Istri Dalam Bayang Sebutan Mandul
“Cepat pakai bantal ini di balik bajumu, Letta! Orang-orang udah mau datang, mau sampai kapan kamu duduk di sana?” Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Aletta, tanpa permisi, tanpa ada basa-basi.
Wanita paruh baya itu menginginkan Aletta memakai bantal dalam pakaiannya, itu karena dia ingin menantunya terlihat seperti Ibu hamil.
Hidup dalam kepalsuan, membuat kebohongan, itu terjadi hanya karena dia belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga Yusril—suaminya.
“Lama-lama aku bersaing sama pemain sinetron kalau begini terus, Bu.” Aletta melihat wanita itu mengambil bantal yang sudah disediakan.
“Jangan banyak mengeluh, salahmu sendiri yang nggak bisa ngasih ibu cucu. 3 tahun itu waktu yang lama, Aletta. Liat anaknya Bu Diandra, dia udah hamil padahal baru menikah 2 bulan,” ujar Lydia.
Wanita itu memaksa Aletta berdiri dan memakaikan sendiri bantal tersebut. Hal ini sudah mereka lakukan selama berbulan-bulan. Ya, semenjak Yusril menikahi Yura, seorang wanita teman kerjanya di pabrik.
Dalam pernikahan kedua itu, Yusril dan Lydia mengatakan bahwa Yura hanyalah wanita yang bisa melahirkan seorang anak. Lalu kelak anak tersebut akan menjadi hak Yusril sepenuhnya dan menceraikan Yura setelah itu.
Namun, perjalanan menuju tujuan itu sangat sulit. Aletta seperti orang bodoh dalam permainan mereka. Dia juga merasa begitu bodoh menerima usulan itu.
“Mana bisa aku disamakan sama orang lain, Bu? Kalau Ibu begitu yakin aku mandul, kenapa Ibu nggak pernah tanya Yusril? Tanya apa dia bisa menghasilkan keturunan.”
Lydia menatap tajam ketika Aletta bertanya demikian. “Mustahil anak ibu mandul. Kalau dia mandul, Yura nggak akan hamil. Jangan melempar kesalahan ke orang lain sementara kamu sendiri gagal kasih keturunan.”
Aletta merasakan perutnya sedikit tertekan karena bantal dan tali tersebut mengikatnya sangat kencang. Sekarang, dia sudah tampak seperti ibu hamil pada umumnya.
Kehamilan Yura sudah memasuki usia 5 bulan, sebentar lagi bayi itu lahir. Tidak, Aletta tidak menginginkan anak itu. Dia hanya ingin tahu seberapa jauh dia akan melepaskan Yusril dalam hidupnya.
“Cepat keluar sana! Ingat, Letta. Jangan sampai ada orang yang menyentuh perutmu. Nggak akan lama anak itu lahir, anaknya laki-laki. Dan itu akan jadi hak kamu.” Lydia mengingatkan lagi.
Aletta terdiam, bukan karena dia menerima ucapan itu. Melainkan lelah berdebat untuk hal yang tidak bisa dia menangkan saat ini.
Cinta? Apa itu? Aletta seperti tidak mengenal cinta pada diri suaminya lagi.
***
Di rumah, sebuah acara keluarga dihadiri oleh para tetangga. Lydia memang sedang membuat acara 7 bulanan salah satu anaknya dan dia mengajak Aletta ke sana.
Yusril pun mendatangi acara tersebut, sebab ini adalah hari liburnya. Laki-laki itu terlihat lembut dan tenang, tapi sikapnya mulai menunjukkan perubahan semenjak mempunyai istri baru.
“Kamu beli apa itu? Buah delima?” tanya Aletta saat laki-laki itu membawa satu kantong plastik buah-buahan, yang di dalamnya ternyata ada buah delima.
“Ya, Yura pesan ini. Nanti aku mau bawa ke Jakarta kalau aku balik.”
Aletta terdiam sejenak. Buah ini bahkan cukup langka di tempatnya, tapi Yusril mendapatkan itu untuk Yura.
Dan raut wajah macam apa itu? Kenapa Yusril terlihat tidak keberatan?
“Keliatannya kamu begitu bersemangat, Yus.” Aletta melihat suaminya menaruh buah tersebut, tanpa memandang luka yang Aletta alami. “Kalian tinggal satu rumah, lalu bareng juga di tempat kerja. Aku yakin kamu nggak akan kesepian.”
Yusril menoleh. Setahun belakangan mereka terpisah rumah karena Yusril mendapatkan pekerjaan di kota, sementara Aletta ada di kampung bersama ibu mertuanya.
Bodoh paket lengkap rasanya.
“Kamu jangan bilang begitu. Aku perlu menyenangkan dia supaya bayinya sehat,” ujar Yusril. “Kamu udah tau kalau kelak bayi itu akan dibawa ke sini, tinggal sama kamu.”
“Aku merasa ini semakin melukaiku, Yus. Kamu ingat wanita mana yang mau mengasuh anak yang bukan lahir dari rahimnya? Apalagi anak itu adalah anak dari wanita selingkuhan—“
“Jaga bicaramu, dia bukan selingkuhanku, Letta. Dia istriku dan kamu udah menyetujui itu ....”
“Terus apa kamu nggak bisa berhenti terang-terangan begini? Apa yang kamu harapkan dari hubungan jarak jauh kita? Kamu harap aku mengerti semua tingkahmu ke Yura?” Aletta mulai terpancing, karena Yusril sama sekali tidak menghargainya. Jangankan menyembunyikan buah-buahan itu, Yusril sudah tidak ragu mengakui Yura sebagai istri.
“Kita datang ke sini bukan buat bertengkar, Letta. Ini yang aku nggak betah pulang ke rumah. Liat wajahmu itu selalu begitu, nggak pernah ada manisnya. Aku pulang kerja lelah, kamu malah ngajak berantem.”
Yusril beranjak dari kursi, lalu pergi ke tempat lain menghindari Aletta. Itu menandakan bahwa Yusril tidak akan berdebat untuk membuat Yura berada di posisi kedua.
Bisa jadi, sekarang wanita itulah yang menjadi pusat perhatian Yusril.
Aletta pun mencoba tenang, dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Namanya adalah Anindita, temannya yang berada satu daerah dengan kontrakan yang ditempati Yusril dan Yura.
“Sepertinya kamu butuh peringatan, Yusril.” Aletta berniat akan pergi ke sana tanpa sepengetahuan Yusril.
***
Beberapa waktu kemudian di Jakarta, dalam sebuah kontrakan kecil di pemukiman padat penduduk, Yusril dan Yura tinggal bersama.
Mereka menikmati hidup tanpa beban, apalagi yang perlu mereka sembunyikan? Aletta tidak akan pernah tahu jika niat semula kini sudah berubah.
“Sayang kalung ini nggak bisa dipakai ke pabrik, aku mau pakai terus setiap hari.” Yura memegang mata kalung baru di lehernya, pemberian dari Yusril hari ini.
“Beberapa bulan lagi kamu tinggal di rumah, Sayang. Kamu bisa bebas pakai semua perhiasanmu, itu nggak akan berkurang sama sekali.”
Yura baru tersenyum. “Kehidupan kita bisa lengkap, apa aku sama bayi ini aja nggak cukup?”
Yusril berhenti melangkah, dia memang memikirkan hal ini selama beberapa bulan. Sepenting apa Aletta untuknya sekarang?
“Kamu bisa ceraikan dia untuk kami, kan? Aku cantik, keturunan kita laki-laki, aku juga bekerja. Paket lengkap buat kamu, Sayang.”
Yusril terdiam, benar juga apa yang dikatakan Yura. Keberadaan Aletta sekarang tidak begitu berarti, dia hanya pelengkap. Yusril mulai bosan dengan sikap Aletta yang pencemburu berat dan marah tidak jelas.
“Paket lengkap untuk pelakor emang selalu bagus di mata tukang selingkuh, kan?!”
Tiba-tiba suara seseorang terdengar kencang, membuat Yusril dan Yura menoleh bersamaan. Lalu mereka terkejut melihat siapa yang datang.
“Aletta, kamu ada di sini?” Yusril melepas genggaman tangannya dari Yura, menyadari kemarahan itu.