Ketukan heelsnya terdengar nyaring, Soojin mengetuk-ngetuk heelnya karena bosan. Ia bosan menunggu, dan lebih bosan lagi dengan orang yang sedang ia tunggu. Sore ini Soojin sudah membuat janji dengan seseorang yang berhasil membuat semua orang heboh dengan berita yang menyangkutnya.
“p*****r sialan itu menguji kesabaranku! Berani-beraninya dia membuatku menunggu!”
“Siapa yang kau maksud dengan p*****r sialan?” Dari belakangnya muncul seorang wanita. Wanita itu tak kalah cantik darinya banyak yang bilang kecantikan mereka setara, selalu dibaluti kemewahan dengan tubuh sempurna.
“Sudah lama menungguku?” Tanyanya dengan senyuman dibibirnya yang berwarna peach.
“Salamat kau sudah mendapat sumpah serapah dariku dan aku sudah mengutuk seluruh keturunanmu.”
Wanita itu tertawa lembut dengan ujung tangan yang menutup mulutnya. “Oh ayolah sist, kau tahu aku orang sibuk.”
“Tentu saja aku tahu artis sepertimu sangat sibuk.” Soojin menyeringai. “Sibuk melayani para produser hidung belang itu.”
“Jangan memancingku untuk memulai keributan.” Sahutnya. “Aku harus tetap menjaga imageku!”
Soojin berdecih.
“Apa kau sudah memesan? Aku akan mentraktimu.”
“Aku akan langsung keintinya saja!” Tegas Soojin. “Sooyoung, batalkan pertunanganmu dengan Jaebum.”
Sooyoung tertawa meremehkan. “Sudah kuduga. Soojinah, kau tahu aku tidak bisa melakukan hal itu.”
“Alasannya?”
Sooyoung menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangan. “Bukan aku yang merencanakan pertunangan ini, asal kau tahu aku juga menjadi korban.” Ia memainkan kukunya. “Lagipula aku tidak berniat untuk membatalkannya, ini sebuah peluang besar untukku. Setiap wanita akan sangat beruntung memiliki Im Jaebum.”
Menahan emosinya, Soojin berusaha untuk tidak terpancing. “Apa sebenarnya tujuanmu? Uang? Ketenaran? Atau hanya sekedar pria yang bisa kau dapatkan dengan mudah?”
Sooyoung terkekeh. “Kau serius? Semua itu sudah aku miliki.” Soojin sadar akan hal itu. “Tentu saja tujuanku adalah Im Jaebum!”
Soojin menatap tajam. “Aku peringatkan dirimu, jika kau tidak membatalkan pertunangan ini. Kau akan berurusan dengaku.”
Sooyoung membalas tatapan Soojin, tak mau kalah. “Memangnya apa urusanmu?”
“Aku adalah kekasih Jaebum!” Tegas Soojin.
Perkataan Soojin berhasil membuat Sooyoung tidak mampu mengeluarkan kata-kata, Soojin menyeringai melihat bagaimana ia berhasil membungkamnya.
Sooyoung berdecih. “Kau pikir aku akan percaya?”
Memang sulit untuk menjatuhkan Sooyoung apalagi membuat ia percaya dengan kata-kata Soojin. Mereka berdua sudah lama menjadi rival.
“Terserah kau percaya atau tidak.” Soojin berdiri. “Setidaknya aku sudah memperingatkanmu!” Soojin pergi dengan pandangan remeh, tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi untuk menghadapi saudaranya.
“Aku tidak menyangka masalah ini akan semakin rumit.” Sooyoung menyeringai. “Tetapi ini semakin menarik.”
Hari menjelang malam, Jinyoung sedang berdiri didepan Foodtruck untuk menunggu pesanannya. Ia tidak berdiri sendiri, banyak pengunjung lain sedang menikmati makanan yang disajikan tempat makan kaki lima itu.
Sore tadi Jaebum tiba-tiba menghampiri Jinyoung yang sedang menunggu dihalte bus dengan mobilnya, Jinyoung yang terkejut langsung masuk kedalam mobil dan menyuruh Jaebum mengendarai mobilnya sebelum orang-orang menyadari siapa yang menjemputnya.
Mereka berhenti berkendara dan berakhir diparkiran sebuah taman diarea Sungai Han. Jaebum sedang menunggu Jinyoung dibangku taman dibawah pohon rindang, sedangkan kekasihnya itu pergi untuk mencari makanan pengganjal perut.
Jinyoung terlalu banyak menyampaikan permintaan pada pesanannya, membuatnya mendapat gerutuan dari pemilik tempat itu. Jinyoung meminta tteokbokki yang sudah direndam bumbu pedas untuk tidak terlalu pedas, berlaku juga untuk makanan lain agar bumbu pedasnya dipisah. Sebenarnya permintaannya masih wajar, hanya saja akan sedikit merepotkan karena dia memesan difoodtruck khusus makanan pedas.
Jaebum bergeser memberikan ruang dibangku taman ketika melihat Jinyoung datang dengan kedua tangan penuh makanan, Jaebum duduk santai tanpa berniat untuk menghampiri Jinyoung membantu membawa makanan-makanan itu.
Jinyoung mendudukkan badannya dengan helaan kasar, kakinya terasa pegal karena berdiri menunggu cukup lama untuk pesanannya.
“Lain kali jika memang tidak bisa makan pedas, bisakah kau tidak meminta untuk makan makanan yang pedas?” Tanya Jinyoung kesal.
Jaebum yang ditanya mengedikkan bahu tak peduli sibuk membuka bungkus-bungkus makanan yang dibawa Jinyoung.
“Mana pesananku?” Jaebum membongkar-bongkar bungkusan itu dengan kerutan didahinya.
“Pesananmu?”
Jaebum mengangguk, “Sundae!”
“Sundae?” Jinyoung menggaruk hidungnya. “Aku lupa.” Jawab Jinyoung santai.
Jaebum mengambil satu tusuk Hot Bar dan menggigitnya kesal sambil menatap Jinyoung. Sebenarnya sudah seharian ini Jaebum menginginkan makanan itu, tapi sayangnya hanya difoodtruck kaki lima saja yang memiliki rasa yang asli. Lalu penantiannya selama ini sia-sia, Jaebum tidak tega untuk menyuruh Jinyoung kembali berjalan keujung taman dan menyeberangi jalan raya besar dimana foodtruck itu berada.
“Kau sangat lapar?” Jinyoung duduk memiringkan badannya memandang Jaebum.
Jaebum menjatuhkan setetes saos ditelapak tangannya ia lalu menjilatinya tanpa canggung. “Aku belum makan seharian ini.”
“Kenapa?”
“Karena khawatir dan memikirkanmu.” Jaebum menarik lelehan mozzarella yang panjang, Jinyoung tersenyum melihatnya yang makan seperti anak kecil. “Aku juga tidak bisa makan siang karena pinggangku terlalu sakit.”
Jinyoung merasa bersalah. “Apakah masih sakit?”
Jaebum menggeleng dengan pipi mengembung. Sangat menggemaskan.
“Bagaimana rasanya hari ini?” Ujar Jinyoung.
Jaebum menaikkan sebelah alisnya. “Bagaimana apanya?”
“Akhirnya, setelah cukup lama menunggu. Bukankah kau akhirnya dipercaya menjadi wajah perusahaan?”
Jaebum terdiam, meminum s**u strawberrynya menenangkan lidahnya yang mulai terasa pedas. “Karena kejadian ini, aku tidak merasakan apapun yang istimewa dari hal itu.” Jaebum menunduk. “Aku merasa menyesal.”
Jinyoung menyentuh lembut telapak tangan Jaebum, membuatnya menoleh. Jinyoung tersenyum, “Jangan terlalu dipikirkan. Moment ini sudah sangat lama menjadi impianmu, sebaiknya dinikmati dengan hal-hal yang menyenangkan.”
Jaebum mengenggam tangannya. “Tentu saja. Bersamamu.”
“Hei! Romeo dan Juliet!” Jinyoung dan Jaebum menoleh kebelakang mendengar panggilan seseorang yang cukup keras.
“Soojin?” Gumam Jinyoung.
Soojin berjalan menghampiri, ia mendorong Jinyoung agar bergeser dan menyisahkan tempat untuknya ditengah-tengah diantara mereka.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jinyoung.
“Tentu saja untuk bertemu dengan kekasihku!” Jawab Soojin. Ia melingkarkan tangannya dilengan Jinyoung. “Apakah kekasihku ini tidak merindukanku?” Tanyanya merajuk.
“Ja-jaebum.” Panggil Jinyoung. Orang yang dipanggil sedang sibuk melanjutkan kegiatan makannya mengacuhkan situasi yang terjadi.
“Kau lihat sendirikan, kau dicampakkan.” Adu Soojin. “Lebih baik kau tinggalkan saja dia, lalu kita bisa hidup bahagia berdua.” Soojin berusaha menggoda, menggerakan telunjuknya didada Jinyoung dan perlahan turun keperut datarnya. “Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.” Tawarnya.
“JAEBUM!” Jinyoung histeris.
“Bisakah kalian berdua jangan berisik!” Tegur Jaebum.
*Buk
Jaebum terjungkal karena Jinyoung memukul bagian belakang kepalanya cukup keras.
“Ups.” Celetuk Soojin sarkastik.
Jaebum bangun tertatih untuk kembali duduk diatas bangku. “Siang tadi punggungku, sekarang kepalaku! Silahkan kau lukai seluruh badanku asal jangan hatiku.”
“Ew.” Soojin memutar mata malas mendengar gombalan basi dari sahabatnya itu.
“Lain kali kau harusnya bertindak dan melakukan sesuatu jika kekasihmu digoda orang lain!” Keluh Jinyoung.
“Untuk apa aku bertindak? Lagipula kau tidak akan tergoda karena penggodamu kurang menarik!” Ejek Jaebum.
*Buk
Soojin memukul kepala Jaebum tepat dibagian Jinyoung memukulnya tadi. Jaebum mengelus kepalanya untuk kedua kali.
Ia menggertakan giginya marah. “Kalian berdua!”
“APA?!” Balas Jinyoung dan Soojin bersamaan.
“Aish, aku bisa gila lama-lama!” Gerutu Jaebum.
“Anyway.” Soojin mengibaskan rambutnya, mengakhiri pertengkaran kecil mereka. “Aku datang kesini untuk menyampaikan sesuatu padamu Jaebum. Pada kalian tepatnya.”
“Jadi hal itu yang membuat kau bertanya aku berada dimana dan merusak kencanku dengan Jinyoung.”
Soojin berdecih. “Well, aku hanya iseng ketika menanyaimu ada dimana. Aku juga berniat untuk memberitahumu besok karena sekarang sudah malam, tapi! Karena kau memberitahuku jika sedang berada diluar menikmati angin malam sungai han, dibawah redup lampu taman dan yang terpenting bersama Jinyoung. Aku berubah pikiran!” Jelasnya.
“Now cut the s**t! Dan beritahu aku ada apa.” Kata Jaebum.
“Okay, okay big guy! Aku sudah bertemu dengannya hari ini.” Jaebum dan Jinyoung menatap bingung, Soojin kurang menjelaskan lebih detail maksud perkataannya. “Tunanganmu! Aku sudah bertemu dengannya.”
Jaebum menyisir rambutnya kebelakang. “Oh.”
“Yah Im Jaebum! Tidak bisakah kau memberikan reaksi yang lebih antusias?”
Untuk apa Soojin bertemu dengan tunangan Jaebum, Jinyoung penasaran akan hal itu. “Kau bertemu dengannya?”
Soojin mengangguk. “Kami bertemu untuk. Ya... Biasa, kau tahu. Saat dua wanita yang sudah lama tak berjumpa lalu memutuskan untuk bertemu dan minum teh bersama, saling menanyai kabar, menjelek-jelekkan satu sama lain, menghina, memaki dan mengancam. Hal-hal biasa, sedikit membosankan sebenarnya.”
Sakit jiwa. Jinyoung mengelus dadanya sabar. “Tunggu! Kau mengatakan sudah lama tak berjumpa? Jadi kau mengenal tunangan Jaebum.”
Soojin tersenyum, salah satu hal yang disukai Soojin dari Jinyoung adalah pria manisnya itu cepat tanggap dan mencerna perkataan dengan sangat baik. “Iya, aku dan saudaraku yang satu itu memang tidak pernah berniat untuk sering bertemu.”
“Saudaramu?” Tanya Jinyoung memastikan.
Jaebum menghela nafas. “Wanita itu adalah saudara sepupu Soojin.”
“Saudara jauh tepatnya, kami memiliki kakek yang sama tapi nenek yang berbeda.”
Jinyoung mengangguk paham. Mencubit-cubit dagunya ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. “Jika kalian bersaudara, tapi mengapa dia terlihat sangat cantik sedangkan…” Jinyoung memandang Soojin dari atas sampai bawah.
“Yah, Park Jinyoung! Kau ingin kena KDRT? Hah?!” Ancam Soojin. Jinyoung menunjukkan tanda peace dengan tangannya. “Aku sudah berbicara dan menyuruhnya membatalkan pertunangan ini. Tapi dia menolak perintahku.”
“Alasannya?” Tanya Jinyoung.
“Aku sudah menebak hal-hal yang menjadi tujuannya dari pertunangan ini. Uang, kekayaan, ketenaran dan semua materi. Tapi ia menyangkalnya dan aku juga percaya, karena semua itu sudah ia miliki saat ini.” Soojin melipat kedua tanganya. “Tapi. Jaebum, sepertinya dia mengincarmu.”
Jinyoung menahan nafas, terkejut menyadari sekarang ia harus bersaing dengan seorang artis untuk memperebutkan Jaebum.
“Kau harus segera menghentikan ini Jaebum sebelum terlalu lama. Sooyoung adalah wanita yang berambisi, tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan tujuannya.”
“Dan tujuannya adalah Jaebum?” Jinyoung berkata lirih.
Soojin iba melihat bagaimana hal ini memberikan efek yang cukup membuat Jinyoung merasa khawatir. Jaebum tidak akan meninggalkan Jinyoung, Soojin akan menjamin hal itu. Tapi disatu sisi ada orang lain yang tidak akan melepas Jaebum.
“Aku akan membantu kalian.” Soojin bersandar dibahu Jinyoung, tangannya memeluk lengan pria cantik itu. “Kalian tenang saja.”
“Terima kasih, Soojin.” Kata Jaebum, ucapan terima kasihnya membuat Soojin merinding.
“Tapi, tadi aku sempat berhasil membuatnya tak berkutik.” Soojin terkekeh. “Aku mengatakan jika Jaebum adalah kekasihku.”
Jinyoung membekap mulutnya berusaha menahan tawa, bisa ia bayangkan bagaimana ekspresi Soojin saat mengatakan hal itu didepan tunangan Jaebum.
Jaebum mendesah, “Kau ini ada-ada saja.”
“Mau bagaimana lagi, aku kesal melihat wajah percaya dirinya.”
Soojin baru teringat sesuatu, ia menegakkan duduknya lalu memandang Jaebum dan Jinyoung bergantian. “Sejak kapan kalian kembali rujuk?”
“Bukankah sudah terlambat untuk menyadari hal itu?” Tanya Jinyoung.
“Jinyoungah katakan padaku.” Soojin menatapnya intens membuat Jinyoung risih. “Apakah Jaebum mengajakmu baikan dengan cara melakukan seks?”
“Yah! Apa kau bilang?” Jaebum histeris.
Jinyoung menggeleng. “Ti-tidak, kita tidak melakukan itu.”
“Hm.” Soojin melirik kesamping. “Tentu saja, kau memang bukan pria murahan. Tapi…” Matanya kembali menatap Jinyoung. “Apakah itu berarti Jaebum tidak pandai saat berhubungan seks?”
“Cukup!” Jaebum berdiri berkacak pinggang, Soojin menunjukkan tampang tak bersalah. “Jinyoung! Sudah malam, ayo kita pulang!”
Jinyoung langsung mengangguk setuju, ia juga sedang menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh yang diajukan Soojin.
“Dan kau!” Jaebum menunjuk Soojin tepat didepan batang hidungnya. “Aku bukan pria maniak seks, aku akan melakukannya dengan cara teromantis yang belum pernah dilakukan pria manapun. Karena aku sangat menghargai Jinyoung!” Jinyoung menepuk tangannya cepat, bangga melihat bagaimana Jaebum mengatakan itu dengan tegas. Apa yang dikatakan pria itu memang nyata apa adanya.
“Ayo kita pulang!” Jaebum menarik tangan Jinyoung.
“Bye Soojin!” Jinyoung melambaikan tangannya.
“Yah! Bagaimana denganku?” Soojin berteriak histeris.
“Terserah! Kau bisa tidur dibangku itu!” Teriak Jaebum.
Soojin menganga, “Setidaknya antar aku pulang b******n!”
“Tidak terima kasih!” Teriakan Jaebum semakin jauh dengan langkah kaki mereka yang semakin cepat. Mereka meninggalkan Soojin yang berdiri dengan mulut yang mulai mengeluarkan sumpah serapahnya.