11. (Bukan) Penabuh Gendang

1585 Words
Hakikatnya udah jadi sifat dasar manusia, yaitu suka mengingat hal buruk di masa lalu. — Leo    ==========0o0========== ‘’Cebol buruan!’’ ‘’Ih bentar. Bagus mana? Merah atau—‘’ ‘’Gak ngaruh. Lo bakal tetap kelihatan cebol!’’ Potong Kugy sadis. Lengan kurus itu menarik paksa Kesy agar segera keluar dari toilet yang mulai padat. Matanya sakit sendiri menyaksikan tingkah centil Kesy yang tak ada habisnya. Terhitung, hampir sepuluh menit wanita bertubuh mungil itu membongkar pasang bando-bando yang sempat dibawa. ‘’Body shamming!’’ ‘’Bodo!’’ ‘’Ih, santuy ngapa! Udah tau temennya cebol,’’ omel Kesy. ‘’Kug—Aw!’’ Wanita berbando merah itu mundur selangkah sembari memegangi kening, baru saja menambrak sesuatu yang keras. ‘’Ini ap— Alan?!’’ Yang dipanggil tersenyum menawan. Mengangkat sebelah tangan sebelum membalas sapaan dengan pose tampan. Kesy membatu, kaget akan kehadiran sepupu Kugy yang menyusul mereka. Ia pikir makhluk bermata biru itu tidak mau repot menyambut tawarannya untuk datang ke festival bersama, karena sejak semalam Alan bersikap cuek. Lelaki berambut ikal itu masih tak melunturkan senyum, terus mengikat Kesy di dalamnya. Tetap dalam posisi diam, bukan karena efek dari senyum Alan yang langganan mengobrak-abrik detak jantungnya. Tapi karena bekas samar dari lebam dan beberapa plaster sewarna kulit yang menempel di sana. ‘’Iya tau gue ganteng, cuma ya jangan dilihatin terus.’’ ‘’Lo ... habis berantem?’’ Spontan netra biru biru Alan tertuju pada Kugy yang panik menggeleng cepat. Menyatakan kalau dirinya tidak cerita apa pun pada Kesy perihal luka lelaki itu. ‘’Lan?’’ Alan berdeham, hanya memasang seulas senyum. Sepertinya mata besar Kesy yang biasa terlihat bego adalah penganalisis yang tajam, buktinya tetap bisa melihat bekas lebamnya walau sudah ditutupi dengan consealer curian milik Linda. ‘’Udah mulai, itu band Leo bukan?’’ Sorakan Kugy cukup ampuh mengalihkan fokus Kesy yang meminta penjelasan. Kibaran kemeja kotak-kotak yang sengaja dibiarkan terbuka, sedikit tersingkap angin hingga memperlihatkan kaos tipis Kugy. Ia menarik Kesy untuk membelah kerumunan bersama. Kalau bukan karena Alan pernah ada di saat Kugy butuh sesosok sandaran waktu lalu, rasanya ia juga malas pura-pura antusias mengikuti jalannya festival seperti yang dilakukan Kesy sekarang. Ku ada di sini Pahamilah kau tak pernah sendiri Karena aku selalu Di dekatmu saat engkau terjatuh Aku ingin kau merasa Kamu mengerti aku mengerti kamu Aku ingin kau sadari Cintamu bukanlah dia Dengar laraku Suara hati memanggil namamu Karena separuh aku Dirimu Dengar laraku Suara hati ini memanggil namamu Karena separuh aku Menyentuh laramu Semua lukamu telah menjadi lirihku Karena separuh aku Dirimu   Tubuh para penonton ikut bergerak santai mendengar suara merdu penyanyi di atas sana, menikmati penampilan sang pengisi acara. ‘’Gue baru tau vokalis kangen band seganteng itu,’’ bisik Kugy pada Kesy yang semakin melebarkan senyum pepsodent ketika sang vokalis melambaikan tangan ke arahnya. Ah— tepatnya kearah Kugy yang hanya nyengir, menyaingi senyum kuda yang kebelet pup. ‘’Ih Kugy! Lo didadain sama Kak Boril!’’ Heboh Kesy yang bersorak iri, begitu juga deretan para wanita di sekitar Kugy. ‘’Hah?!’’ ‘’Itu tadi Kak Boril d**a-d**a ke lo,’’ ulang Kesy gemas, menirukan gaya sang vokalis yang begitu intens melambaikan tangan pada Kugy. Tapi justru temannya hanya terkekeh penuh ke-santuy-an. ‘’Oh. Si vokalis kangen band itu?’’ Gantian Kesy yang ber-hah ria mendengarnya. Terheran-heran hingga tujuh turunan dengan ucapan paling ngawur yang pernah Kugy lontarkan. ‘’Vokalis kangen band?’’ Tanyanya memastikan, siapa tau kupingnya sedang dilanda timbunan congek. ‘’Manusia sekarismatik tadi lo bilang vokalis kangen band?’’ Cecar Kesy. Bagai tak bersalah, Kugy mengangguk antusias. ‘’Iya. Gak salah sih dia dapat gelar ‘babang tamvan’. Karena memang tamvan.’’ Mulut Kesy terkunci rapat, dihadapkannya kembali tubuh kecil itu ke arah panggung. Terserah dengan pemahaman Kugy tentang Boril dan Kangen band. Band yang baru selesai tampil adalah Noah, dengan vokalis bernama Ariel. Sementara, entah wangsit dari mana sampai Kugy mengira lelaki yang menotice-nya tadi adalah Ariel Kangen band. ‘’Ya ... ya ... terserah lo, deh. Gue mau have fun, bukan mendadak stres!’’ Batin Kesy pasrah. Biarlah Kugy sendiri yang akan terkena serangan jantung bila sudah mengetahui fakta sebenarnya. Semakin gelap malam menyelimuti, semakin meriah festival musik terlaksana. Dibuka dengan beragam penyanyi solo dan band kebanggaan ibu kota, kini lanjut dengan pertunjukan penuh tenaga dari DJ tersohor yang mungkin hanya Kugy yang tak tau siapa namanya. Di sampingnya, Kesy berjingkrak bagaikan orang kerasukan. Begitu juga dengan sekelilingnya, tak segan menggoyangkan tubuh mereka untuk menyamai hinggar bingar ritme super memusingkan kepala itu. Seakan tak mau kalah, lampu sorot warna-warni dari panggung pun ikut menemani. Silih berganti, mengubah lapangan luas tempatnya berpijak menjadi area clubbing versi jumbo. ‘’Kes, pulang yuk. Takutnya kelamaan di sini lo kesurupan beneran.’’ Kesy memperlambat gerakannya, tertawa lucu menanggapi ocehan Kugy. ‘’Lo cupu amat, sih. Masih juga jam sepuluh. Ya gak, Lan?’’ Wanita kecil berbaju tipis itu meminta dukungan dari lelaki tinggi di belakangnya. ‘’Yoi. Banci perempatan juga masih dandan.’’ Kaleng soda kosong dalam genggaman Kugy menghantam bebas kening Alan. ‘’Tau aja yang pengalaman jadi banci!’’ Kugy melesat pergi, terus-terusan berada di sekerumunan orang banyak membuatnya kurang nyaman. Terlebih ia merasa kegerahan dan berdoa agar hujan segera turun untuk membubarkan para manusia menggila itu. ‘’Gy! Kugy kok cabut, ih.’’ ‘’Ngantuk! Kaki pegal, panas lagi. iLhat nih kemeja gue basah.’’ Pakaian lembab itu mendarat pada wajah Kesy, hanya menyisakan selembar kaos tipis yang melekat pada Kugy. ‘’Lagian lo udah puas lihat Leo kan?’’ ‘’Bahkan band Leo belum tampil sama sekali, Kugy!’’ Kesy memutar malas bola matanya. ‘’Tunggu sampai band Leo tampil, deh baru kita pulang.’’ ‘’Malas, ah. Ramai!’’ Lagi, Kesy memutar bola mata. ‘’Yaiyalah ramai, namanya juga di festival musik. Bukan lagi ziarah di makam tua!’’ Ocehan Kesy baru hendak meluncur, kalau saja tak mendengar sambutan meriah MC pada penampilan berikutnya. ‘’Itu Leo! Itu Leo!’’ Telunjuk pendek wanita itu terarah seorang lelaki yang sedang menempati posisi paling belakang untuk menabuh drumnya. ‘’Itu Leo!’’ ‘’Oh. Posisinya tukang tabuh gendang?’’ Pletak! Mata besar Kesy melotot hendak keluar setelah mendaratkan jitakan penuh kasih sayangnya di jidat lebar Kugy. Andai teman sablengnya tidak merengek pulang, pasti mereka masih di posisi terdepan dan bebas menyaksikan penampilan mantan teman satu sekolahnya itu. ‘’Selesai dia nampil kita pulang.’’ ‘’Selesai dia nampil kita datangin.’’ Alan mengedikan bahu acuh, mengikut saja ke mana dua wanita penuh cekcok itu membawanya. ‘’Biar lo ingat lagi siapa Leo. Pasti seru!’’ Ucap Kesy antusias. ‘’Dia dulu sekelas gue, yang hobi ganggu lo.’’ Valeo Angkasa. Sampai detik ini hanya nama lengkap lelaki itu yang Kugy bisa ingat, itu pun berkat Kesy yang terus menyebut namanya berulang kali seperti putaran kaset rusak. Terlalu banyak lelaki kurang kerjaan yang selalu mengganggu Kugy semasa sekolahnya. Ada yang masih dalam tahap normal, ada pula yang sudah tingkat kronis paling upnormal yang kerap berujung kena sembur guru BK. Akibat rasa penasaran para kaum Adam dengan sosok anak baru bernama Kugy Aviora di sekolah mereka. Pindahan dari sekolah internasional, pendiam dan selalu memasang ekspresi datar, sedatar jembatan suramadu. ‘’Udah ingat?’’ ulang Kesy dengan nada menjerit, karena suasana yang ricuh. Terutama karena kehadiran ABG zaman now yang sejak tadi tak mau diam meneriakkan nama lelaki yang sedang mengayunkan stik drum jauh di depan sana. ‘’Gak kenal. Gak penting juga.’’ Band Leo baru turun panggung setelah menyelasaikan lagu ke dua mereka plus satu bonus tambahan, sebab desakan penonton yang terus meminta tambah dengan bujuk jargon menggelikan. ‘’Gak mau pulang, maunya digoyang. Gak mau pulang, maunya digoyang.’’ “Alan! Diam gak! Geli tau dengarnya!’’ Plotot Kesy. Sejak awal mendengar jargon itu, ia langsung mendeklarasikan diri sebagai haters si jargon. Bermodalkan id card bertuliskan ‘crew’, Kesy leluasa mencari keberadaan teman lama yang sengaja ditunggu dekat backstage. Selain untuk pamer foto di i********:, sekalian juga mengumpulkan ingatan Kugy yang suka tercecer. ‘’Gue pernah bilangkan, dulu Leo memang buluk abis. Udah hitam, jelek, dekil, jerawatan, terus—’’ ‘’Leo?’’ potong Kugy. Sejak tadi Kesy membahas lelaki itu, baru sekarang otak kacang polongnya mau berpikir. Mulut Kugy terbuka dramatis, berhasil mengutip serpihan ingatannya. ‘’Leo yang bau ketek itu?!’’ Serunya tanpa dosa. Melihat betapa kejam mulut julid kedua wanita didekatnya, Alan hanya bisa menggeleng sembari membatin, ‘’Untung gue cakep sejak lahir.’’ Wanita dengan tinggi tubuh saling bertolak belakang itu berhenti debat, ketika segerombolan lelaki melintasi mereka. Tak malu suara badak Kesy berteriak memanggil Leo, menggundang tolehan dari sang empunya nama. ‘’Leo, ini Valeo Angkasa kan? Alumni SMA Jagat Raya?’’ Ujar Kesy sok akrab, sambil mendekati Leo yang kebingungan. ‘’Ini gue, Kesy.’’ Lelaki itu menyengir lebar, membongkar ingatan mengenai siapa Kesy. Tak sedikit orang yang sering  mengaku-ngaku seperti wanita berbando merah itu. ‘’Maaf. Tapi ... Kesy yang mana, ya?’’ Air muka pias jelas tergambar pada raut Kesy. Kecewa mendapati fakta Leo yang sama sekali tak mengingatnya. Sementara, Kugy dan Alan sudah mati-matian menahan tawa yang nyaris meledak. Alan bergeser mendekati Kesy. Membisikkan, ‘’Kesy? Kesy yang mana, ya? Kesyan deh lo dilupain!’’ Wanita dengan postur kurang pupuk itu mengikut sadis perut keras Alan, ia belum menyerah. ‘’Kesyana Malia, kita teman sekelas zaman SMA. Bendahara kelas yang suka tagihin utang uang kas lo. Nih, gue datang sama Ku—’’ ‘’Kugy?’’ Leo baru menyadari bukan hanya ada Kesy di sana. Ada sosok jangkung lain yang terlihat akrab berbisik dengan lelaki bule bermata biru. Wanita itu menoleh, membalas tatapan Leo yang terserang gugup dadakan. “Lo ... Kugy Aviora, right? Anak IPA yang dulu suka bolos ke kelas anak IPS?’’ Yang ditunjuk menggangguk kikuk, wajah lelaki di depannya itu benar terlihat tak asing. ‘’Jadi lo Valeo Angkasa? Si ojo nesu-nesu yang iklan kopi di tv itu?!’’ Senyum lebar Leo langsung terukir, menampilkan deret gigi kelinci menggemaskan miliknya. ‘’Wah ... ternyata lo tau gue sejauh itu?’’ ‘’Gak juga, sih. Gue tau juga karena Kesy,’’ balasnya cuek. ‘’Yang gue ingat tentang lo cuma—‘’ ‘’Cuma?’’ Penasaran Leo. ‘’Si anak IPS yang ketiaknya bau banget itu, belum lagi dulu—’’ Kugy menggantung ucapan sembari menghela napas sabar, kini ingatan tentang siapa Leo benar-benar sudah terkumpul dalam kepalanya. ‘’Lo yang dulu hobi slepetin boxer bau apek ke gue kan!’’ Damn! Detik itu juga, Leo merasa dunia tempatnya berpijak runtuh ketika mendengar pernyataan mantan primadona sekolah itu. Sejelek-jeleknya Leo dulu, kenapa hal paling jelek dalam dirinya yang harus Kugy ingat. ‘’Ha ... ha ... ha ...,’’ tawa Leo tengsin karena salah tingkah. Cengir kudanya sedikit menyusut. ‘’Itukan dulu. Sekarang boxer sama ketiak gue udah gak bau lagi, kok. Cek aja kalau gak percaya.’’   ==========0o0=========  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD