10. Same

2058 Words
Jinyoung sedang berkutat dimeja kerja yang ada dikamarnya, malam ini beberapa laporan harus ia kerjakan untuk meeting akhir bulan besok. Suara Jaebum yang sedang bergumam diponselnya sangat mengganggu konsentrasi Jinyoung. Seperti biasa setiap malam Jaebum akan menelepon Jinyoung dan mengganggu kegiatan kekasihnya itu. Tidak ada hal penting yang menjadi topik pembicaraan mereka, sudah menjadi kebiasaan untuk Jaebum menghubunginya melalui panggilan biasa ataupun panggilan video hanya agar mereka berdua terhubung. Sedangkan mereka sama-sama mengabaikan panggilan itu. Suara bel pintu terdengar dari speaker handphone Jinyoung, disusul dengan suara gumaman Jaebum yang berhenti. “Ada yang datang?” “Mungkin.” Jawab Jaebum dari seberang. Jinyoung menoleh pada jam dinding yang ada diatas ranjangnya, jam 10. Alisnya bertautan menebak siapa yang datang ke penthouse Jaebum ditengah malam seperti ini. Tidak mungkin Ibunya karena dia sedang berada di New York dan kakaknya Mark adalah maniak tidur, pasti sudah tertidur dari dua jam yang lalu. Terdengar suara langkah kaki yang tergesa dari ponselnya. “Aku matikan dulu, night sleep-well!” Jinyoung tertegun tatapan kosong pada layar laptopnya menunjukkan ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya Jaebum mematikan telepon yang belum sampai setengah jam bahkan tidak memberitahukan penyebabnya, Jinyoung mencurigai suara bel yang manandakan kedatangan seseorang. Ditengah malam. Jinyoung bukan tipe pasangan pencemburu, bahkan ia biasa saja ketika dengan mata kepalanya sendiri melihat seorang karyawan cantik menggoda Jaebum didepannya. Tapi Jinyoung adalah tipe orang yang tidak bisa mengontrol emosi dan moodnya jika merasa ada sesuatu yang disembunyikan atau sesuatu yang ia perlu mendapatkan sebuah penjelasan, dan Jaebum baru saja mencoba menyembunyikan sesuatu darinya. “Berani-beraninya kau Im Jaebum!” Namun disisi lain Jaebum terkejut diwaktu santainya dimalam hari sebuah bel menginterupsi kegiatannya menelpon Jinyoung. “Ada yang datang?” Tanya Jinyoung. “Mungkin.” Dengan malas Jaebum berjalan menuju pintunya dan mengecek melalui intercom melihat siapa yang menjadi tamunya ditengah malam. “s**t!” Umpat Jaebum ketika melihat kamera intercomnya dipenuhi oleh lubang hidung seperti anjing yang sedang mengendus. Ia mengernyit ketika melihat pemilik hidung yang sudah menjauhkan dirinya dan menunjukan wajah yang sangat Jaebum kenali walaupun sudah lama tidak bertemu lagi dengannya. Jaebum bergegas mengambil ponselnya yang masih tersambung panggilan dengan Jinyoung diruang tamu, “Aku matikan dulu, night sleep-well!” Tanpa menunggu balasan Jaebum menekan tanda merah dilayar ponselnya dan memutuskan panggilan sepihak. Jinyoung pasti tidak merasa keberatan karena ia yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Jaebum membuka pintu dan langsung mendapatkan sebuah pelukan erat dan ciuman dipipinya. “JAEBUMA! I MISS YOU SO MUCH!” “Ewww…” Ucap seseorang yang melihat adegan menempel erat itu. Dengan wajah datar Jaebum melepas lem perekat Jackson pada tubuhnya, “Aku juga merindukanmu Jack.” “APA! Kau juga merindukanku?!” Jackson hendak kembali memeluk Jaebum tapi tertahan karena tangan Jaebum yang menahan kepalanya. “Halo Hyung!” Jaebum menoleh melihat Bambam yang membungkuk kepadanya, Jaebum membalasnya dengan senyuman. “Kau terlihat semakin dewasa bam.” Terakhir Jaebum bertemu dengan Bambam adalah 2 tahun yang lalu ketika ia berkunjung kesalah satu cabang perusahaannya di Cina. Bambam tertawa kecil. “Terima kasih Hyung.” “Lalu bagaimana denganku?” Jackson mengerucutkan bibirnya dengan kedua jari telunjuk yang menekan pipinya. Jaebum meringis melihat Jackson yang berusaha terlihat imut, bahkan lebih imut Jinyoung ketika ia sedang menahan sakit perut. “Aku akan memberitahu Mark, jika kau menggodaku Jack.” Mendengar nama Mark sukses membuat Jackson kembali menjadi Jackson yang chic & sexy. “Tolong jangan ancam aku.” Katanya dengan suara huskynya yang berat. Jaebum terkekeh menyadari bagaimana takutnya Jackson bahkan hanya dengan menyebut nama Mark. Ia benar-benar seseorang kekasih yang penakut, sebenarnya Jaebum juga berlaku demikian jika menyangkut dengan Jinyoungnya. “Ayo masuk.” Jaebum membuka jalan untuk mempersilahkan kedua tamunya masuk terlebih dahulu kedalam penthousenya. “YEY!” Jackson kembali girang, mengangkat kedua tangan lalu menyeret kopernya, Bambam menyusul dibelakang. “Woah!” Jackson terkagum melihat penthouse Jaebum. “Benar kata Mark baby, jika penthousemu ini benar-benar luar biasa!” Jaebum mengangguk seadanya, karena ia merasa biasa saja ketika dulu memilih penthouse ini. Malah kenangan pertama di penthouse ini adalah omelan Jinyoung yang tidak berhenti karena menurutnya sangat berlebihan untuk Jaebum yang hanya tinggal seorang diri membeli penthouse yang mahal ini. Bambam sudah sibuk meneliti semua barang yang ada mulai dari pintu depan, lukisan yang menempel didinding ruang tamu, lemari yang dipenuhi buku-buku Jinyoung dan perabotan didapur. Ia meneliti mencoba mencari mana barang dengan merk termahal yang ada disana. “Kamar kalian ada diatas.” Mendengar arahan Jaebum, Bambam bergegas naik keatas lantai dua untuk lebih dulu memilih kamar sebelum kakaknya mengambil kamar terbaik. “Bukankah seharusnya kau tiba besok?” Jaebum duduk disingle sofa. Jackson membaringkan tubuhnya disofa, walau ini pertama kalinya ia berkunjung ke pentahouse Jaebum tapi ia sudah merasa tempat ini seperti rumahnya sendiri. “Bambam sudah harus mengurusi kuliah barunya besok.” “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian mendadak pindah kekorea?” Jackson mengerang terlalu malas untuk menjawab pertanyaan itu. “Ceritanya panjang dan membosankan!” “Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau istirahat dikamar. Aku harus tidur untuk bekerja besok.” Jackson hanya menjawab dengan tanda oke dari tangannya. “Jaebum…” Jaebum menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Jackson yang membenamkan kepalanya disofa. “Terima kasih.” “Hm.” Jaebum mengernyit melihat ponselnya yang penuh dengan pemberitahuan 12 panggilan tak terjawab dari Jinyoung Apakah ada yang terjadi?. Jika ada masalah yang terjadi pasti Jinyoung akan meninggalkan pesan jika Jaebum tidak menjawab panggilannya. Melihat waktu sudah menunjukkan tengah malam, Jaebum ragu untuk menelpon kembali Jinyoung yang mungkin sudah tertidur. Lebih baik ia tanyakan langsung saja saat dikantor besok. Jinyoung terbangun dengan mood yang tidak bagus, Jaebum mengabaikan panggilannya dan ketika ia mengecek ponselnya yang dayanya hampir terisi penuh tidak ada pemberitahuan panggilan dari Jaebum. “Wah, baiklah. Lagipula sudah lama kita tidak berperang!” Jinyoung meremas kuat ponselnya. Ditengah-tengah kegiatan mandi paginya, Jaebum entah mengapa merasakan lehernya sesak seperti seseorang sedang mencekiknya. Ia memiliki firasat buruk yang akan terjadi padanya. Dan benar saja pagi ini Jinyoung menghindari Jaebum sebelum rapat akhir bulan dimulai. Jaebum terus memperhatikan dari kejauhan Jinyoung yang sibuk bercerita dengan Nayeon, Jinyoung sempat menceritakan tentang sahabat kantornya itu. Rencana awalnya adalah ia mengerimi pesan pada Jinyoung untuk menemuinya ditoilet dekat aula yang kemungkinan sepi dan membahas hal yang terjadi semalam. Tetapi ia melihat sendiri Jinyoung yang membaca pesannya lalu mengabaikannya bagaikan itu hanya sebuah pesan spam dari operator yang menawarkan paket telepon. Berpacaran lama dengan seorang Park Jinyoung membuat Jaebum benar-benar tahu bagaimana sifat pria manis itu, bahkan saat ia sedang kesal dan marah seperti ini dan Jaebum sangat peka apa yang membuat Jinyoung menjadi seperti itu. Mark tiba dengan sekretarisnya dilantai 10 dan membuat semua karyawan mempersiapkan diri untuk masuk kedalam ruang meeting. “Sampai sekarang aku masih bingung.” Jinyoung menoleh mendengar Nayeon, mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam ruang meeting. “Bingung kenapa?” “Aku harus memilih siapa? Diantara Mark dan Jaebum, mereka sama-sama menggugah selera!” Jinyoung terkekeh mendengar ucapan ngelantur Nayeon, ia mendekatkan diri untuk berbisik pada sahabatnya itu karena mereka sudah menempati tempat duduk masing-masing. “Sebaiknya kau memilih Mark karena menurutku Jaebum itu suka selingkuh.” Naeyeon melebarkan matanya tak percaya, ia balik mendekatkan dirinya pada telinga Jinyoung. “Benarkah, kau yakin?” “Iya, aku sangat yakin. Kau tahukan aku pandai menilai orang!” “Informasi ini akan sangat berguna untuk jadi bahan gosipku siang nanti!” “Kau tak perlu mengucapkan terima kasih, tapi sama-sama!” Setelah itu mereka tertawa kecil dengan menutup mulut agar tawa mereka tidak terdengar semakin keras, Changmin yang duduk disebelah mereka berdehem membuat keduanya beringsut dan terdiam. Jaebum yang duduk dideretan kursi petinggi, sedari tadi memperhatikan Jinyoung yang berada dipojok dengan kegiatan berbisiknya. Jika Jinyoung bukanlah seorang pencemburu, maka Jaebum adalah kebalikannya. Jaebum akan sangat cemburu pada siapapun yang dekat dengan Jinyoung, bahkan jika orang itu adalah sahabat ataupun saudara Jinyoung. Jaebum memiliki sifat posesif. “Baiklah seakarang bagian Marketing AD.” Suara Taekwoon menginterupsi semua perwakilan divisi yang ada diruang aula. Jinyoung dan Nayeon berdiri untuk melakukan presentasi mereka, sedangkan Changmin akan mengawasi dan menilai kedua bawahannya. Jinyoung bertugas untuk menunjukan slide yang sudah ia kerjakan, sedangkan Nayeon yang akan menjelaskannya pada semua orang. Jinyoung sesekali mencuri pandang pada Jaebum, melihat bagaiamana pria itu duduk diposisinya sebagai atasan dan menunjukkan tatapan menilai setiap apa yang dijelaskan oleh Nayeon. Jinyoung menghela nafas, sepertinya ia sudah keterlaluan mengabaikan pesan Jaebum. Semua orang memberikan tepuk tangan puas akan laporan yang diberikan divisi marketing AD, Changmin menunjukkan ekspresi bangga akan pekerjaan mereka. Jinyoung dan Nayeon membungkuk didepan dengan wajah sumringah. Sampai suara Jaebum menginterupsi tepukan tangan itu. “Aku masih ragu dengan profesionalitas kalian karena masalah yang kemarin, aku tidak terlalu berharap banyak untuk yang satu ini!” Jinyoung tertohok mendengar kritikan Jaebum, ia tidak menyangka masalah yang seharusnya sudah selesai itu kembali dibahas. Ia bahkan melihat yang lain mereka berbisik terkejut mendengar kritikan pedas itu, karena memang itu hanya masalah kecil dan dapat dimaklumi. Changmin menunduk ditempat duduknya, rasa bangganya hilang begitu saja. Jinyoung kembali merasa bersalah dan bahkan merasa lebih malu ketika semua perwakilan divisi melihat bagaimana atasan membahas kinerja yang tidak professional. Nayeon menggenggam tangan Jinyoung untuk menariknya kembali duduk, jika tidak maka Jinyoung mungkin akan berdiri terus seharian karena memikirkan masalah itu. Karena banyaknya materi yang harus dirapatkan maka meeting hari itu dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama sebelum makan siang dan sesi kedua setelah makan siang. Satu-persatu perwakilan divisi meninggalkan ruang aula untuk menikmati waktu makan siang. Jinyoung menolak ajakan Nayeon untuk seperti biasa makan siang bersama, Changmin dan Nayeon meninggalkan Jinyoung diruang aula. Para petinggi masih berkumpul untuk membahas laporan yang sudah dikumpulkan beberapa divisi. Jinyoung sibuk merapikan lembaran-lembaran laporan yang ada dimejanya juga di meja Nayeon dan Changmin untuk membunuh waktu. Pendengarannya masih bisa menangkap beberapa kalimat yang sedang dibicarakan oleh para petinggi perusahaan. Jinyoung menoleh keujung meja itu dan matanya bertemu dengan manik Jaebum yang menatapnya tajam. Jinyoung memutar mata malas menanggapi tatapan itu, ia tahu tindakannya tidaklah sopan pada atasaanya. Tapi sekali saja Jinyoung ingin menjadi pegawai yang nakal. Jinyoung masih merasakan tatapan Jaebum kearahnya, merasa muak dengan sikapnya itu Jinyoung beranjak keluar ruangan. Malas juga untuk dirinya yang bukan seorang petinggi diam diruangan yang hanya dipenuhi para atasan itu. Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir, Jinyoung malas untuk menyusul Nayeon maka ia lebih memilih menuju pintu atap gedung yang memang dekat dengan ruang aula. Jinyoung membuka pintu besi itu dan langsung disambut oleh angin yang menerpa wajahnya, Jinyoung menghirup udara musim panas dan meregangkan tubuhnya. Atap gedung memang tempat terbaik untuk melupakan masalah. Jinyoung berjalan ke sisi atap dan menumpukan badannya, ia mengeluarkan ponselnya berniat untuk menguhubungi seseorang. Ketika ada masalah yang terjadi Jinyoung akan tetap menghubungi orang yang selalu menjadi penyembuhnya itu. Jinyoung dengan sabar menunggu nada tersambung. “Halo?” “HYUNG!” Jinyoung berteriak memanggilnya, membuat orang diseberang sana menjauhkan ponsel dari telinganya. Terdengar suara tawa. “Yak! Jangan berteriak, aku tidak tuli!” “Hyung aku merindukanmu.” “Aigoo, Jinyoungieku merindukanku?” “Ne, Jinyoungiemu merindukanmu Hyung!” “Aku juga merindukanmu! Kapan kau akan berkunjung, ini sudah hampir setengah tahun!” Jinyoung terkekeh. “Aku juga sangat ingin berkunjung kesana Hyung, tenang saja aku akan mengambil cuti dan menghabiskan liburanku disana!” Membayangkan liburan itu membuat Jinyoung gembira. “Aku merindukan masakanmu!” “Kami juga merindukanmu, selalu menunggu kabar darimu setiap hari!” “Maaf Hyung aku terlalu sibuk, jadi tidak sempat memberi kabar! Bagaimana kabar anak kesayanganku?” “Dia sedang sibuk mempersiapkan sekolahnya!” Jinyoung gemas mendengarnya. “Ah! Aku sangat ingin bertemu dengan anakku. Tolong jaga dia dengan baik Hyung!” “Tentu saja! Kau tak perlu menyuruhku untuk itu!” “Baiklah Hyung, sampaikan salamku untuk yang lain.” “Loh, kau hanya menelponku untuk ini?” “Aku hanya ingin mendengar suaramu Hyung.” “Aku berharap kita bisa mengobrol sedikit lebih lama.” Jinyoung tidak tega mendengar nada suara kecewa itu. “Aku harus segera kembali bekerja.” Jinyoung memastikan waktu dijam tangannya. “Ne, kami mencintaimu Jinyoungieku!” “Aku juga mencintaimu Hyung dan lainnya juga!” Jinyoung mendesah setelah panggilan itu terputus, sudah lama ia tidak berkunjung kerumah desa yang indah itu. Sangat merindukan tempat yang menjadi favoritnya untuk liburan, tidak perlu luar negeri, pulau tropis ataupun kapal pesiar. Jika Jinyoung harus memilih tempat liburannya, maka desa yang tenang itu akan selalu menjadi pilihannya. “Siapa?” Jinyoung membalikan badan terkejut, Jaebum sudah berdiri beberapa langkah dibelakangnya. Jinyoung merasa terintimidasi. “Bukan siapa-siapa.” Jawab Jinyoung santai. “Apakah masih ada yang belum aku ketahui?” Jaebum kira Jinyoung sudah menceritakan semua orang yang berhubungan dengannya, rupanya masih ada yang belum kekasihnya itu ceritakan. “Bukan orang yang penting.” “Tapi sepertinya dia sangat penting untukmu.” Jinyoung mendengus. “Aku akan memberitahukanmu apa yang perlu kau tahu!” Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya Jinyoung menyadari Jaebum yang sedang menatapnya sendu, sepertinya ia sudah keterlaluan. “Kita akhiri saja.” Jinyoung membeku tidak percaya dengan apa yang baru saja Jaebum katakan. Jantungnya berhenti berdetak, nafasnya sudah mulai terasa berat, tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir tipis Jaebum. “Mungkin kita akan bertengkar hebat.” Jinyoung menunduk tidak mampu menahan pandangan mereka, Jaebum perlahan mendekatinya. “Kita baikan saja.” Jaebum menarik tubuh Jinyoung kedalam pelukannya, pelukan yang selalu menjadi tempat ternyaman Jinyoung. “Kita akhiri saja salah paham ini.” Jaebum mengelus punggung Jinyoung merasakan bagaimana punggung itu terasa tegang. “Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa marah padamu.” Jinyoung tidak berdaya, Jaebum memang pintar memainkan perasaannya. Tangannya melingkar ditubuh tegap kekasihnya membuat pelukan itu semakin erat. Jaebum mengangkat dagu Jinyoung membuatnya menatap kedua matanya, perlahan mata itu bergulir melihat bibir tebal yang digigit kecil oleh pemiliknya. Jaebum menyatukan bibir mereka lembut, Jinyoung merasakan ciuman Jaebum berbeda. Ciuman itu tidak seperti kecupan manis seperti biasanya. Ciuman itu dipenuhi dengan emosi yang tertahan, emosi yang perlu pelampiasan. Sepertinya Jaebum sedang menahan emosi didalam dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD