11. Trapped

1928 Words
Jinyoung mendorong troli belanjanya pelan ketika melewati bagian sayuran, melihat-lihat berbagai jenis sayuran untuk menu masakan yang akan ia buat malam ini. Sore tadi Jaebum mengiriminya pesan sebelum jam kantor berakhir, ia menyuruh Jinyoung untuk masak makan malam dan mengingat bahan masakan sudah hampir habis saat membujuk Youngjae kemarin. Jinyoung memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu. “Jinyoungah sebelah sini!” Jinyoung menoleh melihat lambaian Nayeon kearahnya, Jinyoung sengaja mengajak Nayeon pergi bersama kebetulan wanita berambut panjang itu juga ada keperluan yang perlu dibeli. Nayeon menemukan tempat Jamur yang dijual dengan stok terbatas, Jinyoung melihatnya diinternet kemarin karena banyaknya para mukbangers menjadikannya menu makanan belakangan ini membuat Jinyoung ingin mencobanya. Harganya cukup mahal tapi layak karena Jamur itu hanya akan tumbuh pada musim-musim tertentu, lagipula ia membelinya untuk Jaebum jadi pria itu yang harus mengganti uangnya nanti. “Apakah sudah lengkap?” Jinyoung mengecek belanjaan ditrolinya. “Sepertinya sudah lengkap!” Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan masing-masing. “Kau akan pulang menggunakan taksi?” “Iya aku akan menggunakan taksi, terlalu malas untuk menunggu bus dan juga ini terlalu berat.” Jinyoung menunjukkan dua kantong belanjaannya. Jinyoung dan Nayeon berdiri disisi jalan, Jinyoung sedang berusaha mencari taksi yang lewat. “Baiklah kalau begitu aku pulang dulu.” Sebenarnya Nayeon ingin menemani Jinyoung sampai taksinya tiba, tapi waktu sudah semakin malam. “Hati-hati!” Jinyoung melambai. Nayeon berjalan santai menuju flatnya yang berjarak beberapa blok dari pusat perbelanjaan, masih berada satu daerah dengan gedung kantornya. Ia memilih tempat itu agar memudahkan akses untuk bekerja dan tidak memerlukan waktu untuk menuju kantor. Nayeon melewati gang kecil yang diterangi lampu jalanan yang redup, tempat itu memang sedikit menyeramkan jika dilewati oleh perempuan seorang diri. Tapi lingkungannya masih cukup aman dan tetangga yang tinggal disekitar sana sangat ramah. Nayeon memasuki gedung berwarna merah yang bertingkat 3 lantai, menaiki tangga menuju lantai dua dimana flatnya berada. Bangunan itu sangat minimalis dan privasi sangat terjaga karena tidak terdapat banyak flat. Setelah terdengar suara kode masuk ditekan Nayeon membuka pintu putih itu dan disambut oleh pelukan hangat. “Kau sudah menunggu lama?” Pria yang mendekapnya tidak menjawab melainkan mengecup kening Nayeon lembut, sangat lembut. “Merindukanku?” Tanya Nayeon dengan tawa kecil. “Sangat merindukanmu!” Ujarnya lalu menarik lengan Nayeon masuk kedalam flat. “Kau sudah makan malam?” Yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan. “Kau pulang bersama siapa?” “Aku pulang bersama Jinyoung, kami sempat pergi berbelanja tadi.” Nayeon mengeluarkan belanjaannya dari kantong plastik. “Bagaimana kabar anak itu? Apakah dia masih tertekan dengan kejadian tadi pagi?” Nayeon mendesah, membalikkan badan menghadap kekasihnya yang sedari tadi berdiri dibelakangnya. “Seharusnya kau tidak perlu terlalu keras padanya waktu itu! Aku bahkan bisa merasakan bagaimana malunya dia tadi saat dikritik didepan umum seperti itu.” “Aku hanya bersikap profesional! Lalu, aku harus bagaimana? Membiarkannya begitu saja? Walaupun dia pegawai teladan dia itu harus menjadi contoh yang baik untuk yang lainnya!” Nayeon berbalik melanjutkan kegiatannya tidak ingin menjawab, karena menurutnya benar juga apa yang dibilang pria jangkung dibelakangnya itu. Sebuah tangan melingkar diperutnya, punggungnya merasakan dorongan lembut dan tengkuknya terasa berat oleh wajah yang menopang diasana. “Maafkan aku, lain kali aku tidak akan keras lagi.” Bibirnya tertarik tersenyum simpul setelah mendengar janji itu. Jinyoung menikmati jalanan kota yang diterangi lampu jalanan, telinganya menikmati alunan lagu yang menggema dari earphonenya. Beberapa kali taksinya harus berhenti karena lampu petunjuk jalan yang berwarna merah, Jinyoung menerawang melihat orang-orang yang menyeberang jalan. Terlihat jelas wajah melelahkan mereka, bekerja untuk mencari uang memang sangat melelahkan.Terkadang Jinyoung sebelum tidurnya menyempatkan diri untuk berdoa berharap besok saldo rekeningnya tiba-tiba dipenuhi nominal uang yang sangat banyak. Ketika membayar taksinya Jinyoung bisa melihat jelas bagaimana Ahjussi supir taksi itu ternganga melihat gedung apartemen yang menjadi tempat pemberhentiannya. Jinyoung meringis ia yakin Ahjussi itu mengira ia salah satu pembantu yang bekerja disana, karena tidak mungkin pemilik salah satu penthouse mahal mau menggunakan taksi. Jinyoung santai masuk kedalam penthouse masih dengan kedua telinga yang ditutupi earphone dengan lagu yang terdengar cukup keras hingga keluar dari earphonenya, ia berjalan kedapur dengan tangan yang pegal membawa kantong belanjaan. Ia ingin segera menyiapkan makan malam agar begitu Jaebum pulang dari kantor setelah lembur bisa menikmati masakannya. Jinyoung mengambil pisau daging dan siap untuk memotong ayam utuh yang ada dipantry sampai matanya menangkap sosok dua orang yang sedang duduk dengan posisi mesra disofa ruang tamu, mereka juga menunjukkan ekspresi bingung menatap Jinyoung. “AAAAHHH!” Mereka berdua kompak berteriak dengan kencang. Jinyoung yang terkejut bukan main berjongkok dan menyembunyikan dirinya dibalik pantry. “YAH! SIAPA KAU?! APAKAH KAU PENCURI?! PSYCHOPATH?! ATAU SILUMAN?!” Shit!. Jinyoung mengumpat dalam hati. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, ia ingin kabur. Jinyoung perlahan meletakkan pisaunya diatas pantry, dan mengangkat kedua tangannya menujukkan bahwa ia bukan sebuah ancaman. Mark bersembunyi dibelakang Jackson yang menodongkan bantal sofa kearah Jinyoung. “Ha-halo!” “Siapa kau?!” Begitu pertanyaan yang sama kembali diajukan Jackson terdengar pintu penthouse yang terbuka dan tertutup. Jaebum muncul bersama Bambam. “Kalian berdua cepat bersembunyi!” Jackson meneriaki mereka yang baru saja datang. “Ada apa ini?!” Jaebum yang sudah berdiri diruang tamu bingung melihat Mark yang bersembunyi dibelakang Jackson sangat jelas mereka ketakutan. “Ada penjahat! Didapurmu ada penjahat!” Ucap Jackson masih histeris, Mark menunjuk-nunjuk kearah dapur. Jaebum mengikuti arah telunjuk Mark dan melihat Jinyoung berdiri dengan kedua tangannya. “Jinyoung?! Sayang, kau sudah sampai?” Mati aku! Jinyoung sangat ingin menusuk dirinya dengan pisau daging yang ada didepannya. “Sa-sayang?” Mark terbata. “SAYANG!” Jackson mengulangnya. Jaebum menghampiri Jinyoung dan langsung memeluknya erat bahkan menghirup leher Jinyoung hingga menimbulkan suara tarikan nafas. Jinyoung tidak berdaya masih dengan posisinya tidak berniat membalas pelukan Jaebum. “JAEBUMAH JELASKAN SEKARANG JUGA!” Bukan Jackson, yang barusan bukanlah suara teriakan Jackson. Tapi suara berat Mark yang terdengar serak ketika berusaha berteriak. “Oh-oh!” Bambam yang hanya melihat dari pojok ruangan sibuk merekam semua hal yang terjadi, ia yakin video itu bisa viral diinternet. Diruang tamu kini Mark dan Jackson duduk berhadapan dengan Jaebum dan Jinyoung. Jinyoung dengan sangat terpaksa harus menghentikan kegiatan memasaknya, karena secara tiba-tiba harus menghadapi penghakiman. Ia melihat Jaebum yang terlihat sangat santai, seolah-olah hal ini akan terjadi. Mark dihadapannya menatap kearahnya datar dan Jackson berusaha munjukkan ekspresi mengintimidasi. “Apakah ACnya mati?” Ujar Bambam yang duduk disingle sofa dipojok ruangan berusaha mencairkan suasana. “Sudah sejak kapan?” Suara Mark penuh dengan penekanan. “3 tahun.” Jaebum menjawab dengan terlalu santai sampai Jinyoung mengepalkan tangan ingin memukul kepalanya. “Wow sama seperti kita.” “Kita 4 tahun Jack!” Mark menatap nyalang membuat Jackson membuang muka. “Ini pasti karena Jet Lag kemarin.” Jawab Jackson pura-pura bodoh. “Berarti saat kalian masih berkuliah?” Tanya Mark lagi. “Kami sudah saling kenal sejak awal masuk kuliah.” “Siapa namamu?” Jinyoung mengangkat kepalanya takut. “Ji-jinyoung, Park Jinyoung!” “Dimana kau bekerja?” Jinyoung terkejut mendengar pertanyaan yang seharusnya bukan menjadi pertanyaan penting disaat seperti ini. “Pentingkah hal itu?” “Jaebum berhenti menjawab, dia punya bibir untuk menjawabku!” “HYUNG!” “DIAM JAEBUM!” Jackson merangkul Mark berusaha menenangkan kekasihnya, Mark bukanlah tipe orang yang suka membentak. Mendengar bentakan Mark membuat Jinyoung tidak berani untuk menjawab langsung, ia sempat berpikir untuk berbohong dan mengandalkan kemampuan aktingnya. Tapi tidak baik dengan situasi yang seperti ini, karena sudah tertangkap basah. “Shi-shinwa Company.” Mark menyeringai. “Apakah berkat Jaebum kau bisa bekerja disana?” “Hyung!” Jaebum rasa Mark sudah keterlaluan. “Aku mohon jangan seperti ini.” Salah satu hal yang ditakuti Jinyoung akhirnya terjadi, karena hal inilah Jinyoung mati-matian menyembunyikan hubungan mereka. Ketika sebuah tuduhan yang tidak beralasan ditujukan kepadanya. “Tidak.” Jinyoung menjawab tanpa ragu. “Aku bisa bekerja disana selayakanya bagaimana pegawai yang lainnya.” Walaupun ketakutan Jinyoung tentu harus menguatkan diri, karena ini menyangkut untuk membela hubungan mereka. “Jaebum bagaimana kalau Eomma tahu tentang hal ini? Hm?” Jinyoung mengeratkan tautan tangannya. “Aku tidak keberatan jika ia tahu.” “Jaebum…” Jinyoung bergumam disebelahnya. “Tenanglah, cepat atau lambat semua orang akan segera tahu.” Mark bisa melihat kekhawatiran dari Jinyoung dan rasa percaya diri yang kuat dari Jaebum. “Aku tidak akan ikut campur, aku tidak pantas mencampuri urusan kalian.” “Mark Im, kau kenapa?” Jackson untuk pertama kali melihat pertengkaran antara Mark dan adiknya. Jinyoung berdiri, ia membungkuk memberikan hormat. “Aku permisi pulang.” Jaebum menahan tangannya, tapi Jinyoung berusaha memberikan pandangan untuk mengerti situasinya. Tidak ada pilihan lain untuk Jaebum menahan Jinyoung yang sudah terlihat sakit hati. “Aku akan mengantarmu pulang.” Jinyoung tidak menjawab, berjalan kedapur dan mengambil tasnya. ia tidak menoleh lagi keruang tamu dan langsung melangkah kearah pintu sampai suara Mark menghentikannya. “Apakah kau memang tidak memiliki sopan santun?” Mark sepertinya masih belum puas. “HYUNG!” Dan Jaebum sudah cukup kesal. “Mark, hentikan!” Ini bukanlah Mark yang Jackson kenal, bila Mark ingin marah ia pasti akan lebih memilih untuk diam dan membuat Jackson membujuknya setengah mati. “Aku belum selesai berbicara dan kau sudah mau pergi? Dimana sopan santunmu kepada atasan?” Jinyoung meremas ujung jaketnya, semua ini diluar kendalinya dan ia tidak bisa memikirkan cara apapun untuk menghadapainya. “Setidaknya makan malam dulu bersama kami.” Mark menghampiri Jinyoung dan berdiri didepannya. “Bukankah kau akan memasak?” Jinyoung menunduk menatap ujung sandal rumahnya yang berdekatan dengan ujung sepatu Mark. Jinyoung mengangguk ragu untuk kembali memasak. Mark menarik lengan Jinyoung, bersama mereka kedalam dapur. “Aku akan membantumu.” Jaebum tersenyum tipis melihat kelakuan Mark, Mark memang selalu mengerti dirinya. “Mark honey, apa kau sudah berhenti marah?” Jackson penasaran. Mark tidak menjawab, ia mengeluarkan isi dua kantong belanjaan Jinyoung memilah-milah mana yang bisa disimpan mana yang harus segera diamasak. “Mark sayaaanghafffft” Jaebum membekap mulut Jackson, takut karena pertanyaan Jackson bisa menyebabkan Mark yang sudah tenang kembali emosi. “Aku mau membantu!” Bambam berlari dari ujung ruang tamu, ia menghampiri Mark dan membantu memasukan belanjaan yang bisa disimpan didalam lemari pendingin. “Jadi apa menu malam ini?” Mark berdiri disebelah Jinyoung yang sibuk memotong daging ayam. “Aku berencana membuat Spicy Chicken.” Mark mengangguk. Aneh rasanya untuk Jinyoung ketika ia menoleh dan melihat wajah Mark yang berjarak sangat dekat dengannya. Ia akui Mark benar-benar memiliki paket lengkap untuk wajahnya, bisa terlihat dewasa dan sekaligus terlihat seperti bayi. Ini adalah pertama kalinya Jinyoung dapat melihat Mark secara dekat, bahkan diperusahaan pun sangat jarang Jinyoung bisa bertatap muka dengan Mark. “Mulai terpesona denganku?” Mark menyeringai, tangan Jinyoung berhenti menggerakan pisau dagingnya dan setelah melihat keadaan si pemilik tangan. Mark menyadari Jinyoung sedang memandangnya lekat. “Ini sungguh berbahaya, Jaebum dan Jackson sedang duduk diruang tamu.” Mark mendekatkan dirinya sedangkan Jinyoung hanya bisa terdiam karena Mark baru saja menunjukkan sisi lainnya. “Hy-hyung-” “Ssshht…” Telunjuk Mark menghentikan gerakan bibir Jinyoung. “Mari kita nikmati moment ini.” Kedua alis Jinyoung terangkat. “Wah, semua orang disini sangat aneh.” Bambam menggerutu, bersandar dilemari pendingin dan sibuk menjilati es krim coklatnya. “Hey, hey, hey!” Teriakan Jaebum mengejutkan Jackson, mereka berdua asyik mengobrol dan baru menyadari situasi didapur. Jackson melebarkan matanya mengikuti pandangan Jaebum. “YAH! MARKEU!” Mark sudah menangkup kedua pipi Jinyoung dan matanya sibuk menelusuri setiap pahatan sempurna yang dimiliki wajah Jinyoung. “Wah, pipi yang lumayan berisi.” Mark mengeluskan ibu jarinya. “Bibir yang tebal.” Mark menarik pipi Jinyoung, hingga membuat Jinyoung membentuk senyum dengan bibirnya. “Matamu juga sangat indah!” Jaebum menarik Jinyoung dan menyembunyikan pria manisnya didalam dekapannya. “Jangan pernah menyentuh milikku.” Mark yang merasa aktivitasnnya terganggu berdecih. “Dia juga tidak menolak sentuhanku.” Jackson ternganga diseberang pantry. “Mark apakah aku kurang untukmu?” “Oh, ayolah Jack. Jaebum membawakanku Jinyoung dan kau mencoba membandingkan dirimu dengannya?” Mark terkekeh. “Tentu saja Jinyoung lebih menarik.” Jackson tertohok. “Aw! Dadaku sakit!” Ia memegang d**a kirinya. “Bambam! Katakan pada Lao ba dan Lao ma bahwa aku membenci mereka!” Tubuh Jackson terjatuh dan tidak bergerak. Bambam yang mendengar pesan terakhir Jackson menjawab acuh. “Hm, baiklah.” Ia mengambil batang es krimnya yang kedua. “Apakah dia mati?” Suara Jinyoung tertahan didada Jaebum. Jaebum menglus rambut Jinyoung. “Tenang saja, nyawanya lebih banyak daripada kekayaannya.” Jackson berjongkok mengintip dari seberang pantry. “Mark apa kau khawatir?” Mark memutar mata malas ia berjalan menghampiri Jackson dan menarik badan kekar pria itu untuk berdiri. Mark menyatukan kedua bibir mereka untuk sebuah kecupan singkat. “Tutup mulutmu dan kau boleh membukanya jika aku menciumnya lagi!” Jackson mengangguk patuh. “Jinyoung bisakah kita melanjutkan acara memasaknya.” Tanya Mark yang mulai sibuk mengeluarkan perabotan masak. Jinyoung yang mendengar suara dentingan panci menepuk-nepuk penggung Jaebum. “Bisa kau lepaskan aku sekarang.” Jaebum tidak menjawab. Jinyoung menghirup sekali lagi aroma tubuh Jaebum yang maskulin. “Jaebum…” “Baiklah! Aku harus mengawasi dari sini.” “Aku tidak akan melakukan yang macam-macam.” “Bukan kau Jinyoung.” “Lalu?” Jaebum menunjuk Mark dengan dagunya. Mark hanya menyeringai mendadak menjadi orang ketiga dihubungan Jaebum dan Jinyoung. “Jinyoung sayang, ayo! Aku akan memasakmu- Ups! Maksudku aku akan memasakanmu menu favoritku.” Jinyoung mendesah, sudah cukup dikehidupannya memiliki satu Jaebum, apa yang harus dia lakukan jika sudah harus menghadapi dua Jaebum yang terlahir sebagai Mark. Jinyoung belum siap membelah dirinya untuk Jaebum dan Mark.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD