Hujan lebat semalaman membuat tanah pagi ini mengeluarkan aroma khas hujan yang lembab, suhupun menjadi sedikit dingin walaupun langit terlihat lebih cerah.
Jinyoung sedang sibuk dibelakang rumah menjemur cucian miliknya dan beberapa milik Yugyeom, setelah memeriksa tempat pakaian kotor adik sahabatnya itu sudah penuh. Sesekali matanya mengawasi Nora yang bermain diteras belakang dengan mainan bola-bolanya.
Sudah sebulan kucing itu berada dirumahnya, Jaebum menitipkannya karena tidak ada yang bisa mengawasinya dipenthouse selama seminggu perjalanan bisnisnya. Saat itu Jinyoung baru saja pulang kerja dan ia menemukan Nora mencakar-cakar selimutnya, Jaebum memberikan Nora pada Yoona dan Yoona meletakkan Nora dikamar Jinyoung.
Jinyoung dan Nora tidak pernah akrab, sejak awal kucing itu tidak sengaja ditemukan Jaebum dibasemant parkir gedung penthousenya. Jinyoung sudah memperingatkan jika kucing itu mungkin milik salah satu penghuni penthouse karena ia terlihat seperti kucing mahal, tapi Jaebum yang sudah dibutakan oleh keluguan Nora saat kecil bersikeras untuk mempertahankannya. Bahkan tidak mempersalahkan jika ia dituduh sebagai penculik.
Jinyoung berdecih. “Bahkan sekarang kucingnya sudah dilupakan, dan berikutnya siapa? Mungkin aku juga akan dilupakan!” Kesal Jinyoung mengibas-ngibas kasar kaos Yugyeom.
“Hyung!” Yugyeom muncul dengan lusuh hanya mengenakan bokser dan baju kaos, ia baru saja bangun tidur. “Ahjumma kemana? Aku tidak menemukannya.” Yugyeom menggaruk lehernya yang tidak gatal dan merapikan rambutnya yang masih berantakan.
“Coba kau cari dipasar mungkin kau akan menemukannya.” Jawab Jinyoung cuek.
Yugyeom terbatuk-batuk, ia duduk dikursi karena merasa penglihatannya berputar. Nora dengan sigap melompat dan menggulung dipangkuan Yugyeom. Mereka berdua memang sangat dekat sejak pertama bertemu.
“Ada apa kau mencari Eomma?”
“Aku ingin menanyakan dimana ia menyimpan persediaan obat.”
Mendengar kata obat Jinyoung langsung menoleh dan bergegas menghampiri Yugyeom. Ia memegang dahi pria itu yang terasa hangat, bibirnya juga terlihat pucat.
“Kenapa bisa sampai sakit?”
Yugyeom menggeleng tidak tahu. Begitu bangun tadi ia sudah merasa tidak enak badan, pusing dan terbatuk.
“Apa yang kau lakukan kemarin?”
Yugyeom berpikir dengan kerutan karena kepalanya kembali terasa pusing. “Aku seperti biasa sibuk mengerjakan proyekku dikampus seharian.”
“Lalu?”
“Hm, lalu. Pulang kemalaman dan basah karena kehujanan.” Ujarnya lugu dengan senyuman polos.
Jinyoung berdecak. Yugyeom itu pria yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah, jadi sangat mudah untuk jatuh sakit hanya karena dari pola hidupnya yang berubah. Seperti kelelahan, pola makan yang terganggu dan ditambah cuaca.
Jinyoung mengajak Yugyeom kembali masuk kedalam rumah, Yugyeom perlu istirahat yang cukup hari ini agar tidak menganggu aktivitas dikampusnya. Dengan tekun Jinyoung menyelimuti Yugyeom diatas kasurnya, membuatnya meringkuk seperti anak bayi karena malu dirawat seperti ini.
Sampai kapanpun dimata Jinyoung, Yugyeom itu tetaplah anak kecil menyebalkan yang selalu mengganggunya dan akan selalu merengek kepadanya jika membutuhkan sesuatu.
“Hyung ini sangat canggung.” Yugyeom mengerucutkan bibirnya karena Jinyoung sedang mengelus-elus rambutnya.
“Setidaknya lebih baik daripada aku menarik rambutmu.”
Yugyeom memutar mata malas. “Terserah kau sajalah.”
“Aku akan membuatkanmu bubur untuk sarapan sebelum minum obat. Sebaiknya kau tidur lagi sekarang, aku akan membangunkanmu nanti.”
“Baik Hyung.” Yugyeom menutup matanya, memiringkan badan dan tidur membelakangi Jinyoung.
Jinyoung bergegas kebawah untuk membuatkan Yugyeom bubur agar ia bisa cepat meminum obatnya, tidak ingin Yugyeom sakit sampai besok karena dihari kerja tidak ada yang bisa merawatnya. Jinyoung, Youngjae dan Yoona sibuk bekerja.
Langkah Jinyoung sempat terhenti ketika melewati ruang tamu, sesuatu mengejutkannya. Tapi ia mengacuhkan itu dan kembali berjalan kearah dapur. Jinyoung sibuk mengambil perabotan memasak dan menyiapkan semua bahan masakan yang ada dilemari pendingin, pikirannya sudah dipenuhi oleh resep bubur terenak yang pernah ia buat jadi tidak ada waktu untuk memikirkan kejutan yang ada diruang tamu.
“Apakah aku tak kasat mata sampai kau tidak melihatku?” Jaebum menyusul kedapur dengan Nora yang sudah sibuk mengeram didekapan tangannya. Jinyoung menyuci beras diwastafel, menulikan telinganya.
“Soojin sudah meceritakan semuanya, kalian sudah bertemu dan dia sudah menjelaskan semuanya.” Jaebum menurunkan Nora dan menyuruhnya untuk pergi keruang tamu ia tidak ingin Nora melihat kedua orang tuanya berkelahi.
“Jinyougie, apa kau masih marah?”
Jinyoung tidak menjawab, tangannya sibuk memotong dadu daging ayam dingin yang ia keluarkan dari lemari pendingin.
“Diam berarti iya.” Jaebum mendesah. “Jinyoung, aku mohon berhenti untuk cemburu.”
Jinyoung menoleh kesal. “AKU TIDAK CEMBURU!” Ia menekankan kalimatnya.
“Jika tidak cemburu lalu sekarang ini kau kenapa?”
“Kita bersama selama 3 tahun dan kau masih tidak mengerti sekarang aku kenapa?” Jinyoung memotong potongan daging terakhir dengan kuat hingga membuat ketukan keras dari pisaunya.
“Aku tidak akan mengerti jika kau tidak berbicara. Jangankan aku, semua orang juga tidak akan mengerti jika kau tidak membuka mulut!”
Jinyoung tersenyum miring. “Jadi kau menyamakan dirimu dengan semua orang? Berarti memang didunia ini tidak ada yang benar-benar mengerti diriku!”
“Jinyoungah, tolong jangan seperti ini. Hm?” Jaebum memijit keningnya.
“Jangan meminta tolong padaku, karena aku bukan orang yang memulai semua ini.”
Jaebum tahu Jinyoung sedang menyalahkannya dan ini memang kesalahannya. “Aku minta maaf, okay. Aku minta maaf untuk kesalahanku! Aku tahu ini semua salahku.”
Jinyoung terdiam.
“Jinyoungah, katakan sesuatu. Maafkan aku.”
“Percuma jika aku berbicara tapi tidak akan dihargai.” Jinyoung memunggungi Jaebum, menyalakan api untuk merebus daging ayam dan sayuran yang sudah ia potong.
“Tidak diharagai?” Jaebum tertawa hambar. “Kau mengatakan aku tidak menghargaimu?”
“Begitulah yang terjadi!”
Jaebum mengepalkan tangannya. “Lalu apa kau pernah menghargaiku selama ini?” Jaebum mendengus. “Menyembunyikan semua fakta tentang kita? Tidak menganggap semua pengorbananku? Membiarkan aku berjuang seorang diri?”
Jinyoung tertegun.
“Kau tahu bagaimana sakitnya aku ketika orang yang aku cintai tidak mau mengakui perasaanku!”
“Hentikan.”
Jaebum menyeringai. “Apa kau merasa bersalah sekarang?”
“JAEBUM HENTIKAN!”
“Aku tidak bisa mengehentikan ini, karena kau yang pegang kendali penuh pada permainan ini!”
Jinyoung berbalik menatap Jaebum, air mata sudah terlihat jelas dipelupuk matanya menanti untuk tetesan pertama jatuh. Disituasi ini seharusnya ia yang marah tapi Jaebum terdengar lebih marah dan menyalahkannya sekarang.
Jaebum baru menyadari apa yang sudah dikatakannya. Ia yang biasanya mengalah tak menyangka kali ini akan melawan Jinyoung bahkan dikeadaan yang seharusnya ia minta maaf padanya. Jaebum mendekat dan mendekap Jinyoung.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Jaebum mengeratkan pelukannya ketika tidak merasakan Jinyoung membalas pelukannya. “Maafkan aku. Kau boleh menyalahkanku tapi aku mohon jangan pernah meragukan cintaku padamu!”
Air mata Jinyoung menetes. Badannya mulai bergetar, ia berusaha menahan isakannya.
“Jangan menangis. Aku mohon, atau aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”
Jinyoung memberanikan diri membalas pelukan Jaebum dan memeluk punggung tegap itu dengan erat. Jaebum menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Jinyoung begitu merasakan telapak tangan kekasihnya yang mengelus punggungnya.
“Hyu-hyung…”
Jinyoung dan Jaebum terpaku, mereka segera melepaskan pelukannya dan berusaha bersikap normal.
Jinyoung mengelap air mata dengan punggung tangannya. “Oh, Yu-yugyeom apa yang kau lakukan? Seharusnya kau istirahat.”
“Kalian berdua…” Yugyeom memegang kepalanya kembali merasa pening, tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Jinyoung dan Jaebum saling menatap mereka tidak tahu harus bagaimana setelah ini karena Yuygeom sudah menangkap basah mereka berdua. Jinyoung takut jika Yugyeom akan marah dan kesal padanya mengingat bagaimana dulu Yugyeom dan Youngjae berkelahi karena Wonpil.
Sekarang tiba juga saatnya ketika hubungan mereka akan mulai disadari semua orang, Jinyoung merasakan tidak lama lagi ini semua tidak bisa dirahasiakan.
Dan mereka bertiga berakhir berkumpul dikamar Yugyeom, Jinyoung memaksa untuk berbicara didalam kamar khawatir jika Yoona tiba-tiba datang. Jaebum duduk diujung ranjang, sedangkan Jinyoung menyuapi Yugyeom yang bersandar dikepala ranjang dengan dibaluti selimut tebal.
Jinyoung bersikeras menyuruh Yugyeom untuk menghabiskan sarapan buburnya sebelum mulai membahas apa yang dilihat tadi. Setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya Yugyeom nikmati dengan diam, matanya menatap tajam bergiliran Jinyoung dan Jaebum.
“Sekarang kau minum obat.” Jinyoung memberikan segelas air dan sebutir obat berwarna putih yang biasa digunakan olehnya dan Yugyeom jika sedang tidak enak badan. Yugyeom meneguk habis air putihnya selagi menatap tajam Jaebum membuat pria yang ditatap menjadi kikuk.
“Setelah ini kau tidur dan beristirah-”
“Hyung.”
Shit! Percobaan untuk melarikan dirinya gagal, Jinyoung sepertinya memang harus menghadapi situasi ini.
“I-iya.” Jinyoung melirik Jaebum yang terlihat sudah mempersiapkan diri.
Yugyeom melipat kedua tangannya. “Aku perlu bertanya lagi atau kau akan menceritakannya langsung?”
Jinyoung tersenyum dengan puppy eyesnya. “Apakah ada pilihan untuk tidak membahas semua yang terjadi?”
“Hyung…” Yugyeom menggeram.
Jaebum mendesah. “Baiklah apa yang ingin kau tahu?” Jaebum melirik Jinyoung yang menunduk.
“Aku ingin tahu semuanya Hyung.”
Jaebum nampak berpikir. “Aku dan Jinyoung memiliki situasi yang sama seperti Youngjae dan atasannya.”
Yugyeom tidak terkejut, karena ia sudah menduga. “Apakah kalian baru memulainya?”
“Hubungan kami sudah berjalan selama 3 tahun.”
Yugyeom tersentak bangun mengakibatkan kepalanya kembali pening. “3 TAHUN?!”
“Yugyeomah jangan terlalu banyak bergerak sakit kepalamu belum hilang.” Cemas Jinyoung.
“Hyung! Berarti Ahjumma tidak mengetahui hal ini?”
Jinyoung mengangguk.
“Lalu Youngjae Hyung?”
“Hanya dia yang tahu.”
“Wah, kalian semua benar-benar luar biasa.” Yugyeom tertawa datar.
“Yugyeom, aku mohon setelah kau mengetahui semua ini tolong jangan beritahu pada Eomma atau siapapun.”
“Tidak mau.”
Jinyoung dan Jaebum menatap dengan kerutan. “Ke-kenapa?” Jinyoung mulai khawatir.
“Kalian pasti masih menyembunyikan sesuatu dariku.” Yugyeom memicing. “Beritahu aku semuanya lalu aku akan pikirkan permohonanmu Hyung.”
Jinyoung menggertakan giginya menahan emosi, Yugyeom benar-benar mencoba menguji kesabarannya. Jinyoung lalu saling menatap dengan Jaebum.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Jaebum menaikkan sebelah alisnya. “Mana aku tahu? Kau pikir aku punya ide!”
Jinyoung mendengus. “Kau itu sama sekali tidak membantu!”
“Jika aku tidak membantu, aku mungkin sudah meninggalkanmu daritadi!”
Jinyoung memutar mata malas. “Lalu kenapa kau tidak meninggalkanku saja, itu lebih membantu daripada kau berada disini tanpa otakmu!”
Jaebum meninju ranjang. “APA KATAMU!”
“Sebaiknya kalian hentikan.” Yugyeom dari tadi memperhatikan permainan ekspresi yang dilakukan Jinyoung dan Jaebum, ia menatap dengan datar. Mereka berdua memang benar sudah menjalin hubungan sangat lama sampai bisa melakukan telepati.
Yugyeom menghela nafas. “Aku tidak akan marah pada kalian. Lagipula siapa aku yang berhak mengganggu kebahagian orang lain.”
“Yugyeomah…” Jinyoung terharu.
“Yakin kau tidak akan marah?” Jinyoung menendang lutut Jaebum karena pertanyaanya.
Yugyeom mengangguk. “Selain itu, karena aku juga menyukai Jaebum Hyung!” Jinyoung tersentak menoleh. “Ma-maksudku, suka sebagai Hyung! Karena Jinyoung dan Youngjae Hyung terlalu lembek.”
“Aku sangat ingin memukulmu, syukurlah kau sedang sakit.”
“Syukurlah.” Jaebum tersenyum tipis, ia bersyukur karena situasinya tidak terlalu sulit dan tidak membuat Jinyoung tertekan. Yugyeom ternyata mampu memberikan dukungan dan Jaebum berharap ini bisa semakin membuat Jinyoung yakin untuk melakukan pengakuan.
“Lalu bagaimana dengan Ahjumma? Apakah tidak sebaiknya Hyung beritahukan juga?”
Jinyoung mendesah. “Dia akan segera tahu. Saat aku siap memberitahunya.” Jaebum cemberut.
Pintu kamar Yugyeom tiba-tiba terbuka. “Dasar kalian anak-anak yang tidak bisa diandalkan.” Yoona menggerutu dengan dahi yang berkeringat. “Aku sudah memanggil dan mencari kalian kesudut rumah ternyata kalian berkumpul disini!”
Jinyoung dan Yugyeom saling melirik, mereka was-was Yoona sedang marah.
Yoona memicing melihat Yugyeom yang duduk bersandar berselimut tebal. “Ada apa?”
“Yugyeom sakit.” Jawab Jaebum.
“APA?!” Yoona dengan sikap keibuannya melompat keatas ranjang menyebabkan guncangan keras, ia memeriksa dahi Yugyeom yang hangat.
Jaebum bergeser merapatkan duduknya dengan Jinyoung, ia terlalu kaget menyadari dirinya hampir saja diterkam. Yoona memang diluar dugaan, Jaebum pernah berharap bisa menikah dengan Jinyoung tapi bisa mengganti posisi Ibu Mertuanya dengan orang lain.
“Kau demam!” Yugyeom terbatuk Yoona memancing penyakitnya kembali aktif.
“Aku sudah menyuapinya bubur dan dia sudah meminum obatnya, sekarang hanya perlu untuk istirahat.”
Yoona menatap Jinyoung lirih. “Syukurlah kali ini kau bisa diandalkan.”
Jinyoung mendecih dengan muka masam mendengar pujian itu, ia beranjak untuk kembali kedapur membersihkan mangkuk kotor dan gelas bekas Yugyeom. Jaebum menyusul dibelakangnya.
“Bukankah sekarang waktu yang tepat?” Jaebum bertanya dengan heboh.
“Waktu yang tepat untuk apa?”
“Yah kau tahu, waktu yang tepat untuk memberitahu Eomma tentang kita.”
Jinyoung seketika menghentikan langkahnya, iya termenung dengan rencana Jaebum. Jinyoung meninbang-nimbang apa yang harus ia lakukan, setuju dengan Jaebum atau menolaknya lagi. Lalu matanya melirik kotak kayu diatas pantry, isinya terdapat paket lengkap pisau dapur dari berbagai bentuk dan ukuran.
Kira-kira pisau mana yang bisa memotong daging manusia?
Jaebum tersenyum sumringah dibelakang Jinyoung.