17. Different

1987 Words
Pagi ini langit mendung dipenuhi awan hitam pekat yang menutupi sinar matahari. Musim panas tahun ini memang sering turun hujan, tidak seperti tahun sebelumnya. Cuaca mulai susah untuk ditebak. Youngjae melihat awan hitam yang berkumpul diatas gedung berlantai 15 itu dengan pandangan takut, sepertinya akan ada badai petir atau mungkin angin kencang yang akan memorak-porandakan gedung itu. Ia berdiri disisi jalan raya ketika turun dihalte, Youngjae tidak menggunakan mobilnya dan hanya memanfaatkan fasilitas umum yang ada. Entah apa yang merasukinya hari ini sampai ia tidak habis pikir untuk menelepon atasannya dan meminta izin mengambil cuti. Atasannya tentu saja terkejut karena Youngjae terkenal gila kerja dan bahkan memiliki julukan “Maniak pengganti direktur.” karena ia yang sangat berambisi dalam bekerja dan dikatakan akan mengganti posisi direktur perusahaannya. Sekarang Youngjae melangkah bersama kerumunan yang menyeberangi jalan, menuju gedung yang terdapat tulisan DITEX besar dipuncaknya. Ia mendesah mengingat kenangan lama ketika dulu ia juga sering turun dihalte yang sama dan menyeberangi jalan yang sama. Jam tangannya menunjukkan angka 8, Youngjae tiba tepat waktu. Tapi ia tidak mau terburu-buru karena lebih baik jadi orang terlambat daripada harus menunggu. Ia melihat bagaimana karyawan-karyawan berlarian disekitarnya karena mereka akan terlambat,1 menit saja terlambat itu sama saja dengan pemutusan hubungan kerja dengan tidak hormat. Youngjae tersenyum mengingat peraturan ketat yang pernah membuatnya menjadi manusia tepat waktu. Youngjae tiba dilobi yang terlihat cukup sepi, sepertinya para pegawai sudah mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Youngjae berharap tidak ada yang mengenalinya ataupun bertemu dengan teman-teman lama dari divisinya, karena Youngjae sudah menghilang dan memutuskan hubungan dengan mereka hanya karena 1 orang. “Permisi.” Youngjae berdiri dibagian informasi. “Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita muda menyambutnya dengan senyuman, Youngjae merasa wanita itu adalah karyawan baru. Wajar jika bertemu banyak karyawan baru diperusahaan lamanya, karena saking mudahnya para atasan untuk memecat pegawainya. “Aku datang untuk memenuhi undangan.” Youngjae menunjukkan undangannya. “Baiklah, silahkan menggunakan ini.” Youngjae diberikan ID Card Visitor yang sama persis seperti ID Card Karyawan yang pernah ia miliki dulu. “Lokasi pertemuan ada dilantai 11 silahkan menggunakan lift dan ruangannya akan mudah ditemukan.” Youngjae mengangguk dan mengucapkan terima kasih, ia tahu ruangan yang dimaksud. Untuk pertemuan umum memang sering dilakukan diruangan itu. Youngjae berdiri menunggu lift bersama beberapa karyawan yang sibuk dengan pekerjaan mereka, terlihat jelas kerutan-kerutan didahi mereka yang menandakan mereka sedang banyak pikiran. Youngjae baru menyadari bekerja disini cukup melelahkan, dulu ia tidak pernah merasa terlalu tertekan dengan pekerjaannya. Ia menjadi orang terakhir yang tiba dilantai tujuan, begitu lift terbuka ruangan yang menjadi tempat pertemuan sudah terlihat dengan papan pemberitahuan didepannya. Youngjae membuka pelan pintu masuk, semua mata tertuju padanya. Rupanya semua orang sudah berkumpul dan hanya menyisahkan satu kursi kosong yang belum terisi. Youngjae dengan senyuman canggung membungkuk dan berjalan menuju kursi itu agar pertemuan segera bisa dimulai. Ia menghitung jumlah perwakilan yang ada sekitar lima puluh orang, sepertinya setiap tahun jumlah beasiswa yang ditawarkan semakin banyak. Ketika waktu ia dulu hanya tersedia dua puluh beasiswa saja. “Baiklah, pertemuan akan segera dimulai.” Suara yang menggema dengan mic itu menginterupsi. Youngjae menatap pria yang berdiri dipodium, ia ingat pria itu adalah salah satu sekretaris Wonpil. “Selamat pagi dan selamat datang, untuk bapak dan ibu perwakilan mahasiswa terpilih yang beruntung mendapatkan tunjangan beasiswa dari perusahaan kami.” Pria itu bernama Jongdae, bertubuh setinggi Youngjae dengan karisma seseorang yang terpelajar. “Pertama-tama saya akan memperkanalkan diri saya, nama saya Jongdae dan saya memegang posisi sebagai sekretaris pak direktur yang sekaligus menggantikan posisi beliau pada pertemuan kali ini karena berhalangan hadir.” Mendengar pembukaan pertemuan yang dilakukan Jongdae membuat Youngjae kecewa, sepertinya tujuannya kesini akan batal. Wonpil tidak hadir dan Youngjae tidak bisa mengucapkan rasa terima kasih secara langsung. Sia-sia. Youngjae mendesah lesu, apakah perjuangannya mengambil cuti akan sia-sia seperti ini. Belum lagi keberanian yang sudah ia kumpulkan sejak kemarin malam, semua itu tidak boleh dibuang percuma. Youngjae tidak menghiraukan apa yang disampaikan Jongdae selama pertemuan, mata Youngjae memandang slide presentasi dengan pikiran yang melayang. Kesimpulan yang ia dapat dari pertemuan hanyalah pengenalan tentang Ditex, fasilitas dari beasiswa dan kesempatan peluang kerja yang besar. Tidak ada yang penting menurutnya. Yang terpenting untuknya sekarang adalah bagaimana agar rencananya tetap berjalan. Jika Wonpil berhalangan hadir itu artinya ia sedang tidak berada dikantor, dan jika ia tidak berada dikantor itu berarti Wonpil sedang sakit. Wonpil adalah pria pekerja keras, ia tidak akan semudah itu untuk tidak kekantor jika tidak dikalahkan oleh tubuh yang sakit. Youngjae yang sekarang menjadi maniak kerja adalah karena Wonpil. Youngjae sudah putuskan setelah mengingat-ngingat alamat rumahnya, ia akan mengunjungi Wonpil kekediaman pribadi pria itu. Intinya cutinya hari ini tidak boleh sia-sia. Begitu pertemuan selesai Youngjae menjadi orang pertama yang keluar dari ruangan, berbeda dengan perwakilan lainnya yang terlihat sibuk berdiskusi satu sama lain mengenai pembahasan sepanjang pertemuan tadi. “Kau datang juga.” Youngjae menoleh. Jongdae berdiri disebelahnya yang sedang menunggu lift. “Ah iya, bagaimana kabarmu?” Youngjae bertanya canggung. Dulu mereka tidak terlalu dekat dan jarang mengobrol, mereka hanya berbicara jika ada masalah pekerjaan. “Kabarku baik, lalu bagaimana denganmu setelah kabur dan menghilang?” Youngjae terbata. “A-aku baik.” “Bagaimana bisa kau datang dan berani  menunjukkan wajah setelah apa yang kau lakukan?” Jongdae bertanya dengan sinis. Pintu lift terbuka, Jongdae masuk dan Youngjae menyusul. Mereka memilih lantai tujuan yang berbeda, lantai 5 dan lobi. “Aku hanya memenuhi undangan. Jika seandainya dia tidak menunjuk adikku untuk beasiswa aku mungkin tidak akan berada disini.” Jongdae mendengus. “Dia itu memang keras kepala, tidak bisa belajar dari keadaan setelah kau meninggalkannya.” “Maksudmu?” Youngjae menatap Jongdae bingung. “Dimataku dia sudah berubah dari bos yang tegas menjadi pria tua yang terpuruk.” Pintu lift terbuka dilantai 5 Jongdae melangkah keluar meninggalkan Youngjae dan kebingungannya. Jongdae berbalik “Aku tahu kau akan pergi menemuinya. Kau mungkin akan terkejut.” Pintu lift akhirnya tertutup dan mendorong tubuh Youngjae melawan gravitasi menuju lantai lobi. Youngjae tidak memperdulikan perkataan Jongdae, ia berjalan keluar dari gedung dan memutuskan untuk menggunakan taksi agar perjalanannya lebih cepat. Karena komplek perumahan Wonpil memiliki halte pemberhentian bus yang cukup jauh. Ada sesuatu dari kalimat Jongdae yang membuat Youngjae penasaran, ia juga mengakui ada rasa sedikit khawatir dihatinya. Wonpil adalah pria yang tidak segan-segan untuk melakukan apapun yang terlintas di kepalanya. Taksi yang ditumpanginya akhirnya tiba diwilayah Hannam-dong, berbelok kekiri dari jalan raya utama memasuki satu-satunya jalan masuk menuju perumahan mewah disana. Melewati beberapa blok dan rumah-rumah mewah sampai Youngjae berkata berhenti dan menghentikan laju taksi itu. Mereka berhenti dijalanan menanjak disebelah rumah bertembok tinggi dengan pintu besi kecil yang tertutup rapat. Youngjae memberikan beberapa lembar won yang disambut senyuman oleh supir taksi, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih. Sekarang ia sudah berdiri didepan pintu besi berukuran kecil, ketika sudah berada didepan mata entah mengapa Youngjae jadi ragu untuk memencet bell. “Kau mungkin akan terkejut.” Ingatan dari perkataan Jongdae sukses membuat Youngjae tanpa sadar memencet bell yang hanya mengeluarkan suara bip kecil. Ia menunggu beberapa saat tapi belum ada balasan apapun dari suara intercom atau suara pintu telah dibuka. Karena takut akan menjadi ragu lagi, Youngjae yang memang sudah bertekad menekan angka 2187 pada intercom. Suara kunci pintu terbuka membuat Youngjae tertegun. Wonpil masih menggunakan kode yang sama, kombinasi tanggal lahirnya dan tanggal lahir Youngjae. 28 dan 17. Youngjae membuka pintu itu dan menapaki tangga karena posisi rumah yang berada sedikit lebih tinggi dari jalan. Halaman rerumputan menyambut Youngjae, tanaman-tanaman yang menghiasi sisi-sisi tembok memanjakan mata. Masih tidak ada yang berubah. Bangunan rumah tidak terlalu mewah, cenderung minimalis karena Wonpil membangunnya dengan pertimbangan memiliki halaman depan dan belakang yang luas. Pria itu lebih suka beraktivitas diluar ruangan karena dikantor ia akan terus berada didalam ruangan. Youngjae tiba dipintu masuk, ia kembali menekan kode yang sama tapi pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Youngjae mematung pada posisinya, seorang wanita berambut panjang dengan pakaian formal berpotongan minim menyambutnya. Rambutnya yang diwarnai kecokelatan sangat panjang, dengan aksesoris anting dan kalung yang terlihat mahal. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Wanita itu membungkuk sedikit dan mengernyit heran. Sepertinya Youngjae telah mengganggu waktunya. “A-aku kesini ingin bertemu dengan-” Youngjae tidak ingin menyampaikan maksud dari kedatangannya, ia takut yang dimaksud Jongdae adalah wanita yang berdiri didepannya sekarang. Youngjae meremas kedua tangan dibalik tubuh, ia kehilangan tekadnya dan bermaksud untuk pergi saja dan beranggapan jika telah salah rumah. “Oh my god!” Suara  histeris wanita didepannya mengejutkan Youngjae.“Ma-maafkan aku, maafkan aku tidak bermaksud lancang.” Youngjae semakin dibuat takut ketika wanita itu membungkuk beberapa kali didepannya. Kali ini benar-benar membungkuk. “Silahkan masuk.” Wanita itu membuka celah dipintu masuk untuk Youngjae. Tapi Youngjae terlalu takut untuk bergerak. “Maafkan aku belum memperkenalkan diri, namaku Daisy. Aku adalah sekretaris dari Pak Direktur.” Youngjae paham sekarang, ia mengangguk lalu membungkuk menunjukkan rasa hormat dan sopan santun. “Halo, namaku Younjgae senang berkenalan denganmu.” “Mari ikut dengan saya beliau sedang berada diruang tamu, kami baru saja menyelesaikan rapat.” Daisy sudah melangkah masuk tidak tahu jika Youngjae masih belum selesai menyiapkan dirinya dan terpaksa ikut menyusul masuk. Mereka masuk kedalam menuju ruang tamu yang menampilkan pemandangan halaman belakang. Manik mata Youngjae sudah menangkap siluet pria itu, ia duduk dengan menyilangkan kaki dengan tangan yang sibuk memegang dokumen bahkan saat sakit seperti ini ia masih bekerja walau berada dirumah. Ia mengenakan kemeja kasual dengan celana kain berwarna hitam. Masih sangat berkarisma. Wonpil yang menyadari sekretarisnya telah kembali tidak seorang diri menoleh, matanya melebar melihat orang yang berdiri dibelakang Daisy. Sekarang dokumen yang ia pegang sudah mengkerut membentuk lipatan akibat remasan dari tangannya. “Youngjae…” Panggil Wonpil lemah. Youngjae membalasnya dengan senyuman tipis. “Baiklah Pak Direktur, saya permisi dulu. Rapat kali ini cukup  sampai disini.” Ucap Daisy dan hanya mendapat anggukan dari Wonpil, pria itu masih belum melepas pandangannya dari Youngjae. Daisy merapikan barang-barangnya dan sekali lagi mengucapkan kata permisi dengan berat hati sebelum meninggalkan Youngjae dan Wonpil diruang tamu. Kecanggungan terasa setelah hanya tersisa mereka berdua diruang tamu. “Apakah aku boleh duduk?” Tanya Youngjae, Wonpil mengangguk cepat dan memberikan interuksi dengan tangannya untuk Youngjae duduk dikursi didepannya. Youngjae melirik kesetiap sudut ruangan melihat-lihat ruang tamu yang masih terlihat sama dari terakhir kali ia kesini. Sedangkan Wonpil menatap lekat padanya dengan mata yang sulit diartikan. “Tidak ada yang berubah.” Komentar Youngjae. Situasi kembali hening hal itu membat Youngjae tertekan, ia berharap Wonpil mengucapkan sesuatu. “Bagaimana kabarmu?” Wonpil akhirnya berbicara membuat Youngjae berani untuk membalas pandangannya. “Kabarku baik.” Youngjae tersenyum sumringah. “Bagaimana dengan-” Pertanyaannya tertahan ketika Youngjae akhirnya bisa melihat keadaan Wonpil secara jelas. Wajah pria itu terlihat sangat tirus dan pucat, ia telah kehilangan banyak berat badan. Bahkan kemeja yang harusnya terlihat pas ditubuhnya sekarang terlihat longgar. “Apa kau terkejut?” Youngjae tidak menjawab. Wonpil menghela nafas. “Kau benar-benar terkejut.” Ia tersenyum kecut. “Beginilah keadaanku sekarang.” Wonpil menundukkan wajahnya. “Kau pasti senang sekarang. Selamat, kau berhasil meghancurkanku.” Youngjae menggigit bibir bawahnya. “Ah, aku merasa malu terlihat lemah seperti ini.” Wonpil mendongak dan menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Mereka kembali terdiam, sama-sama memejamkan kedua mata masing-masing. Mencoba menahan emosi yang akan keluar dan sudah tertahan lama, mementingkan ego masing-masing dan tidak mau saling terlihat lemah. “Aku datang untuk mengucapkan terima kasih atas bantuanmu.” Jelas Youngjae. “Anggap saja itu permintaan maafku karena telah melukaimu.” Youngjae berdiri. “Hal itu tidak bisa membuatku untuk memaafkanmu.” Dengan perasaan yang semakin terluka Wonpil hanya dapat menganggukan kepalanya. Youngjae akhirnya pergi membuat Wonpil tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa pasrah meratapi jika ia ditinggalkan lagi tanpa tahu kapan mereka bisa bertemu kembali. Rasa sakit dikepalanya kembali muncul membuat Wonpil meremas rambutnya kasar, matanya mulai berair tanpa tahu apa yang menyebabkan ia menangis. Setetes air matanya jatuh dan suara keributan didapur berhasil membuatnya terdiam. Wonpil melirik sofa tempat Youngjae duduk dan melihat sebuah tas ada disana, tas yang Youngjae kenakan tadi. Pria itu masih belum meninggalkan rumahnya, suara didapur menambah keyakinannya jika Youngjae belum pergi. “Youngjae?” Wonpil berdiri dipantry dapur dengan kerutan didahi. “Sudah waktunya jam makan siang. Apakah kau sudah makan?” Wonpil menggeleng. “Aku akan membuatkanmu bubur dan setidaknya kau harus mentraktirku makan siang sebagai penyambutan aku mau bertemu denganmu lagi, setelah ini kau bisa meminum obatmu.” “Youngjae…” “Jangan panggil aku dengan suara itu, kau terdengar sangat lemah.” Wonpil tidak mampu lagi menahan perasaannya, ia berjalan cepat dan memeluk Youngjae dari belakang dapat ia rasakan tubuh Youngjae yang terkesiap. “Jangan melakukan kontak fisik secara mendadak, itu masih membuatku takut.” “Terima kasih.” Wonpil menaruh dagunya dipundak Youngjae. Ia semakin mengeratkan pelukannya. “Youngjae…” “Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu.” Youngjae mulai terdengar kesal. “Apa kau bisa masak?” Tanya Wonpil. Mendengar pertanyaan Wonpil membuat Youngjae tersadar jika ia tidak terlalu pandai memasak dan tidak mungkin membuatkan ramen untuk mantan kekasihnya yang sedang sakit ini. Sial aku lupa aku bukan Jinyoung yang pandai masak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD