8. That Girl

1520 Words
‘’Yang sudah diambil, itu jadi sebuah tanggung jawab. Dokter harus isi troli saya sesuai yang ada di daftar!’’ — Kugy.    ==========0o0========== ‘’Fast food terus, fast food terus!’’ Jendra memberikan sedikit bantingan, hingga jejeran kaleng di pinggir pintu kulkas bergoyang menimbulkan bunyi. Dari ruang televisi, Raga melongok malas mengesap sodanya. Memperhatikan sang sahabat yang masih setia mengomel tak jelas dari pantri dapur. ‘’Lama-lama hidup lo juga fast to the end!’’ Lanjut lelaki manis itu dengan nada sarkas. Menatap tepat pada manik sok polos manusia yang kini beralih membuang muka ke arah berita infotaiment pada televisi. ‘’Dan sejak kapan botol kecap dimasukin ke kulkas?!’’ ‘’Wes yo ... ojo nesu-nesu! Cobain kuy!’’ Raga membesarkan volume, tepat ketika seorang lelaki berwajah asing yang sering muncul di iklan televisi. Lelaki itu tersenyum lebar setelah fasih berbicara dengan bahasa jawa, sembari menyodorkan secangkir kopi. ‘’Listen! Ojo nesu-nesu!’’ Tiru Raga puas. Jendra mendesah frustrasi dengan tingkah laku Raga. Otak cemerlang lelaki itu sering menciut kalau membahas urusan dapur, bukan karena Raga tidak bisa memasak. Namun, setan mager dalam diri Raga terlalu mendominasi sehingga lebih memilih minta bantuan abang berjaket hijau daripada mengolah bahan sendiri. ‘’Fast food itu bocoran surga tau, Jen!’’ Kilah Raga, hendak kembali menyuruput minuman karbonasi di tangan. Tapi batal setelah Jendra merampas paksa dan menandaskan isinya. ‘’Gue haus lihat kelakuan lo!’’ ‘’Ya gak usah dilihat, dinikmati aja. Siapa tau nagih— Argh!’’ Sebelah tangan Jendra terangkat, meniup ujung spatula kayu yang ia bawa dari dapuruntuk menggetok kepala sang sahabat. ‘’Perlu amat lo bawa itu sama wajan ke mari?’’ Telunjuk panjang Raga menunjuk penuh dendam senjata penyiksaan ala Jendra. ‘’Perlu. Biar otak lo sadar. Jadi harus diginiin!’’ ‘’Haish! Kenapa lo demen amat KDRT sama gue!’’ Wajan dalam genggaman Jendra sudah berubah fungsi sebagai tameng layaknya kapten amerika. Siap sedia dengan spatula yang terangkat tinggi, lengkap bersama raut serius begitu Raga memasang gerak hendak melawan. ‘’Kita gak lagi bangun rumah tangga, jadi itu gak bisa disebut KDRT!’’ Lelaki manis itu mundur selangkah melihat Raga bangkit dari sofa, mengintimidasi dengan postur tubuh tegap nan menjulang. ‘’Bodo amat! Dosa lo aniaya anak yatim piatu kayak gue!’’ ‘’Gak dosa karena lo nyebelin!’’ Balas Jendra. ‘’Lo minta gue masak, tapi apa yang bisa diolah dari kulkas kosong lo?’’ Raga berbalik. ‘’Apa aja. Let’s see!’’ Lelaki jangkung itu mengayunkan langkah menuju dapur. ‘’Let’s see? Yang tersisa tinggal sarang laba-laba sama timbunan kaleng soda! Lo mau dibuatin Spider’s soup with coke gitu?’’ ‘’Sounds good!’’ ‘’Saraga!’’ Residen penyakit dalam itu benar, walau sedikit hiperbola mengenai sarang laba-laba. Nyatanya kulkas Raga memang kosong melompong entah sejak kapan seperti penghuni hati. Ia terlalu sibuk dengan urusan rumah sakit, sampai lupa kapan terakhir kali benda modern dua pintu itu terisi buah dan sayuran segar. Pintu kulkas kembali tertutup. "Yaudah kita belanja dulu beli bahan." "Kita? Lo aja kali, gak usah ajak-ajak gue!" Cemoh Jendra, mengambil posisi rebahan di sofa. "Kalau gue doang mah gofood aja." Wajan yang sempat tergeletak di samping Jendra, kini terangkat di atas kepala. "Jangan salahin gue kalau sampai kelepasan ngelempar ini dan lo berakhir dengan commusio cerebri!" Raga memegangi kepala, tidak lucu jika ia harus digotong ke rumah sakit karena mengalami gegar otak akibat kepentok wajan besi. Nyali lelaki itu menciut melihat iris tajam Jendra yang menyiratkan keseriusan. Akhirnya ia mengalah, buru-buru menyambar hoodie yang tergantung dekat pintu keluar. Meluncur kabur ke swalayan terdekat, sebelum Jendra benar-benar menerbangkan benda dapur yang lumayan berat itu.     ==========0o0==========   ‘’Tomat, bawang merah, bawang putih,’’ baca Kugy. Matanya jeli berpindah dari selembar panjang kertas di tangan, ke bahan dapur yang kini masuk menjadi isi troli. ‘’Kunyit, jahe, kemiri? Tunggu!’’ Tangan Kugy menggantung di udara, menimbang antara kiri dan kanan. ‘’Jahe yang mana?’’ Monolognya bingung. Tak kehabisan akal, Kugy mencoba melihat nama-nama bahan dapur yang tertera beserta harga. Bibir ranumnya nyaris mengumpat begitu mendapati keterangan label yang biasa berada di bawah barang yang dijual itu kosong. Andai Kesy tidak kabur karena takut kena semprot olehnya, pasti ia tidak perlu  kesulitan sendiri saat Linda melimpahkan tugas belanja bulanan kali ini. Sama hal dengan Alan, setelah menemaninya menangis bombay di gudang belakang. Penampakan bule kw itu lenyap entah kemana. Kugy jadi curiga kalau yang memeluknya sepanjang tangis bukanlah sepupunya. ‘’Ah ... searching aj— Syaiton!’’ Wanita itu mengeluarkan tangannya dari saku hoodie, teringat jika ponselnya tertinggal di kamar karena kalang kabut menghindar dari amukan Linda. Kugy menggaruk gemas kepalanya, frustrasi dengan semua bahan dapur yang sejak lama sudah menjadi musuh. Mau bertanya juga, ia tak melihat ada seseorang di dekat sana. Mungkin ada, hanya saja Kugy memilih  mengabaikan karena terlalu aneh untuk diajak komunikasi. Sosok yang diyakininya seorang lelaki berpostur tinggi yang tampak mencurigakan dengan setelan black head to toe yang dikenakan. Mulai dari topi, masker, jaket, jeans, sepatu dan kacamata pun serba hitam. ‘’Memang ada orang sehat yang malam-malam pakai kacamata hitam?’’ Batin Kugy julid. Pikiran kembali fokus pada daftar belanjaan Linda, tapi sayang. Deretan kata selanjutnya semakin memusingkan wanita itu. ‘’Asam jawa, asam sunti? Apa bedanya?’’ Ringis Kugy. ‘’Bukannya sama aja? Sama-sama asam? Kenapa para asam ini cukup rasis karena saling membeda-bedakan!’’ Leo merasa tak asing dengan suara kesal yang terdengar familiar. Dibalik masker, diam-diam lelaki itu tersenyum tipis ketika menangkap setiap gerutuan Kugy. Sampai lelaki itu gelagapan sendiri, begitu Kugy balas memperhatikannya. ‘’Mas ... saya boleh tanya?’’ Wanita kurus itu membesarkan suara. Mau tak mau akhirnya Kugy memilih bertanya pada sosok aneh yang berada cukup jauh dari tempatnya berpijak. Mata Leo membulat sempurna, tanpa sadar ia melirihkan sebuah nama. ‘’Bisa tunjukkin yang mana jahe, terus asam jawa dan asam sunti, gak? Biasa yang bagian belanja bahan dapur itu teman saya, tapi dia kabur gak tau kemana. Makanya saya lagi bingung!’’ Celoteh Kugy, diakhiri senyum manis. Bertolak belakang dengan Leo yang membatu, tersihir karena pesona wanita di sampingnya. ‘’Wes yo ... ojo nesu-nesu! Cobain kuy!’’ Dua kepala itu menoleh bersamaan, menghadap layar besar yang menampilkan seorang lelaki lengkap bersama cangkir kopi. ‘’Dih! Itu orang katrok gak di mana-mana muka dia terus!’’ Gumam Kugy, melotot penuh emosi pada si model iklan. Rasanya seperti ada hujan batu yang tiba-tiba menyerang Leo. Bagaimana bisa pesonanya yang setara dengan pangeran ini, begitu mudah dianggap katrok oleh Kugy. Leo melirik kikuk. ‘’Itu kan gue!’’ Batinnya. ‘’Jadi—‘’ ‘’Woi anak singa!’’ Leo mengangguk singkat pada teman satu grup saat mendengar seruan nama samarannya. Tanpa membalas pertanyaan Kugy, terpaksa ia melenggang pergi demi keamaan bersama. Gawat kalau Kugy sadar siapa dia dan berakhir membuat kericuhan, bisa-bisa ia dan teman yang lain akan pulang dengan pakaian compang-camping karena ditarik penggemar sendiri. Punggung lebar itu terus menjauh, meninggalkan Kugy yang mati-matian menahan kata kasar agar tidak meluncur karena ditinggal tanpa jawaban. ‘’J’antjoque!’’ Tuk! Sebuah brokoli kemasan menghantam pelan pucuk kepala wanita yang baru saja mengumpat dengan bahasa estethic kekinian itu. Sigap Kugy berbalik, bersiap menyembur seseorang yang berani menimpuknya. Namun, rencana itu menguap ketika sorot elang Raga tepat mengenai netranya. ‘’Selain ceroboh, ternyata kamu juga suka ngomong kasar?’’ Raga menatap lurus wanita berpenampilan mencolok itu, hoodie kuning cerah yang memiliki gambar yang sama seperti hoodie yang ia kenakan. Bedanya Raga masih tampak keren dengan paduan jeans belel, tidak seperti Kugy yang terlihat kumal menggemaskan dengan celana piayama kebesaran. Lelaki ampan itu terkekeh dalam hati. ‘’Segitu cintanya sama piayama? Atau memang udah berniat mau tidur?’’  ‘’Memang saya ngomong apa?’’ Kugy mempertajam tatapan, tak mau kalah dengan lelaki jelmaan menara sutet seperti Raga. ‘’Perlu saya ulang?’’ ‘’Berarti Dokter yang ngomong kasar, bukan saya!’’ Sebuah tawa kecil lolos dari bibir tipis Raga. Memaerkan taring menggemaskan yang kembali menghipnotis Kugy. Raga menaikan sebelah alis, wanita setinggi dadanya itu memang selalu punya jawaban tersendiri untuk membela diri. ‘’Terserah. Kalau saya aduin ke Oma ... kira-kira beliau bakal percaya sama siapa?’’ Pancing Raga. Kertas dalam genggaman Kugy menjelma menjadi gumpalan kusut, diliriknya Raga yang santai memilah bahan-bahan dapur untuk dimasukkan ke dalam troli. ‘’Apa untungnya ngadu?’’ ‘’Biar kamu dimarahin.’’ Raga tersenyum menawan, menghantarkan emosi Kugy hingga ke puncak tertinggi. Tangannya sudah gatal hendak menonjok residen tampan itu agar berhenti tersenyum. ‘’Kurang sial apa hari ini hidup gue!’’ Keluh Kugy dalam hati. Sudah direndahkan ibu sendiri, lalu ditinggal tanpa jawaban oleh orang yang ditanyainya, kemudian ia harus bertemu makhluk lain yang menjadi simbol dari pematik emosi itu. Menyadari perubahan air muka lawan bicaranya yang semakin suram, menimbulkan rasa bersalah pada Raga. Niatnya hanya bercanda agar bisa berkomunikasi dengan wanita bercepol itu. Lancang, lelaki berahang tajam itu mengambil alih bola kertas dari genggaman Kugy. Sebenarnya sudah sejak tadi ia menyadari keberadaan Kugy. Hanya saja, melihat wanita cantik itu sedang mengobrol dengan orang lain menahan langkah Raga untuk mendekat. ‘’Dari tadi saya lihat kamu muter di sini terus. Cari apa?’’ Kugy tak menjawab, mulutnya sudah malas menanggapi apa pun yang Raga lakukan. Yang ia inginkan hanya segera pulang, mandi. Ah— tidak. Mandi adalah opsi terakhir dalam kegiatannya. Mungkin Kugy lebih memilih tidur sampai pagi barulah sudi membasahi tubuh dengan air. Karena baginya, mandi itu cukup satu kali dalam sehari. Toh semalas apa pun ia mandi, kecantikannya tetap akan terpancar. Kalau mengikut kata Alan. ‘’Because Kugy realized, she’s beautiful like her f*****g mother!’’ Beberapa detik berlalu tanpa respon. Raga mengecek isi troli Kugy yang masih sangat sedikit, hanya berisi tomat, bawang merah, bawang putih, kunyit, dan kemiri. Padahal rentetan daftar belanjaan, masih banyak yang belum wanita itu penuhi. ‘’Yang sudah diambil, itu jadi sebuah tanggung jawab. Dokter harus isi troli saya sesuai yang ada di daftar!’’ ==========0o0==========   NB : Commusio cerebri atau gegar otak merupakan keadaan pingsan yang berlangsung kurang dari 10 menit setelah trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD