. Hahahaha!’’
Sepasang manusia berpostur saling tolak belakang di depan itu tertawa lebar, memegangi perut masing-masing yang semakin keram. Alan melambaikan tangan sebelum menutup pintu kamar Kugy.
‘’KESY ... ALAN ... SIALAN! Kalian bangun duluan, kenapa harus ganggu mimpi indah gue!’’ Kugy berteriak kesal, yang akhirnya sadar baru saja melakukan hal sia-sia.
Daripada marah-marah dan mengundang timbulnya garis keriput, wanita berwajah bantal itu bangkit dari kasur nyamannya. Memilih membasuh wajah ala kadarnya, ketimbang mandi pagi yang sudah di blacklist dalam urutan kegiatan rutin.
Seretan malas langkah lesu melambat, pandangan yang masih sedikit buram itu terpaku pada seongok jaket denim yang tergantung di balik pintu.
Benda manly yang seperti menarik ingatan Kugy di hari ketika menemani Linda meminta resep obat baru ke RS. Saat sebuah suara familiar itu datang mengagetkannya yang tengah mengantre mengambil obat.
‘’Lagi hujan, pakaikan itu untuk Oma.’’
Tak ada angin tapi ada hujan, dokter residen jantung dan pembuluh darah itu menyodorkan sebuah jaket, kemudian pergi tanpa menunggu respon.
Kugy masih terheran, sampai seseorang menghampirinya dengan senyum tipis. ‘’Di luar dingin. Jaketnya kamu pakai, yah. Itu tadi maksud Raga.’’
Lelaki berjas putih lain yang datang bersama Raga tadi, terkekeh kecil melihat tingkah rekan sejawatnya. Lelaki berparas manis yang Kugy ketahui bernama Rajendra— lewat bordiran nama pada jas dokter— tersenyum ramah setelah pamit menyusul sang sahabat yang kupingnya sudah memerah.
Surai cokelat yang bergelombangnya bergerak asal, karena gelengan cepat kepala Kugy dan berakhir pusing sendiri.
‘’Jaket itu buat dikasih ke Oma, bukan ke gue!’’ Kugy memukul kesal potongan kain berbau cairan antiseptik sebuah merek di depannya. ‘’Tapi— buat apa dikasih, kalau jelas-jelas lihat Oma bawa coat sendiri karena sadar bakal turun hujan?’’
Tangan Kugy menangkup kedua pipi, mendadak memanas jika mengurai teori dibalik jaket denim. Merasa aneh dengan perasaan hangat yang menjalar dalam d**a.
Cepat-cepat Kugy membentuk cepol asal rambut panjangnya, bergegas keluar dari kamar.
Jarum jam hampir menyentuh pukul tujuh lewat, bisa habis baskom di dapur kalau sampai ia terlambat membuka toko kesayangan Linda. Kebiasaan unik omanya saat marah, yaitu melempar baskom ke segala arah untuk meluapkan emosi. Masih mending baskom plastik yang tak seberapa, daripada ibu tetangga sebelah yang kalau marah melempar panci, wajan, dandang, bahkan tempat presto yang beratnya wadidaw mantap jewah jika sedang bertengkar dengan suaminya.
Napas Kugy tercekat mendapati kenyataan jika papan kecil bertuliskan ‘tutup’ telah berganti menjadi ‘buka’ saat dibaca dari luar. Bel di pintu berbunyi, menghadirkan sosok Linda yang sedang mengobrol bersama seseorang dibelakangnya.
‘’Nah itu dia anaknya!’’ Kunci dalam genggangam wanita itu sampai terjatuh begitu netranya bersirobok dengan iris tajam milik seseorang. ‘’Oma baru mau hajar kamu pakai baskom tadi kalau belum bangun juga,’’ lontar Linda berniat mengomel.
Namun, diurung. Masih teringat dengan eksistensi dokter muda di belakangnya yang kini terkekeh ringan menatap Kugy.
Wanita itu meringis malu. Kenapa juga Linda harus membahas baskom di depan manusia yang katanya pelanggan tetap mereka.
‘’Dokter order aja sama Kugy, saya tinggal dulu.’’
Pagar besi dari rumah di samping floral florist itu berderit, ketika Linda membuka. Sekilas mengalihkan fokus Kugy yang lupa akan tertinggalnya Raga di toko bunga.
Lelaki dengan tinggi menjulang seperti menara sutet itu bersandar santai pada kusen pintu, bersedekap. Menatap Kugy, mengamati penampilan wanita bercepol yang masih membatu, lengkap bersama wajah bantal dan piyama pororo. Keadaan yang tak mengurangi pesona Kugy, justru menjadi sesuatu dalam penilaian Raga.
Nyatanya walau tak mandi berhari-hari pun Kugy akan tetap terlihat sama cantiknya, walau akan agak sedikit dekil karena berdaki.
‘’Bare face with sexy vibe?’’ Monolog Raga dalam hati. Menunduk sekilas untuk menyembunyikan garis tipis di bibir.
Ia berdeham lumayan kencang, meminta perhatian Kugy akan keberadaannya di sana. Lelaki berpakaian formal serba hitam itu pura-pura mengecek jam tangan, seolah sedang diburu waktu.
‘’Oh, maaf,’’ lirih Kugy yang melangkah mendekat. Sebelum kaki jenjang itu terhenti di depan sang dokter muda. Ragu untuk masuk.
Pintu iu kecil, jika ia harus melewati Raga lebih dulu mungkin tubuh mereka akan berhimpitan di persekian detik. Kugy tak yakin akan siap dengan jarak itu.
Menyadari kekakuan wanita di hadapannya, Raga masuk lebih dulu ke dalam toko. Ia tak serta-merta pergi, lelaki itu menahan pintu dari dalam. Seolah mempersilakan Kugy untuk masuk dan menutupnya setelah wanita itu memimpin langkah.
Punggung lebar itu berputar, tak lagi mengekori Kugy. Malah, si wanita berpiyama yang kini berada di belakangnya.
Berdiri di balik tubuh atletis itu, membuat Kugy mendongak kagum. Pasalnya, baru kali ini ia merasa kecil. Seketia ia paham bagaimana posisi Kesy ketika didekatnya dan Alan yang memiliki tinggi menjulang ke atas. Ternyata menjadi manusia kerdil seperti Kesy sangat tidak nyaman. Jika tidak terbiasa, maka akan terintimidasi.
Tinggi Kugy hanya sebatas punggung kokoh yang terlihat sandarable di balik kemeja hitam itu. Agaknya merontakan jiwa jones (sejak lahir) Kugy yang melihat cetakan menggoda dari lekuk berotot tubuh Raga. Kalau saja lelaki itu tak suka menatapnya galak, mungkin Kugy akan sangat memuja dan mengakui postur luar biasa dokter residen di depannya.
‘’Cakep, sih. Tapi kelakukan kayak bulldog juga buat apa?!’’ Cibir Kugy dalam hati.
Jarak antara Kugy dan Raga kian merapat tanpa sengaja, lelaki itu masih asik melalang buanakan mata tajamnya pada jejeran tanaman hias yang juga dijual di sana. Sekelebat aroma tercium tak asing pada hidung mancung Kugy, ia tubuh untuk lebih mendekati.
‘’Det*ol?’’ Pikir Kugy, menyamakan bau tubuh lelaki itu dengan cairan antiseptik sebuah produk. Memang, sih barang itu bisa dipakai sebagai campuran air ketika mandi juga.
Padahal sebelumnya ia kira jaket pinjaman Raga bisa berwangi seperti itu, karena mereka sedang berada di rumah sakit. Tapi ketika tidak berada di sana pun, Raga tetap memiliki wangi yang sama.
‘’Memang ada yang jual parfum wangi begini?’’
‘’Parfum apa?’’ Raga berbalik dan kaget karena jaraknya dan Kugy yang teramat dekat.‘’Kamu ngapain mepet gitu sama saya?’’
Bibir ranum wanita itu mengerucut sebal. ‘’Kenapa? Memang gak boleh?’’
Terdengar dengus napas tak suka dari Raga. ‘’Gak! Kamu belum mandi, pasti masih banyak kuman.’’
Gantian Kugy yang mendengus. ‘’Dokter OCD?’’
‘’Saya gak bilang begitu,’’ jawab Raga datar.
Dia bukan si penakut kuman berlebihan atau obsesi dalam mengatur benda-benda dalam pola tertentu. Raga hanya lebih nyaman menggunakan sabun dan air yang mengandung antiseptik dan tidak memakai wewangian parfum apa pun. Karena belum tentu seleranya yang terkadang suka aneh bisa diterima oleh orang lain.
Bahu itu terangangkat acuh. ‘’Terserah. Saya gak peduli juga,’’ gumam Kugy asal. ‘’Oiya— gak biasanya Dokter datang ke mari. Mau ngapain?’’
Deretan kalimat itu, memaksa fokus Raga kembali melabuh pada sosok wanita yang belakangan ini mengusik pikirannya.
‘’Tagih utang!’’
‘’Hah? Utang? Oma punya utang sama Dokter?’’ Cecar Kugy kaget.
Bola mata Raga memutar malas. Walau senang dengan mencairnya suasana garing diantara mereka, yang garingnya mengalahkan kegaringan tahu bulat. Tapi ia agak kesal karena arus lamban yang mengelola data dalam kepala Kugy.
‘’Ya menurut kamu, saya ke toko bunga buat ngapain?’’Raga mulai menyuarkan aura tak bersahabat. ‘’Tagih utang beneran?’’
Lagi, bibir Kugy mengerucut. ‘’Cocok, sih. Habis sangar kayak debt collector.’’
‘’Apa?’’
Kugy memamerkan senyum tiga jari, menggeleng sok imut pada Raga yang gemas ingin menelannya bulat-bulat. ‘’Hehe ... lupain. Jadi mau pesan apa?’’
‘’Yang biasa.’’
Kugy mengangguk singkat, pamit sejenak mengambil persedian mawar merah di ruang khusus bunga. Jenis pesanan yang tak berubah, rangkaian yang beberapa kali dalam seminggu ia dikerjakan sebagai pesanan atas nama Saraga Nabastala.
Merangkai bunga adalah salah satu hal yang bisa membuat Kugy buta sekitar.
Ia tak peduli lagi dengan sorot tajam yang sejak tadi mengikuti pergerakannya. Ah— mungkin lebih tepatnya pada cara kerja, karena Linda selalu menjual berita tentang kemahiran Kugy dalam merangkai buket.
Panjang tangkai mawar merah segar itu dipotong sama rata, disusun secara bersilang dengan selipan beberapa bunga baby breathe putih. Lalu ditambah dedaunan panjang yang tak Raga ketahui namanya. Kemudian dengan cekatan jari-jari lentik itu mengikat rangkaian bunga menjadi satu, memasukkan ujung batang ke dalam kantong plastik yang sudah diberi kapas dan air untuk menjaga kesegaran bunga. Tak sampai di situ, Kugy lihai mengatur posisi lembaran kertas pembungkus buket. Menarik, melipat, mengedutkannya seapik mungkin untuk bersatu indah melapisi bunga hingga menghasilkan satu buket besar yang menawan mata.
Sentuhan terakhir, Kugy mengikat sebuah pita maroon besar lalu menyerahkan tumpukan bunga dan kertas itu kepada sang pemesan.
‘’The special bouquet for the special one. Harga seperti biasa, kalau mau dikasih tip saya gak nolak,’’ cengir Kugy tanpa dosa pada pelanggan pertama pagi ini.
Raga mengeluarkan beberapa lembar kertas merah dan segera menyerahkan pada Kugy tanpa menunggu respon.
‘’Kelebih—’’
‘’Buat kamu yang minta tip.’’
Kaki panjangnya dengan cepat mengeluarkan Raga dari bangunan pastel berlantai dua itu, membuat Kugy harus bergerak cepat memblokade jalan.
‘’Soal tip, saya bercanda!’’
‘’Tapi saya serius.’’ Raga mengambil langkah menyamping, melewati Kugy yang menghalangi jalannya.
‘’Tapi— eh. Itu ... jaket!’’ Kugy memukul mulutnya, teringat jika seongok kain itu masih tergantung dan belum sempat dicuci.
Ayunan kaki Raga melambat, uluran tangan yang hendak menarik pintu mobil pun ia batalkan.
‘’Ja ... jaketnya, kapan bisa saya balikkin?’’ Tanya Kugy kikuk, memaki habis-habisan dengan kelakuan Raga yang sangat tak bersahabat saat bersamanya.
‘’Gak perlu.’’
‘’Hah? Gimana?’’
Raga menghela napas, lelah juga berinteraksi dengan makhluk lemot seperti Kugy.
‘’Gak perlu dibalikkin,’’ jawabnya singkat, padat, dan tidak jelas untuk Kugy.
Wanita itu memberanikan diri maju beberapa langkah. ‘’Kenapa? Nanti bakalan saya laundry, deh. Biar wangi semerbak tahan sampai seminggu. Dijamin bersih, wangi dan terlihat seperti baru!’’
Rahang Raga mengeras, menahan tawa yang hendak meluncur karena mendengar celoteh bawel wanita bercepol itu.
‘’Saya tanya. Jaket itu kamu atau Oma yang pakai?’’
‘’Hmm ... saya. Karena ikut saran dokter Jendra!’’ Alis tebal Raga bertaut, bertanya dalam hati dari mana Kugy mengenal Jendra. ‘’Lagian waktu itu Oma bawa coat, jadi buat apalagi diberi jaket. Model denim ala Dilan pula, mana mau Oma pakai.’’
‘’Ya sudah, gak perlu dibalikin.’’
‘’Tapi kenapa?’’
‘’Kenapa?’’ Ulang Raga sabar. ‘’Ya karena saya gak sudi pakai yang udah bekas kamu.’’
Tak ada lanjutan lagi, Raga melepas cengkraman Kugy pada pintu mobilnya dan bergegas menutup. Sebelum menginjak gas untuk pergi dari ke suatu tempat. Ada seseorang yang sudah menunggu, bersama buket indah di sampingnya.
==========0o0==========
NB : OCD adalah gangguan obsesif-kompulsif ditandai dengan pikiran tak masuk akal dan ketakutan (obsesi) yang menyebabkan perilaku kompulsif. OCD sering berpusat pada suatu motif, misalnya takut kuman atau kewajiban mengatur benda-benda dalam pola tertentu.