9. Begin Again

1938 Words
Jinyoung tersenyum melihat hasil jerih payahnya diatas meja makan, ia menggunakan semua bahan masakan terbaik dan termewah yang ada dilemari pendingin Jaebum. Memasak dengan sepenuh hati untuk mempersembahkan beberapa menu yang dapat menggugah selera setiap orang. Ia menepuk tangannya merasa puas, duduk disebelah Jaebum mereka berdua berhadapan dengan Youngjae yang sedari tadi duduk kesusahan menelan air liurnya. “Silahkan dinikmati!” Jaebum dan Jinyoung melotot terkejut, melihat tangan agresif Youngjae yang mengambil beberapa lauk sekaligus seperti orang kesetanan. “Yo-Youngjaeyah, pelan-pelan.” Mulut Youngjae penuh, ia tidak bisa menjawab dan hanya mengisyratkan oke dengan tangannya. Jinyoung melirik Jaebum yang ragu-ragu dengan sumpitnya untuk mengambil Bulgogi kesukaannya, ia takut jika Youngjae akan menggeram padanya. Jinyoung terkekeh, Jaebum menatap dengan mata penuh harap pada piring yang berisi beberapa potong daging itu. Jinyoung tidak sengaja meletakannya dekat dengan poisisi Youngjae. Menu itu memang makanan favorit Jaebum dari semua menu masakan Jinyoung yang pernah ia coba. Jinyoung mengambil Bulgogi itu dan menukar posisinya dengan Japchae. Jaebum tersenyum seperti anak kecil ketika melihat daging sapi yang sekarang sudah ada didepan mangkuk nasinya, Jinyoung mengelus puncak kepalanya seperti seorang Ibu. Jaebum tentu mengacuhkannya karena perhatiannya teralihkan. Senyuman hangat terbentuk dari bibir Jinyoung melihat lahapnya sang kekasih dan juga sahabatnya menikmati masakannya. Rasa dari masakan Jinyoung tidak terlalu istimewa, ia hanya bisa memasak beberapa menu tradisional.  Tapi karena bahan masakan yang ia gunakan mahal dan terjamin, hal itu menambah rasa dari masakannya. “Kita harus bertemu dengan Yugyeom.” Youngjae melirik Jinyoung. Ia melanjutkan kunyahannya, sudah merasa muak dengan adiknya itu. “Apakah dia sudah bisa dihubungi?” Jaebum bertanya sebelum memasukan potongan daging terakhir kedalam mulutnya. Jinyoung berpikir. “Sepertinya aku tahu harus bagaiamana.” Ia beranjak keruang tamu dan mengambil ponselnya yang berada disofa. Youngjae mengerutkan dahinya memperhatikan Jinyoung sedang menghubungi seseorang. “Eomma?” “Jinyoung?” “Eomma dimana?” “Tunggu! Ini beneran anakku Jinyoung?” Jinyoung memutar mata. “Eomma aku sedang serius!” “Ani~ bukannya begitu, aku hanya tidak menyangka kau masih menyimpan nomorku!” “EOMMA!” Jaebum menutup sebelah telinganya karena Jinyoung berteriak. “Ada apa? Apakah kau akhirnya membuat masalah besar? Karena terakhir kali kau menelpon adalah setahun yang lalu.” “Apakah Yugyeom ada dirumah?” Ada jeda beberapa saat sebelum Yoona menjawab, ia sedang mengintip dari dapur untuk melihat Yugyeom yang sedang sibuk dengan ponselnya diruang tamu. “Ada? Wae? Apakah kau mau menyuruhnya untuk menjemputmu dikantor polisi?” Jinyoung menghiraukan ucapan Yoona. “Eomma, aku minta tolong. Bisakah kau mengunci pintu rumah dan jangan biarkan Yugyeom kabur?” “Kenapa?” “Akan aku jelaskan nanti Eomma, yang pasti lakukan sesuai perintahku!” Yoona menjawab dengan ragu. “Baiklah…” “Ne, Gomawo!” Yoona mengernyit melihat layar ponselnya yang menghitam setelah Jinyoung memutuskan panggilan mereka, ia kembali mengintip kearah ruang tamu memastikan Yugyeom masih berada disana. Mengunci pintu sudah menjadi rutinitas keseharian Yoona baik itu saat malam hari menjelang tidur atau saat akan meninggalkan rumah. Tapi ketika Jinyoung memintanya melakukan hal itu dengan keadaan yang tidak wajar tiba-tiba membuat Yoona menjadi gugup. Yoona memperhatikan Yugyeom sebelum mengambil ancang-ancang untuk menuju pintu dan harus melewati Yugyeom. Menetralkan rasa gugupnya dan berusaha tidak terlihat mencurigakan. Yoona berjalan santai melewati ruang tamu dan merasa lega karena perhatian Yugyeom tidak terlepas dari ponselnya. Ia berhasil mencapai pintu masuk yang memang sudah tertutup, misi terakhirnya adalah untuk mengunci pintu itu. “Ahjumma mau pergi?” Tangan Yoona yang hampir memutar kunci terhenti, ia terkekeh pelan. “A-ah tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu!” Apa?. Yoona  merutuki jawaban ambigunya, “Aku hanya akan menutup pintu ini, tadi terbuka. Aku takut debu akan masuk!” “Oh…” Hening sesaat, tidak ada lagi jawaban dari Yugyeom. Yoona menoleh, Yugyeom kembali sibuk dengan ponselnya. Tanpa menunggu lagi Yoona langsung memutar kunci pintu itu dua kali, memastikan pintu benar-benar terkunci. Misinya berhasil, ia menepuk tangan kecil dan merasa bangga akan dirinya. Yoona hendak kembali melanjutkan aktivitasnya didapur, tapi karena rasa penasarannya yang begitu besar membuat langkahnya memutar menghampiri Yugyeom disofa. Ia mendudukkan dirinya disebelah Yugyeom, melirik layar ponsel pria itu yang sibuk melihat-lihat gambar disosial media. “Yugyeomie…” “Hm?” Yugyeom berdehem tanpa menoleh. “Apakah kebetulan belakangan ini kau ada membuat masalah?” Yoona sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi salahkan Jinyoung yang tidak mau memberitahukannya. Jari Yugyeom terhenti dilayar ponselnya, ia menoleh. “Maksud Ahjumma?” Yoona membuang pandangan kearah lain tidak ingin bertemu pandang dengan mata Yugyeom. “Ah, tidak. Maksudku kau sekarang terlihat lebih pendiam-” “Aku memang pendiam.” Potong Yugyeom.. Benar juga. “I-iya kau benar.” Yoona mengepalkan tangan. “Tapi, belakangan ini kau terlihat uring-uringan.” Yugyeom masih terlihat santai, tidak ada rasa curiga sedikitpun. “Ahjumma tidak perlu khawatir, hanya masalah kampus. Aku sedang berada disemester akhir, jadi banyak masalah kampus yang harus diselesaikan.” Yugyeom membuka ruang chat diponselnya yang berisi teman-teman kampusnya. Yoona ragu untuk menyakan hal ini, tapi. “Kau tidak secara sengaja menghamili anak orangkan?” Mendengar pertanyaan Yoona yang tidak masuk akal membuat Yugyeom hanya menatapnya datar, bagaimana bisa bibinya memeiliki khayalan liar seperti itu. Yugyeom adalah anak yang baik dan sedikit nakal, ia tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Melihat tidak adanya respon dari Yugyeom membuat Yoona mengambil kesimpulan sendiri. Ia menghela nafas berat. “Baiklah Ahjumma tidak akan memarahimu, setidaknya kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu itu.” Yugyeom mengernyit. “Bawa gadis itu bertemu Ahjumma dulu, baru setelah itu kita menemui kedua orang tuamu untuk membicarakan hal ini!” Mulut Yugyeom terbuka hendak menyangkal, tapi tertahan karena ketukan kasar pada pintu masuk. Yoona beranjak membuka pintu dan hampir terjatuh karena adanya dorongan pada pintu masuk. Jinyoung masuk dengan hentakan pada kakinya, matanya melihat sekeliling ruang tamu seperti robot yang sedang memindai area itu. Melihat kehadiran Jinyoung dengan aura berapi-api membuat Yugyeom seketika berdiri dan hendak kabur. Jinyoung menyeringai melihat Yugyeom yang berdiri menjulang diruang tamu, Jaebum menyusul masuk dan Youngjae bersembunyi dibelakangnya. Pandangan Youngjae dan Yugyeom bertemu. Youngjae sangat ingin memarahi adiknya saat itu juga, bila perlu ia sangat ingin merubah adiknya menjadi samsak tinju. Tapi kemarahan Jinyoung sudah cukup untuk mewakilinya dan memilih untuk bersembunyi dibelakang Jaebum. Yugyeom tak bisa berkutik ketika Jinyoung menghampirinya dengan langkah lambat, bisa ia lihat tangannya yang terkepal dikedua sisi tubuh. Yoona dan yang lainnya terkejut melihat hampir terjadinya adegan kekerasan didepan mereka. Jinyoung tidak tahu harus memilih untuk memukul seperti seorang lelaki atau menendang Yugyeom sepert pemain bola. Masih ada rasa iba dalam dirinya, jadi ia berakhir dengan tangannya yang melayang diudara hampir menampar pipi Yugyeom. Terlihat jelas ekspresi terkejut dimata Yugyeom, ia tidak percaya Jinyoung yang selalu mengalah padanya dan selalu pasrah ketika ia kerjai ketika bercanda. Kini hampir saja ingin memukulnya. “Hyung…” Lirih Yugyeom. “Kau b******k!” Jaebum menghampiri mereka berdua dan berdiri didepan Yugyeom. Menghalangi Jinyoung jika ingin menyakitinya. “Menyingkir!” Youngjae yang mulai was-was karena situasi berdiri dibelakang Jinyoung mencoba menenangkannya, sungguh aneh memang. Disini Youngjaelah yang memiliki masalah tetapi Jinyounglah yang lebih marah, memang ketika sahabat kita tersakiti maka kitalah yang akan lebih emosi. Yoona semakin tidak ingin ikut campur setelah apa yang matanya lihat, ia meninggalkan mereka kedalam dapur. Yoona bukannya tidak ingin menengahi, tapi ia lebih percaya pada mereka yang bisa menyelesaikannya sendiri karena mereka sudah dewasa. Ini bukanlah pertengkaran bocah seperti yang mereka lakukan setiap saat. Pertengkaran ini layakanya orang dewasa dan mereka adalah pria dewasa. “Tenangkan dirimu.” Mendengar suara lembut Jaebum membuat nafas Jinyoung perlahan berhenti menggebu-gebu. Jaebum merasakan kening Yugyeom yang bersandar pada punggungnya, ia tahu anak itu tidak ada keinginan untuk melawan. Youngjae menarik Jinyoung duduk disofa panjang, Jaebum menyusul duduk diantar Jinyoung dan Yugyeom. “Apakah aku melakukan kesalahan Hyung?” Tanya Yugyeom menunduk. Hening tidak ada yang menjawab, membuat Yugyeom semakin bingung. Jinyoung melirik Youngjae yang memandang adiknya, sepertinya ia tidak ada niatan untuk menjawab. Begitupula Jaebum yang merasa tidak berhak untuk terlalu ikut campur pada masalah ini. “Berapa banyak uang yang ia berikan padamu?” Mendengar jawaban yang berupa pertanyaan itu berhasil membuat Yugyeom menyadari apa yang menjadi penyebab kemarahan Jinyoung. “Aku tidak memintanya Hyung, ia yang memberikannya padaku.” “Lalu mengapa kau menerimanya?” Yugyeom tidak langsung menjawab, setetes air mata jatuh mengenai pipinya. “Aku tidak punya pilihan karena-” Mendengar perkataan Yugyeom membuat emosi Jinyoung kembali. “APA MAKSUDMU TIDAK PUNYA PILIHAN!” Melawan, tidak. Yugyeom tidak akan pernah melawan jika Jinyoung sudah semarah itu padanya, ini bukan pertengkaran kecil dan Yugyeom tahu itu. Jika Jinyoung dan Youngjae sudah semarah ini maka Yugyeom tidak akan pernah berpikir untuk melawan dan hanya menerima jika dirinya memang salah. “Apa yang harus aku lakukan?” Yugyeom memberanikan diri menatap Jinyoung dan Youngjae bergantian. “Aku terlalu bingung memikirkan mengenai proyekku, aku sudah berusaha mencari pekerjaan tetapi karena kesibukan kuliah menyita semua waktuku.” Pipi yang selalu menjadi favorit Youngjae ketika ia masih balita itu sekarang basah karena air mata. “Aku tidak mungkin minta pada Eomma dan Appa karena mereka sudah mempercayai Youngjae Hyung untuk menjagaku!” Youngjae dapat merasakan emosi tertahan dari suara Yugyeom. “Sementara aku tidak mungkin meminta pada Jinyoung Hyung atau Yoona Ahjumma karena tidak ingin semakin merepotkan kalian.” Mata Yugyeom bertemu dengan mata merah Youngjae, Yugyeom menunduk melihat kakaknya yang antara sedih atau marah itu. “Dan meminta bantuan pada Youngjae Hyung bukanlah sebuah pilihan, karena aku tahu aku tidak bisa membuatnya bangga.” Yugyeom melepas tangisannya ketika Youngjae mendekat dan memeluknya. “Yang perlu kau lakukan hanya bertanya Yugyeomah.” “Aku takut…” Yugyeom berusaha menjawab. Jaebum sedikit menyingkir dan mendekati Jinyoung yang terdiam melihat pemandangan antara kakak dan adik itu. Youngjae menghapus air matanya berusaha tersenyum sebelum perlahan menangkup pipi Yugyeom dan berusaha membuatnya menatap matanya. “Untuk apa kau takut hm? Kau adalah adikku. Aku akan selalu mendukungmu!” Youngjae memiliki cukup uang, bahkan bisa untuk menyekolahi Yugyeom keluar negeri. Membiayai proyek Yugyeom yang besar itu tidak seberapa nilainya dari tabungan yang Younjgae miliki. Jika bukan untuk orang tuanya, maka Yugyeomlah orang yang pantas untuk mendapatkan seluruh uangnya. Mata mereka masih menatap lekat satu sama lain. “A-aku sudah mengecewakanmu Hyung.” “Dan aku sudah merasa bangga olehmu!” Tidak tahan mendengar Youngjae membuat Yugyeom menghamburkan dirinya memeluk erat sang kakak. Jaebum semakin menyingkir ketika Jinyoung mengambil posisinya untuk bisa ikut memeluk Yugyeom dan Youngjae. Sebenarnya Jaebum juga ingin ikut memeluk, memeluk Jinyoungnya. Dari arah dapur Yoona tersenyum dengan mata berkaca-kaca, melihat bagaimana anak-anak yang sedari kecil ia rawat sekarang sudah benar-benar menunjukkan sisi dewasa didepannya. Keadaan diruang tamu sudah mulai kondusif dan belum ada tanda-tanda aura emosi dari 4 pria yang menempati sofa disana. Jaebum duduk disingle sofa dan Yugyeom kini duduk diantara Jinyoung dan Youngjae. “Sekarang katakan bagaimana bisa bajing- Wonpil memberikanmu uang?” Mendengar nama Wonpil yang begitu mudahnya keluar dari mulut Jinyoung membuat Youngjae gugup, Youngjae tidak sanggup untuk menyebut nama laki-laki itu. “Aku tidak diberikan uang Hyung. Tapi, aku mendapatkan beasiswa.” “Beasiswa?” Yugyeom mengangguk. “Perusahaannya sedang memiliki kerjasama dengan kampus lalu memberikan dukungan berupa beasiswa kepada mahasiswa yang membutuhkan.” Youngjae teringat dulu, saat masa-masa kuliahnya perusahaan Wonpil memang pernah melakukan kunjungan dan menyelenggarakan beasiswa untuk mahasiswa yang membutuhkan. Dari hal itu pula yang membuat Youngjae bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan diperusahaan mantan kekasihnya itu, tapi ada satu hal yang menjanggal dibenaknya. “Bukankah itu hanya untuk fakultas teknik? Kau kan fakultas seni?” Youngjae bertanya dengan kecurigaan. Yugyeom membenarkan. “Aku sendiri juga tidak tahu mengapa bisa mendapatkan beasiswa yang seharusnya hanya untuk mahasiswa teknik.” “Dia pasti sengaja.” Youngjae setuju dengan pendapat Jinyoung. “Lalu apakah ada hal lain yang mencurigakan dari beasiswa itu?” Yugyeom bingung dengan pertanyaan aneh Jinyoung, beasiswa yang ia dapati adalah beasiswa normal pada umumnya. “Tidak ada Hyung. Tidak ada yang aneh seperti beasiswa pada umumnya, aku hanya perlu menjaga nilaiku stabil agar tidak perlu mengembalikan uang yang sudah diberikan.” Jinyoung mengernyit karena tidak adanya hal mencurigakan dari kesengajaan Wonpil. “Ah, dan aku juga harus bersedia jika dibutuhkan oleh perusahaan.” “Tentu saja.” Youngjae bergumam, akhirnya ia tahu maksud dan tujuan Wonpil. “Hyung aku minta maaf jika telah mengambil keputusan ini. Bila perlu aku akan membatalkannya, aku sampai lupa jika Hyung pernah bekerja diperusahaan itu.” Yugyeom tahu siapa itu Wonpil dan perusahaan besar yang ia jalankan, ia juga tahu hubungan yang sempat dimiliki kakaknya dan pemilik perusahaan itu. Yang ia tidak ketahui adalah penyebab dari perpisahaan mereka. “Biarkan saja.” Tegas Youngjae. “Tapi Hyung-” “Yak! Apa kau gila?!” Jinyoung tidak setuju dengan keputusan Youngjae, itu sama saja membuat ia menggali traumanya kembali. “Bukankah kita harus berterima kasih padanya karena mau membantu Yugyeom? Niatnya itu sangat baik.” Dan jebakannya berhasil. Sudah setahun berlalu dari kejadian itu, Youngjae menghabiskan waktunya beberapa bulan untuk menghilang dan kabur dari Wonpil. Setahun berlalu dan Wonpil tidak bisa meghubunginya lagi, Youngaje masih mengawasi Wonpil karena pria itu sangat terkenal dan seluruh orang mengetahuinya sebagai salah satu pemilik perusahaan besar. Youngjae tidak menyangka Wonpil akan menaruh umpan seperti ini. Youngjae sudah memutuskan dirinya akan menghadapinya kali ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD