Berbagai warna-warni buku tersusun memenuhi rak-rak yang ada ditoko itu. Buku-buku dengan plastik ketat yang membungkusnya, menandakan semuanya masih baru dan bukan buku bekas.
Banyak pengunjung mengeluarkan buku yang menarik perhatian mereka dari rak, setelah membaca ringkasan dibelakangnya ada beberapa yang langsung menaruh dikeranjang belanjaan dan tidak sedikit pula yang kembali menaruhnya dirak. Seolah-olah ia menilai buku itu tidak menarik hanya dengan membaca ringkasannya.
Jinyoung sibuk tenggelam dalam labirin rak yang berisi kumpulan novel, buku terakhir yang ia beli sudah selesai ia baca 5 hari yang lalu. Karena hari ini adalah hari libur, dari pagi Jinyoung memutuskan menyibukkan diri untuk memburu buku.
Toko buku itu bernama Music with Story, selalu Jinyoung kunjungi jika ada waktu luang. Toko ini sangat unik karena menjual buku dan album musik sekaligus.
Begitu masuk pintu depan, jika menoleh kesebelah kiri dipenuhi oleh rak-rak album dan terdapat dvd player serta headphone untuk pengunjung mendengarkan sekilas album yang menarik perhatian mereka. Sedangkan disebelah kanan dipenuhi rak buku dengan sebuah meja dan bangku sebagai tempat membaca sample buku yang dijual.
5 buku sudah menjadi pilihan Jinyoung tapi ia masih merasa belum puas, ia malas untuk kembali membeli setiap selesai membaca. Jadi Jinyoung memutuskan untuk membeli sekaligus agar tidak membuang-buang waktu.
Jinyoung sedang membaca ringkasan sebuah buku yang berwarna gelap dengan cover yang menggambarkan batu nisan. Ringkasannya cukup menyeramkan dan bisa membuat bulu kuduk merinding, Jinyoung termasuk orang yang menggemari segala hal yang berbau horror. Mulai dari film, buku, sampai sering menonton video dokumentasi yang berhubungan dengan hal-hal ghaib. Terutama milik masyarakat jepang.
*Puk
“Aaahh!” Jinyoung menjerit ketika sedang asyik membaca adegan sebuah tangan pembunuh yang menepuk korbannya dan ternyata ia merasakannya secara nyata.
Jinyoung menoleh mendapati seorang pria yang menatapnya dengan alis terangkat, sepertinya ia terkejut melihat reaksi Jinyoung.
“Jaebum?”
Orang yang dipanggil mengangkat telapak tangan membalas sapaannya.
“Sedang apa kau disini?”
Jaebum menunjukkan cd yang ia bawa, Jinyoung melihat cd dengan cover simple milik musisi Imagine Dragons.
Hm, musik alternative. “Oh, kau membeli cd. Aku sedang melihat-lihat dan membeli buku.”
Jaebum melirik isi keranjang merah yang dibawa Jinyoung, dipenuhi tumpukan buku.
“Kau akan membaca semua itu?”
Jinyoung mengangguk. “Iya, kenapa?”
“Tidak, hanya saja aku baru tahu kau suka membaca buku.”
Mata Jinyoung menunjukkan kerutan karena tersenyum. “Iya, ini hobiku dari dulu. Karena aku tidak punya banyak teman, jadi aku suka menyibukkan diri dengan membaca.”
Jaebum paham. “Lalu selain buku, apalagi yang kau suka?”
Jinyoung memiringkan kepala mencerna maksud dari pertanyaan Jaebum, ia tidak ingin salah paham. “Hm, aku suka melihat pemandangan.” Jinyoung menjawab apa adanya.
Jaebum mengangguk dengan kerutan didahinya. “Lalu bagaimana dengan makanan? Apa yang kau sukai dan tidak kau sukai?”
Baiklah Jinyoung merasa ini mulai tidak wajar, ia baru bertemu kembali dengan Jaebum setelah kejadian beberapa minggu yang lalu dikampusnya. Dan pria itu bukannya menanyakan bagaimana kabarnya, tapi malah menanyakan hal-hal yang disukai dan tidak disukai olehnya.
“Mengapa kau ingin tahu?”
Jaebum mengambil keranjang Jinyoung dan memasukkan cdnya. “Karena setelah ini aku akan mengajakmu makan siang.”
Pria itu lantas melangkah menuju kasir tanpa menanyakan apakah Jinyoung sudah selesai berbelanja atau belum. Jinyoung yang masih belum mengerti situasi hanya diam saja dan mengikuti Jaebum berjalan dibelakangnya.
Saat dikasir Jaebum langsung berhadapan dengan wanita muda yang merupakan anak dari pemilik toko tersebut. Wanita itu sempat melambaikan tangannya pada Jinyoung, mereka saling mengenal karena saking seringnya Jinyoung berbelanja disana.
Jinyoung sibuk menghitung lembaran won didompetnya untuk membayar dengan uang pas agar tidak kurang ataupun lebih. Tapi Jaebum bergerak lebih cepat dengan memberikan sebuah kartu pada wanita itu.
“Aku akan menggantinya dengan cash.” Jinyoung menyampaikan tawarannya karena tidak enak dengan Jaebum.
“Tidak perlu.”
Jaebum menjawab santai dan berjalan keluar toko dengan kantong belanja yang berisi buku-buku Jinyoung dan 1 cdnya.
“Biar aku saja yang membawanya.” Jinyoung hendak mengambil kantong itu tapi Jaebum malah mengoper ketangan sebelahnya.
“Kau ingin makan apa?” Jaebum mengalihkan pembicaraan.
“Aku belum menentukan ingin makan apa siang ini.”
Mereka berdua berjalan bersebelahan ditrotoar jalan, Jaebum sengaja meninggalkan mobilnya didepan toko karena menurutnya berjalan akan lebih memakan waktu dan memiliki kesempatan untuk bersama lebih lama.
“Bagaimana jika kita makan disana?” Jaebum menunjuk sebuah restoran kecil yang memamerkan gambar Ceker Pedas, Jjajangmyeon, Tteokbokki dan menu kaki lima lainnya.
Jinyoung tersenyum senang. “Ide yang bagus!”
Jinyoung menarik tangan Jaebum untuk berdiri dipinggir jalan, mereka harus menyeberang untuk menuju restoran itu. Jinyoung melirik kiri kanan untuk memastikan mereka selamat sampai tujuan, sedangkan Jaebum hanya menatap genggaman Jinyoung pada pergelangan tangannya.
Terasa nyaman. Ia tersenyum tipis.
Seorang wanita paruh baya terlihat antusias menyambut mereka berdua yang baru tiba dipintu masuk. Jinyoung menebaknya sebagai pemilik restoran.
“Silahkan masuk, jangan ragu untuk memesan atau memanggilku jika ada yang diperlukan.”
Mereka membungkuk menyambut sambutan itu, Jaebum memperhatikan bagaimana Ahjumma itu memandang Jinyoung dengan pandangan memuja. Ia kembali menyadari bagaimana manisnya Jinyoung ketika tersenyum.
Jinyoung memilih tempat duduk khusus untuk dua orang yang berada dipojok ruangan, dekat dengan jendela kaca yang memperlihatkan jalan raya.
Karena mereka datang saat jam makan siang, tempat itu sedikit ramai dipenuhi para pekerja kantor dan pelajar muda yang berkumpul. Suara mereka terlalu bising dan membuat Jaebum sedikit risih.
“Kau merasa tidak nyaman?”
Jaebum menoleh. “Apakah terlihat jelas?”
“Apa kita perlu pindah ketempat yang lebih sepi?”
“Tidak perlu, kau sudah merasa nyaman disini. Lagipula sekarang memang jam sibuk untuk makan siang.”
Jaebum tidak menyukai keramaian ditempat sempit seperti direstoran ini, Jinyoung menyadarinya setelah teman kampusnya itu menatap sekitar dengan dahi berkerut dan tangan yang memeluk tubuhnya.
“Apa yang ingin kau pesan?”
“Aku memesan apa yang kau pesan.”
Jinyoung membuka lembaran-lembaran halaman dibuku menu yang ia pegang. “Apa kau bisa makan pedas?” Jaebum terdiam membuat Jinyoung mengambil kesimpulan. “Kau tidak bisa makan pedas.”
“Aku bisa makan pedas dengan skala kepedasan yang normal.”
Jinyoung tertawa. “Skala normal?”
Jaebum mengangguk.
“Lalu skala normal yang kau maksud itu seperti apa?”
Jaebum menunjukkan jari kelingkingnya. “Seperti ini.”
Jinyoung mengencangakan tawanya. “Bagaimana aku bisa mengukur dengan jarimu?!” Jaebum tersenyum melihat Jinyoung yang tertawa.
“Aku suka makanan pedas tapi aku tidak kuat menahan pedas.”
“Ternyata kau ini cukup rumit.”
Jinyoung mengangkat tangannya bersiap untuk memesan, seorang laki-laki muda datang menghampiri dengan note kecil dan pulpen ditangan.
Jaebum mendengarkan seksama setiap nama makanan yang Jinyoung pesan, ia tahu beberapa menu yang disebutkan dan beberapa lagi terdengar asing ditelinganya. Jinyoung juga memesankan mereka masing-masing minuman, Strawberry Yoghurt untuk Jaebum dan Ice Choco untuknya.
Jinyoung dan Jaebum hanya terdiam menatap keluar jendela setelah pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka. Kesibukkan lalu lintas dan orang-orang yang berlalu lalang menarik perhatian mereka.
Jinyoung tiba-tiba menggelengkan kepalanya dan Jaebum melihat hal itu.
“Ada apa?”
“Tidak ada, hanya saja…” Jinyoung terkekeh. “Aku jarang pergi makan bersama orang asing. Jadi aneh rasanya ketika kita berakhir dengan makan bersama.”
Mendengar kalimat Jinyoung yang menyatakan orang asing sedikit mengganggu Jaebum. “Apakah bagimu aku adalah orang asing?”
Jinyoung membuat pola menulis namanya diatas meja makan. “Bukan maksudku begitu.” Jaebum tidak mengerti perumpaan dari kalimatnya. “Kita baru bertemu dua kali dan bahkan pertemuan tadi hanya sekejap lalu kita tiba-tiba makan bersama.”
“Ada yang aneh dengan hal itu?”
Menurut sebagian orang mungkin tidak ada yang aneh, tapi bagi hidup seorang Park Jinyoung yang jumlah temannya tidak sebanyak jumlah jari ditubuhnya. Pergi makan bersama orang yang belum terlalu ia kenal adalah hal baru.
“Rasanya terlalu cepat.”
Obrolan mereka terpotong karena pesanan sudah datang dan Jinyoung membantu sang pelayan menyusun dan mengaturnya diatas meja. Sudah menjadi kebiasaannya.
“Pesanannya sudah lengkap.”
“Baik, terima kasih.” Ucap Jinyoung membalas dengan senyuman.
“Sangat manis.”
“Apa?”
“Sangat manis.” Ulang Jaebum.
Jinyoung mengernyit tidak mengerti.
“Senyummu sangat manis.”
Ekspresi Jinyoung kaku, tidak tahu harus merespon seperti apa. “Si-silahkan dinikmati.” Jinyoung mempersilahkan Jaebum untuk mencoba beberapa menu yang ada diatas meja, ia menanti pria itu untuk duluan mulai menyantap sebelum dirinya.
“Anggap saja kencan.” Kata Jaebum sambil mengambil sebuah Kimchi.
“Maksudmu?”
“Jika kau merasa ini terlalu cepat. Anggap saja aku mengajakmu berkencan.” Jaebum menikmati suapan pertamanya. “Kencan pertama kita.”
Jinyoung sibuk mencerna kalimat Jaebum berpikir apakah di Seoul istilah berkencan sudah umum dikatakan diantara teman, bahkan untuk sesama pria. Ia menikmati hidangan dengan diam, lidahnya tidak mampu mengecap rasa yang ditawarkan berbagai menu masakan itu.
Menjadi hiburan tersendiri untuk Jinyoung melihat Jaebum yang lahap menikmati makanannya, pria itu terlihat tidak canggung sama sekali setelah mengatakan kalimat tadi. Ekspresinya sesekali terkejut ketika memasukan suapan-suapan dari menu yang berbeda, seperti baru saja menemukan rasa baru yang unik dari makanan itu.
Buliran keringat mulai muncul didahi Jaebum, memang benar pria itu menyukai makanan pedas tapi tidak mampu menahan rasa pedasnya. Jinyoung sudah berkali-kali menyodorkan tisu kepadanya untuk menghapus jejak keringat itu tapi tetap saja kembali muncul.
Hampir setengah dari pesenan mereka dihabisi Jaebum seorang diri, Jinyoung dibuat kagum oleh kemampuan perutnya yang mampu menampung semua itu.
“Kau sangat lapar?”
Jaebum mengangguk dengan mulut penuh, ia sibuk menggerakan sumpitnya mengaduk Tteokbokki.
“Apakah tadi pagi kau sarapan?”
Jaebum menggeleng.
Jawaban itu mengejutkan Jinyoung membuatnya menangkis sumpit Jaebum sebelum mengambil sebuah Tteokbokki pedas.
“Kau belum sarapan tapi makan makanan pedas?!”
Jaebum tidak peduli ia kembali mengambil Tteokbokki itu tapi Jinyoung kembali menangkisnya. Jaebum terlihat kesal.
“Jangan makan yang pedas! Ini kau makan ini saja.” Jinyoung mengambil potongan telur dadar dan menaruh dimangkuk nasi Jaebum.
“Tidak mau! Aku ingin makan ini.”
Jinyoung baru tahu jika Jaebum ternyata orang yang keras kepala. Ia tetap mengambil Tteokbokki itu dan melahapnya cepat sebelum Jinyoung menghalanginya lagi.
“Jaebum kau bisa sakit perut!”
“Aku tidak peduli.” Selain keras kepala sepertinya Jaebum juga orang yang tidak bisa dipaksa.
“Kenapa ini enak sekali?” Gumam Jaebum.
“Kau tidak pernah makan Tteokbokki?”
“Pernah. Hanya saja Tteokbokki buatan koki dirumah tidak seenak ini.”
Dari penjelasan Jaebum, Jinyoung teringat satu hal. Jaebum bukanlah orang biasa, ia pasti dari keluarga kaya mengingat teman-temannya yang sangat berkelas dan mengenakan barang-barang mewah. Mengingat itu Jinyoung meniliti apa yang dikenakan Jaebum saat ini, pasti barang mewah semua.
“Lain kali kau harus mengajakku lagi kesini!”
“Mengajakmu?” Sepertinya Jaebum lupa. “Bukankah awalnya kau yang pertama kali menawarkanku untuk makan disini?”
Jaebum baru mengingatnya. “Kalau begitu, kau harus ikut lagi bersamaku kesini.”
“Baiklah, baiklah.”
Jaebum meneguk Strawberry Yoghurtnya sampai habis, berharap minuman itu dapat menghilangkan rasa pedas dilidahnya. Perutnya terisi penuh oleh makanan yang beberapa diantaranya belum pernah ia coba.
“Sudah merasa puas?” Jinyoung baru menyelesaikan suapan terakhirnya dan menghabiskan sisa-sisa makanan dari Jaebum.
Jaebum meregangkan badan dan tersenyum kearah Jinyoung.
Jinyoung mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, situasi direstoran sudah mulai sepi. Jam istirahat makan siang sudah berakhir beberapa menit yang lalu.
“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita muda menggunakan apron hitam berdiri disamping meja mereka.
“Tolong bersihkan ini dan untuk menu dessert bisa disajikan sekarang. Terima kasih.” Jinyoung tersenyum ramah.
Jaebum kagum melihat bagaimana Jinyoung tersenyum saat menyampaikan kalimatnya. Jinyoung juga berbicara dengan sangat sopan dan terdengar sangat menghargai lawan bicaranya.
“Baiklah, ditunggu untuk pesanannya.”
Pelayan itu membersihkan meja mereka lalu bergegas dengan rambut kuncir kudanya untuk memberitahukan bagian dapur mengenai pesanan Jinyoung.
“Kau memesan dessert?”
“Iya, aku dengar disini es krimnya sangat enak.”
“Kau tahu tentang tempat ini?”
Jinyoung mengangguk. “Aku sering membaca blog tentang review restoran enak di Seoul. Karena aku suka mencicipi menu unik untuk aku pelajari.”
Jaebum mengatupkan kedua tangan menatap Jinyoung. “Kau suka memasak?”
“Hm!” Jinyoung suka dengan topik ini. “Iya, aku suka memasak. Awalnya hanyalah kebiasaan karena biasa membantu Eomma. Tapi karena sering mendengarkan pujian tentang masakanku, belakangan ini aku jadi semakin tekun untuk belajar memasak.”
“Jadi kau sering mencuri menu-menu dari restoran?”
Jinyoung mengerucutkan bibirnya mendengar tuduhan itu. “Aku tidak mencuri!” Jaebum terkekeh, Jinyoung merasa seperti seorang kriminal. “Aku hanya mencontoh dan mempraktekan ulang menu itu untuk menjadi koleksi pribadi. Lagipula aku tidak berniat untuk membuka restoran karena hanya sekedar hobi.”
“Lalu berapa banyak restoran yang sudah kau kunjungi?” Jaebum terus membuat Jinyoung bercerita karena ia senang mendengar dan melihat bagaimana pria manis didepannya itu menunjukkan berbagai ekspresi.
Jinyoung mencoba mengingat-ngingat berapa banyak restoran yang pernah ia kunjungi. Karena ia belum terlalu lama tinggal di Seoul jadi belum terlalu banyak restoran yang ia kunjungi. “Mungkin sekitar 8 atau 10 restoran di Seoul, karena kota ini sangat besar dan luas. Jadi masih banyak restoran yang harus aku kunjungi.”
Jaebum mengernyit. “Kau berbicara seolah-olah kau bukan dari Seoul?”
“Aku memang bukan dari Seoul.”
Obrolan mereka terpotong oleh Ahjumma pemilik toko yang datang dengan senyuman sumringah, membawa gelas besar berisi 5 cup es krim dengan varian rasa cokelat, vanilla, green tea, hazelnut dan tiramisu. Diatasnya terdapat toping buah strawberry, semangka dan melon yang segar.
“Silahkan dinikmati!”
“Ini!” Jinyoung memberikan satu sendok kepada Jaebum.
Jaebum memandang es krim itu meniliti, sedangkan Jinyoung memandang es krim itu dengan pandangan berbinar. Mereka menyendokkan es krim dari gelas yang sama dan terkejut dengan rasa yang ditawarkan.
“Wow, ini sangat enak!” Jinyoung memuji dengan wajah yang tidak percaya.
Jaebum tersenyum menyetujui.
Mereka menikmati es krim itu dan melupakan rasa kenyang diperut mereka, seolah-olah mereka belum makan sedari tadi.
“Oh ya, Jaebum.” Panggil Jinyoung. “Karena sedari tadi kau sudah bertanya banyak hal. Aku juga ingin bertanya.”
Jaebum diam menunggu.
“Apa kau orang kaya?”
Jaebum mengeratkan genggaman pada sendoknya, Jinyoung akhirnya bertanya mengenai hal itu.