12. Raga yang jatuh

1330 Words
Segaris senyum hangat itu mengantarkan damai kepergian pria paruh baya berbaju batik dari ruang pemeriksaan. Pak Khairan atau akrab dipanggil Pak Kai— adalah pasien terakhir Raga hari ini. Beliau rela jauh-jauh dari kampung ke kota untuk kontrol jantungnya yang belakangan sering berdenyut nyeri. ‘’Udahan kali senyumnya, dedek gemes lo pada lumer tuh!’’ Mata sipit milik lelaki manis bermulut judes itulah yang pertama kali Raga dapati ketika menoleh ke samping kanan poli. Ada Jendra yang masih mengenakan pakaian operasi, memasang tampang malas saat menatapnya. ‘’Cemburuan aja bebeb sama anak koas,’’ kekeh Raga, meng-headlock akrab leher mulus sahabatnya. Karena lelah, Jendra tak mengelak seperti biasa. Walau dalam hati mati-matian bersikap acuh dengan tatapan kepo para sejawat yang melihat mereka.  ‘’Operasi lagi?’’ Dokter residen penyakit dalam itu mengumam malas. ‘’Jadi asisten kakek lo, habis mbedel perut orang tadi.’’ Gelak tawa lepas Raga memenuhi lorong rumah sakit, acuh dengan pandangan sekitar. Ada yang kaget, ada juga yang terpesona melihatnya karena residen jantung dan pembuluh darah itu terkenal pelit senyum, kecuali jika sedang bersama Jendra tentunya. ‘’Dijadiin apa lo di sana?’’ Tanya Raga lagi, sengaja memancing sepasang netra sipit Jendra menoleh galak padanya. ‘’Oke, oke, udah ke tebak. Cuma jadi penonton hahahaha—Argh! Ampun, ampun!’’ Rasa pedih nyut-nyut jos pun langsung terasa di lapisan epidermisnya, lelaki jangkung dengan wangi  tubuh khas itu mengaduh tanpa suara menikmati cubitan maut Jendra. ‘’Gak kakek, gak cucu sama aja nyebelinnya,’’ dumel Jendra dalam hati. Yup, dalam hati. Karena tidak mungkin ia menyuarakan kekesalannya pada pemilik gelar super panjang yang tak lain adalah kakek Raga, sekaligus konsultan di tempat Jendra menuntut ilmu sekarang. Prof.Dr.dr. Aldair Nabastala, Sp. PD KHOM (Spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik). Rasanya Jendra selalu menahan napas, tiba berdekatan dengan lelaki paruh baya yang jelas-jelas tak menyukainya. Wajar Aldair bersikap sinis, kakek mana pula yang suka melihat reputasi cucu kesayangannya tercoreng karena bergaul dengan penyuka sesama jenis. Jendra yakin, tidak akan ada. Berulang kali juga ia mencoba menjauh dari Raga. Namun, lelaki jangkung itu terus saja bersikeras mempertahankan persahabatan mereka yang justru di salah pahami sebagai pertengkaran sepasang kekasih oleh para netijen sok tau. Sungguh, Jendra bagai menelan buah simalakama. Mau tetap bersama Raga tapi lelaki itu akan ikut tercap buruk, mau menjauh pun ia tak bisa. Sebab Raga selalu punya kuasa untuk memonopoli jarak mereka. ‘’Jadi ... tadi siapa yang terakhir? Lama amat keluar dari poli.’’ Susah payah Jendra menoleh, sebab lengan berotot Raga masih setia bertengger padanya. ‘’Pak Kai. Lo masih ingat beliau gak?’’ Lelaki manis itu mengangguk singkat. Bagaimana bisa lupa, kalau Raga pernah bercerita dengan semangat 45. Beliau adalah kepala desa di tempat Raga pernah mengikuti bakti sosial bersama alumni dan juniornya di kedokteran. Di sanalah awal perkenalan mereka, termasuk titik temu lelaki itu bersama Kugy dengan kejadian di luar prediksi. Masa di mana wanita yang suka mencepol rambut itu masih menjadi MABA atau mahasiswa baru.  Seseorang yang mampu mengubah Raga yang awalnya tak pernah peduli sekitar, menjadi tukang kepo urusan orang. Dan semua dengan alasan yang sama, yaitu Kugy. ‘’Melamun terus, Jen. Lapar apa gimana?’’ ‘’Apa? Gue cuma lagi nostalgia waktu lo jadi makhluk kepo bin nyebelin karena itu cewek.’’ Kedua sudut bibir Raga terungkit naik. Terbayang sifat bawel tersembunyi milik Kugy ketika baksos dulu, wanita berkulit cerah itu lebih memilih bisu seribu bahasa saat di depan khalayak ramai. Banyak diam dan ... banyak tersandung tanpa alasan. Tapi berbeda bila Kugy sedang sendirian. Pernah Raga tak sengaja melihat Kugy mengomeli ayahnya lewat sambungan telepon, berkeluh kesah mencurhatkan sesuatu. Dari sana ia yakin, mahasiswi paling tersorot di fakultas itu memiliki sifat ceriwis dibalik topeng pendiam. Sama seperti dirinya yang hanya berani membuka watak asli ketika bersama Jendra. ‘’Dia ... seharusnya gak jadi penjual bunga kan, Ga?’’ Tanya Jendra hati-hati, kaget juga mengetahui fakta kalau mantan adik kelasnya itu memutus pendidikan. Padahal Kugy adalah mahasiswi yang cerdas, kritis dan cepat menerima ilmu baru. Teringat kala pasca baksos, kumpulan alumni iseng mengadakan latihan BLS atau basic life support yang biasa digunakan untuk penyemalatan pertama pada korban yang mengalami henti napas atau henti jantung. Prosedur intinya berupa CPR (Cardio-Pulmonary Resuscitation) yang meliputi pemberian napas dan kompresi d**a. Saat itu senior Jendra yang menjadi pemateri, dengan penjelasan super menggantung dan terburu-buru akibat demam panggung. Dan salah teman seangkatan Kugy yang beberapa kali Jendra lihat selalu mencari masalah pada wanita itu, sengaja menunjuk Kugy untuk menjadi contoh pertama. Berniat membuat malu sekaligus menunjukkan kalau Kugy tidak segemilang yang sering dielukan. Tadinya Jendra ingin menyela untuk menjelaskan ulang. Namun, Kugy maju tanpa ragu. Mempraktekan apa yang sudah diterangkan dengan percaya diri, memeriksa napas dan denyut nadi pada manikin modern yang tersambung pada komputer itu, lalu bergegas melakukan kompresi d**a tiga puluh kali dan napas buatan dua kali sebanyak lima siklus secara sempurna dalam kurun waktu kurang dari dua menit. Sampai kompresi terakhir berhasil melepaskan cepolan Kugy yang berujung banyak menelan korban, karena terpesona dengan kibasan rambutnya yang mirip seperti adegan slow motion iklan shampo. Termasuk Raga, yang Jendra perhatikan melongo dan tak berdekip dalam beberapa detik. Harusnya waktu itu ia sigap mengabadikan ekspresi konyol Raga untuk menjadi bahan bully-an di masa depan. ‘’Kenapa lo senyum-senyum? Jangan bilang kalau lo naksir gue bener— Argh!’’ Jitakan penuh kasih sayang Jendra mendarat pada jidat lebar lelaki di sampingnya. ‘’Jangan banyak berharap, b*****t,’’ bisik Jendra diakhir kalimat. ‘’Dih, kasar. Entar ditabok Ponci mulut lo!’’ Yang waras, mengalah. Itulah yang ada dipikiran Jendra saat ini. Entah kemana sifat dewasa Raga ketika sedang bersamanya. Tubuh lelaki itu bergoyang. ‘’Jen, Ponci gue belum ketemu, masa,’’ pundung Raga, berjalan menunduk lesu menatap lantai rumah sakit. Ponci adalah nama yang disematkan Raga untuk teru teru bozu yang dijadikan gantungan kunci oleh Kugy. Boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kain putih, biasa digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang. Namun, Raga ngotot sampai tarik urat kalau boneka dipercaya bisa menangkal hujan itu adalah ponci alias pocong kecil. Raga mendapatkan ponci secara tak sengaja, waktu wanita berambut cepol asal itu tiba-tiba hadir menjadi pahlawan kemalaman yang menolongnya  dari todongan abal-abal preman kampung di tempat baksos. Sebenarnya Raga bisa melawan sendiri, tapi entah dari mana asalnya di tengah malam itu lemparan tas besar milik Kugy lebih dulu mendarat sempurna pada tempurung belakang sang preman. Yang menurut penuturan Kugy berisi tiga buah kamus dorland beda edisi.  ‘’Satu biji kamus dorland aja tebelan segini,’’ ucap Raga menunjukan ibu jari dan telunjuknya, seperti mengukur benda tak kasat mata. ‘’Apalagi kalau tiga. Beuh— ‘’ ‘’Tebalnya ngalah-ngalahin tumpukan dosa,’’ sambung Jendra hiperbola. Ikut terkekeh mengingat kelakuan Kugy selalu out of the box. ‘’Itu lo gak pernah kepoin neneknya gitu, soal Kugy?’’ Gelengan kepala Raga menjadi jawaban. ‘’Bukan gak pernah, tapi pancingan gue gagal. Seolah oma kayak gak mau bahas itu,’’ balasnya. ‘’Beliau bilang, kedokteran bukan pasion Kugy. Makanya dia out.’’ ‘’Dan jadi penjual bunga?’’ Bahu Raga terangkat acuh. ‘’Dia gak harus jadi dokter buat hidup mapan, cukup jadi istri dokter aja.’’ ‘’Dokter mana?’’ ‘’Dokter Saraga Nabastala, spesialis Jantung Pembuluh darah,’’ bisik Raga malu-malu. Tawa lebar Jendra lolos begitu saja. Melihat kelakuan sahabatnya berubah bagai anak abege yang sedang mabuk asmara, menjadi hiburan tersendiri untuknya. ‘’Tapi ponci dia hilang, Jen.’’ Raga, lelaki itu berbalik lagi. Melesu menatap lantai kembali. ‘’Padahal niat gue balikkin.’’ ‘’Kapan?’’ ‘’Kapan-kapan. Kalau udah akrab sama dia.’’ Salah Raga juga yang terlalu pengecut membuka obrolan dengan wanita yang jelas-jelas sudah ia perhatikan sejak awal bertemu. Memilih takut untuk membuka obrolan dan malah melempar tatapan tajam pada Kugy, yang justru disalah artikan sebagai simbol permusuhan. Sedangkan itu cuma tameng Raga untuk menutupi setiap gugupannya saat berdua dengan Kugy. Tangan Jendra berniat melayang, kalau saja sosok tegap beraura garang di ujung sana tidak sedang memperhatikan mereka. Aldair—dokter senior yang juga pemilik rumah sakit itu kembali masuk ke dalam poli penyakit dalam. ‘’Dah, sana. Udah ditunggu bos besar,’’ ujar Raga tanpa rasa bersalah mendorong punggung Jendra. ‘’Selamat menikmati ruang OK,’’ lanjutnya sembari melambai penuh ejek. Kalau sudah Aldair di dalam poli, pilihannya hanya dua. Yaitu jika bukan karena sidak dadakan bersama konsulen, atau ... kembalinya Jendra sebagai penonton setia dari operasi yang dilakukan konsultan berpengalaman itu. Lelaki manis itu berbalik, teringat akan sesuatu. Tadi ia datang menemui Raga untuk mengajak makan sore, tapi sialnya malah digiring kembali ke polinya. ‘’Lo—‘’ ‘’Kakek gue wasaf, cariin penonton setianya,’’ potong lelaki itu dengan senyum lebar. ‘’Raga— ‘’Kenapa? Mau cium?’’ ‘’Sableng!’’ ‘’Lopyutu. Wes ojo nesu-nesu.’’ ==========0o0==========
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD