9. Yes, Doctor!

1345 Words
‘’Cause udik people like you, gak cocok pakai sepatu’’ —Raga   ==========0o0========== Mata Kugy masih tak ingin terpejam, mengabaikan detik jam yang terus bergerak memasuki pergantian hari. Lagi-lagi Kugy memutar posisi tubuh, berharap mendapatkan letak yang pas agar segera terlelap. Karena kurang dari beberapa jam lagi, ia akan disibukan dengan pembuatan karangan bunga pesanan acara festival besar di kotanya. Acara musik yang mengundang banyak artis papan atas, termasuk band Leo jika menurut cocotan lambe Kesy. Tudung dari hoodie yang masih melekat pada tubuhnya selepas belanja bulanan tadi, dinaikkan hingga menutupi mata. Memejam paksa kedua netra legam itu untuk segara berangkat menuju pulau kapuk, yaitu nama lain dari sebutan alam mimpi. Namun sial, justru sepintas wajah Raga lagi- lagi melayang dalam pikiran. Kugy masih mengingat jelas, bagaimana ekspresi panik sang lelaki berambut hitam. Ketika sepasang kaki jenjang ceroboh Kugy nyaris membuatnya tersungkur karena menginjak tali sepatu sendiri. Beruntung Raga sigap mengalungkan lengan kokohnya pada perut rata Kugy yang sudah condong ke depan. Jika tidak, mungkin tempurung wanita penjual bunga itu sudah berciuman ala freestyle pada kerasnya aspal. Kedua pipi wanita itu memanas. Samar jemarinya meraba, meresapi jejak sentuhan Raga yang masih tertinggal di sana. ‘’Kamu gak apa-apa? Ada yang sakit?’’ Raut panik begitu terpancar dari mata elang lelaki dihadapannya. Dengan kikuk Kugy menggeleng kesusahan, sebab kedua pipinya masih dalam tangkupan si jelmaan menara sutet. Raga mendesah lega. Tak bisa membayangkan jika dirinya terlambat barang hanya sedetik saja. Fokusnya terarah pada objek yang hampir mencelakai Kugy, kedua tali sepatu usang itu sudah terlepas dari simpulan. Tanpa menunggu, Raga berjongkok. Menimbulkan gerak refleks Kugy yang hendak mundur, kalau saja pergelangan kaki tidak ditahan oleh lelaki di bawahnya. ‘’Ini bahaya!’’ Ujar Raga. Jari-jari besarnya dengan lihai menyimpul ketat si putih usang itu. Raga mendongak menatap Kugy yang juga membalas tatapannya. Wanita itu membisu, pupilnya jelas terlihat sedang membulat sempurna karena kaget dengan perlakuan manis yang tiba-tiba. Sosok menyebalkan yang disematkan Kugy pada Raga, seketika menguap tanpa sisa. Tangan lelaki itu terangkat menujuk kening sendiri. ‘’Finalnya, bisa cuma memar atau bahkan sampai gegar otak!’’ Lanjut Raga serius, menghujani Kugy dengan sorot setajam silet. Wanita itu menunduk bersalah. Jelas kejadian seperti ini bukanlah hal baru untuk Kugy, tapi entah kenapa kaki-kaki panjangnya senang melakukan tindakan ceroboh berulang-ulang. ‘’Kamu mirip seperti keledai!’’ Raga bangkit, meninggalkan Kugy sejenak untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat buyar. Tiga bungkus plastik putih besar terlihat begitu ringan dalam jinjingan Raga, lelaki itu meletakan tepat di depan sang empunya. ‘’Makasih,’’ lirih Kugy gengsi. Emosinya sempat terpancing saat Raga begitu enteng menyamakannya seperti keledai. Hewan yang dinilai memiliki karakter bodoh dan keras kepala. Lelaki jangkung berwajah dingin itu hanya menggumam samar. ‘’Dokter—‘’ ‘’Raga!’’ ‘’Hah?’’ Mata elang itu kembali terarah pada Kugy. ‘’Saya udah pernah bilang, just call me Ra... ga,’’ ejanya tegas. Menyelipkan rasa aneh yang menggelitik perut Kugy ketika hendak mengucapkan nama panggilan lelaki itu. Ia pikir mereka belum seakrab itukan? Bahkan baru niat memanggil saja, Kugy sudah merinding tak jelas. Konon pula harus mengucapkannya sungguhan, Kugy sanksi tidak akan bergidik geli. Belum lagi ia juga merasa kurang sopan karena umur Raga pasti lumayan jauh di atasnya. Kalau tidak, mana mungkin lelaki itu punya gelar dokter di depan namanya dan sekarang sedang menjalani program pendidikan dokter spesialis yang sering disingkat PPDS atau dokter residen. ‘’Engg ... mau mampir?’’ ‘’No, thanks. Oma juga pasti udah tidur.’’ Kugy mencibir iri. Tampaknya Raga sangat paham akan kebiasaan pasien-pasiennya, tak heran begitu menjadi kesayangan. Terutama untuk kaum lansia wanita. ‘’Sok tau,’’ gumam Kugy kesal. Lelaki berkulit eksotis itu tersenyum tipis. ‘’Tentu tau, karena saya yang meminta beliau untuk tidur di bawah jam sepuluh dan sekarang sudah lewat jam sepuluh.’’ ‘’Tapi Oma bakal rela tidur tengah malam kalau ada Jodha Akbar!’’ Balas Kugy tak mau kalah, membocorkan kebiasaan Linda jika sedang asyik menonton serial India romantis itu. Film yang kadang membuat Kugy berkhayal memiliki pacar seperti Raja Jalal, tipe-tipe tsundere kelas bucin. Tawa yang sejak tadi tertahan, kini tanpa ragu Raga lepaskan. ‘’Yes i know. Dan seharusnya kamu bisa handle itu. Ah— tapi sepertinya sulit.’’ ‘’Sulit?’’ Raga mengangguk. ‘’Jangankan meng-handle Oma. Sehari saja berjalan tanpa kesandung ... kayaknya adalah hal mustahil untuk kamu.’’ Melihat ekspresi melongo Kugy, lelaki iu tersenyum menang. ‘’True?’’ Ejek Raga. ‘’Yes, Doctor! Haishh!’’ Erang Kugy. Guling tak bersalah menjadi korban keanarkisannya. Wanita itu terduduk dari posisi tidur, mendecih kesal jika teringat tiap kalimat samyang yang dilontarkan Raga. ‘’Next time pakai sendal aja. Itu lebih aman!'' ''Aman?'' ''Yes. Cause udik people like you, gak cocok pakai sepatu.’’ Wanita itu berlogat mengulang dengan tepat setiap kata jahat yang keluar dari bibir seksi Raga. ‘’Harusnya tadi gue tendang kakinya, biar pincang sekalian! Bukan diam kayak orang bloon, terus ditinggal gitu aja di depan rumah!’’ Monolog Kugy. ‘’Next time! Next time!’’ Lanjutnya membara. ‘’Next time, kaki lo gue ten—‘’ Ucapan Kugy terhenti, ia menoleh cepat ke arah jendela kamar yang langsung berhadapan dengan bagian belakang rumah. Gelap, hanya sinar lampu dekat pintu belakang dengan watt yang nyaris kehabisan masa itu yang menjadi sumber cahaya. Kugy bergerak menyibak tirai jendela, mengintip perlahan. Sekelebat bayangan berjalan cepat menuju pintu bawah, diikuti bunyi mencurigakan yang membuat tingkat awas Kugy meningkat. ‘’Maling?’’ Mata wanita itu membulat mendapati sosok tinggi, berambut berantakan sedang mencoba memasukan sesuatu pada lubang kunci pintu belakang. ‘’Fix! Ada ma to the ling!’’ Langkah cepat Kugy bergerak lembut, tak ingin sampai menimbulkan suara yang membuat lelaki di luar sana kabur. Perlahan ia memasuki dapur, suara-suara yang tadi terdengar samar semakin  jelas. Kugy sudah memasang kuda-kuda bertarung, tak ada rasa takut untuk berhadapan dengan maling yang hendak membobol rumahnya. Terkadang ia bersyukur karena tumbuh menjadi pribadi yang senang dengan hal yang berbau bela diri, walau dulu Gyna jelas menentang hobi lainnya itu. Ibarat perumpamaan, banyak jalan menuju Roma. Diam-diam sepulang les, ia tak pernah absen mengikuti latihan Karate yang ada di dekat kawasan sekolah. Juga tanpa sepengetahuan ibunya, anak pertama dari keluarga Aviora itu sudah menggenggam sabuk cokelat kyu 1. Biarpun tak sampai sabuk hitam, setidaknya kemampuan Kugy dalam seni bela diri lumayan memumpuni. Kalau saja waktu lalu Gyna tidak memaksanya mengikuti olimpiade matematika, pasti jadwal kenaikan sabuk hitam yang bisa hanya setahun sekali diadakan itu tidak harus menjadi korban. ‘’Pas banget lo datang. Gue emang lagi kesal, pengin nabokin orang!’’ Ocehnya semangat. Bunyi klik terdengar pada lubang kunci, menandakan lelaki di luar sana telah berhasil membuka pintu. Dalam hati, ia menghitung. Bersiap menendang tepat di titik vital musuhnya. Dan tiba seonggok kepala itu muncul, seseorang yang dianggap maling itu meluruh lemas ke lantai begitu disambut dengang kaki jenjang Kugy menggantung hanya beberapa senti dari wajahnya. ‘’Alan!’’ Buru-buru Kugy menghampiri, nyaris menghabisi sepupu sendiri kalau saja sambungan neuron dalam otaknya sedang mode lambat. Lelaki berdarah campuran itu tertunduk memegangi d**a, jantungnya sudah melompat entah ke mana sekarang. ‘’Lo! Kenapa malam gini baru pul— Astaga itu muka kenap—‘’ Kugy melotot kaget, pasalnya wajah lelaki itu penuh dengan lebam dan beberapa luka. Dengan gesit Alan membungkam paksa mulut bocor sepupunya. Jika sampai Linda terbangun dari sleeping beauty, bisa habis teler kupingnya keluar semua. Susah payah Kugy melepas bungkaman, telapak tangan jumbo itu tidak hanya menutup mulut kecilnya, tapi juga lubang hidungnya yang teramat minimalis. Berdampak pada Kugy yang kesulitan bernapas. ‘’I’m fine, Gy.’’ ‘’Fine dari Hongkong! Muka lo udah hancur ngalahin vokalis bogoshipo band gini, masih lo bilang fine!’’ “Ssstttt!’’ Panik Alan kalang kabut. Kenapa Kugy harus terlahir dengan suara toa, jangan bilang Gyna dulu sering ngidam toa mesjid untuk dijadikan cemilan. ‘’Ini kenapa? Cerita sekarang atau gue lari aduin ke Oma sekarang!’’ Ancam Kugy. Padahal ia juga tak gila kalau mau mengadu, bisa-bisa Linda terkena serangan jantung kalau sampai tau kondisi cucu kesayangannya sudah mirip orang habis tawuran. Kacau. Lama Alan terdiam, mengikis habis kesabaran Kugy. Wanita itu berdiri, bersiap pura-pura mengayun tujuan ke kamar sang Ratu. Namun, cekalan lemas pada tangan Kugy mengembalikan fokus Kugy pada lelaki yang kini tertunduk tak bersemangat di bawah sana. Kugy berjongkok, mengangkat wajah Alan agar netra sebiru laut itu membalas. ‘’Lo kenapa?’’ Tanyanya melembut. Alan mendesah berat. Sorot ceria yang biasa ia tularkan pada semua orang, kini meredup terselimuti awan kelam. Mata indahnya berkaca-kaca menahan tangis. ‘’Sorry. Tapi gue belum bisa cerita sekarang,’’ balas Alan yang nyaris berbisik. Paham situasi, Kugy tak berniat memaksa. Ia hanya mengangguk mengusap perlahan luka terbuka di sudut bibir Alan, menciptakan sebuah ringisan kecil dari lelaki penuh lebam itu. ‘’Just let me handle this.’’ Seulas senyum Alan terbentuk. ‘’Yes, Doctor. Please help me.’’ ==========0o0==========
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD