14. She is back

1346 Words
Memiliki masalah yang belum terselesaikan dan mencoba untuk melarikan diri darinya memang pilihan yang salah, Jinyoung baru menyadari itu ketika ia tiba dirumah dan duduk diruang tamu. Seharusnya ia bisa menahan emosi lalu mau mendengarkan dan berbicara dengan Jaebum. Tapi rasa sakit hati, emosi, tidak dihargai dan yang paling menyakitkan adalah rasa cemburu yang kembali lagi Jinyoung rasakan setelah sekian lama tidak pernah merasakannya. Semua tidak akan seperti ini jika Jinyoung tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jaebum muncul dan menunjukkan semua kebusukannya. Seandainya jika ia muncul dengan biasa saja dan meminta maaf lalu menjelaskan jika tidak bisa dihubungi karena belakangan ini ia sibuk dengan pekerjaan atau pulang kerumahnya. Mungkin Jinyoung akan percaya dan mereka akan berakhir dengan ciuman panas untuk melepas rindu. Tapi yang terjadi malah lebih buruk, Jaebum dengan sangat jelas melanggar berbagai larangan yang pernah Jinyoung perintahkan selama tiga tahun mereka bersama. Hilang tanpa kabar, minuman beralkohol, tidak pulang kerumah dan selingkuh. Jinyoung tersenyum remeh menyadari hubungannya yang selama ini ia pikir akan baik-baik saja. Ternyata datang juga permasalahan besar diantara mereka. “Haaahh…” “Eh!” Jinyoung terkejut ketika ia mendesah, Youngjae juga melakukannya bersamaan. Ia baru menyadari keberadaan Youngjae yang duduk disebelahnya dengan posisi yang sama dan menatap layar televisi yang mati. “Ada apa denganmu?” “Ada apa denganku?” Youngjae bergumam. “Kau sendiri ada apa denganmu?” Ia bertanya balik. Jinyoung melirik sekitar untuk memastikan keadaan sepi disekitar ruang tamu, Yoona sedang keluar dan Yugyeom ada didalam kamarnya. “Aku rasa Jaebum selingkuh.” Ujar Jinyoung pelan masih dengan posisi yang sama dengan Youngjae. “Kau yakin?” Jinyoung mengangguk, walaupun mereka tidak saling menatap Youngjae masih bisa melihat pergerakan kepala Jinyoung. “Apakah ini bukan tuduhanmu yang tidak jelas lagi?” Jinyoung sering bercerita pada Youngjae dan menuduh jika Jaebum selingkuh darinya, tapi semua itu ternyata hanya kesalahpahaman dan khayalannya semata. Youngjae sering mengatainya sedang cemburu, tapi Jinyoung menyangkal karena ia bukan orang yang mudah cemburu. “Aku melihatnya sendiri, warna lipstik merah yang ada dikemejanya.” Youngjae menoleh. “kau serius?!” “Bahkan menghilang 2 hari dan tidak pulang kerumah, lalu muncul dengan aroma alkohol masih belum kuat untuk menjadi bukti?” Kata Jinyoung dengan satu tarikan nafas. Youngjae nampak berpikir. “Kau sudah berbicara dengannya?” “Sudah, hanya berbicara sebentar. Untuk mengucapkan selamat tinggal.” “KALIAN BERAKHIR?!” Teriak Youngjae. Jinyoung menatap tajam, takut jika suara teriakan Youngjae bisa didengar. “Belum. Masih belum.” Youngjae masih tidak percaya jika seorang Im Jaebum berani melakukan hal-hal yang diceritakan Jinyoung. Jaebum itu seperti singa sebagai raja hutan dan Jinyoung adalah pawangnya. “Coba berbicaralah baik-baik dengannya, dengarkan penjelasannya. Walaupun kemungkinan buruknya kau akan sakit hati.” Youngjae memiringkan duduknya. “Selama ini Jaebum selalu jujur padamu, aku yakin ini hanya salah satu tuduhanmu karena salah paham.” “Hm.” Jinyoung hanya berdehem mencoba meyakinkan dirinya jika apa yang dikatakan Youngjae benar. “Lalu dirimu…” Jinyoung juga merubah posisi badannya dan kini mereka saling berhadapan. “Ada apa denganmu?” Youngjae menurunkan pandangannya. “Aku berpikir untuk menemui Wonpil.” “APA?!” “Kecilkan suaramu!” Gerutu Youngjae. Jinyoung terkekeh. “Maaf, apa aku berlebihan?” “Aku memikirkannya belakangan ini, rasanya seperti aku sedang melarikan diri dan pura-pura membohongi diriku jika tahu yang sebenarnya terjadi.” Youngjae menarik jari-jari tangan kanan Jinyoung dan memainkannya selagi berbicara. “Wonpil pasti tahu kalau aku sudah mengetahui tentang masalah ini, jika sampai aku tidak menghubuginya berarti aku tidak tahu rasa berterima kasih.” “Tapi apa kau yakin? Setelah kejadian yang menimpamu?” “Dia hanya hampir melakukannya kau tahu itu. Bahkan ia masih bisa menyadarkan dirinya saat itu.” Jinyoung tidak setuju. “Itu setelah kau berhasil mengancamnya!” “Maka jika ia melakukan hal yang sama lagi aku hanya perlu mengancamnya!” Jinyoung menghela nafas. “Semua jalan keluar dari masalah ini hanya perlu untuk dibicarakan dan mendengar penjelasan dari masing-masing pihak.” Jinyoung yang merasa galau kini ikut membalas dan memainkan tangan Youngjae, memutar jarinya, mengelus telapaknya dan mencocokkan genggaman mereka. “Tapi walaupun begitu, dengan mendengarkan penjelasan dari mereka kita dihantui rasa sakit hati.” Balas Youngjae. “Kau benar.” “Mataku ternodai.” Suara Yugyeom membuat mereka menoleh. Mereka memandang pria yang lebih muda tapi memiliki postur badan yang lebih tinggi itu dengan kerutan. “Kalian berdua terlihat menjijikan.” “T-E-R-S-E-R-A-H!” Youngjae meraih tubuh Jinyoung untuk dipeluk, sahabatnya itu juga membalas pelukannya tidak kalah mesra. Yugyeom memandang jijik. “Sepertinya mulai sekarang aku harus bersikap lebih baik. Agar nanti tidak masuk neraka dan bertemu lagi dengan kalian.” “Sialan!” Umpat Jinyoung. “Apa maumu? Cepat tinggalkan kami dan pergi ke planet lain!” “Aku hanya ingin memberikan ini.” Yugyeom menyodorkan amplop berwarna hijau. “Apa itu?” Youngjae mengambilnya dan melihat bagian depan yang menunjukkan logo Ditex Company. Perusahaan Wonpil. “Itu sebuah undangan untuk para wali mahasiswa yang menerima beasiswa, aku ragu untuk memberikannya pada Hyung atau Yoona Ahjumma. Jadi biar kau saja yang memutuskan siapa yang bisa menjadi waliku.” Jinyoung ikut membaca isi dari amplop yang hanya berisi jadwal dan tujuan dari undangan tersebut. “Kau mau datang?” Tanya Jinyoung pada Youngjae. “Sepertinya…” “Kau yakin Hyung?” Youngjae menatap Yugyeom tegas. “Aku yakin!” “MAKAN MALAM!” Suara Yoona dari arah dapur mengejutkan mereka semua. “Aku sudah membeli makanan diluar.” Wanita itu muncul dari dapur. “Ayo kalian semua, cepat makan!” Nayeon terus saja menguap pagi ini, ia berjalan gontai melewati lobi perusahaan. Dua hari ini ia kurang tidur dan tidak bisa mengatur waktu istirahatnya karena terlalu sibuk. “Nayeon!” Ia menoleh seseorang mamanggilnya. “Oh, selamat pagi. Ada apa El?” Elkie menarik Nayeon kesudut bangungan berdiri didekat tembok dan dibalik pilar besar. Nayeon menatap teman kerjanya yang bertugas dibagian informasi itu dengan kerutan. “Jangan katakan kau ingin mengajakku bergosip? Ya ampun El, ini masih pagi!” “Ssshht…” Elkie menyuruhnya diam. “Dengar! Kau lihat wanita yang ada disana?” Mata Nayeon mengikuti telunjuk lentik Elkie yang menunjuk diam-diam. “Iya aku lihat.” Nayeon melihat seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya duduk disofa tunggu yang ada dilobi didepan bagian informasi. “Siapa wanita itu?” “Kau bagian Marketing AD kan?” Nayeon memberengut. “Aku sudah dua tahun berada didivisi itu dan kau masih menanyakannya!” “Berarti kau mengenal Jinyoung?” “Jinyoung?” Ulang Nayeon memastikan nama teman divisinya yang tadi disebut oleh teman gosipnya ini. “Iya?! Wanita yang ada disana sedang mencari Jinyoung!” “Hah!” Elkie mengangguk heboh. “Aku penasaran hubungan mereka! Bukankah Jinyoung itu laki-laki lurus? Tapi dilihat dari wanita yang mencarinya itu ia terlihat seperti bintang porno!” “Yak! Mulutmu itu.” Nayeon ingin menyumpal mulut Elkie yang frontal. Tapi ia setuju dengan pendapat temannya tentang Jinyoung yang laki-laki baik dan lurus tanpa ada celah untuk menjelekkannya. Iapun setuju ketika melihat wanita yang disebut sedang mencari Jinyoung terlihat eksentrik dengan tubuh yang sangat seksi. Nayeon tiba-tiba merasa iri. “Sudahlah aku harus segera melakukan absesnsi.” “Ta-tapi!...” “Bye!” Nayeon berlari mengejar lift yang akan tertutup meninggalkan Elkie dengan semua rasa penasaran wanitu itu, lebih baik Nayeon bergegas untuk memberitahu Jinyoung tentang wanita yang sedang mencarinya. “Jinyoung!” Nayeon memanggil begitu melihat kepala Jinyoung yang sedikit muncul dari bilik mejanya. “Apa? kau ini ribut sekali pagi-pagi!” “Ada yang ingin aku beritahukan padamu!” Nayeon menaruh tasnya asal diatas meja dan mendorongkan kursinya mendekati meja Jinyoung. Jinyoung menelantarkan ketikan dikomputernya karena terganggu oleh Nayeon, matanya secara tidak sengaja kembali mantap warna yang sangat familiar. Lipstik itu memiliki warna yang sama. “Tunggu!” Tahan Jinyoung membuat Nayeon tercekat karena suaranya yang tertahan. “Sebelum kau bercerita ada satu hal yang ingin aku tanyakan.” Nayeon memiringkan kepalanya bingung. “Dimana kau mendapatkan ini?” Jinyoung menunjuk bibir tipisnya. “Maksudmu dimana aku mendapatkan bibirku?” Jinyoung berdecak. “Maksudku lipstik ini!” “Ah, aku mendapatkannya sebagai hadiah dari seseorang.” “Hadiah?” Nayeon mengangguk. “Dia selalu memberikanku lipstik ini karena menyukai warnanya dibibirku, akupun menyukainya dan selama ini pengeluaran kosmetikku menghemat.” “Apakah dia orang kaya?” Jinyoung yakin lipstik itu pasti bukanlah barang murah karena tidak mungkin barang murah akan menempel dibaju Jaebum. Nayeon mengedipkan matanya memikirkan kekayaan orang yang memberikannya lipstik. “Tidak terlalu kaya, tapi tidak terlalu melarat juga.” Jinyoung mengangguk paham. “Ada apa? Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau mulai tertarik untuk menggunakan lipstik?” Nayeon memegang kedua pundak Jinyoung resah. “Jinyoung dengarkan aku, sebaiknya kau tidak menyentuh benda seperti lipstik karena bibirmu sudah memiliki warna indah yang alami.” “Apakah kau lupa untuk membawa otakmu juga?” Nayeon berdehem. “Baiklah lupakan, sampai dimana aku tadi?” Nayeon mengibaskan rambutnya. “Ah iya, ada seorang wanita yang mencarimu!” “Mencariku?” “Iya dia terlihat seperti bintang porn-” Nayeon membekap mulutnya menyadari hampir keceplosan karena perkataan Elkie. “Maksudmu?” Nayeon hendak menyangkal perkataannya dan memperbaiki kalimatnya tapi matanya menangkap siluet seseorang yang berdiri dibelakang Jinyoung. “Jinyoung?” Panggilnya lembut. Badan Jinyoung menegang mendengar suara itu, suara lembut yang pernah ia kagumi saat pertama bertemu. Ia sangat ragu untuk berbalik dan memastikan jika benar orang itu sesuai dugaannya tapi ia juga sangat penasaran. Jinyoung berbalik dan melihat Soojin yang berdiri didepannya. “Jadi benar kau Jinyoung.” Soojin memandangi Jinyoung dari atas kepala sampai ujung sepatunya. “Tidak ada yang berubah dan masih tidak menarik.” Soojin berdecih. “Aku heran apa yang membuat si b******k itu berpaling dariku dan memilihmu!” Jinyoung menelan ludah gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD