8. Bad Memories

2368 Words
Jaebum mengendarai mobilnya melintasi jalan aspal Gangnam-Gu, salah satu daerah yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit dikota Seoul. Daerah mewah dan tempat berkumpulnya kaum atas yang terdiri dari pejabat negara, pengusaha sukses dan para artis terkenal. Lucu ketika kekayaanmu bisa dibuktikan hanya dengan memiliki salah satu aset properti mewah didaerah itu, namun itulah gaya hidup yang terjadi dikalangan para orang kaya di Seoul. Kekayaanmu akan dinyatakan layak hanya dengan sebuah properti mewah yang belum tentu akan kamu gunakan. Mobil itu masuk kedalam parkiran basement salah satu gedung apartemen mewah di Samseong-Dong yang memiliki 20 lantai. Jaebum turun dari Mercedes Benz E-Class miliknya yang berwarna hitam, warna standar dan tidak terlalu mencolok tapi dapat menambah kesan mewah dari kendaraan roda 4 itu. Jaebum menarik kopernya menuju lift, penthousenya berada dilantai 15. Berada dilantai yang lebih tinggi dari ruang kantor yang ada digedung perusahaan. Penthouse ini adalah hadiah dari ayahnya. Ketika ia berhasil lulus dari universitasnnya dengan nilai yang cukup tinggi dan mendapatkan satu permintaan khusus atas jerih payahnya, tanpa memikirkan beberapa pilihan keinginannya Jaebum langsung meminta sebuah apartemen untuk bisa dia tinggali secara mandiri. Sunmi tentu menentang dengan keras permintaan itu, karena pada dasarnya Jaebum bukan hanya meminta satu permintaan melainkan dua hal sekaligus. Meminta apartemen dan meminta untuk meninggalkan rumahnya, Sunmi tahu cara berpikir Jaebum sangat licik. Sama seperti dirinya. Jaebum tiba didepan pintu masuk, dilorong lebar yang berada dilantai 15 itu hanya memiliki 2 penthouse. Secara ekslukusif masing-masing lantai hanya terdiri dari 2 penthouse agar privasi pemilik tidak terganggu. *Bip Pintu secara otomatis tebuka ketika kode masuk ditekan, Jaebum mendorong pintu masuk yang berwarna putih. Ia melihat tirai besar yang menutupi dinding kaca bagian balkon terbuka, seseorang telah masuk kedalam penthousenya. Jaebum melirik rak sepatu yang terbuat dari kayu jati disebelah kirinya, sepatu Jinyoung. Tepat ketika menyebut nama Jinyoung dalam hatinya pria itu muncul dari balik dinding. “Wah wah wah…” Jinyoung bersandar mengenakan apron berwarna kuning dan melipat kedua tangannya. “Aku penasaran bagaimana rupa selingkuhanmu itu hingga kau mau menemaninya semalaman dan pulang menjelang siang hari?!” Ujung bibir Jaebum berkedut. “Apakah Tuan Pencari Alasan sedang berusaha mencari alasan?” “Sudah lama menunggu?” Jaebum melepas pantofel hitamnya dan mengganti dengan sandal rumah berwarna putih. “Apakah aku mengganggu waktumu bersama selingkuhanmu?” Jinyoung beranjak kearah dapur yang berada didepan ruang tamu, dapur luas itu sangat mewah dan memiliki peralatan yang sangat lengkap. Sangat sayang untuk disia-siakan jika hanya digunakan untuk memasak mie instan, seperti yang Jinyoung lakukan saat ini. Jaebum menaruh koper diruang tamu dan meletakkan blazer yang menjadi luaran kemejanya disofa. “Selingkuhan yang kau maksud itu adalah ibu mertuamu.” “Kau pulang kerumah?” Jaebum menyusul Jinyoung yang sibuk didepan pantry. “Hmm…” Tubuh tegapnya memeluk Jinyoung dari belakang, posisi favorit Jaebum. “Bagaimana keadaan rumah?” “Tidak ada yang berubah.” “Lalu bagaimana keadaan Eomma?” “Masih cantik dan licik seperti saat ia muda dulu.” Jinyoung menyikut perut Jaebum. “Lalu Mark Hyung?” “Masih tetap tidak bisa berhenti untuk terus menyusahkanku.” Jinyoung memutar mata malas, ia melepas pelukan Jaebum dan membawa mangkuk yang berisi ramyeon panas ke ruang tamu dan duduk disofa lebar berwarna cokelat. Menikmati hari libur dengan semangkuk ramyeon dan pemandangan Sungai Han adalah kenikmatan tersendiri untuk Jinyoung. “Satu mangkuk?” Jaebum bertanya dari ujung sofa melihat Jinyoung yang mulai dengan kegiatan ramyeonnya. “Khaw mhau?” Jinyoung menjawab dengan mulut penuh. “Tidak, aku sudah sarapan dirumah.” Jinyoung mengangguk acuh dan kembali melahap ramyeonnya, manik matanya terus memandang Sungai Han yang terlihat jelas dari ruang tamu dengan pepohonan dipinggirnya. Pemandangan indah itu tidak cukup menarik perhatian Jaebum dari memandang pipi Jinyoung yang mengembung dipenuhi ramyeon. Jaebum mendekat tak kuasa menahan diri melihat Jinyoung yang terus terlihat menggoda. Jinyoung yang menyadari pergerakan Jaebum berusaha mencegah hal itu dengan menghadang dengan punggungnya. “Berikan!” Jaebum menggeram dibalik punggung Jinyoung. “Kau tadi mengatakan tidak mau!” “Jinyoung! Berikan!” “Tidak mau!” Jaebum berdecak, ia memutar kepala Jinyoung dan menciumnya paksa. Jinyoung tidak tinggal diam ia menggigit bibir bawah Jaebum hingga pria itu menjauhkan wajahnya. Jinyoung berdiri dengan nafas terangah-engah. “Haruskah seperti ini…” Jaebum mengelus bibirnya. “Haruskah kita berkelahi hanya karena sebuah ramyeon?” “Tidak harus seperti ini jika kau tidak pelit.” Gumam Jaebum. Jinyoung berdecak. “YAH! Kau tadi yang menolak saat aku menawarimu!” Jaebum tidak menjawab, terlalu sibuk meresapi rasa sakit dari gigitan Jinyoung. Jinyoung menaruh mangkuk ramyeonnya yang tersisa setengah dan menghampiri Jaebum, ia khawatir gigitannya menyebabkan luka dan membuat Jaebum kesulitan jika makan nanti. Jinyoung menunduk didepan Jaebum “Coba aku lihat.” Jinyoung sedikit menarik bibir bawah Jaebum dan melihat warna kemerahan dibaliknya. “Tidak terlalu parah, hanya perlu diminumi air.” Jaebum memeluk Jinyoung yang hendak menegakkan badan, ia menarik pinggang ramping Jinyoung dan membuatnya jatuh terduduk dipangkuannya. “Yah! Lepask-” Tangan Jaebum menarik tangkuk Jinyoung dan membuat bibir mereka bertemu, Jaebum tidak memberikan kesempatan adanya ciuman manis. Ia langsung mencium Jinyoung dengan rakus dan membuat pria yang lebih muda membuka mulut karena dorongan lidahnya. Jinyoung yang kesal dengan situasi yang mendadak ini ingin menyumpahi dan memukul Jaebum, tapi setelah ia menikmati ciuman Jaebum terlebih dahulu. Jaebum menjadi orang pertama yang melapas tautan mereka, merasakan Jinyoung mencekram terlalu keras pundaknya karena kehabisan nafas. Mereka berlomba-lomba menghirup udara yang ada disekitarnya. “Karena kau tidak memberiku ramyeon, biarkan aku merasakan ramyeon itu langsung dari mulutmu.” Jinyoung ternganga, otak jeniusnya mengatakan persetan untuk membalas gombalan Jaebum. Ia berdiri dari pangkuan Jaebum dan mengambil mangkuk ramyeonnya diatas meja, ia membuka pintu kaca yang mengarah kebalkon dan duduk dikursi kayu untuk melanjutkan makannya. Meninggalkan Jaebum yang tidak berekspresi. Suara bel pintu mengalihkan perhatian Jaebum, ia beranjak kearah pintu untuk melihat tamu tak diundang yang datang. Jinyoung masih berada dibalkon tidak menyadari kedatangan seseorang. Hanya beberapa orang yang tahu menganai penthouse Jaebum, jadi sangat jarang ia kedatangan tamu seperti saat ini. Jaebum memeriksa layar intercom yang menampilkan gambaran pintu depan, Youngjae. Tanpa berniat bertanya mengenai maksud kedatangannya melalui intercom, Jaebum langsung membuka pintu masuk. Youngjae terkejut karena Jaebum yang membuka pintu. “Apakah Jinyoung ada didalam?” Jaebum mengangguk dan Youngjae mengelus d**a karena tebakannya tidak salah jika Jinyoung memang sedang berada di penthouse Jaebum. Youngjae melepas sepatu ketsnya dan menyusul Jaebum menuju ruang tamu. “Youngjae?” Jinyoung memanggil dari arah dapur dengan tangan basah sehabis mencuci. Melihat Jinyoung yang sudah berada didepannya, Youngjae tak kuasa menahan air matanya. Jinyoung terkejut melihat Youngjae yang tiba-tiba menangis. “Ada apa denganmu?” Jinyoung memeluk Youngjae yang sudah terisak dipelukannya, Jaebum yang melihat mereka perlahan menarik koper dan menuju kamarnya meninggalkan mereka untuk memiliki waktu berdua. Jinyoung membawa Youngjae untuk duduk di sofa. “Ada apa? ceritakan padaku.” “Yugyeom…” Youngjae bersusah payah menyebut nama adiknya. Mendengar nama Yugyeom membuat rasa khawatir Jinyoung bertambah menjadi dua kali lipat. “Ada apa dengan anak itu?” “Di-dia, dia meminjam uang.” “Aku harus memikirkan cara untuk dana proyeknya yang sangat banyak.” Terlintas percakapannya dengan Yugyeom kemarin sore. “Meminjam uang?” Jinyoung mengulang memastikan jika ia tidak salah dengar. Youngjae mengangguk ditengah isakannya. “Dia meminjam uang.” “Meminjam uang padamu?” Youngjae menggeleng. Pikiran negatif sudah melingkupi pikiran Jinyoung, Yugyoum dan Uang adalah sebuah masalah besar. Beberapa nama seperti, renternir, mafia uang dan kartel narkoba memenuhi kepalanya. Jinyoung ragu untuk bertanya lebih lanjut. “Yu-yugyeom meminjam uang, pada si-siapa?” Youngjae menatap Jinyoung lama. “Wonpil…” Jinyoung tercengang ternyata ini lebih buruk dari nama-nama penjahat yang terlintas didalam kepalanya. “APA ANAK ITU GILA?!” Jaebum yang baru keluar dari kamar bergidik mendengar bentakan Jinyoung, ia kembali masuk kedalam kamar karena terlalu takut. “Aku juga tidak mengerti.” Youngjae terlihat sangat pasrah. Jinyoung terlelu gemas dengan masalah baru ini, ia tergesa-gesa membuka tas ranselnya untuk mencari ponsel. Ia segera mencari kontak Yuygyeom dan menghubunginya, beberapa saat terdengar nada tersambung. Youngjae mengawasi kegiatan Jinyoung menelpon Yugyoem. Mata Jinyoung membulat mengetahui panggilannya ditolak. “b******n tengik!” Ia kembali menghubungi kontak Yugyeom tapi kali ini dijawab oleh operator wanita dengan nada suara yang paling dibenci Jinyoung. “Dimana anak itu sekarang?” Jinyoung kembali duduk berhadapan dengan Youngjae. “Aku tidak tahu, begitu aku bangun pagi ini ponselku beberapa kali dihubungi oleh nomor yang tidak dikenal.” “Wonpil?” Tebak Jinyoung dan Youngjae mengangguk. Jinyoung mendesah. “Lalu apakah Wonpil memberikannya uang?” “Sangat banyak.” Tangan Jinyoung mengepal dan memukul sandaran sofa. “Aku tidak mengerti jalan pikiran anak itu!” “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Jinyoung melihat Youngjae akan bersiap untuk menangis ronde kedua. “Tenangkan pikiranmu, aku ada bersamamu.” Pria b******k bernama Wonpil itu adalah mantan atasan Youngjae diperusahaan lamanya, ia juga sekaligus mantan kekasih paksanya. Jinyoung dan Youngjae hampir memiliki situasi yang sama ketika mereka memiliki hubungan spesial dengan atasan tempat mereka bekerja, hanya saja cerita Youngjae sedikit berbeda. Wonpil adalah tipe orang yang dominan, ditempat kerja ia bahkan dua kali lipat lebih tegas dan menekan dari Jaebum. Begitu pula ketika ia danYoungjae saat menjalin hubungan, Youngjae sebenarnya tidak sadar sejak kapan ia akhirnya menerima Wonpil. Youngjae hanya ingat ketika Wonpil memaksanya untuk menjadi kekasihnya dan Youngjae yang pada dasarnya penurut pada atasannya mengiyakan ajakan pria itu. Youngjae dibalik wajahnya yang selalu ceria dan mudah tertawa, ia adalah tipe orang yang submissive. Sangat penurut, itu semua Jinyoung sadari ketika saat mereka kecil Youngjae selalu menuruti perintah orang tuanya. Sepertinya Wonpil memberikan efek yang sama seperti orang tua Youngjae dulu. Youngjae tertidur diatas sofa setelah menangis lama, ketika Jinyoung mengatakan apakah ia sudah makan Youngjae menjawab belum memasukan apapun kedalam perutnya dari pagi ini. Karena panggilan Wonpil yang mengejutkannya hingga bangun dari tidurnya. Jinyoung menatap Youngjae yang tertidur disofa dari arah dapur, ia sedang memasak makan malam untuk Youngjae. Youngjae tertidur dengan memeluk lututnya seperti seekor kucing, terlihat jelas ia sedang dalam masalah karena tidurnya yang seperti mencoba melindungi seluruh tubuhnya. “Apakah Youngjae baik-baik saja?” Jaebum bertanya, ia sedang duduk dimeja makan menemani Jinyoung dengan ponsel ditangannya. Beberapa saat yang lalu ketika merasa ruang tamu sunyi tanpa ada bentakan dan makian Jinyoung, Jaebum memberanikan diri keluar dari kamarnya dan melihat situasi yang sudah mulai kondusif. Ia terkejut sempat menduga Jinyoung membuat Youngjae pingsan, tapi melihat nafas teratur Youngjae ia menyadari sahabat kekasihnya itu sedang tidur. Jinyoung menghela nafas, kembali mengaduk kimchi jiggaenya. “Entahlah, aku harap semua baik-baik saja.” Jaebum melirik Jinyoung yang sangat khawatir. Jinyoung masih tidak mengerti bagaimana bisa Yugyeom melakukan tindakan bodoh itu, Yugyeom tahu Wonpil adalah mantan kekasih Youngjae karena Wonpil dengan percaya dirinya memperkenalkan diri dan melakukan pengakuan, karena hal itu Yugyeom dan Youngjae berkelahi hebat karena hubungan yang dimilikinya. Hal itu pula yang mempengaruhi Jinyoung untuk belum bisa menerima ajakan Jaebum melakukan pengakuan karena pengalaman didepan matanya sendiri mengakibatkan hal yang tidak baik. Jinyoung melirik Jaebum yang menggigit bibir bawah dengan kerutan dialisnya, ia terlalu serius dengan ponselnya. Semua puncak masalah Youngjae bersama Wonpil ketika mereka menghadiri acara perusahaan dan Wonpil mabuk berat hingga hampir memperkosa Youngjae. “LEPASKAN!” Youngjae berteriak sekuat mungkin. Saat ini Wonpil sedang menerjangnya disofa ruang kerjanya, pria itu sedang mabuk berat. Tapi Youngjae ragu karena dari pandangan matanya terlihat jelas bahwa Wonpil sedang sangat sadar. Youngjae sudah menangis sejak Wonpil menariknya meninggalkan keramaian pesta yang sedang berlangsung dilobi lantai bawah, hari ini adalah pesta ulang tahun perusahaan. Youngjae merasa ketakutan ketika Wonpil menghampirinya didepan rekan kerjanya yang lain dan memaksanya menuju ruangannya. Ketika Wonpil melempar Youngjae masuk dan mengunci pintu, Youngjae sadar dengan apa yang akan dilakukan Wonpil. Youngjae berusaha mencari cara agar bisa lepas dari Wonpil, tapi otaknya menyadari tidak ada jalan selain pintu masuk yang ada dibalik tubuh Wonpil. “Jangan mencoba untuk melarikan diri.” Suara Wonpil sangat menekan dan masih memberikan efek pada Youngjae. “Ma-maafkan kesalahanku, tolong lepaskan aku.” Youngjae tidak tahu apa kesalahannya, yang ia tahu sekarang hanya berusaha untuk menenangkan Wonpil. “Melepaskanmu?” Wonpil tertawa hambar. Perlahan langkahnya mendekati Youngjae yang berada dipojok ruangan, satu persatu Wonpil melepas kancing kemejanya. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu. BAHKAN NERAKA TIDAK AKAN BISA MEREBUTMU DARIKU!” Teriak Wonpil melempar kemeja putihnya, menampilkan tubuh atasnnya yang terbentuk sempurna. Youngjae kesakitan ketika Wonpil meremas pergelangan tangan dan membantingnya disofa, Wonpil dengan sangat liar mencium Youngjae paksa. Mata, kening, pipi dan dagu tidak terlewatkan dari ciuman Wonpil, seakan-akan ia sangat menyukai setiap bentuk wajah Youngjae. Tangan Youngjae masih terus berusaha mendorong d**a Wonpil untuk menjauhkan pria itu, tapi Wonpil yang sempat meneriakinya membuat tenaga Youngjae melemah. Wonpil melepaskan dasi yang masih Youngjae kenakan dan menggunakannya untuk mengikat tangan Youngjae diatas kepalanya. Wonpil menyeringai melihat Youngjae yang tak bisa berkutik lagi, ia hanya bisa menangis bahkan sudah lelah untuk berteriak karena ruang kerja Wonpil yang sialnya kedap suara. Wonpil merobek kemeja Youngjae membuat kancingnya terlepas berserakan jatuh kelantai, Youngjae menutup matanya tidak kuat melihat tatapan terpana Wonpil pada tubuhnya. Menggigit bibir bawahnya Youngjae berusaha menahan isakan ketika merasakan bibir basah Wonpil didadanya, dengan kasar ia merasakan tangan Wonpil bermain dipahanya. “Buka matamu!” Mendengar perintah Wonpil, Youngjae membuka matanya. Wonpil menegakkan badan diatas Youngjae. “Aku pastikan takdir hidupmu mulai sekarang diatur olehku.” Tiba-tiba Youngjae merasakan emosi untuk pertama kalinya ketika menghadapi Wonpil, bahkan perlakuannya selama ini terhadap Youngjae tidak pernah memancing emosinya. Namun ketika melihat Wonpil yang perlahan membuka sabuk yang memilit pinggangnya emosi Youngjae seketika terpancing. “Lakukan apapun yang kau mau!” Youngjae menatap Wonpil sengit, membuat pria itu menghentikan kegiatannya. “Dan setelah ini kita lihat, apakah benar neraka tidak bisa merebutku darimu.” Wonpil mengernyit. “Akanku pastikan malam ini akan menjadi malam terakhir kau melihatku!” Wonpil memukul sisi wajah Youngjae, membuat sofa itu berkerut karena hantaman tangannya. Youngjae bahkan tidak menunjukkan rasa takut ketika tangan Wonpil hampir mengenai wajahnya dan itu sangat mengesalkan untuk Wonpil ketika Youngjae tidak menatapnya dengan rasa takut. “Aku akan segera menghilang darimu.” Air mata Youngjae kembali menetes. “Dan jika kau ingin menemukanku, maka cari aku dineraka!” Wonpil tertegun mendengar Youngjae yang untuk pertama kalinya melawan perkataannya, bahkan mengancam. Pandangan mata itu tidak munujukkan rasa takut tapi hanya keseriusan yang dapat Wonpil lihat. Melihat Wonpil yang tidak menunjukkan reaksi apapun Youngjae mendorong pria itu dan berdiri berusaha melepaskan ikatan ditangannnya. Pergi dari tempat itu secepat mungkin tiba-tiba mejadi tujuan hidup Youngjae. “Jangan pergi…” Langkah Youngjae tertahan, pintu keluar sudah beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri. Youngjae mengepalkan tangan. “Selamat tinggal.” Youngjae memutar kunci pintu dan memutar gagangnya. “Jika kau pergi aku akan melakukannya dengan orang lain!” Youngjae terdiam, ada rasa sakit didadanya ketika mendengar Wonpil mengatakan itu. Bagaimanpun juga Youngjae adalah kekasihnya saat ini, tapi begitu Wonpil mengancamnya seperti itu kekasih manapun tidak ingin jika kekasihnya memiliki hubungan intim dengan orang lain. Youngjae menoleh dengan mata yang masih setia mengeluarkan air matanya, ia menatap Wonpil yang masih berdiri dengan tubuh bagian atasnya yang penuh dengan cakaran dari kuku Youngjae. Wajahnya, wajah yang sempat membuat Youngjae terkagum itu tidak menunjukkan penyesalan sedikitpun. Masih terlihat tegas dan penuh penekanan seperti ucapannya. “Jika kau lakukan hal itu, maka kita berakhir! Younjae keluar dan membanting pintu itu kasar, ia sengaja mengatakan hal itu karena ia tahu Wonpil pasti akan tetap melakukannya. Youngjae tidak ingin menjadi orang yang mengakhiri hubungan mereka karena Wonpil lah yang memulai, jadi Youngjae masih tetap pada pendirian hidupnya yang tidak akan mengakhiri apapun yang sudah ia mulai. Dengan menjawab seperti itu Youngjae akan terasa bebas karena Wonpil akan mengakhiri hubungan mereka. Youngjae berlari keluar gedung melalui tangga darurat menghidari orang-orang yang mungkin akan berpapasan dengannya, tangannya berusaha menutupi tubuhnya dengan kemeja yang sudah terkoyak, ia sudah menghubungi Jinyoung untuk menjemputnya. Youngjae tidak menyangka ternyata cinta itu semenyakitkan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD