Aku Akan Menikmati Kebebasanku Sendiri

1084 Words
Aletta berbicara dengan bibir sedikit gemetar, napasnya pun tidak teratur. Dia marah, tentu saja! Lima bulan sudah cukup baginya, tidak lebih dari pada itu. “Hari ini tepat 3 tahun 4 bulan usia pernikahan kita, dan 4 tahun sebelumnya kita udah saling kenal. Tapi kamu berusaha menyingkirkanku dengan memilih wanita ini?” tanya Aletta. “Faktanya hubungan bertahun-tahun pun nggak menjamin apa pun, kan? Kamu harus terima—“ “Aku harus terima apalagi, hah?! Terima permintaan kalian yang nggak masuk akal ini?” Aletta melihat keduanya, dia pikir tidak akan pernah mengalami hal ini. Kepercayaan, cinta, kenyamanan, hari-hari mereka yang indah itu dirusak begitu saja tanpa ada yang tersisa. “Katakan sesuatu, Yusril. Kenapa kamu diam? Aku yang menuruti semua permintaanmu, semuanya, Yusril ... tanpa terkecuali. Ini yang aku dapat?” Aletta menatap suaminya sekali lagi, dia ingin mendengar pembelaan dari laki-laki ini. “Sekarang kamu menginap di mana? Aku antar kamu ke sana, besok pulanglah ... kita akan bicarakan di rumah,” ujar Yusril yang malah mengalihkan pembicaraan. “Enggak! Karena saat aku pulang, udah pasti bukan ke rumah ibumu.” “Aletta—“ Yusril hampir kehilangan kesabaran. “Aku bilang kamu pulang, jangan cari masalah di sini.” “Aku nggak mencari masalah, Yus. Kalian berdua masalahnya,” ujar Aletta seraya maju beberapa langkah. Karena kemarahannya, dia meraih kalung yang ada di leher Yura dan menarik itu untuk dibuangnya. Tentu saja tindakannya membuat Yura kaget, hingga kemarahan Yusril akhirnya muncul. “Kamu jangan keterlaluan, Letta!” Nada tinggi Yusril terdengar. Dia memisahkan Aletta dari hadapan Yura, tapi tidak sengaja membuat istrinya jatuh karena tersandung batu. Aletta terjerembab. Perih di kedua lututnya sekarang tidak sebanding dengan luka di hatinya. Dia sengaja menarik kalung Yura untuk memancing ini, rupanya dia telah kalah berharga dari seonggok kalung emas. Sakit sekali. “Ini adalah hari terakhir kamu membuat masalah, Letta. Kalau kamu nggak bisa ngasih aku keturunan, apa nggak bisa kamu jadi istri yang patuh, hah?!” Aletta meremas tali tas kecilnya, dia menoleh dan melihat raut wajah Yusril yang penuh amarah. “Baiklah.” “Baiklah? Kamu mau pulang ke rumah ibu, kan? Pergi sana dan renungkan perbuatanmu.” Yusril memungut kalung yang tadi dibuang Aletta. Sepertinya beratnya berkurang karena ada bagian yang hancur. Aletta beranjak dari sana, kemudian menatap mereka sekali lagi. “Aku akan merenungkan kebodohan yang pernah kulakukan. Yaitu menikah sama kamu, Yus. Kita selesai ... silakan kamu nikmati kebahagiaan ini sekarang sebelum kamu menyesal udah memperlakukanku begini.” Aletta berbalik arah dan pergi, dia memang menangis. Menangisi kehidupan yang bisa hancur begini. Hanya dalam sekejap semua hilang, apa dia akan menyesal? Waktu yang akan menjawab. *** Brak! Ketika di rumah Lydia, Aletta membawa beberapa tas besar berisi pakaian dan barang-barang berharganya. Dia sudah membulatkan niat pergi dari pernikahan itu, pergi dari kebodohannya sendiri. Namun, Lydia tentu saja tidak puas hanya melihat Aletta pergi. Wanita itu berdiri di ambang pintu dan menatap Aletta. “Coba liat nanti siapa yang mau menikahi kamu? Di dunia ini nggak ada laki-laki yang nggak mau punya anak, mereka pasti minta anak dari istrinya. Udah bagus Yusril bersabar sama kamu, tapi kamu malah menyia-nyiakan kesabaran dia,” ujar Lydia. “Bu, udah. Jangan bicara lagi.” Yusril yang datang dari dalam rumah menghampiri ibunya, sebuah mobil sudah disewa. Sebab Aletta membawa banyak barang. “Biar aja! Biar dia tau siapa yang dia tinggalkan, dia udah nggak nganggap kamu, Yus.” Aletta masih terdiam ketika sopir membantu memasukan barang-barang ke dalam mobil. Sampai itu selesai dimuat, Aletta baru mengeluarkan kata-kata. “Jangan terlalu membanggakannya, Bu. Dia nggak sebagus itu. Sekarang, seenggaknya orang-orang udah tau aku nggak lagi hamil. Semuanya palsu!” ujar Aletta. Lydia dan Yusril melihat sekeliling, karena keadaan ini memancing banyak orang keluar dari rumah mereka untuk melihat. Dan Aletta tidak lagi mengenakan bantal di balik pakaian, perutnya kembali rata. “Kalian lihat? Selama ini aku nggak hamil! Kalau nanti kalian lihat Yusril membawa anak, itu bukan anakku. Itu adalah anak dari selingkuhannya!” ujar Aletta dengan suara keras yang disengaja. “Aletta! Tutup mulutmu!” Lydia sontak baru menyadari setelah Aletta bicara. Dia ingin melangkah untuk melabrak wanita itu, tapi Yusril menahannya. Sudah cukup banyak orang yang melihat dan mereka mulai bergosip. “Pergi kamu, Letta. Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi!” ujar Lydia keras. Aletta benar-benar pergi dari sana tanpa ingin melihat ke belakang lagi. Tidak, dia tidak akan kembali. Siapa juga yang akan kembali ke neraka itu? *** Ketika hari kebebasan itu datang dan Aletta resmi menyandang status janda. Dia pergi ke Jakarta, bukan untuk mencari Yusril. Namun, untuk menyambung hidup. Tidak ada kesempatan mencari uang di kampung, dia menghubungi Anindita dan menumpang di kost gadis itu sementara waktu. Aletta lulusan SMA, dia mungkin masih ada kesempatan masuk pabrik atau tempat yang lebih layak, apalagi usianya baru 25 tahun. Aletta tidak ada waktu bersedih, kebutuhan hidup menekan dari berbagai sisi. “Kamu udah dapet pekerjaan?” tanya Anindita. Aletta menggeleng pelan. “Kemarin aku tanya sama temen, ada lowongan pekerjaan di spa, tapi lokasinya di Bali. Kamu mau?” “Spa di Bali?” “Hm, ya. Tapi kamu tau pekerjaan seperti itu dipandang sebelah mata sama orang, Letta. Meskipun uangnya besar kalau kamu berhasil membuat pelanggan senang.” “A-apa? Maksudmu spa yang gimana?” Aletta sedikit tidak mengerti, yang dia tahu harus mencari uang yang sangat banyak. Dia ingin menepis kata pengangguran dan mandul yang tersemat padanya dari Lydia, Yusril dan Yura. Sebab itu menjadi dendam tersendiri dalam benak Aletta hingga sekarang. “Kamu jangan terlalu polos, Letta. Kamu cantik, tubuhmu masih sangat bagus. Kulitmu putih bersih, kalau kamu ke sana, gaet om-om bule super kaya pun bisa. Mereka suka warga lokal.” “Dita, Kamu serius ngasih aku pekerjaan begitu?!” “Zaman sekarang susah banget cari pekerjaan, Letta.” Anindita pun bekerja sebagai sales dan dia tidak bisa membantu lebih banyak. “Kamu bener.” Aletta berwajah murung kali ini, sebab usahanya terasa sia-sia dan tabungan semakin menipis. “Aku dengar ada laki-laki yang sering datang ke sana, dia selalu nganter temannya tapi nggak pernah masuk.” “Terus?” “Terus?” Anindita terlihat geram sendiri. “Aletta, ini kesempatan! Dia orang kaya raya!” Aletta terdiam. Apa dia harus menerima pekerjaan ini? Tapi jika ditolak, tidak ada pekerjaan lain. Dia tidak enak menumpang terus begini. Lagipula Bali itu sangat jauh. Pikirnya. Tidak akan ada yang melihat apa pekerjaannya, mereka hanya akan melihat hasil, bukan? “Baiklah. Aku terima pekerjaan itu ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD