Lantunan musik mengalun lembut dari langit-langit café yang sedang tidak banyak pengunjung dipagi ini, suara merdu ditemani musik R&B/Soul dari Hatfelt membuat suasana tempat itu semakin hangat seperti kopi hitam buatan mereka yang sedang Jinyoung cicipi.
Lagu itu berjudul Pluhmm buah berbiji keras yang digemari bangsa eropa lebih dari 200 tahun, Jinyoung tidak mengerti mengapa lagu indah yang menggema ditelinganya itu memiliki lirik manis dengan penggambaran buah plum.
Buah Plum yang menjadi menu pilihan dari Soojin, wanita yang sedang duduk didepannya. Berkata pada pelayan jika ia sedang dalam masa diet dan meminta rekomendasi minuman yang cocok, lalu datanglah pada mereka kopi hangat dan jus plum.
“Bagaimana kabarmu?”
Jinyoung membuka percakapan setelah mereka terdiam lama dan pendengarannya tidak lagi mendengar lagu itu yang sudah berganti lagu lainnya.
Soojin mencodongkan badannya diatas meja, matanya menatap intens Jinyoung. Membuat Jinyoung salah tingkah dan mengalihkan pandangan pada dekorasi vintage café itu.
“Aku membencimu.” Jinyoung menaikan kedua alisnya. “Semakin lama aku menatapmu, kau semakin terlihat manis.”
Jinyoung gugup, ia mengambil gelas putih dan menyesap kopinya membuat Soojin tertawa kecil.
“Kabarku baik, bagaimana denganmu? Tidak terasa sudah 2 tahun kita tidak saling berkomunikasi.”
Jinyoung mengiyakan, tidak terasa 2 tahun lamanya Jaebum berpisah dengan sahabat-sahabatnya dan lebih memilih melepas mimpinya untuk ikut mengelilingi dunia karena tertahan oleh Jinyoung.
“Kau tidak ingin bertanya mengapa aku mendatangimu pagi-pagi?”
Jinyoung tentu penasaran, dari awal bertemu hal pertama yang Jinyoung pikirkan adalah untuk apa Soojin mencarinya.
Tangan lentik Soojin mengambil gelas kopi Jinyoung. “Aku ingin mencobanya.” Jinyoung diam saja ketika bibir Soojin menyentuh pinggiran gelas itu, atensinya dapat melihat bagaimana leher Soojin bergerak pelan menelan kopi yang memiliki rasa sedikit pait dengan aroma kayu manis dan manisnya vanilla.
“Rasanya pas.” Soojin meletakkan kembali gelas itu.
Jinyoung tertegun melihat apa yang membekas digelas putihnya, sebuah warna merah yang membentuk bibir tipis Soojin. Ia baru menyadari wanita itu juga menggunakan perwarna bibir yang sama persis.
“Kau tidak penasaran kepada Jaebum belakangan ini?”
Jinyoung mengepalkan tangannya dibalik meja, ia tidak ingin mendengar tentang hal ini dipagi hari. Ini bisa mempengaruhi dan mengganggu fokusnya seharian.
“Aku tidak tahu apa yang membuat Jaebum semakin lembek sekarang, ia bahkan terlihat seperti anak yang tunduk pada Ibunya.”
Satu hal yang membuat Jinyoung selalu iri pada Soojin adalah rasa percaya diri dan bagaimana santainya wanita itu ketika membicarakan hal yang menyinggung. Seperti saat ini, ia duduk bersandar pada kursi dengan tangan yang mendekap didepan d**a. Menaikkan sedikit dagunya dan memperlihatkan jika ia selalu memandang orang lain dengan remeh.
“Kami sedang bersenang-senang kemarin dan menikmati suasana.” Soojin melirik Jinyoung, sedang memeriksa ekspresi lawan bicaranya. “Tapi tiba-tiba ia panik seperti seorang pendosa yang harus menebus dan menyatakan dosanya.”
Jinyoung menunduk, ia sudah membuat kesimpulan. Yang sangat ia kesali adalah harus mendengar semua ini tidak dari Jaebum langsung.
“Kau semakin pendiam sekarang.” Soojin terkekeh. “Atau aku yang terlalu banyak bicara?” Jinyoung tidak ingin menjawab atau ia akan terdengar lemah karena suaranya akan bergetar.
“Jinyoung.” Sekarang Jinyoung membenci suara lembut yang memanggil namanya itu. “Jaebum sudah menceritakan semuanya padaku.”
Tentu saja Jaebum sudah menceritakannya, jika belum tidak mungkin Soojin sampai rela pagi-pagi mencarinya setelah menghabiskan waktu bersama Jaebum.
“Pagi ini dia meneleponku dan marah-marah karena kalian bertengkar.” Terdengar lagi suara tawa kecilnya. “Jinyoungah.” Karena meja yang mereka gunakan tergolong kecil Soojin bisa meraih lengan Jinyoung untuk menggenggam kedua tangannya. “Kau terlihat sangat lucu ketika cemburu.”
Jinyoung mendongak. “Cemburu?” Kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah terdiam dan hanya menjadi pendengar.
“Apa kau sangat marah pada Jaebum?”
“A-aku biasa saja.” Jinyoung mengelak.
“Kau tidak bisa berbohong Jinyoung. Tidak denganku.” Itu memang fakta. “Jika aku diposisimu aku juga akan merasakan hal yang sama. Hanya bedanya aku tidak memiliki hati untuk peduli.” Soojin tertawa sedikit keras.
“Lalu apalagi?” Tanya Jinyoung memutuskan tawa Soojin.
Soojin melepas genggaman tangan mereka dan kembali menyandar, ia sedikit mengibaskan rambutnnya pelan. “Kami hanya bersenang-senang kemarin karena akhirnya dapat berkumpul kembali sampai akhirnya lupa waktu.” Soojin melirik sudut kanan atas nampak mengingat. “Lalu setelah semua mabuk, Jaebum membuat pengakuan yang mengejutkan kami semua. Tentang dirimu!”
Jinyoung menegang dan Soojing menyeringai.
“Karena pengakuan tiba-tiba itu membuat kami akhirnya memutuskan melanjutkan pesta tahap kedua dalam rangka pesta bujang terkahir Jaebum karena dia akan menikah nanti.”
“Menikah?”
“Iya, denganmu.”
Aneh rasanya mendengar Soojin mengatakan hal itu membuat Jinyoung merasa malu-malu seperti seorang wanita.
“Lihat dirimu! Malu-malu seperti itu. Kau terlihat semakin manis! Pantas saja Jaebum memujamu.”
“Sepertinya kau berlebihan.”
Jinyoung meragukannya dan Soojin tidak suka itu. Tidak ada orang yang boleh meragukannya.
“Jinyoung dengar, Jaebum kemarin mungkin memang sempat lupa pada dunianya karena terlalu senang bertemu dengan kami. Tapi setelah ia menyadari apa yang telah dilakukannya, ia menjadi sangat gila dan bahkan memukul-mukul dirinya.”
Jinyoung tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal itu.
“Jaebum bahkan menangis memanggil-manggil namamu hingga membuat keributan dihotel Hanbin.”
“Keributan?”
Soojin mengangguk. “Dia baru menyadari bahwa dirinya telah menyakitimu, karena melanggar semua janji kalian.”
“Apakah Jaebum melakukan banyak kesalahan?”
Soojin berdehem. “Jika tidak ada kabar dan minum-minum adalah sebuah kesalahan untukmu, berarti kau tidak adil! Itu semua sudah lumrah dan sifat alami manusia.”
Jinyoung masih bisa memaafkan hal-hal yang disebutkan Soojin, yang Jinyoung tidak habis pikir adalah Jaebum yang tidak minta izin padanya. Dan karena satu hal lagi.
“Lalu liptsik itu…” Jinyoung tidak bertanya tapi sedang bergumam.
Soojin tertawa kencang membuat Jinyoung tersentak, bagaimana bisa wanita anggun sepertinya memiliki suara tawa yang memenuhi seluruh café. Tanpa sadar Jinyoung menutupi sebelah wajahnya dengan tangan karena merasa malu.
“Yah! jadi selama ini kau memikirkan tentang hal itu?” Soojin mengelap matanya yang sedikit berair. “Aku sampai lupa tentang hal itu. Sial! Harusnya aku bisa lebih mengerjaimu lagi.”
Merasa ditipu, Jinyoung berdecih dan menatap Soojin datar.
“Itu lipstik Sojeong!” Soojin masih sedikit tertawa karena mengingat hal yang terjadi pada mereka. “p*****r sialan itu memuntahkan isi perutnya keatas tubuh Hanbin dan mengelap mulut sialannya dikemeja Jaebum.”
Menjijikan. Ujung bibir Jinyoung berkedut.
“Aku merasa jijik.”
“Bukan kau saja. Aku juga merasa jijik dengannya! Untung saja ia tidak mengotori seincipun tubuhku. Jadi wajahnya masih selamat dari cakaran!”
Inilah Soojin yang sebenarnya, Jinyoung tersenyum akhirnya kembali mengenali wanita didepannya.
“Jadi, apa kau akan menghubungi Jaebum? Karena aku merasa sedikit khawatir padanya, walaupun aku merasa tidak bersalah.”
Jinyoung sudah cukup mendengar penjelasan untuk membuatnya mengerti, sekarang yang perlu ia lakukan adalah berbaikan dengan Jaebum.
“Aku masih perlu waktu.”
Jawaban yang Jinyoung berikan tidak sesuai dugaan Soojin. Jinyoung ternyata tidak semudah yang ia pikirkan.
“Kenapa?”
Pertanyaan yang diajukan Soojin membuat Jinyoung mempertanyakan juga pada dirinya, kenapa ia merasa belum bisa memaafkan Jaebum dan belum mau untuk menghubungi pria itu.
“Aku hanya merasa tidak dihargai olehnya. Ia bisa pergi dan melakukan apapun yang ia mau, tanpa meminta pendapatku.”
Soojin baru menyadari jika Jinyoung adalah orang yang kaku, ia bisa melihat ada sifat mengikat yang terlihat dari ekspresinya.
“Kau terlalu posesif.” Terang Soojin.
Jinyoung benci kata-kata itu, selain cemburu kata posesif menjadi kata berikutnya yang ia benci. Kedua kata itu hanya layak ditujukan kepada Jaebum.
“Ini tidak adil.”
“Lalu apakah Jaebum selalu melakukan hal ini?”
Jinyoung tidak menjawab. Karena yang sebenarnya terjadi adalah, Jinyounglah yang selalu melakukan apa yang menjadi kehendaknya tanpa meminta pendapat Jaebum. Mulai dari menyembunyikan hubungan mereka, bekerja diperusahaannya tanpa meminta persetujuan, dan masih menyembunyikan hal-hal kecil yang Jaebum bahkan tidak merasa keberatan akan tindakannya.
“Mengapa aku merasa jika semua yang kau katakan ini adalah tentang perasaanmu?”
Fakta yang dikatakan Soojin benar-benar membuatnya tertohok. Youngjae juga sering mengatakan hal yang sama, tapi entah mengapa karena Soojin yang baru ia temui lagi langsung mengerti dengan keadaan membuat Jinyoung merasa ditampar.
“Jinyoung, katakan saja jika kau sebenarnya takut kehilangan Jaebum.”
Sudah cukup, Jinyoung berdiri dari duduknya. “Maaf aku harus segera kembali kekantor.” Sebelum Jinyoung beranjak pergi ia mengucapkan terima kasih atas traktiran yang Soojin tawarkan. “Jika kau ingin menghubungiku, minta saja Jaebum untuk memberikan kontakku.” Jinyoung tersenyum hangat dan Soojin tidak membalasnya.
Jaebum duduk gelisah ia tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan Taekwoon yang menjelaskan diagram berwarna merah, kuning, biru dan ungu didepannya. Para pemegang saham sedang berkumpul dan mendadak mengadakan meeting pagi ini, Mark sedang sibuk dengan Jackson dan Jaebum tidak berhenti menyumpah serapahi mereka.
Seharusnya sudah menjadi tugas Mark untuk melayani para pemegang saham dan membuat mereka terkesima karena Mark lebih ramah darinya. Karena yang Jaebum dapatkan hanya kerutan didahi mereka yang seolah-olah tidak puas dengan penjelasan Taekwoon.
Tapi persetan untuknya dengan para pemegang saham, karena masa depannya bukanlah dipegang oleh mereka tapi dipegang oleh Jinyoung. Lelaki manis itu belum saja menghubunginya padahal Jaebum sudah menyuruh Soojin untuk bertemu dengan Jinyoung, ia yakin mereka sudah bertemu karena Soojin sudah mengabarinya jika sahabatnya itu tiba digedung perusahaan pagi tadi.
“Bagaimana? Apakah ada pertanyaan lain yang ingin diajukan?” Taekwoon baru saja selesai menjelaskan pertanyaan kelima yang diajukan dan masih saja menawarkan untuk menjawab pertanyaan lainnya. Sepertinya Jaebum perlu membina Taekwoon untuk tidak tampil sok pintar didepan para pemegang saham.
Fuck! Seorang lelaki tua yang barumur dua kali lipat dari Jaebum mengangkat tangannya, ia mengajukan pertanyaan dan mengulur waktu Jaebum untuk keluar dari ruang rapat.
Tidak terhitung sudah berapa kali Jaebum melirik ponselnya yang tidak menyala menunjukkan notifikasi apapun. Setengah jam yang lalu ia mulai khawatir jika Soojin gagal untuk membujuk Jinyoung.
Jaebum tidak tidur semalaman karena jika ia menutup mata wajah Jinyoung yang menatapnya dengan benci akan selalu muncul, dan itu membuat Jaebum ketakutan lebih takut daripada wajah hantu yang sering ia lihat difilm koleksi Jinyoung.
“Ah…” Tanpa sadar ia mendesah dan memotong penjelasan Taekwoon membuat semua orang menoleh padanya.
Jaebum tersenyum kikuk. “Silahkan dilanjutkan.”
“Baiklah, akan saya lanjutkan. Mengenai investasi perusahaan untuk negara tetangga…” Suara Taekwoon dengan cepat kembali menghilang dari pendengaran Jaebum.
Subuh tadi Jaebum menghubungi Soojin hingga mendapatkan bentakan, sumpah serapah dan ceramah selama setengah jam dari wanita itu. Sebelumnya ia sudah menghubungi Hanbin dan Sojeong tapi mereka tidak dapat dihubungi dan setelah ia pikirkan kembali, memang Soojinlah orang yang tepat untuk membantunya.
Saat Jaebum menyebutkan nama Jinyoung dan kata bertengkar. Soojin tanpa diminta dua kali langsung menuju kamar mandi, memakai make up yang cantik dan memilih baju terbaiknya untuk bertemu lagi dengan pria manisnya itu.
Persahabatan mereka memang terlihat seperti kumpulan orang-orang yang rusak dari luar, tapi didalamnya rasa saling peduli menjadi nomor satu. Selalu bersama sejak Junior High School membuat tali persahabatan mereka tidak bisa dipotong.
Walaupun Jinyoung sempat melarang Jaebum untuk tidak terlalu bergaul dengan mereka dan Jaebum mengiyakan dengan syarat masih tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temannya. Soojin sempat mempertanyakan hal itu tapi Jaebum enggan untuk menjawabnya, mereka akhirnya mengambil kesimpulan jika Jaebum ingin fokus dengan karirnya yang baru sebagai penerus perusahaan.
Sampai akhirnya mereka tahu alasan yang sebenarnya ketika Jaebum mabuk dan mengeluarkan isi hatinya tentang siapa Jinyoung untuknya dan bagaimana posisi pria itu dihatinya. Sebagai sahabat yang baik mereka langsung menunjukkan dukungan pada Jaebum dan memberikan semangat padanya.
Rapat sudah selesai beberapa menit yang lalu. Jaebum sudah duduk diruangannya memperhatikan ponsel yang ada ditanganya, menimbang-nimbang apakah tindakannya akan benar atau salah.
Lelah menunggu membuat Jaebum akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang sudah mengganggu pikirannya selama ini.
Ia memastikan perbedaan waktu yang ada disana agar panggilannya tidak menganggu waktu istirahat. Ia menekan angka tiga pada ponselnya untuk melakukan panggilan cepat. Angka satu nomor Jinyoung, dua untuk Mark dan angka tiga untuk Sunmi.
“Halo?”
Jaebum menarik nafas. “Eomma?”
“Ada apa Jaebum? Apakah ada masalah dikantor?”
Jaebum terdiam.
“Jaebum kau mendengarkan?”
“Eomma aku akan langsung mengatakan intinya saja!” Jaebum tidak ingin memiliki percakapan yang lama dengan Ibunya.
Sunmi terdiam sebentar karena suaminya, ayah Jaebum sedang menatapnya dengan kerutan. “Baiklah, katakan.”
“Kapan aku bisa mendapatkan kepercayaan dan menjadi wajah perusahaan?”