Kalau kaki mermaid bakal berubah jadi ekor jika kena air, maka Kugy akan menjadi badak jejadian kalau hujan datang melanda.—Alandamar
==========0o0==========
‘’Udah datang!’’ Seruan Alan di ambang pintu memanggil Kugy untuk segera keluar. Langit mulai menggelap. Bukan karena hari akan menjelang malam, melainkan sebab lapisan awan keabu-abuan itu semakin memekat menyelimuti.
Terpaan angin khas sebelum hujan sedikit memecah konsentrasi Kugy.
Wanita itu mengumpulkan fokus pada lembaran kertas yang terjepit di atas papan yang dipegangnya. Bukan hanya rumah sakit yang ia benci, serbuan air kecil-kecil dari langit itu juga selalu berdampak membuatnya kurang nyaman dan buyar.
‘’Mawar, krisan, anyelir, gerbera.’’ Baca Alan menghampiri, membawa selebaran lain pada Kugy. ‘’Caspea, aster, ranun ... ranun—‘’
‘’Ranunculus,’’ lanjut Kugy yang diangguki Alan.
Lelaki beriris biru itu memang tak terlalu hafal dengan semua nama-nama bunga yang sering menjadi objek belai para karyawati floral florist.
Segaris tanda tangan ia bubuhkan pada kertas-kertas itu. Setelah melihat beberapa bundelan berisi bunga-bunga segar kiriman suplier itu smenuju ruang khusus bunga di lantai dua, sepetak tempat yang tersedia pendingin.
Di sana, Kesy sudah menyiapkan vas-vas bening berisi air yang berfungsi sebagai wadah untuk flower conditioning. Wanita berbando itu sudah mencuri start lebih awal dan tengah memotongi batang hydrangea dengan sudut 45 derajat, agar menambah luas permukaan air untuk sampai ke mahkota bunga.
‘’Bundel red roses kesayangan lo, belum gue sentuh.’’
Cepol ramput Kugy bergoyang lemah, kala kepalanya mengangguk malas.
Gunting tajam di tangan sudah membelah ikatan tali dan kertas pembungkus, memaparkan puluhan tangkai mawar merah yang terlihat menggoda. Tanaman penuh makna yang belakangan suka membuat pikiran Kugy teringat akan seseorang.
‘’Itu lo mau ngapain?’’ Tanya Alan kepo. Mawar selalu menjadi minatnya untuk menyimak kegiatan para wanita yang sedang sibuk itu.
‘’Buang kelopak yang cacat,’’ jawab Kugy sekenanya. Mengupasi tiap kelopak terluar yang terlihat kuyu.
‘’Terus itu?’’ Kugy mendongak. ‘’Ngapain pegang pisau?’’
‘’Mau buang daun-daun dibagian bawah, sekalian bersihin duri dan potong tangkai,’’ jelas Kesy cepat, sebelum Kugy mengamuk karena merasa kerjaannya diganggu.
Alan tersenyum bak kuda kesurupan, begitu sorot tajam Kugy menguhunusnya. ‘’Ya, sorry sistah. Gue kan kepo sama kembang-kembang unyu kalian.’’
‘’Terserah. Bagus lo buang sana, sampah-sampah itu.’’
Alan terbengong, mengangkat dua tangkai krisan ke arah Kugy. ‘’Ini kenapa dibuang? Masih bagus gini.’’
‘’Kelopaknya pada layu, kusut, jelek, tangkainya juga cacat.’’
‘’Walau cuma sedikit gini?’’
‘’Bu ... ang!’’ Ulang Kugy serius. ‘’Mutu adalah prioritas floral florist.’’
Alan menoleh kagum. Image koplak seorang Kugy seketika hilang begitu totalitas dalam bekerjanya timbul. Tidak heran mengapa Linda begitu mempercayai cucu sulungnya untuk mengemban tugas yang biasa wanita tua itu lakukan, karena belum percaya kinerja orang lain.
Namun, semenjak kedatangan Kugy, tanpa ragu Linda melimpahkan bagiannya untuk ditanggangungjawabi sepupu cantiknya itu.
Seperginya Alan, Kesy pun ikut menyusul membawa sampah lain dari bagian Kugy setelah kurang dari setengah jam semua bunga selesai dalam sortirannya.
Kacamata bulat yang sejak pagi bertengker di hidung mancung Kugy terlepas.
Hari ini cukup melelahkan, setelah dimulai dengan audit keuangan bersama Linda. Dilanjut membuat pesanan yang seolah tiada henti, bukan Kugy tak menyukuri nikmat. Hanya saja terkadang ia suka bingung, apa motivasi orang-orang membeli buket bunga dengan harga yang cukup menguras dompet yang hanya bertahan paling lama lima sampai empat belas hari, tergantung bagaimana cara merawatnya.
Pintu kaca itu kembali terbuka. Kesy berlari menghampiri dengan raut bahagia, kebalikan dari wajah Kugy yang sudah sama mendungnya seperi langit di luar sana.
‘’Gy! Ada orderan baru lagi.’’
Kugy menghela napas penat. ‘’Ya kerjainlah, Kes. Masa gue lagi, capek tau.’’
‘’Dih! Gue juga maunya gitu. Tapi—‘’
‘’Apa?! Lo gumoh lipat-lipat kertas?! Capek susun-susun bunga?!’’ Sembur Kugy.
Kesy menyodorkan ponsel khusus yang hanya digunakan untuk pemesanan karangan bunga via w******p.
‘’Kata customernya cuma mau dibuatin sama Mbak Kugy Aviora! Tertanda, Saraga Nabastala.’’
Benda canggih berlayar sentuh telah terampas dari gengaman mungil Kesy. Pupil sang pemilik nama membulat sempurna, perlahan tapi pasti, Kugy merasakan hawa panas menjalar di pipi.
Wanita cebol di sampingnya terbahak puas. ‘’Ciee di request langsung sama pak dokter ganteng!’’
‘’Diam gak lo!’’
‘’Ups. Ada yang malu, nih.’’
Mendengar gemuruh langit mulai bersuara, buru-buru ia menyiapkan pesanan yang diinginkan Raga. Nampaknya lelaki dengan wangi tubuh antimainstream itu sangat menyukai mawar, sampai beberapa hari sekali selalu mengirim orderan yang sama.
‘’Kira-kira itu bunga buat siapa, ya? Kayaknya sering banget si ganteng pesan buket red roses,’’ celoteh Kesy yang mengikuinya turun ke lantai bawah.
Kugy memasang topeng tak peduli, walau dalam hati ia sama keponya seperti Kesy.
‘’Buat pacarnya apa, ya? Lo taukan makna mawar merah itu apa?’’
Bahu Kugy terangkat acuh.
‘’Pak dokter romantis, ya?’’
‘’Hhmmm ...,’’ gumam Kugy seadanya.
Ia tak menampik fakta jika pesona Raga memanglah luar biasa. Namun, wanita itu jelas meragukan keromantisan dari lelaki yang memiliki mata setajam silet, mulut sepedas sambalado, galak, dan suka mendeskriminasi. Sebab hanya ramah pada Linda, tapi tampak mengibarkan bendera perang kalau berdua dengannya.
Kesy menautkan kedua tangan di depan d**a, lalu tersenyum seperti pasien rumah sakit jiwa.
‘’Red roses it’s mean, hasrat dan cinta yang menggelora.’’ Gebrakan tiba-tiba pada meja yang dijadikan alas kerja, membuat Kugy tak sengaja memotong tangkai yang salah hingga kependekan. ‘’Pasti kisah cinta pak dokter itu panas!’’
‘’Panas?!’’ Ulang Kugy bersiap meledak. ‘’Kesyana Malia—‘’
Bibir tipisnya sudah bersiap melontarkan semua lahar amarah, kalau saja sebuah tangan tak menginterupsi. Alan mengambil potongan bunga yang salah dan meletakkan tangkai baru dalam genggaman Kugy.
‘’Itu, gue bawa yang baru.’’ Lelaki itu tersenyum semanis mungkin.
Jika hujan akan datang, Kugy akan seribu kali lipat lebih galak daripada Linda.
Hujan dan rumah sakit adalah kolerasi yang kuat untuk membuat anjlok mood sepupunya. Karyawati paling mungil se-floral florist itu bisa berakhir mendekam dalam perut Kugy, jika Alan tak cepat menyelamatkan.
‘’Jangan diganggu, Kugy mirip gorila kalau udah mau hujan!’’ bisik Alan sepelan mungkin.
Namun, namanya juga Kesy. Mana dia peduli jika Kugy akan benar-benar memarahinya. Tangan wanita pucat itu terulur menunjukan tiga tanda pengenal bertuliskan ‘crew’.
‘’Besok malam, band Leo manggung di tempat yang pesan bunga sama kita. So ... berhubung teman gue ada yang kerja di sana, jadilah gue manfaatin buat masukin kita jadi salah satu crew. Alasan aja biar legal kalau mau jumpain Leo di ruang ganti. Gimana?’’
Lain Kesy, lain pula Kugy. Begitu pula Alan, buru-buru lelaki blasteran itu menarik Kesy menjauh.
‘’Tahan, Gy! Lo tau sendiri kalau isi kepala Kesy udah lama kosong,’’ monolognya menenangkan diri sendiri. Memejamkan mata, menghirup napas dalam dari hidung dan mengeluarkannya lewat jalur bawah hingga menimbulkan bunyi pret super panjang.
‘’Ahh ... lega!’’
‘’Astaga, Kugy Aviora!’’
Mata besar Kugy otomatis terbuka begitu mendengar bentakan ganas Linda yang menggeleng pasrah dengan pola kelakuan cucunya.
Namun, bukan itu fokus Kugy. Netra legam yang semula terlihat santai itu, berubah sendu ketika menangkap sosok yang datang bersama Linda. Wanita dengan gaya kelas elit yang mendecih penuh keremehan, seseorang yang memiliki iris yang sama seperti Kugy.
‘’Kamu persis seperti papamu. Sama-sama tak beradap!’’
“Gyna,'' lirih Linda.
‘’Gen pecundang yang Kusuma punya, benar-benar diwariskan sama anak pertamanya ini!’’
Linda mencengkram tangan bebas anak kandungnya. ‘’Bisa kamu berhenti bersikap seperti anak kecil? Bukan itu tujuan kamu ke mari!’’
Tangan Kugy terkulai jatuh, terkepal menahan sesak yang mendera. Mendengar kata-kata pedas dari ibu kandung sendiri, benar-benar membuat wanita itu butuh pegangan.
Tawa hambar Kugy terdengar, diangkatnya dagu yang sempat tertunduk lesu menerima caci maki.
‘’See? Dia malah ketawa like an i***t!’’
‘’Gyna!’’
‘’Oma,’’ panggil Kugy memberanikan diri memotong. Rasanya ia tak akan sanggup terus mendengar sembilah pisau berbentuk kata yang keluar dari bibir indah Gyna. ‘’Si pecundang yang lahir dari wanita sukses ini mau izin antar pesanan ke kurir, gak enak kalau pelanggan kita tungguin buketnya.’’
Kugy mendorong diri, mengayunkan langkah menuju pintu keluar.
Kakinya masih bergetar setelah pergi dari sepetak ruangan segar yang biasa menenangkan itu. Tanpa sadar Kugy meremas buket tak bersalah dalam genggaman, langkahnya menapaki lantai kotor gudang belakang toko. Terseret, seolah berat untuk melanjutkan. Bagai seluruh masalah yang enggan membebaskannya untuk pergi. Wanita itu merapat ke dinding, bersandar menopangkan beban tubuh sebelum jatuh meluruh. Seseorang yang begitu ia sayangi justru selalu menjadi pihak utama yang selalu menggores luka dan menabur garam padanya.
Rintik hujan perlahan mulai menyerbu dan terdengar semakin deras. Terpaan dingin angin khas hujan semakin mengacaukan perasaan Kugy.
Ia meremas baju di bagian d**a, memaksakan menghirup napas sedalam mungkin yang dirasa semakin menyesakkan saja.
‘’I’m here, baby.’’ Sebuah suara terdengar, sebelum bergerak merengkuh tubuh kurus itu dalam pelukan hangat.
Usapan menenangkan Alan, berhasil menumpahkan bening air mata yang sejak tadi wanita itu tahan. Bahu rapuh Kugy bergetar hebat, menumpahkan semua sakit yang menjalar bebas ke setiap relung hatinya.
I tak pernah mengangap Alan sebagai sepupu yang layak disebut sepupu. Lelaki manja yang suka membuatnya menjadi sasaran omelan Linda, hanyalah manusia menyebalkan yang selalu menyulut emosi.
Namun, untuk pertama kali Kugy bersyukur dengan kehadiran si menyebalkan Alandamar dalam kisah hidup rumitnya.
‘’It’s okay baby. It’s will be okay!’’
==========0o0==========
NB : Flower conditioning adalah pengkondisian yang melibatkan persiapan bahan tanaman potong untuk memastikan bahwa bunga dan dedaunan bertahan selama waktu maksimum.