10. Sang Cobaan Hidup

1585 Words
‘’Mama sekolahin kamu ditempat elit bukan buat terima surat DO!’’ Gyna memjiat penat sebelah pelipis. Melempar kasar selembar kertas yang tak pernah ia duga akan sampai pada tangan dinginnya, tepat di depan wajah Kugy. Wanita yang baru saja pulang bekerja itu menarik paksa dagu anak pertamanya yang sejak tadi tertunduk. ‘’Ini alasan kenapa Mama larang kamu ikut bela diri! Kamu dibentuk jadi anak yang gak beretika!’’ ‘’Jangan salahin yang lain, Ma. Mereka nge-bully aku! Terus aku harus diam?’’ ‘’Harus!’’ Bantah Gyna. ‘’Dan harusnya kamu gak main fisik, Kugy!’’ ‘’Mereka yang mulai.’’ ‘’Apa pun alasannya!’’ Teriak Gyna kesetanan. Ia menatap gadis emasnya yang kini telah dinyatakan drop out dari sekolah karena memukuli sekelompok anak yang berakhir harus dirawat intensif di RS akibat patah tulang. Helaan napas panjang Kugy terdengar. Apa salah jika melindungi diri dari bahaya? Ia dirundung tanpa alasan yang jelas dan masih mencoba terima. Namun, saat para mulut sialan yang lancang menghina ibu juga adiknya dan mulai bermain fisik. Haruskah ia tetap diam, membisu tanpa pembelaan. Kugy yakin untuk bagian itu, Gyna lah yang salah. Tapi sayang, sampai laut mengering pun ibunya itu tidak akan menerima alasan apa pun. Kugy salah dan Gyna harus selalu benar. ‘’Setelah kamu kecewain Mama dengan gagal lulus AFS! Lalu, sekarang?!’’ Gyna geram, membanting vas kaca di dekat Kugy. ‘’Kamu anak pertama, Kugy! Mau jadi apa Kana kalau punya contoh seperti kamu!’’ Sorot penuh amarah itu berbalik menatap Kugy yang terlihat nanar, ia tau vas yang dibantingnya adalah peninggalan terakhir Kusuma. Namun, wanita itu tak peduli. Jika gen pemberontak lelaki yang sangat dibenci itu tidak mengalir pada darah Kugy, mungkin anak kebanggaannya tidak akan berbuat bodoh seperti ini. ‘’Jangan buat dirimu mirip seperti lelaki tak berguna itu—‘’  ‘’Lelaki yang selalu Mama anggap gak berguna itu adalah orang tuaku juga. Apa harus Mama bicara kasar soal Papa?’’ Gyna mendecih remeh. ‘’Papa? Dia cuma penyumbang benih secara paksa! Lelaki sialan itu licik! Itu yang kamu anggap Papa?!’’ ‘’Ma,’’ lirih Kugy. Gyna mencengkram kedua pipi Kugy dengan satu tangan, menatap penuh dendam. Kalau saja Kusuma tidak merengut kegadisannya di malam perpisahan sekolah, Kugy tidak harus ada tepat setelah Gyna dinyatakan lulus jalur undangan di PTN bergengsi. Sepanjang masa pendidikan hanya dilewati dengan cibiran-cibiran, walau peraturan kampus tak mempermasalahkan tentang kehamilannya. Tetap saja, lidah setiap manusia tidak bertulang. Mereka dengan mudah menggunjing tanpa rasa bersalah, menyebar semua fakta yang sudah Gyna coba tutupi serapat mungkin. Semua itu karena Kusuma, seniman  berdarah bebas itu mengikatnya paksa dengan menghadirkan Kugy. Hidupnya hanya untuk melukis, membuat vas-vas, merangkai sesuatu yang bernilai seni, lalu dijual dengan harga seikhlas hati dan kemudian disumbangkan sebagian untuk panti asuhan tempat Kusuma pernah dibesarkan. Bukan Gyna tidak memiliki jiwa sosial, hanya saja dirinya adalah tanggungan sang suami. Harusnya ketika Kusuma bertindak berani menyemburkan ribuan s****a pada rahimnya, ia juga harus mampu menafkahi kehidupan istri. Bertahan dalam hidup bersama Kusuma adalah hal yang sangat sia-sia untuk Gyna. Ia tak menyesal memiliki Kugy, semua dendam lama sudah terbalas karena berhasil mencetak anak berotak cerdas sepertinya. Setidaknya itu dulu, tidak lagi untuk sekarang. Melepas Kugy untuk terus menjalin komunikasi dengan Kusuma setelah perceraian mereka, membuat anak pertamanya tumbuh semakin membangkang dan berlaku minta dibebaskan. ‘’Ingat Kugy, kehadiranmu pernah sangat tidak Mama inginkan. Adanya kamu adalah sebuah kesalahan. Tapi Mama tetap coba terima, dengan membentuk kamu menjadi orang yang berguna,’’ ujar Gyna serius, sorot tajamnya menatap dalam netra sendu Kugy. ‘’But ... yah. Mama sadar, selamanya pecundang tetaplah pecundang.’’ Gadis usia belasan tahun itu terdorong ketika Gyna melepas kasar cengkramannya, meninggalkan jejak kemerahan di atas kulit putih Kugy. Bunyi bantingan pintu cukup teredam diantara gelegar petir yang heboh menyambar di luar sana. Selintas sebuah pertanyaan lewat dalam benak Kugy. Pernyataan tertolak mana yang paling menyakitkan dalam hidupmu? Jika hanya ditolak seseorang yang disuka, rasanya itu belum seberapa dengan penolakan ibu kandung yang dengan jelas menyatakan tak menginginkan anak sendiri. Selama ini Kugy sadar, Gyna tidak benar-benar menyanyanginya dengan dalih membenci sang ayah. Anggaplah itu benar, lalu bagaimana dengan Kana. Apakah adik cantiknya itu juga sebuah kesalahan sepertinya. Ia sangat yakin ada cinta di sana, tapi keegoisan sebagai makhluk dewasa tak pernah bisa Kugy pahami. Semua itu mengerikan, orang-orang dewasa itu rela menyiksa dan menutupi kebenaran dalam diri mereka hanya untuk mempertahankan apa yang dianggap mereka benar. Gyna selalu mengucap kata-kata menyakitkan ketika keinginannya tak terwujud, marah dengan keadaan dan membebaninya dengan berbagai les tambahan yang sangat menguras jam tidur. Namun, Kugy rasa itu lebih baik daripada harus mendengar kenyataan pahit yang kini terungkap. Fakta di mana, kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Mata sendu itu banjir dengan tetes air yang sejak tadi ditahan, isak tangis menyesakannya terbuang begitu saja. Hujan, riuh suara yang ia buat di luar sana membuat Kugy kali ini bersyukur dengan kehadiran hujan. Sebab ia tak perlu bersembunyi untuk melepaskan rasa sakitnya, karena deras hujan mampu menutupi dengan sempurna. Sesuatu yang basah terasa di bawah telapak tangannya, sedikit nyeri dan berbau anyir. Gadis rapuh itu sadar jika telapak tangannya menekan pecahan vas saat menahan tubuh dari dorongan Gyna tadi, tapi itu tak berpengaruh. Rasa sakit dalam rongga dadanya lebih menyiksa dibanding hanya tertusuk pecahan benda penuh kenangan itu. Vas pertama yang Kugy buat bersama Kusuma, sebelum lelaki itu memutuskan pergi dari kehidupan rumah tangga yang selalu coba ia bangun dengan harmonis. Sambar petir kembali saling bersautan, terdengar jelas karena jendela kamar Kugy yang terbuka. Mengembalikan kesadaran pemilik kamar yang sempat tercecer ke masa lalu. Hujan selalu berhasil menariknya ke lubang ingatan pahit bersama Gyna. Di setiap hujan, Kugy tak jarang tertimpa sial dan masalah. Makanya ia sangat membenci serbuan air dari langit itu. ‘’Kugy!’’ Seonggok kepala dengan senyum tiga jari, sempat mengagetkannya. Ada Kesy yang terlihat sumringrah di depan sana. Buru-buru Kugy menutup album foto dan menyembunyikan di bawah bantal. Karena wanita bertubuh mungil itu masuk menerobos kamar begitu saja, tanpa peduli izin dari Kugy. Membawa sesuatu dalam pelukan kecilnya, sebelum menghujani pangkuan Kugy dengan belasan atau bahakan puluhan koleksi bando kain beragam warna dan corak. ‘’What the—‘’ ‘’Ini semua is new!’’ Sorak Kesy bangga dengan pengucapan bahasa inggrisnya  yang amburadul. ‘’Gue baru belanja kemarin, khusus buat nonton band Leo.’’ Kugy mendengkus malas. Bagai tak ada pembahasan lain yang bisa Kesy lontarkan, jika tidak Leo beserta member band-nya yang sama sekali tak pernah Kugy coba dengar atau tidak membahas Raga dan segala t***k bengek lainnya yang tetap tak pernah ingin Kugy coba dengar. ‘’Waw,’’ respon Kugy tak minat, menyibak ceceran benda unyu hingga terjatuh dari atas kasur. ‘’Ih kok dibuang!’’ ‘’Kalau mau jualan jangan di sini, lo salah server.’’ Bibir mungil Kesy maju beberapa senti, siapa juga yang berniat jualan. Ia datang meminta Kugy memilih satu dari banyaknya bando untuk dipakai, sekaligus mencoba menggoda teman juteknya agar sedikit bergaya seperti wanita sungguhan. Pasalnya sejak semalam hingga pagi menjelang, hoodie kuning terang bergambar anak bebek itu masih melekat pada tubuh Kugy. Sudah dipastikan, Kugy tidak mandi semalaman dan akan meneruskan niat absen mandinya karena kedatangan hujan di luar sana dengan alasan kedinginan. Seolah lupa kalau kamar mandinya dipenuhi fasilitas pemanas air modern. ‘’Heh, kembaran ande-ande lumut! Gue itummphh—‘’ ‘’Gak terima alasan. Keluar sana, gue mau tidur!’’ ‘’Tidur?!’’ Kugy dan Kesy yang masih dalam kondisi terbekap, sama-sama menoleh ke arah pintu kamar. Tempat di mana Linda berpijak, memasang raut galak dengan tangan berkacak pinggang. ‘’Kamu pikir ini jam berapa, mau tidur lagi?’’ Kepala Kugy tertoleh, mencari keberadaan jam dinding. ‘’Engg ... jam lima ... pagi?’’ Refleks Kesy menyikut perut Kugy. ‘’Bego, jam lo mati! sekarang udah jam sepuluh!’’ Bisikinya kesal. ‘’Tapi kok masih gelap, Kes?’’ ‘’Iyalah dodol, namanya hujan deras! Langit jadi mendung.’’ Kesy jadi gemas sendiri. Arus dari mana yang sampai membuat mantan murid teladan sekolah itu bisa berlagak sebodoh ini. Linda menghela napas panjang, menetralkan seluruh emosi yang hampir meluap. Kugy adalah bentuk dari cobaan hidup yang nyata. ‘’Udah. Jangan pancing emosi Oma,’’ ucapnya mengalah. Tensinya bisa melonjak naik kalau tidak sabar-sabar menghadapi cucu pertamanya itu. ‘’Sekarang kalian siap-siap, lalu antar karangan bunganya. Karena pukul tiga sore nanti, acara udah dimulai.’’ Kesy menoleh panik. Baru teringat jika mereka harus mengantar pesanan bunga yang mengundang band Leo. ‘’Kesy!’’ ‘’Ya O ... Oma?’’ Gagapnya. ‘’Bantu Kugy, paling lama pukul sebelas kalian sudah di sana. Selebihnya kalian free. Mau balik ke sini lagi atau mau nonton acara festivalnya, terserah.’’ Dua wanita muda itu saling berpandangan. Mencoba mencerna deretan kalimat yang baru saja Linda lontarkan. ‘’Maksudnya kita dibolehin selesai lebih cepat gitu? Seriusan? Demi apa? Gue pikir pas malam nanti baru bisa gabung ke sana. Ya Gusti, senangnya!’’ Sorak Kesy bahagia. Jarang-jarang Linda memanjakan mereka seperti ini. ‘’Nah mumpung Oma udah baik, jadi kita—‘’ ‘’Langsung berangkat aja sekarang.’’ Tanpa babibu Kugy menarik lengan Kesy keluar kamar. Tujuannya hanya satu, cepat mengantar pesanan lalu pulang dan balik tidur. ‘’Ih, bentar-bentar. Kaki gue pendek ini, susah ikutin langkah lo yang selebar lapangan!’’ Omel Kesy. ‘’Lagian lo belum mandi, woi!’’ ‘’Bawel!’’ ‘’Jorok banget sumpah. Gimana mau punya pacar coba,’’ cerocos Kesy yang masih dalam kuasa Kugy, hingga tarikan itu terhenti karena Kesy mencengkram erat pinggiran tangga yang hendak mereka turuni. ‘’Lepas!’’ ‘’Gak! Ini masih jam sepuluh, lo masih sempat mandi, terus dandan. Lagian jarak tempat acara sama toko kan dekat. Only pip minit.’’ Kugy memutar malas bola matanya. ‘’Percuma.’’ ‘’Maksudnya?’’ Kening glowing Kesy mengkerut bingung. Bagian mana yang cocok dilabeli percuma, kalau kenyataannya Kugy akan tampil begitu sempurna jika saja lebih memperhatikan penampilan. Mungkin temannya itu akan menjadi sorotan di setiap langkah yang diambil. Kesy tak sedang hiperbola, tapi ini kenyataan. ‘’Percuma. Mandi gak mandi memang ada yang peduli?’’ ‘’Ada! Gue. Gue peduli.’’ ‘’Tapi gue gak mau peduli, kalau lo yang peduli.’’ Kesy menyerah. MAnusia super anti air itu sangat membuat siapapun frustrasi dalam hal bujuk-membujuk. ‘’Ya Tuhan. Cobaan macam apa ini, kenapa harus ada makhkluk seperti KUGY!!!’’ ==========0o0========== NB : AFS adalah kepanjangan dari American Field Service, organisasi yang bermitra dengan Bina Antarbudaya . Tujuan mereka itu untuk menyediakan intercultural learning lewat pertukaran pelajar kepada siswa-siswi indonesia.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD