13. Red Lip

2420 Words
Kaki jenjang itu berlari disepanjang koridor kampus yang ramai, membuat orang-orang risih karena keributan yang ia buat. “Permisi!” “Maaf!” “Ada yang lewat!” Yugyeom terus menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya, badan besarnya terkadang ia paksakan untuk melewati celah antara orang-orang yang sedang berhadapan. Ia banyak mendengar celaan dan sumpah serapah, tapi terkadang ia juga mendengar pujian dan kalimat kagum dari gadis-gadis yang menjadi pengagum dikampusnya. Mereka senang dapat melihat Yugyeom pagi-pagi dengan wajah berkeringat yang mengkilap. Kecepatan larinya yang diluar batas wajar dengan jalur koridor kampus membuat Yugyeom membelok tajam dilorong yang berada dekat dengan toilet kampus. Sepersekian detik pandangan Yugyeom dapat melihat siluet seseorang yang berada dibalik belokan, namun ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sampai. *Buk “Aw!” Yugyeom menabrak orang asing itu dengan posisi yang tidak elit, badan besarnya menindih badan yang lebih kecil dengan wajah yang terbenam diperut korban tabrakannya. “What the f**k man!” Yugyeom segera mendongakkan kepalanya dan menatap wajah yang dipenuhi kekesalan itu. “Ma-maafkan aku!” Bangkit mendirikan tubuhnya, Yugyeom sedikit menepuk-nepuk kemeja dan celananya berusaha menghilangkan debu yang kasat mata. Ia memperhatikan pria yang masih terduduk dibawah berusaha untuk berdiri dengan memegang kepalanya, sepertinya ia telah membuat pria dengan piercing ditelinga itu terluka. Yugyeom menarik tangan pria itu dan membantunya berdiri, wajahnya terlihat terkejut dan tanpa menunggu aba-aba Yugyeom yang memang sedang merasa bersalah menepuk celana jeans hitam pria itu seperti yang ia lakukan pada dirinya tadi. “YAH! Apa yang kau lakukan?” Pria itu berteriak dengan suara nyaring. Yugyeom memandangnya dari bawah dengan alis yang terangkat, seolah tak peduli ia kembali melakukan kegiatannya menepuk-nepuk celana pria itu yang kini hanya terdiam dengan rasa takut. Tanpa disadari Yugyeom sedang dituduh sebagai seseorang yang c***l. Setelah memastikan celana itu bersih, Yugyeom berdiri tegak berhadapan. “Namaku Yugyeom, aku mahasiswa seni fotografi. Maafkan aku yang menabrakmu karena aku telat untuk menghadiri ujian.” Setelah mengucapkan kalimat itu Yugyeom melihat jam tangannya, jarum jam menunjukkan padanya bahwa ia sudah benar-benar terlambat. Ia menghela nafas pasrah, pria didepannya hanya memperhatikan gerak geriknya. Mata Yugyeom sekilas melihat pecahan kaca yang ada dilantai. “Apakah kau terluka?” Pria yang ditanya hanya menggeleng. Yugyeom yang penasaran dengan pecahan kaca itu akhirnya memunggutnya, ia memperhatikan pecahan itu apakah benda itu miliknya atau bukan. “HOLY s**t!” Yugyeom bergeser mundur mendengar pria itu yang histeris. “Jam DW ku!” Pria itu meraba-raba jam dipergelangan tangannya yang sudah terpecah belah atasnya. Oh-Oh. Masalah baru untuk Yugyeom, ia sadar jam itu bukanlah barang murah. “Lihat apa yang telah kau perbuat pada kekasihku!” Yugyeom mengernyit ketika dirinya disodorkan pergelangan tangan dengan jam pecah itu, ia tidak salah dengar kan pria itu baru saja mengatakan kekasihnya. “Ma-maafkan aku, aku akan mengganitnya.” “Menggantinya?!” Ia berdecih meremehkan. “Jam ini limited edition sudah tidak ada lagi dimanapun!” Yugyeom mendesah. “Baiklah, baiklah. Aku akan menggantinya dengan cash.” Tiba-tiba ia tertawa, Yugyeom menaikkan sebelah alisnya. “Kau yakin?” Pria itu menatap dari atas ke bawah. “Kau hanya mahasiswa biasa, bahkan tidak menggunakan barang bermerk apapun.” Yugyeom mengepalkan tangannya, sudah siap untuk meninju siapapun termasuk pria yang terlihat seperti anak manja dihadapannya ini. “Aku bukannya tidak memakai barang bermerk.” Yugyeom rasa jika tidak dengan fisik maka ia bisa memukul dengan verbal. “Hanya saja aku tidak ingin membeli barang-barang mahal dengan uang hasil dari merengek pada orang tua dan bukan dari jerih payahku sendiri.” 1 : 0. Yugyeom tersenyum sinis, melihat pria itu yang semakin kesal. “Jika seperti itu, aku berharap jerih payahmu itu bisa membayar ganti rugi untuk jamku! Dan jangan sampai kau meminta-minta.” Mendengar balasan itu Yugyeom menatapnya tajam. “Siapa namamu?” Pria itu mengangkat dagunya angkuh. “Bambam!” Yugyeom melangkahkan kakinya maju mendekat, Bambam yang sudah siap siaga berusaha sekuat mungkin untuk tidak takut ia berdiri tanpa bergerak sampai Yugyeom benar-benar merapat padanya. Menundukkan badannya yang sedikit lebih tinggi, Yugyeom berbisik ditelinga Bambam. “Aku akan buat kau termakan omonganmu dan tidak bisa berkomentar apapun.” Kalimatnya ditutup dengan dengusan remeh yang membuat Bambam merinding. “Yak! Menjauh maniak!” Bambam mendorong kasar. Yugyeom menghela pelan, harinya sudah cukup sial karena tidak bisa mengikuti ujian dan harus bersiap-siap dengan ujian susulan dimana ia hanya akan diawasi seorang diri oleh dosen pembimbing. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Bambam memperhatikan Yugyeom yang sibuk dengan benda pipihnya. “Berikan nomor ponselmu?” “Untuk apa?!” “Agar aku bisa mengabarimu tentang ganti ruginya.” “Kabari saja, tidak perlu meminta nomorku!” Yugyeom menggeram, ia sudah berusaha untuk lebih lembut tapi Bambam masih saja tidak santai menanggapinya. “Jangan sampai kesabaranku habis.” Yugyeom menatap tajam. Kenapa dia yang marah? Dengan kesal Bambam mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan barcode akun salah satu aplikasi chattingnya. “Kau pasti menggunakan aplikasi inikan? Kau bisa menghubungiku disini, tidak perlu meminta nomorku.” Yugyeom tidak menanggapi ia membuka aplikasi chatnya dan menmindai barcode Bambam, tak berapa lama akun mereka sudah saling terhubung dan menampilkan foto profil satu sama lain. “Aku mungkin akan menicicilnya.” “Aku tidak peduli!” “Mungkin lbh dari 20 kali cicilan.” “Terserah.” “Dengan 1 kali cicilan sebulan.” “APA!?” Yugyeom merapikan gendongan tas dipunggungnya. “Kalau begitu aku permisi dulu.” Meninggalkan Bambam, Ia berjalan berlawanan arah dari kelasnya. Ia sudah terlambat ujian dan mendapatkan kesialan, jadi masa bodoh untuknya mengikuti jam kuliah lainnya. Bambam yang sudah ditinggal pergi oleh penghancur jam mewahnya menatap kesal kearah Yugyeom. Ia kembali mengecek ponselnya dan melihat foto profil diakun Yugyeom. “Dia terlihat sangat familiar.” Galau digolongkan sebagai adjektiva, artinya kata sifat yang biasanya ikut pada sebuah subjek berupa nomina. Sedangkan, satu-satunya pengertian yang menyangkut kondisi psikologis, adalah keadaan “kacau tidak karuan” yang lebih tepat dirujuk kepada keadaan pikiran. Jinyoung sedang membaca sebuah artikel dilayar komputernya, memastikan apakah benar dirinya sedang merasakan hal yang sedang ia baca. “Aku bukan anak remaja lagi.” Gumamnya mencoba mencari pembenaran. “Ada apa?” Dengan cepat Jinyoung mengganti jendela internet menjadi ketikan laporannya, Nayeon berdiri dibelakang kursinya mencoba membaca apa yang ada dilayar komputer Jinyoung. “Tidak ada.” Jinyoung terkekeh. “Ada apa denganmu? Dari pagi ini kau terlihat aneh.” Jinyoung baru menyadarinya, perasaan galaunya telah membuat ia tidak fokus. “Apakah terlihat sangat aneh?” Nayeon berpikir sesaat. “Tidak terlalu aneh hingga orang lain dapat menyadarinya.” Ia melipat tangannya. “Tapi karena aku sangat mengenalmu, aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu.” Jinyoung terdiam, meninbang-nimbang apakah ia harus bercerita pada Nayeon mengenai hal ini. Tapi ini bukanlah pembahasan Jinyoung yang biasa ia ceritakan karena masalah ini adalah percintaan walaupun Nayeon bukanlah orang asing. Jinyoung lebih sering membagi-bagi cerita yang harus ia ceritakan kepada orang-orang yang berbeda. Dengan Yoona, Jinyoung lebih sering menceritakan tentang masalah pekerjaan dan tentang orang-orang terdekat dengan keluarga mereka. Sedangkan dengan sahabatnya Youngjae, mereka sering bertukar cerita mengenai hubungan-hubungan yang mereka miliki salah satunya hubungan Jinyoung dan Jaebum begitu juga Youngjae dan Wonpil. Dan orang terakhir adalah Jaebum, bersama dengan kekasihnya itu Jinyoung sering menceritakan tentang masalah masa depannya ataupun masa depan mereka berdua. Nayeon masih menatap Jinyoung yang sedang tenggelam dengan lamunannya. “Jadi kau tidak mau menceritakannya?” Jinyoung tersenyum canggung. “Aku hanya bingung untuk menceritakannya mulai darimana.” Nayeon mengangguk paham, ia mengambil posisi duduknya dimeja kerja. “Apakah ini masalah intim?” Intim? Jinyoung merasa geli dengan kata-kata itu. “Maksudku apakah ini masalahmu dengan pasanganmu?” “Apakah terlihat jelas?” Nayeon tertawa kecil, ia mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Jinyoung. “Aku sebenarnya sudah curiga denganmu, sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku.” Jinyoung menelan ludah gugup. “Ma-maksudmu?” “Apakah aku mengetahui siapa wanita yang beruntung ini?” “Wa-wanita?” Nayeon menatap penuh selidik. “Wanita beruntung yang mendapatkan hatimu!” Jinyoung mengalihkan pandangannya sebisa mungkin menghindari tatapan penuh selidik yang Nayeon berikan padanya. “Wanita apa? Tidak ada, aku tidak ada dekat dengan wanita manapun!” Nayeon mengernyit. Seolah mengerti Jinyoung mengkoreksi kalimatnya. “Ma-maksudku, aku sedang tidak dekat dengan siapapun!” “Jinyoung, katakan yang sejujurnya.” Suaranya menekan. “Apa kau memiliki kekasih?” Jinyoung mengangguk membenarkan tanpa ragu. “Apakah ia orang yang baik?” “Benar.” “Kau sedang memiliki masalah dengannya?” Jinyoung mengiyakan. Nayeon terdiam sesaat mencoba menyiapkan diri untuk pertanyaannya yang berikutnya. “Apa aku mengenalnya?” Jinyoung tertegun, ia yakin Nayeon bisa melihat wajah terkejutnya mendengar pertanyaan itu. Nayeon bukanlah wanita bodoh jika Jinyoung berusaha untuk menjawab dengan berbohong, mungkin sudah saatnya untuk sedikit terbuka. “I-iya, kau mengenalnya.” Nayeon bersumpah pada awalnya ia hanya mencoba menebak dan tidak terlalu yakin apakah ia memberikan pertanyaan yang berguna. Namun kini pertanyaannya mendapatkan jawaban yang positif. “Kau serius?” “Aku sedang tidak bercanda.” Jinyoung memperlihatkan tampang seriusnya. “Aku sudah tidak ingin menebak lagi, apakah kau bisa memberitahuku semuanya?” Nayeon mulai terdengar terburu-buru karena rasa ingin tahu. “Maksudku, siapa dia, siapa namanya, bagaimana hubungan kalian dan apa yang terjadi sekarang hingga kalian memiliki masalah.” “Sebelumnya…” Jinyoung menghela nafas mencoba menenangkan dirinya, ia melirik meja rekan kerja disekitarnya memastikan mereka semua sibuk dan tidak akan mendengar percakapannya dengan Nayeon. “Tapi, bolehkah aku lebih dulu menjawab pertanyaan terakhirmu? Mengenai apa yang terjadi hingga kami memiliki masalah?” Tanyanya berbisik. “Tentu saja.” Nayeon ikut berbisik. Jinyoung mendekatkan jarak mereka. “Jadi sebenarnya, ia tidak menghubungiku sejak kemarin.” “Kau dicampakkan?” “Kata-katamu sangat menusuk.” Nayeon terkekeh. “Itu yang langsung terlintas dikepalaku. Jika bukan dicampakkan lalu apa?” “Aku tidak peduli jika dicampakkan.” Jaebum tidak akan berani untuk mencampakkan Jinyoung. “Yang aku khawatirkan jika sekarang dia memiliki masalah.” “Hubungan kalian sudah sangat dalam ya?” “Apakah 3 tahun menurutmu sudah cukup dalam?” “Ti-tiga tahun?” Ulang Nayeon. Jinyoung mengangguk. “Tiga tahun kami bersama!” “Ini sangat menarik! Kau sudah berusaha menghubunginya?” “Sejak kemarin siang.” “Tidak ada jawaban?” Jinyoung mengangguk. “Sama sekali?” Lanjut Nayeon. “Walaupun ditempat kerja biasanya kami saling mengasingkan satu sama lain, tapi begitu jam kerja berakhir pasti dia yang pertama menghubungiku.” Ujar Jinyoung menerawang kebiasaan Jaebum padanya. “Kita satu kantor dengannya?” Mulut Jinyoung mengatup rapat, menyadari apa yang telah ia sampaikan tanpa berpikir. “Berarti aku benar, kita satu kantor.” Tegas Nayeon. “Dan kemungkinan besar aku mengenal orang ini!” “Mu-mungkin kau tidak terlalu mengenalnya.” Dengan wajah datarnya Nayeon mengintimidasi Jinyoung. “Sebaiknya kau ceritakan padaku sebelum aku cari tahu sendiri.” Telunjuknya tepat menunjuk hidung Jinyoung. “Kau tahu aku memiliki teman koneksi gosip terupdate ditempat ini.” Jinyoung tersenyum bodoh. “Mungkin belum saatnya untukmu tahu tentangnya.” Jinyoung gelagapan mengambil acak dokumen yang ada diatas meja. “Sebaiknya kita mulai bekerja sebelum jam makan siang!” “Baiklah, aku hanya perlu tahu siapa orang yang terlihat sibuk belakangan ini.” Nayeon melihat-lihat sekitar seola-olah mencurigai orang-orang disekitarnya. Jinyoung mengerut disela-sela ketikan keyboardnya, ia lupa Nayeon itu orang yang sangat peka. Nyaris saja semua terbongkar tanpa niatan Jinyoung untuk memberitahu yang sebenarnya saat ini juga. Bisa jadi ia akan menjadi bahan gosip Nayeon bersama teman-temannya, walau Jinyoung ragu akan hal itu. Tapi, Nayeon suka berlebihan menanggapi sesuatu. Hari ini Jinyoung lalui dengan mencoba untuk menahan emosinya, kesabarannya benar-benar sangat diuji. Sebelumnya Jaebum tidak pernah menghilang dan tidak ada kabar seperti ini terhitung sudah dua hari, ia pernah tidak mengabari Jinyoung selama seminggu tapi sudah meminta izin terlebih dahulu untuk urusan perjalanan bisnis keluar negeri. Tapi menghilang tanpa jejak seperti ini membuat Jinyoung ingin memotong kedua kaki pria itu, Jinyoung tidak diam saja menunggu kabar tapi ia sudah megusahakan berbagai cara untuk menghubungi Jaebum. Mulai dari pesan yang tak terbalas, telepon yang tak terhubung dan tiga kali menelepon bagian informasi dilantai 9 hanya untuk menanyai kehadirannya. “Ini sudah keterlaluan!” Sore ini Jinyoung memutuskan untuk menuju penthouse Jaebum, tidak peduli jika mungkin Mark dan Jackson ada disana. Ia harus memuaskan rasa penasarannya, semua ini bukan karena rasa khawatirnya pada Jaebum tapi rasa penasaran dan emosi yang sudah meluap. Lagipula untuk apa ia mengkhawatirkan pria dewasa dan kaya seperti Jaebum. Jinyoung tiba dilobi gedung penthouse matanya secara tidak sengaja menangkap siluet seseorang yang ia kenal, ia berjalan mendekati orang itu yang sedang menunggu lift. “Bambam?” Dengan ragu Jinyoung memanggil, ragu jika ia salah orang dan jika ia salah menyebut nama adik dari Jackson itu. Bambam menoleh. “Jinyoung Hyung?” “Kau baru pulang dari kuliah?” “Hm.” Bambam mengangguk. “Hyung kesini untuk masak makan malam lagi?” “Ah tidak, aku kesini untuk mencari Jaebum.” Bambam mengeluarkan ponselnya. “Oh Jaebum Hyung! Aku juga tidak melihatnya dari kemarin.” Ucap Bambam santai lalu masuk kedalam lift yang sudah terbuka disusul Jinyoung. “Kau tidak melihatnya dari kemarin?” Bambam sibuk dengan ponselnya selagi menjawab. “Iya, pagi kemarin aku melihatnya sudah berpakaian rapi aku pikir ia akan berkerja, tapi ternyata tidak pulang semalaman.” Tiba-tiba Bambam mendongak menatap pantulannya didinding lift. Ada apa ini, aura ini terasa menyeramkan? Ia melihat udara sekitar yang rasanya pekat dan susah untuk dihirup oleh hidungnya. Ketika memeriksa jika Jinyoung merasakan hal yang sama, Bambam tersentak mundur melihat bagaimana pria manis itu sedang tersenyum kearahnya dengan mata yang anehnya terlihat gelap dan menyeramkan. Apakah aku salah berbicara? “Lalu apa lagi yang kau tahu tentang Jaebum yang tidak pulang kerumah?” Bambam akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi, ia dengan gelagapan menaruh ponselnya dan terkekeh. “Se-sepertinya Jaebum Hyung sudah pulang pagi ini, tapi aku tidak bertemu dengannya karena harus kuliah.” Tentu saja Bambam berbohong. “Oh, begitu. Tapi ia tidak muncul dikantor.” Lift come on, cepatlah terbuka! Gerutu Bambam dalam hati. Jinyoung dan Bambam berjalan beriringan dengan canggung sampai masuk keadalam penthouse bersama. Yang mereka dapati saat berdiri diruang tamu adalah tempat itu yang sepi dan masih gelap dengan tirai yang tertutup. Tidak ada keberadaan Jakcson dan Mark ataupun keberadaan si pemilik rumah. “Sepertinya mereka belum pulang.” Jinyoung berjalan kearah tirai dan menekan remote yang otomatis membuka tirai besar itu. Diluar sudah mulai gelap. “Eh i-iya Hyung, mereka mungkin sedang pergi keluar.” Bambam menjawab seadanya hanya berusaha untuk menenangkan Jinyoung. Jinyoung berdiri menatap lampu jalanan disepanjang Sungai Han yang sudah menyala, pantulan cahaya terlihat jelas digenangan air yang gelap. Ia sedang berpikir apakah harus menunggu atau segera pulang karena ia sudah merasa lelah untuk hari ini ditempat kerja. “Hyung kau pulang?” Suara Bambam menyadarkan Jinyoung dari kesibukkan didalam kepalanya. “Jinyoung?” Jinyoung menoleh mendengar suara yang ingin ia dengar dua hari belakangan ini, ketika ia berbalik untuk menatap pria yang ia sayang itu. Betapa terkejutnya ia melihat Jaebum yang terlihat sangat berantakan. “Ada apa denganmu?” Jaebum terdiam mengikuti cara pandang Jinyoung yang melihat dirinya dari ujung kaki hingga kemeja dibaluti jas berantakan yang ia kenakan. “Sebaiknya aku keatas untuk mengerjakan tugas.” Bambam bergegas pergi tidak ingin berada disituasi pertengkaran untuk kedua kalinya hari ini. “Sayang, aku bisa jelaskan.” Jaebum berusaha menelan ludahnya yang terasa sakit ditenggorokan. Jinyoung hanya terdiam tidak menunjukkan ekspresi apapun, matanya lekat memandang satu titik diujung kerah kemeja Jaebum yang dekat dengan lehernya. Sebuah tanda merah yang mulai memudar dan Jinyoung tahu darimana asalnya warna itu. Nayeon sering menggunakan benda itu setiap kekantor dan meeting besar untuk menarik perhatian. “Apakah kau sudah menungguku lama?” Jaebum menghampiri Jinyoung. “Tetap disana!” Jaebum berhenti, ia menatap bingung. “Aku tidak suka mencium bau alkohol!” Jaebum baru menyadari tubuhnya memiliki bau alkohol yang sangat kuat, seharian dengan minuman yang memabukkan itu membuatnya jadi terbiasa dengan baunya. “Jinyoung beri aku waktu, aku akan membersihkan diri dan kita akan membicarakannya!” Jaebum tergesa-gesa melepas jasnya dan memperlihatkan kemejanya yang ternyata hampir dipenuhi noda merah dari lipstik. “Kau belum makan malam kan? Ayo kita memesan makan malam bersama!” “Jaebum…” Tidak, Jaebum sangat membenci nada suara Jinyoung yang memanggilnya pelan dan tanpa semangat. Ia lebih senang jika Jinyoung meneriakinya dan memarahinya jika ia melakukan kesalahan. “Kau bilang aku harus memberimu waktu?” Jaebum tidak ingin menjawab. “Maka kau juga harus memberiku waktu!” Jinyoung berjalan melewati tubuh Jaebum tapi pria itu berhasil menahan pergelangan tangannya. Jinyoung menoleh dan memberikan tatapan benci, dengan sekuat tenaga Jinyoung menghempaskan genggaman pria itu. Jinyoung memutar matanya memandang remeh dan pergi dari penthouse dengan bantingan pintu yang sangat keras. Jaebum terlalu bodoh untuk bertindak, ia sangat bisa menahan Jinyoung dengan cara memaksanya atau meneriaki Jinyoung untuk tidak pergi. Tapi ia lebih memilih diam dan tidak melakukan salah satu dari dua hal yang sempat melintas diotaknya. Yang Jaebum bisa harapkan saat ini adalah agar Jinyoung tidak menangis, karena jika Jinyoung menangis maka itu bisa membuat janji yang pernah ia buat batal dan terlanggar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD