12. Skeptic

2170 Words
Suara gemericik air terdengar dari wastafel yang ada ditoilet pria, Jinyoung sedang duduk bersembunyi disalah satu bilik toilet yang ada dikantornya. Sudah setengah jam sejak ia tiba dikantor dan menyembunyikan diri didalam toilet. Jinyoung dihantui hilangnya rasa percaya diri karena salah satu atasan tertingginya mulai sekarang akan memberikan perhatian lebih padanya. Setelah saling mengenal dengan Mark, bukannya merasa lebih baik. Jinyoung merasa dirinya semakin canggung dengan kakak dari kekasihnya itu, sepertinya jika ia bertemu lagi dengan Mark akan banyak pembahasan yang bisa menjadi bahan obrolan mereka. Jinyoung menekan tombol flush toilet membuat benda itu bekerja seolah-olah ia sedang menggunakannya, wajah lesunya ia basuh diwastafel dan memperhatikan setiap lekukan manis wajahnya dicermin. “Semangat!” Jinyoung mengepalkan tangan  melihat pantulannya dicermin. Menyemangati dirinya untuk melewati hari ini. Pantat Jinyoung baru saja akan menyentuh kursi kerjanya ketika suara Changmin menginterupsi. “Kemana saja kau Jinyoung? Lantai 9 mencarimu!” “Lantai 9?” Changmin menaruh beberapa lembar dokumen dimeja Jinyoung. “Iya lantai 9, mereka menyuruhku untuk memberitahumu.” Ada apa lagi ini? “Oh ya, setelah kau kembali nanti. Tolong kerjakan dokumen ini, aku butuh kau merubahnya menjadi bahasa inggris.” Pikiran Jinyoung melayang kelantai 9, tidak memperhatikan perintah Changmin. “Apakah mereka memberitahumu alasan mengapa aku dipanggil?” Jinyoung tidak ingin menduga-duga dan membuatnya memikirkan hal-hal yang negatif. Changmin memicingkan matanya. “Apa kau ingin aku dipecat karena menanyakan alasan dari perintah bos?” Changmin benar, sebagai pegawai yang baik perintah atasan itu untuk dilakukan bukan untuk dipertanyakan. “Ada apa?” Nayeon yang baru tiba dengan setumpuk laporan ditangannya memandang curiga Changmin dan Jinyoung, apakah mereka sedang berdebat pagi-pagi. “Baiklah aku harus kembali keruang kerjaku.” Changmin pergi begitu saja membuat Nayeon semakin menatap curiga kepergiannya, tidak  mengetahui jika atasannya itu sedang ketakutan. “Kau diapakan lagi Jinyoung?” Jinyoung tidak menjawab berdiri memandang komputernya yang mati. Nayeon melirik dokumen yang ada dimeja Jinyoung. “Apakah kau melakukan kesalahan lagi?” “Maaf, aku harus kelantai 9!” Jinyoung pergi tanpa menjawab, membuat Nayeon semakin bertambah curiga. Lantai 9?. Nayeon menggedikan bahu acuh, tidak ingin untuk dua biang kerok itu memenuhi pikirannya pagi-pagi. Didalam lift Jinyoung berniat untuk menghubungi Jaebum dan menanyakan kenapa ia memanggilnya dengan cara menyuruh Changmin. Tapi niatnya diurungkan karena jika memang ia dipanggil melalui Changmin, berarti ini berhubungan dengan pekerjaannya. Begitu sampai dilantai 9 seperti biasa Jinyoung melewati 2 pekerja wanita yang bertugas sebagai bagian informasi dan berbelok kekanan kelorong dimana ruang kerja Jaebum berada. Taekwoon yang dari kejauhan sudah melihat kedatangan Jinyoung mengkerutkan alisnya. “Ada yang bisa saya bantu?” “Aku datang untuk memenuhi panggilan,” Dengan percaya diri Jinyoung menyampaikan maksud kedatangannya. Kedua alis Taekwoon beratutan, berpikir apakah ia melupakan bahwa memang sempat memanggil Jinyoung. “Aku rasa, aku tidak memanggilmu?” Jinyoung mengernyit. “Bukankah Jae- maksudku CEO memanggilku?” “Tidak ada. Aku tidak ditugaskan untuk memanggil siapapun.” Jinyoung merasa aneh, mungkinkah Changmin sedang mengerjainya. “Lagipula beliau sedang tidak ada ditempat.” “Beliau tidak ada ditempat?” Taekwoon mengangguk, pagi ini Jaebum tidak ada muncul dikantor dan hanya mengirimkan Taekwoon sebuah pesan. “Apakah kau tahu beliau kemana?” Pertanyaan Jinyoung membuat Taekwoon ragu untuk memberikan jawaban, untuk apa seorang pegawai biasa menanyakan hal pribadi mengenai atasan tertingginya. “Beliau hanya mengatakan ada masalah pribadi.” Masalah pribadi? “Sebelumnya maaf, apa kau memiliki kepentingan dengan beliau?” Jinyoung menjadi gerogi, ia terkekeh berusaha menyembunyikannya. “Tidak ada, aku hanya penasaran saja.” Taekwoon menyipitkan matanya yang sipit menatap Jinyoung. “Sepertinya ada kekeliruan, kalau begitu aku permisi.” Jinyoung pergi dari meja Taekwoon, meninggalkan berbagai pertanyaan aneh yang muncul dikepala pria itu mengenai pertanyaannya. Jika bukan Jaebum yang memanggilnya lalu siapa yang mencarinya, Jinyoung juga baru menyadari Changmin mengatakan lantai 9 tidak menyebutkan secara langsung bahwa Taekwoonlah yang mencarinya. Sebelum memencet tombol lift Jinyoung menoleh kebelakangnya melihat dua wanita yang bekerja dibalik meja informasi, ia sedikit ragu untuk bertanya pada mereka. Tapi jika tidak bertanya maka masalah tidak akan selesai. “Pe-permisi.” Sial, Jinyoung tiba-tiba gugup. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Salah satu dari mereka berdiri dan memberikan Jinyoung senyuman manis yang ramah. “Maaf sebelumnya, saya dari bagian Marketing AD. Kalau tidak salah saya dipanggil kesini.” Wanita berambut panjang kecoklatan itu semakin melebarkan senyumnya, hingga mata sipitnya tertutup. “Ah, benar. Bagian marketing divisi Changmin?” Jinyoung mengangguk. “Mari ikut dengan saya.” Wow! ternyata benar. Jinyoung berjalan dibelakang, memperhatikan bagaimana kaki jenjang wanita didepannya berjalan dengan ketukan heels berwarna merah. “Silahkan, disebelah sini.” Jinyoung menatap pintu yang ditunjuk oleh wanita yang membantunya, pintu itu persis seperti pintu ruang kerja Jaebum. “Silahkan masuk, beliau sudah menunggu anda. Saya permisi dulu.” Jinyoung hendak bertanya ruangan siapa yang ada didepannya, tapi wanita itu sudah pergi begitu saja. Jinyoung sangat jarang kelantai 9 jika tidak keruangan Jaebum, karena kekasihnya itu yang memegang divisinya. *Tok tok tok “Masuk.” Jinyoung terkejut, sebuah suara keluar dari intercom yang berada diatas meja didekat pintu. Meja itu sepertinya milik seorang sekretaris terlihat sama dengan milik Taekwoon. Jinyoung membuka pintu, matanya melihat ruangan yang hampir sama persis seperti milik Jaebum. Hanya saja dekorasinya lebih modern dan vintage, sedangkan milik Jaebum cenderung klasik. “Lama sekali kau datang!” Sebuah suara membuat Jinyoung berpaling dari meja kerja kosong kearah sofa yang ada dibelakangnya. “Mark.” Gumam Jinyoung pelan. “Kau terkejut?” Jinyoung tidak menjawab. Mark menggeser tubuhnya diatas sofa besar yang bisa ditempati 3 orang. “Kemarilah.” Jinyoung rasa Mark terlalu frontal padanya, tidak ada kesan antara atasan dan bawahan dari perkataannya. Harusnya Mark mengatakan silahkan duduk. “Apa yang kau pikirkan?” Mark menunggu. Jinyoung curiga mengapa Mark memintanya untuk duduk disebelahnya, sedangkan terlihat jelas masih ada sofa lainnya yang kosong. Tapi karena Mark memang atasannya Jinyoung tidak ingin membantah. “Aku tahu kau sedang curiga padaku!” Ucap Mark, duduk miring menghadapkan tubuhnya pada Jinyoung. “Bukan maskudku begitu.” Jinyoung duduk sedikit formal berusaha tidak menggubris Mark yang menatapnya lekat. “Kau cantik.” Ya tuhan, tolong aku. “Te-terima kasih.” “Jaebum sialan, harusnya aku bisa lebih dulu untuk bertemu denganmu!” Jinyoung menoleh dengan kerutan. “Dengan begitu kita bisa menjadi sepasang kekasih dan saling mencintai.” Sinting! Jinyoung hanya bisa tertawa hambar mendengar candaan Mark yang tidak lucu. “Aku sedang tidak bercanda!” Lanjut Mark serius. Berarti kau gila! Jinyoung tidak ingin menjawab. “Well, aku menyuruhmu kemari karena kau memiliki tugas untuk dikerjakan!” “Tu-tugas?” Tanya Jinyoung memastikan. Mark beranjak menghampiri meja kerjanya, ia membuka laci dan mengambil sebuah kotak didalamnya. Kotak berwarna putih dengan tutup berwarna merah muda. Mark kembali pada posisi awalnya, membuka kotak itu dan menawarkannya pada Jinyoung yang memandang dengan tatapan menilai. “Cobalah!” Mark semakin menyodorkan kotak yang berisi berbagai macam bentuk coklat didalamnya. Bentuk bulat, kotak, segitiga, hati bahkan ada yang berbentuk bunga. “Tidak terima-” “Tidak menerima penolakan!” Mark menekan. Jinyung mengambil salah satu coklat yang berbentuk bulat, menghindari bentuk hati yang bisa membuat suasana canggung. Ia meneliti coklat ditangannya karena tiba-tiba pikirannya dipenuhi hal negatif. “Aku tidak menaruh racun! Tenang saja.” Jinyoung tersenyum canggung, Mark bisa menebak pikirannya. “Jadi sekarang tugasmu adalah menceritakan semua hal mengenaimu dan Jaebum.” “Semua hal?” Mark mengangguk dengan semangat. “Yups, semua hal! Dari awal kalian bertemu, bagaimana bisa berpacaran dan bagaimana Jaebum saat berada diatas ranjang!” Jinyoung tidak tahan dengan Mark yang terlalu frontal. “Aku ingin tahu, bagaimana adikku itu saat melakukan seks.” Ucap Mark polos. Jinyoung tidak yakin bisa memiliki pembicaraan seperti ini bersama Mark. Walaupun Mark adalah kakak Jaebum dan mungkin akan menjadi kakak iparnya, Jinyoung berharap demikian. Tapi kenyataannya sangat sulit untuk Jinyoung karena rasanya aneh membicarakan hal yang sangat intim seperti ini pagi-pagi, ditempat kerja dan dengan atasan tertingginya. “Tenang saja.” Mark menggerakan tangan didepan bibir, memberikan kode akan mengunci mulutnya. “Rahasia kalian akan terjaga.” “Hm, ba-baiklah.” Jinyoung mulai menceritakan dengan perasaaan ragu pada Mark dari awal mereka bertemu, waktu yang mereka lalui salama masa-masa pendekatan atau lebih tepatnya Jaebum yang mendekatinya. Mark mendengarkan dengan seksama, matanya menatap lekat mata Jinyoung yang sedari tadi sibuk mengalihkan pandangan kepenjuru ruangan kerja Mark. “Lalu, lalu?!” Jinyoung juga menceritakan bagaimana awalnya hingga ia bisa bekerja diperusahaan yang sama, untuk meluruskan kesalah pahaman yang sempat Mark tuduhkan kemarin. Menyatakan memang benar jika Jinyoung mampu diterima diperusahaan ini tanpa bantuan Jaebum, lagipula Jaebum sama sekali tidak mengetahui jika Jinyoung berencana untuk bekerja sebagai bawahannya. Jaebum sangat terkejut ketika melihat Jinyoung berada dibarisan pegawai baru saat ia akan melakukan pembekalan, mereka berdua lalu mengalami pertengkaran hebat saat itu. “Siapa saja yang sudah mengetahui hubungan kalian?” “Tidak ada yang mengetahui hubungan kami.” Jinyoung sedikit berbohong menyembunyikan fakta jika hanya Youngjae seorang yang mengetahui hubungan mereka, anggap saja itu sebuah pengecualian. Untuk sesaat pandangan Mark teralihkan kearah jendela kaca raksasa yang menampilkan gedung diseberang sana, keheningan menyertai mereka sampai Mark kembali menatap Jinyoung. “Kenapa kalian menyembunyikannya?” Manik Jinyoung bergulir kesudut kanan atas matanya, nampak sedang berpikir untuk menjawab. Merangkai kata-kata yang pas agar tidak salah bicara. “Aku tidak ingin hubungan kami berubah menjadi sebuah masalah besar.” Mark mengernyit tidak mengerti. “Hubungan kami bisa menjadi sebuah bumerang, karena pasti banyak orang yang memberikan pandangan negatif. Terutama pada Jaebum.” Lanjut Jinyoung menjatuhkan pandangannya. “Bukankah itu sedikit menyiksa?” Terdengar helaan nafas Mark. “Aku pernah berada diposisi kalian ketika harus dengan terpaksa menyembunyikan hubungan yang mati-matian kalian ingin dunia mengetahuinya.” Jinyoung terkejut mendengar ungkapan Mark, ia berbalik memberikan pandangan yang sama seperti Mark berikan saat ia bercerita tadi. “Aku dan Jackson awalnya hanya partner kerja, aku yang sedang membuat iklan dan dia yang menjadi modelnya.” Mark menerawang kenangan lamanya. “Kami berdua tidak tahu bagaimana awalnya hingga kami berakhir terjebak bersama dikamar hotel dan memutuskan untuk terikat satu sama lain.” Mark terkekeh. Jinyoung mulai sedikit merasa akrab dengan Mark dan pria didepannya itu membuat dirinya merasa seperti seorang teman lama yang sedang reuni. “Kami awalnya menyembunyikan hubungan ini, tapi karena aku yang terlalu egois akhirnya melakukan pengakuan kepada media dan tidak memikirkan perasaan Jackson.” Mark menunduk. “Saat itulah pertengkaran terbesar kami hingga akhirnya sempat berpisah.” Jinyoung kembali dibuat terkejut, ia tidak percaya Mark dan Jackson sempat berpisah. Apalagi setelah melihat Jackson dengan sifatnya yang sedikit diluar batas normal. Mark melanjutkan ceritanya. “Aku menyadari tindakan gegabahku itu berakibat fatal pada karirnya hingga ia hampir melakukan percobaan bunuh diri karena stress berat dan bangkrut.” Mark mengusap bagian bawah matanya, Jinyoung sempat melihat setetes air mata disana. “Banyak fansnya yang berubah menjadi anti fans begitu mengetahui orientasi seksual Jackson. Aku yang ikut merasa tertekan akhirnya melupakan emosi karena kami berpisah dan mencari Jackson, lalu aku dengan sedikit paksaan memaksa Jackson untuk kembali padaku.” Mark menghela nafas. “Akhirnya kami bisa kembali bersama walau butuh perjuangan, Jackson perlahan-lahan sudah mulai merintis karirnya lagi dari awal. Aku senang bisa membantunya dan bahagia hubungan kami tetap terjaga dan semakin kuat. Tapi…” Jinyoung dengan antisipasi penuh menunggu kalimat Mark selanjutnya. “Tapi sialnya dia terlalu dibutakan cinta dan tidak bisa membiarkan aku bernafas untuk sebentar saja!” Jinyoung tersentak ketika Mark menggenggam kedua tangannya erat dan memandang penuh harap. “Jadi Jinyoung! Bisakah kau membantuku untuk menjauhkan Jackson?!” Apa-apaan dia. Seperti dihantam bus pariwisata yang membawa mahasiswa bertamasya, Jinyoung tersadar Mark yang lembut tadi adalah Mark yang sama yang menjadi saudara Jaebum. Adik dan kakak yang sinting. Karena tidak ada jawaban dari mulut Jinyoung, Mark melempar tubuhnya dan memeluk erat Jinyoung. Ia bahkan tidak canggung menaruh dagunya diperpotongan leher Jinyoung. Tindakan Mark membuat Jinyoung merasa geli dan semakin kesulitan untuk mencari jawaban. Tuhan, mengapa kau tidak menyelamatkanku? *Duk “Ma-mark?” Menyadari kehadiran seseorang didalam ruangan Mark, Jinyoung lantas melepas paksa pelukan erat Mark dan segera berdiri menoleh kearah pintu. Jackson sudah berdiri diambang pintu dengan tatapan terbelalak tidak percaya. “Ka-kalian-” Mark masih terdiam duduk tampak tak ada minat menanggapi Jackson, Jinyoung yang melihat Mark bersikap acuh menatap kesal karena tidak ada pilihan lain selain ia mencoba menjelaskan. “Ja-jackson, ini tidak seperti yang kau pikir-” “TUTUP MULUTMU! Aku tidak berbicara denganmu.” Jinyoung terkesiap mendengar bentakan Jackson. Terdengar helaan nafas kasar Jackson. “Aku memang tidak salah lihat…” Jackson menatap Mark terluka dan pria yang ditatap hanya memberi tatapan datar. “Semua sudah cukup jelas!” Jinyoung ingin sekali mengeluarkan suaranya dan memberitahu Jackson jika ia telah salah sangka, tapi ia terlalu takut jika itu hanya akan menambah Jackson semakin emosi. “Aku tidak menduga kalian berdua!” Mark memutar mata malas. “TELAH BERPELUKAN TANPA MENGAJAKKU!” Teriak Jackson. Jinyoung berdiri membatu dengan wajah yang datar, sangat-sangat datar. Akal sehatnya sudah pergi entah kemana, sejak tadi ia tidak bisa berpikiran jernih dan mengingatkan dirinya bahwa orang-orang yang sedang ia hadapi adalah pasien rumah sakit jiwa. Lalu apa yang aku takutkan sejak tadi? Merasa dongkol, Jinyoung baru menyadari semua perkataan jujur Mark tadi. Jika Jackson memanglah sudah dibutakan oleh cinta. Sibuk berusaha menyadarkan dirinya, Jinyoung diam saja ketika Jackson menarik tubuhnya untuk duduk kembali dan kini terjebak ditengah-tengah pelukan antara Jackson dan Mark. Mereka bertiga sudah terlihat seperti teletubies. Jika tuhan tidak bisa membantuku, mungkin malaikat pencabut nyawa akan berguna! Jinyoung berjalan sempoyongan menuju meja kerjanya, ia menghantamkan kepalanya tiga kali kemeja itu. Saat ini sedang jam makan siang dan ruangan sedang kosong, bahkan kursi Nayeon juga kosong menandakan temannya itu pergi menikmati makan siang tanpa menunggunya. Sebelum pergi tadi Mark sudah menawari Jinyoung untuk mengajaknya makan siang bersama karena Jackson sudah membawakan makanan. Tapi tawaran itu segera ditolak Jinyoung sambil memandang Jackson yang sibuk menyuapi Mark seperti seorang nenek dengan cucunya. Mengingat ia telah menyia-nyiakan paginya ditempat kerja untuk hal yang sama sekali tidak berguna Jinyoung kembali menghantamkan dahinya. Sebuah pemikiran terlintas dikepalanya, apakah Jaebum akan mengijinkannya untuk mengakhiri hubungan mereka karena alasan masalah kelainan pada keluarganya. Jinyoung benar-benar tidak sanggup. Jinyoung menegakkan badan memikirkan Jaebum, pria itu tidak datang kekantor, Taekwoon mengatakan ia pergi mengurusi masalah pribadi dan bahkan bukan masalah pekerjaan. Jika memang ada masalah pribadi Jaebum pasti membicarakannya dengan Jinyoung, baik itu masalah keluarga atau masalah pekerjaan sekalipun. Jinyoung mengeluarkan ponselnya dan tidak menemukan pesan apapun dari Jaebum. Tanpa pikir panjang Jinyoung menekan kontak Jaebum dan melakukan panggilan keluar. Jinyoung menunggu hingga teleponnya diangkat, biasanya Jaebum akan sigap menanggapi telepon darinya. Tapi sekarang, Jinyoung bahkan sampai sempat meghitung nada sambung saking lamanya. Hingga nada sambung yang ke10 panggilan itu mati. Jinyoung benar-benar terkejut Jaebum menolak panggilannya. Memang bukan hal baru ketika Jaebum mematikan panggilannya, tapi biasanya itu jika berhubungan dengan pekerjaan. Ketika Jaebum sedang makan malam bersama keluarganya ia tetap mengangkat telepon Jinyoung. Apakah aku boleh emosi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD