20. Be Alright

1880 Words
Matahari baru saja terbit, masih terlalu pagi. Jinyoung mengerang, suara dan getaran ponselnya diatas meja sangat mengganggu. Ia mengernyit, bukan waktunya untuk alarmnya menyala. Jinyoung mencoba untuk mengumpulkan nyawanya, ia tersadar suara dari ponselnya adalah nada telepon. “Argh, siapa yang menelepon pagi-pagi?!” Jinyoung menekan tanda hijau dilayar ponselnya tanpa melihat nama kontak yang menghubunginya. “Halo.” Sapanya malas. “JINYOUNGAH! Kau sudah bangun?” Suara Youngjae terdengar heboh. “Belum, aku belum bangun.” “Bagus! Sebaiknya kau jangan bangun untuk hari ini bila perlu sampai lusa!” “Ada apa? Cepat katakan aku ingin tidur lagi!” “Jinyoung dengarkan-” “Aku sedang mendengarkan!” Potong Jinyoung. “DIAM! Okay, aku mohon padamu untuk hari ini jangan melihat sosial media! Jangan lihat tv juga! Bila perlu kau cuti dan pergi berkemah kepedalaman!” “Youngjaeyah, aku mohon! Sangat mohon padamu, jangan menggangguku hari ini. Hm?” “Pokoknya ikuti semua saranku, mengerti?! Aku harus segera pergi!” Youngjae mematikan panggilannya. Apa-apaan. Jinyoung melempar ponselnya asal. Kembali menutupi dirinya dengan selimut tebal, masih ada lagi beberapa menit sebelum alarmnya berbunyi. Sebenarnya hanya butuh beberapa saat untuk Jinyoung bisa tertidur, tapi perkataan Youngjae tadi menganggu konsentrasinya menuju alam mimpi. Jinyoung menghempaskan selimutnya kasar. “Siluman monyet itu berhasil membangunkanku!” Jinyoung melihat jam dinding, menunjukkan jam 6 lebih 30 menit. Mukanya masam, menyia-nyiakan waktunya yang masih ada 30 menit lagi sebelum jam tujuh. Jinyoung memutuskan untuk kedapur dan menyiapkan sarapan, berpikir untuk menyia-nyiakan waktunya dengan hal yang bermanfaat. Saat menuruni tangga Jinyoung mendengar suara tv dari ruang tamu. Yugyeom sedang duduk disofa ditemani tv yang menyala, sepanjang hari kemarin ia terlalu banyak tidur dan pagi ini ia bangun lebih awal. “Bagaimana keadaanmu?” Jinyoung memeriksa suhu tubuh Yugyeom. “Sepertinya panasmu sudah menurun. Bagaimana dengan kepalamu, apakah masih pening?” Yugyeom tidak menjawab. “Yugyeomah.” “Hyung.” Suara Yugyeom lirih memandang ponselnya. Jinyoung menatap bingung. “Apa?” Yugyeom mememberikan ponselnya, Jinyoung menerima benda itu dengan kerutan didahi. PERTUNANGAN PEWARIS KEDUA SHINHWA COMPANY. Judul berita utama dari situs berita yang sedang Yugyeom baca. “Wah.” Jinyoung tersenyum kecut, perlahan ia menggulirkan layar ponsel Yuygeom tanpa membaca tulisan-tulisan berita itu. Ia menemukan banyak halaman berita membahas hal yang sama, tidak lupa setiap berita menampilkan foto Jaebum dan seorang wanita yang Jinyoung sering lihat muncul ditelevisi. Yugyeom memandang Jinyoung iba. Baginya ini semua tidak masuk akal, baru kemarin mereka mengakui hubungan yang sudah terjalin lama. Tapi berita mendadak ini membuat Yugyeom kembali terkejut. “Hyung.” Jinyoung mengembalikan ponsel Yuygeom. “Kau ingin kubuatkan menu apa untuk sarapan?” Jinyoung berlalu menuju dapur membuat Yugyeom khawatir. “Hyung, bukankah sebaiknya jika-” “Aku sedang tidak ingin membahasnya.” “Tapi…” Yugyeom tahu jika membahas ini bisa membuat Jinyoung tertekan, tapi ia juga sangat khawatir. Jinyoung menghela nafas. “Kita tidak tahu apa yang terjadi, jadi jangan terlalu dipikirkan.” Jinyoung menerawang memandang keluar jendela. “Aku percaya pada Jaebum.” Mark sudah tiba dipenthouse Jaebum pagi ini. Mereka berkumpul diruang tamu, Mark, Jaebum dan Jakcson. “Kenapa bisa seperti ini?” Jackson bertanya pada dua bersaudara yang terdiam. Jaebum hanya bisa mendesah dan mengurut pangkal hidungnya. “Jaebum, apa Eomma mengatakan sesuatu padamu?” Mark juga bingung dengan situasi yang mendadak terjadi. Pagi ini ketika menikmati kopi hangatnya dirumah, tiba-tiba ia dikejutkan dengan berita terbaru yang disampaikan sekretaris pribadinya. Jaebum hanya menggeleng, baru saja ia menyelesaikan satu masalah dengan Jinyoung sekarang muncul lagi masalah baru. Masalah yang lebih besar. “Tapi jika diperhatikan tunanganmu cantik juga.” Jackson melihat-lihat foto artikel tentang artis wanita yang akan menjadi tunangan Jaebum. “Jika aku masih single, aku akan sangat tertarik dengannya dan menerima jika dijodohkan!” Mark melirik. “Kalau aku, aku tetap tertarik dengan wanita itu walaupun sekarang punya pasangan dan jikapun dia dijodohkan dengan orang lain aku yakin aku bisa merebutnya.” Mark tersenyum sinis. Jakson ternganga. “Kau selalu saja merobek hatiku Mark!” Mark mengedikkan bahu tak peduli. “Hyung kemarin aku sempat menghubungi Eomma.” Mark menegakkan badannya. “Lalu?” “Saat itu aku meminta untuk diperkenalkan menjadi wajah perusahaan.” “Jadi begitu.” Mark mengerti sekarang, orangtua mereka sengaja memperkenalkan Jaebum sekaligus mengumumkan perjodohan ini. Apa yang kau minta tentu harus ada bayarannya, begitulah cara kerja keluarga Im. “Mark, apa kau merasakan déjà vu?” “Apa lagi?” Jackson selalu mengatakan hal aneh dan candaan disetiap pembicaraan serius, Mark malas menanggapinya. “Bukankah ini sama seperti saat kita dulu? Kau diperkenalkan sekaligus pertunangan kita?” Jackson benar. Mark tak menduga kali ini Jackson akan mengatakan sesuatu yang serius, “Kau benar, sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan baru mereka.” “Lalu Jaebum apa yang akan kau lakukan?” Tanya Jackson. “Tentu saja dia harus membatalkannya! Perjodohan ini bukan keinginannya, lagipula bagaimana dengan Jinyoung?” Mark menyebut nama Jinyoung membuat Jaebum semakin gelisah. “Apa yang harus kulakukan Hyung?” “Kita tunggu sampai mereka kembali karena tidak sopan membicarakan hal ini melalui telepon, kita bicarakan maksud penolakan ini secara baik-baik agar mereka mengerti!” Jaebum setuju dengan pendapat itu. “Terima kasih sudah mau membantuku Hyung.” “Tentu saja!” Ucap Mark. “Aku akan membantu adikku. Apalagi ini menyangkut masa depannya, aku tidak mau kau menjalani hidup yang tidak kau inginkan!” Jaebum tersentuh. “Aku merasa lebih tenang sekarang.” Mark mendekap kedua tangannya. “Bayangkan saja jika kau menjalani hidup yang tidak kau inginkan, kemudian depresi lalu bunuh diri?!” Mark merinding. “Bisa-bisa aku yang harus menanggung beban dan tanggung jawab seluruh perusahaan, mambayangkannya saja membuatku takut.” Jaebum dan Jackson kompak berdiri dan meninggalkan Mark diruang tamu. “Mau kemana kalian!?” Tidak ada yang menjawabnya. “Mereka bedua sama saja!” Jinyoung menyesal tidak mengikuti saran Youngjae untuk mengambil cuti hari ini. Dari awal kakinya menginjak lobi semua orang membicarakan hal yang sama, mengenai pertunangan atasan mereka. Ini akan menjadi hari yang sangat panjang. Jinyoung menghela nafas, kursi Nayeon kosong pagi ini Jinyoung menduga ratu gosip itu pasti sudah berkumpul bersama teman-temannya. “Hari ini benar-benar heboh ya.” Jinyoung menoleh, Changmin berdiri disampingnya bersandar dibilik dan memperhatikan pegawai-pegawai lantai 5 yang sibuk dengan ponsel mereka. “Kau sepertinya tidak tertarik dengan berita itu?” Jinyoung tersenyum. “Berita itu cukup menarik, hanya saja aku tidak peduli.” Changmin menerawang menatap langit-langit kantor. “Seandainya aku menjadi seorang CEO, pasti sangat mudah untuk memiliki tunangan yang luar biasa dan terkenal sekelasnya.” Benar, Jaebum seharusnya bisa mendapatkan tunangan sekelas itu. “Bukankah tunangannya adalah artis terkenal itu?” Changmin mengeluarkan ponselnya, sekarang ia terlihat sama saja seperti yang lainnya. “Bagaimana bisa mereka menyembunyikan hubungannya selama ini dan langsung mengumumkan pertunangan?” Jinyoung meremas lembaran laporan yang sedang dirapikannya. Jinyoung perlu mencari pengalih perhatian untuknya agar tidak terus terganggu. Laporan-laporan yang menumpuk hari ini cukup membantu, untuk sementara. Jinyoung melirik kesebelahnya, Nayeon terlihat diam tidak membahas apapun dari tadi. Jinyoung penasaran apakah teman kerjanya itu tidak penasaran dengan berita yang sedang heboh. “Jinyoung?” Nayeon memanggil tanpa menoleh. “Hm?” Jinyoung memutar kursi menghadapnya. “Apa kau mau makan siang diluar?” “Kau mau makan diluar?” Nayeon mengangguk. Jinyoung menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa? Mengapa kau mau makan diluar?” Nayeon menoleh dengan wajah sendu dan mata yang seperti akan menangis. “Ada apa denganmu?” “Jinyoungah.” Suara Nayeon terdengar lirih. “Dia akan menjadi milik orang lain dan akan meninggalkanku.” “Maksudmu?” “Pak CEO kita yang gagah itu akan menjadi milik orang lain!” Nayeon membekap mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar. Bukankah harusnya itu dialogku? “Bisakah kau tidak berlebihan?” “Bagaimana aku tidak berlebihan! Hati ini!” Nayeon menunjuk dadanya. “Hati ini hanya aku persembahkan untuknya!” Jinyoung menepuk jidatnya, bagaimana bisa seorang Im Jaebum yang menutup mata saat menonton film horror dikatakan pria gagah. Seandainya dunia tahu sifat-sifat buruk pria itu, Jinyoung merasa benar-benar tidak adil hanya seorang diri mengetahui fakta ini. “Biarkan saja, hm! Relakan dia!” Jinyoung mengibas-ngibaskan tangannya. “Tidak bisa!” Nayeon berdiri menjulang mengepalkan tangan didepan Jinyoung. “Tidak akan aku biarkan! Aku harus memperjuangkannya.” Melihat semangat Nayeon yang membara membuat Jinyoung menepuk tangan pelan tak ikhlas, “Terserah kau saja. Terserah!” “Baiklah kalau begitu. Ayo! Kita makan siang!” Nayeon menarik tangan Jinyoung sampai ia berdri. “Tu-tunggu, tunggu!” Tahan Jinyoung. “Hari ini aku tidak ikut, perutku masih kenyang.” Jinyoung melepaskan tangannya. “Kau yakin?” Jinyoung mengangguk. “Hm.” “Ya sudah, aku tinggal ya. Bye! Jangan lupa doakan aku berhasil!” Nayeon melambaikan tangan, Jinyoung membalasnya lemah. Begitu Nayeon menjauh wajah Jinyoung berubah masam. “Doakan aku juga agar tidak membunuhnya.” Jinyoung melangkah meninggalkan meja kerjanya, sudah saatnya untuk membahas masalah yang telah merusak harinya. Selama berjalan dikoridor lantai 10 Jinyoung tidak henti-hentinya melemaskan jari-jemarinya, bersiap menuju arena gulat. Pintu atap itu terbuka kasar sampai menimbulkan suara bantingan, Jinyoung membukanya secara berlebihan. Atap masih sepi seperti biasanya, tidak ada karyawan yang akan menghabiskan waktu istirahatnya ditempat ini. Jinyoung berdiri ditengah-tengah area atap, dibawah terik sinar matahari dan tiupan angin yang menghembus diketinggian. “Jinyoung?” Datang juga! Yang Jinyoung tunggu-tunggu akhirnya datang. Jinyoung berbalik memicingkan mata menatap lawan yang sudah berdiri dihadapannya, kakinya sedikit terbuka memasang kuda-kuda dengan kedua tangan terkepal. Jaebum memiringkan kepala dengan dahi berkerut. “Kau kenapa?” Radar bahaya dari tubuhnya menyala. “Jinyoung apa kau sedang mengajak untuk bertarung?” Dengan sekali loncatan Jinyoung berhasil berdiri didepan Jaebum, tangannya meraih kerah kemejanya, satu kakinya menghadang dibelakang kaki Jaebum. “Saatnya menerima kemarahanku.” Jinyoung mecekik leher Jaebum mendorongya kebelakang, kakinya berhasil membuat kaki Jaebum tersandung, perlahan tapi pasti tubuh Jaebum oleng dan terjatuh. *Buk “Ugh!” Punggung Jaebum membentur cukup keras. Jinyoung tersenyum menepuk-nepuk kedua tangannya. “Salahku apa?” Jaebum rasa sakit dipunggunya tidak akan mudah hilang. “Berdiri!” Perintah Jinyoung. Jaebum pelan-pelan membangunkan tubuhnya mengambil posisi duduk menahan nyeri yang sangat terasa, masih belum sanggup untuk langsung berdiri. Jinyoung berdecak melihat lemahnya Jaebum, ia beranjak menuju kursi panjang tempat yang biasa mereka gunakan. “Aw!” Jaebum memaksakan dirinya untuk berdiri dan berakhir dengan membungkuk tangannya berada dipinggang berusaha memberikan pijatan. “Ingatkan aku memiliki seorang pacar yang merupakan atlit taekwondo berprestasi disekolahnya.” Jaebum menggerutu. Jinyoung diam memperhatikan Jaebum berjalan tertatih menghampirinya, Jinyoung ingin tertawa tapi mencoba menahan ekspresinya untuk tetap serius. Jaebum menjatuhkan bokongnya sedikit keras menyebabkan getaran nyeri yang sangat luar biasa, ia menggigit bibirnya menahan teriakan. Badannya sudah berpeluh karena menahan nyeri. “Berbalik.” Jinyoung memutar tubuh Jaebum dengan tidak santai. “Pelan-pelan Jae, kasihanilah aku.” “Diam!” Jaebum duduk membelakangi Jinyoung, pasrah. Entah apa yang akan Jinyoung lakukan lagi dengan punggung tegapnya. “Buka jasmu!” Jaebum menuruti perintah Jinyoung, membuka jas hitamnya dan hanya mengenakan kemeja putih dengan garis-garis hitam tipis. “Aw!” Tangan Jinyoung mulai memijat-mijat punggung Jaebum. “Jangan manja!” Pijatan Jinyoung awalnya terasa sakit karena rasa nyeri yang masih baru, tapi perlahan Jaebum merasakan sakitnya mereda dan pijatannya mulai terasa nyaman. “Kau bisa ceritakan sekarang.” Ujar Jinyoung. “Apakah setelah aku menceritakannya, nyawaku masih terjamin untuk selamat?” Jinyoung menepuk punggung Jaebum. “Kita lihat saja nanti.” Jaebum terkekeh. Hening untuk beberapa saat, Jinyoung masih tetap memijat pinggang Jaebum selagi menunggu kekasihnya itu mulai berbicara. Jaebum bingung untuk menagawali penjelasannya dari mana, semua hal rasanya terlalu menadadak. “Aku sempat menghubungi Eomma beberapa hari yang lalu.” Jaebum menunduk. “Aku meminta padanya untuk segera diperkenalkan dan menjadi wajah perusahaan.” Pijatan Jinyoung terhenti, ia memikirkan hal yang selama ini menjadi keinginan Jaebum. Menjadi wajah perusahaan dan dikenal sebagai pewaris Shinhwa Company. Jinyoung kembali menekan-nekan pinggang Jaebum. “Setelah itu?” “Apa yang terjadi hari ini adalah setelah itu.” Jaebum menghela nafas. “Jika aku tahu akan menjadi seperti ini, lebih baik aku tidak memintanya.” Jinyoung bisa melihat punggung Jaebum yang menunjukkan bagaimana lelahnya kekasihnya itu, punggung yang kokoh itu selalu menopang beban. Beban pekerjaan, beban keluarga dan Jinyoung juga mengategorikan dirinya sebagai beban cinta dari seorang Im Jaebum. Jinyoung mendesah, ia melingkarkan tangannya dipinggang Jaebum menempelkan pipinya dan mendengarkan detak Jantung itu dari balik punggung. “Kau belum pernah bertemu dengannya?” Yang Jinyoung maksud adalah tunangan Jaebum. “Untuk apa aku bertemu dengannya?” Jaebum menggenggam tangan Jinyoung yang melingkar diperutnya. “Apa kau ingin aku untuk bertemu dengannya?” Jinyoung tidak bersuara tapi Jaebum bisa merasakan pergerakan kepalanya yang mengangguk. “Untuk apa?” “Aku dengar ia wanita yang berkelas dan aku juga sering melihatnya ditelevisi.” “Aku hanya akan bertemu dengannya saat pembatalan pertunangan nanti!” Jinyoung tersenyum simpul, Jaebum benar-benar mencintainya. Apapun akan diperjuangkan olehnya agar selalu bisa membuat mereka bahagia terutama kebahagian Jinyoung. Pelukannya semakin erat, rasa bahagia Jinyoung kadang terasa menyakitkan karena merasa tidak layak menerima semua rasa cinta Jaebum. Tidak pernah sekalipun Jinyoung disakiti dengan sengaja olehnya. Yang Jaebum berikan hanyalah ketulusan dan hampir selalu Jinyoung balas dengan rasa ketidakpercayaan dan tidak pernah mau mengerti. Jinyoung adalah tokoh penjahat dihubungan cinta mereka dan ia tidak merasa keberatan, selama ia yang akan berdosa menjadi penjahat. Jinyoung memberikan kecupan lembut dileher Jaebum. “I love you.” Jaebum membalasnya dengan gumaman kecil. “I love you too.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD