Hujan turun sangat deras, suara petir yang bagaikan bom terdengar menggema diatas langit. Hari sudah mulai gelap ditambah keadaan hujan membuat suasana semakin terasa dingin dan sunyi.
“Bermalam saja disini.”
Youngjae hanya bisa menatap dinding kaca ruang tamu depan yang penuh dengan tetesan hujan. Halaman rerumputan itu kini juga basah dan terlihat beberapa genangan air mulai bermunculan.
Keberadaan Wonpil didekatnya sungguh tidak membantu perasaan Youngjae untuk tentram, bagaimana bisa ia berakhir menghabiskan waktu hampir seharian dengan pria yang selama ini berusaha ia hindari.
Setelah memasak untuk makan siang mereka yang cukup memakan waktu, hari sudah mulai sore dan rintik hujan mulai turun. Wonpil memaksa Youngjae untuk menunggu hingga hujan reda baru boleh untuk meninggalkan rumahnya. Perintah yang bagaikan mantra sihir itu kembali mempengaruhi Youngjae dan akhirnya ia menurut saja.
“Aku harus segera pulang.”
Bagi sebagian orang ketika hujan turun itu adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan diri, dan hujan juga sebagai salah satu media untuk mengingat kenangan-kenangan lama, suka maupun duka. Tapi Youngjae merasa terlalu lelah untuk membuat otaknya memutar kenangan-kenangan lama itu.
Youngjae duduk dengan menekuk lututnya disofa panjang yang bisa diisi tiga orang, sedangkan Wonpil disebelahnya duduk disingle sofa. Mereka berdua sibuk memandang keluar dinding kaca kehamparan halaman rumput yang luas.
“Aku akan menyuruh Yugyeom untuk menjemputmu.” Wonpil mencoba mencarikan solusi.
“Jangan!” Jika Yugyeom sampai tahu Youngjae menghabiskan waktu seharian untuk memenuhi undangan sebagai wali dan berakhir dirumah Wonpil, itu berarti sama dengan mempertaruhkan nyawanya ditangan iblis. Karena Yugyeom pasti akan bercerita pada Jinyoung. “Kita tunggu saja sampai hujan reda.”
“Kau yakin?” Wonpil sudah melihat berita cuaca pagi ini ketika bangun tidur dan melihat langit sudah mendung, diinformasikan jika hujan akan dimulai dari sore hari hingga menjelang besok pagi. Tapi ia tidak berniat memberitahu Youngjae karena tidak ingin pria itu memaksakan diri untuk pulang dan menerobos hujan.
Youngjae hanya mengangguk, ia mulai sedikit merebahkan badannya karena merasakan kehangatan dari sofa milik Wonpil.
Wonpil beranjak dari duduknya lalu menaiki tangga kelantai dua dan menghilang. Youngjae hanya melirik pergerakan mantan atasannya itu, membiarkan pria yang sedang sakit itu melakukan apapun yang ingin ia lakukan.
Youngjae mendesah, rumah Wonpil terlalu nyaman dan membuatnya malas untuk pulang, perapian yang menyalakan api dari kayu bakar itu membuat suasana semakin hangat. Selain itu, ia juga merasa ada yang berbeda dari Wonpil walaupun sebenarnya dari awal bertemu tadi Youngjae sudah merasa Wonpil yang ia temui adalah pria yang berbeda.
Wonpil tidak menunjukkan aura mengintimidasi dan membuat Youngjae tertekan, pria itu justru terlihat seperti mengunci dirinya dan sedikit menjaga jarak setelah Youngjae memperingatinya untuk tidak melakukan kontak fisik secara mendadak. Wonpil seperti berusaha membuat Youngjae merasa nyaman.
Wonpil muncul dengan selimut ditangannya. “Kenakan ini.” Youngjae menatap uluran selimut itu dengan tatapan terkejut. Wonpil bisa melihat bagaimana Youngjae menatapnya, membuatnya berinisiatif memasangkan dan membaluti tubuh pria manis itu dengan selimut hangat.
Youngjae sekarang terlihat benar-benar seperti seorang bayi, Wonpil memakaikannya selimut besar yang menutupi seluruh badan dan hanya memperlihatkan kepalanya. Wonpil terkekeh melihatnya.
“Terima kasih.” Youngjae bergumam. Wonpil tidak mendengarnya karena ia beranjak lagi meninggalkan Youngjae dan menghilang didapur. Tenaga Wonpil sedikit tidak wajar untuk seseorang yang sedang sakit.
Youngjae merapatkan selimut itu ketubuhnya, matanya tertutup ketika mencium aroma tubuh Wonpil. Pria itu memiliki aroma yang berbeda dari kebanyakan pria lainnya, ia memiliki aroma yang lembut seperti kayu manis dan vanilla di musim gugur. Tidak mengeluarkan aroma kuat dan maskulin seperti pembawaannya.
“Cokelat panas.” Youngjae membuka mata dan menatap sebuah gelas hijau tosca didepannya. Ia melirik Wonpil yang memegang gelas merah maroon ditangan satunya. Youngjae mengambil cokelat panas itu dengan hati-hati, terlihat asap mengepul dari atas minuman itu. Masih terlalu panas.
“Kau tidak boleh meminum cokelat panas saat sedang sakit seperti ini.” Youngjae mengingatkan Wonpil yang sedang meminum dari gelasnya.
“Tenang saja, aku tahu itu. Ini teh hijau.” Jelas Wonpil, menunjukkan isi dari gelasnya.
Wonpil tidak kembali duduk ditempatnya semula, ia duduk disebelah Youngjae disofa panjang yang untuk 3 orang. Youngjae tidak merasa keberatan, ia sibuk menyesap cokelat panasnya.
“Wanita yang tadi siang itu adalah sekretaris barumu?”
“Hm. Baru 2 bulan.”
Youngjae terdiam.
“Ada apa?” Wonpil penasaran mengapa Youngjae menanyai sekretaris barunya. Sedikit banyak ia berharap, Youngjae sedang cemburu.
“Kenapa ia ketakutan melihatku? Bahkan seperti sudah mengenal siapa aku.” Youngjae kembali teringat ketika siang tadi kedatangannya berawal disambut dengan tidak baik lalu tiba-tiba ia merasa seperti seseorang yang penting.
“Oh, mengenai hal itu.” Youngjae menoleh menatap Wonpil. “Daisy sering masuk keruang kerjaku.” Youngjae menaikkan sebelah alisnya, tentu saja Daisy sering masuk karena wanita itu adalah sekretarisnya. “Jadi dia sering melihat fotomu.” Wonpil membalas tatapan Youngjae.
“Fotoku?”
“Hm.” Wonpil tersenyum tipis. “Fotomu diatas meja kerjaku.”
Wonpil pasti sedang berbohong atau setidaknya ia sedang berusaha untuk bercanda, setidaknya dua hal itu yang diharapkan Youngjae. Karena nyatanya Wonpil menatapnya dan menunjukkan ekspresi jika ia sedang berbicara apa adanya.
“Kenapa?” Youngjae tidak mengerti untuk apa Wonpil menyimpan fotonya dan darimana pria disampingnya ini bisa mendapatkan foto itu. “Kenapa kau menyimpan fotoku?”
“Apakah salah jika aku menyimpan foto kekasihku?”
Youngjae rasa penyakit Wonpil semakin parah, ia berbicara ngelantur. “Aku harus pergi dan kau perlu istirahat.” Youngjae berdiri dan merapikan jaketnya.
“Apakah aku mengatakan hal yang salah?”
“Aku rasa kau sendiri tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan.”
“Aku benarkan? Kita memang belum berakhir?”
“Cukup!” Youngjae menutup kedua telinganya, tidak ingin mendengar apapun yang akan diucapkan Wonpil.
Wonpil meraih tangan Youngjae dan membawa pria itu kembali duduk disampingnya. “Bisakah kita membicarakan hal ini baik-baik?”
“Aku sudah berusaha untuk bersikap baik sedari tadi.” Youngjae mengusap wajahnya.
“Dengar, aku tahu kau belum memaafkanku dan aku tidak sedang memelas untuk sebuah permohonan maaf darimu.” Wonpil memaksakan untuk menyelesaikan semua permasalahan mereka dihari pertama mereka akhirnya bertemu kembali. “Tapi aku berbicara yang sebenarnya, mengenai fakta jika kita belum berakhir.”
“Kim Wonpil, sudah setahun berlalu dan apalagi yang kau harapkan?!”
“Apa kau masih ingat apa yang aku ucapkan saat itu?”
Tentu saja Youngjae masih ingat, kenangan itu tidak akan pernah ia lupakan. “Jika kau pergi aku akan melakukannya dengan orang lain!” Youngjae menggigit bagian bawah bibirnya.
“Dan apa kau ingat apa yang menjadi jawabanmu saat itu?”
“Jika kau lakukan hal itu, maka kita berakhir!” Youngjae menggeleng resah, ia berusaha membohongi dirinya jika ia tidak ingat dengan apapun yang berhubungan dengan kejadian itu.
Wonpil mendesah. “Aku tidak melakukannya dengan orang lain, bahkan sampai sekarang.” Suara Wonpil berhasil membuat Youngjae bergetar, suara hujan diluar juga membantu memperjelas kenangan itu dikepala Youngjae. “Aku juga tidak memiliki hubungan dengan siapapun sampai sekarang. Hanya karena dirimu.”
“Untuk apa? Untuk apa kau ceritakan padaku?”
“Agar kau mau kembali.”
Youngjae mengepalkan tangannya, Wonpil sudah melewati batas. Sekarang Youngjae menyesali keputusannya untuk bertemu lagi dengan Wonpil. Ia yang awalnya berharap mereka bisa memperbaiki hubungan yang rusak dan kembali melanjutkan hidup masing-masing tanpa beban dari kenangan lama. Ternyata berakhir dengan Wonpil yang menginginkan lebih dari itu.
“Bagaimana bisa aku kembali? Aku bahkan tidak bisa memaafkanmu.”
“Apakah aku sudah sangat menyakitimu?”
Wonpil hanya hampir menyakitinya dan Youngjae sadar akan hal itu. Tapi selama ini Youngjae tidak pernah mendengar permintaan maaf dari Wonpil dan itu membuatnya semakin marah.
“Aku sudah berusaha menghubungi dan mencarimu. Tapi kau terus saja bersembunyi.”
Mendengar fakta itu kembali menyadari Youngjae, Wonpil memang sudah pernah berusaha untuk meminta maaf padanya. Tapi Youngjae terlalu takut.
“Aku selalu dihantui rasa bersalah. Penyesalan. Aku juga menyalahkan diriku sendiri.” Pandangan Wonpil masih tertuju pada Youngjae, tapi Youngjae merasa Wonpil sedang tidak menatapnya. “Aku merasa semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku.”
Youngjae tertegun, Wonpil tersenyum mengatakan kalimat itu dengan air mata dipipinya. Mantan kekasihnya itu terlihat sangat rapuh, ia terlihat lebih terluka. Ini pertama kalinya Youngjae melihat Wonpil menangis. Dan air mata dengan senyuman diwajah itu adalah tangisan paling menyedihkan yang sudah dipendam lama.
Youngjae memeluk Wonpil, sekarang ia merasa sedikit bersalah karena terlalu keras selama ini. Tangannya mengelus punggung kurus itu berharap bisa menenangkan suasana hati pemiliknya. Wonpil tidak membalas pelukannya membiarkan kedua tangannya menggantung disisi tubuh, ia masih menghargai permintaan Youngjae untuk tidak melakukan kontak fisik.
“Maaf, aku terlihat menyedihkan.”
Youngjae menggeleng, tidak ada salahnya menunjukkan kelemahanmu pada dunia. Itu membuktikan jika dirimu hanyalah manusia biasa.
“Sudah merasa nyaman?” Youngjae melepas pelukan mereka.
Wonpil mengangguk. “Terima kasih.”
Wonpil pria yang selalu terlihat kuat dan tegas, selalu berusaha mengintimidasi setiap orang dan tidak segan untuk menjatuhkan mereka yang melakukan sedikit saja kesalahan. Ia selalu beranggapan semua orang bisa berbuat jahat padanya, selalu berpikiran negatif kepadanya dan selalu memanfaatkan dirinya.
Tidak ingin menunjukkan sedikit saja kelemahannya, tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk memanfaatkan kelemahannya. Ia berusaha sebaik mungkin menutupi itu dalam dirinya dan melupakan jika ia sedang memendam rasa luka yang sakit didalam dirinya.
Hidup seorang diri sejak kecil membuat Wonpil menatap dunia dengan sangat berbeda, ia beranggapan dunia adalah tantangan untuk bertahan hidup bukan tempat untuk bertahan hidup. Melihat orang-orang yang berada disisinya selalu pergi meninggalkannya membuat Wonpil semakin membenci dunianya.
Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih berumur dua belas tahun, keluarganya yang lain berusaha menutupinya dari fakta-fakta hidupnya untuk merebut warisan yang ia miliki. Selama ini selalu dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya dan mereka yang mengaku sebagai sahabatnya hanya berakhir menjadi seorang penjilat.
Siapa sangka dunia yang indah bagi orang lain ternyata begitu keras untuk Wonpil, setiap hari ia selalu berharap agar tetap kuat menjalani hidupnya dan tidak berakhir menyedihkan. Sampai suata hari ia merasa harapannya itu terkabul dan bertemu dengan seseorang yang sekarang sedang tertidur meringkuk diatas sofanya.
Youngjae berhasil membuat Wonpil merasa jika ia masih memiliki seseorang yang bisa dipercaya. Semakin lama mengenalnya sebagai salah satu karyawan diperusahaannya, membuat Wonpil semakin mengenal sifat Youngjae. Bahkan dari melihat tingkah lakunya Wonpil sudah yakin jika Youngjae tidak seperti orang-orang yang selama ini ia kenal.
Hanya saja Youngjae sempat meninggalkannya juga dulu tapi itu karena kesalahannya sendiri, ia terlalu takut jika Youngjae bisa berubah menjadi seperti mereka yang jahat kepadanya sampai tidak menyadari jika dirinya sendiri memperlakukan Youngjae dengan tidak sepantasnya.
Tapi sekarang ia menyesalinya dan ingin memperbaiki semuanya.