7. Two Ties

1878 Words
Jaebum duduk dibalkon kamarnya yang menghadap halaman belakang, pagi ini terasa sangat tenang. Langit mendung menyembunyikan cahaya matahari pagi, tetapi ramalan cuaca mengatakan hari ini tidak akan ada hujan turun. Hari ini adalah hari anak yaitu hari libur nasional dan Jaebum tidak perlu kekantor jika tidak ada hal yang mendesak. Ia menyesap putung rokok yang terselip ditangannya, menghisapnya pelan dan menghembuskan asap yang tebal dari bibirnya. Jaebum sebenarnya tidak memiliki ketertarikan pada benda seperti rokok, selain itu Jinyoung juga akan sangat marah jika ia masih memakai benda itu. Tapi hari ini Jaebum merasa sangat bosan dan melihat sekotak rokok yang ia tinggalkan didalam laci mejanya. “Sejak kapan kau pulang?” Jaebum mengetuk pelan batang rokoknya, menjatuhkan abu rokok yang mengumpul diujungnya. “Aku tidur disini tadi malam.” Orang yang baru mendatangi Jaebum menghampirinya dan mengambil kursi kayu yang ada disebalahnya, mereka duduk dibatasi meja kaca kecil. “Hyung sudah tidur semalam, aku tiba tengah malam.” Lanjut Jaebum. Setelah kegiatan rutinnya mengunjungi keluarga Jinyoung kemarin, Jaebum memutuskan untuk pulang kerumahnya dan membiarkan penthouse mewahnya kosong semalaman. “Bagaimana kabarmu Hyung?” Jaebum menoleh menatap sang kakak yang sedari tadi tidak melepas pandangan darinya. Mark tersenyum. “Aku baik, bagaimana denganmu?” Mark melirik putung rokok ditangan Jaebum. “Apa kau ada masalah?” Jaebum menggeleng. Ia memperhatikan senyuman kakaknya. Senyuman yang sangat Jaebum sukai, bagi Jaebum ia memiliki dua senyuman terindah dihidupnya. Yang pertama adalah senyuman Jinyoung yang memunculkan kerutan manis dimatanya dan kedua senyuman Mark yang selalu memperlihatkan gigi putihnya membawa kesan ceria kepada semua orang. “Lalu untuk apa kau merokok?” “Aku sedang bosan.” Mark terkekeh. “Jika kau bosan daripada merokok, seharusnya kau menghampiriku untuk memiliki teman mengobrol.” Jaebum tersenyum lembut mendengar kakaknya yang perhatian, ia kembali menyesap rokoknya dan mengeluarkan asapnya berlawanan dari tempat duduk Mark, karena Mark tidak menyukai asap rokok. Jaebum dan Mark adalah dua bersaudara yang memiliki perbedaan 1 tahun pada umur mereka, mereka terlahir sebagai keturunan keluarga Im. Walau memiliki waktu kelahiran yang hanya berjarak 1 tahun, Jaebum dan Mark adalah dua orang yang sangat berbeda. Semua itu terlihat dari perawakan dan sifat mereka. Bila Jaebum adalah pria yang gagah dengan tinggi 178cm, d**a bidang dan porsi badan yang sangat pas untuk seorang pria gagah. Maka Mark adalah kebalikannya, Mark sedikit lebih pendek dari Jaebum yaitu 175cm, Mark juga memiliki tubuh yang jangkung dan cenderung kurus hampir lebih kurus dari Jinyoung. Selama ini sifat Jaebum yang tertutup dari keluarganya akan tertutupi oleh sifat Mark yang selalu terbuka dan membuat orang disekitarnya merasa nyaman. “Kau sudah bertemu dengan Eomma?” “Belum.” Mark bermain dengan kelopak bunga yang ada divas diatas meja. “Kau tidak berniat menghampirinya? Dia sedang ada dikamar.” Mark melirik Jaebum untuk melihat ekspresi adiknya. “Aku tadi menghampirinya dan ia memberitahuku jika kau pulang.” Jaebum kembali menghisap rokoknya yang tersisa setengah batang. “Bagaimana ia tahu aku dirumah?” Mark mengedikkan bahu. “Aku juga tidak tahu.” Mark selalu merasa canggung jika memiliki topik pembicaraan seperti ini dengan adiknya. Mereka terasa memiliki jarak yang jauh satu sama lain, melupakan fakta jika mereka bekerja digedung yang sama. Karena kesibukkan masing-masing membuat mereka jarang untuk bertemu, mereka akan bertemu jika memiliki acara formal seperti makan malam bersama atau menghadiri acara perusahaan. Mark terkadang merindukan suasana keluargnya yang dulu. “Apakah kita akan sarapan bersama?” Jaebum tahu Mark merasa canggung dan sensitif jika pembahasan mereka seakan-akan seperti keluarga yang terpecah-belah. “Tentu saja!” Jaebum menyayangi keluargnya, tetapi Jaebum bukanlah Mark yang terbuka dan mampu menunjukkan perasaannya. Jaebum sadar sifatnya yang sedikit tertutup ini membuatnya memiliki jarak dengan beberapa hubungannya, kecuali hubungannya dengan Jinyoung. Ketika Mark memilih untuk tetap tinggal dirumah meraka, Jaebum lebih memilih untuk memiliki penthouse dan tinggal sendiri setelah lulus kuliah. Ketika Mark yang ramah kepada media sehingga menjadi wajah perusahaan, Jaebum lebih memilih untuk menutup diri dan menunggu sampai ia diperkenalkan secara resmi. Tetapi sampai sekarang mereka masih belum memperkenalkannya sebagai salah satu pemegang warisan dan hanya sedikit yang tahu Jaebum bagian dari keluarga Im, kadang itu yang membuat Jaebum merasa dikucilkan dan merasa hal itu karena ia tidak layak. Mark mengambil rokok yang terselip dijari Jaebum, mematikan putung rokok yang masih tersisa setengah itu dan membuangnya diasbak. “Daripada kau menghisap benda itu, bagaimana jika kau menghisap ini saja?” Mark menunjukkan dua bola kecil ditelapak tangannya yang digulung kertas aluminium emas, Jaebum tersenyum melihat benda itu. Jaebum mengambil satu dan membuka bungkus kertasnya, ia melihat cokelat bulat yang menjadi permen favoritnya saat kecil dulu. Lidah Jaebum yang semula merasakan mint dari rokoknya kini dimanjakan dengan rasa manis, giginya menggigit bola itu hingga terbelah dua didalam mulutnya dan mengeluarkan lelehan cokelat rasa strawberry yang tersembunyi didalamnya. “Kau masih menyukainya?” Tanya Mark yang juga sedang mengunyah permen cokelat yang sama. “Sangat menyukainya Hyung!” Jaebum dan Mark terkekeh karena dimanjakan rasa manis dari cokelat itu. Rasa yang tidak hanya dirasakan lidah tetapi juga pikiran karena membawa kenangan lama mereka. Mark berdiri memberikan telapak tangannya pada Jaebum. “Ayo kita sarapan!” Jaebum mengangguk dan meraih tangan Mark. Mereka berjalan keluar kamar Jaebum dan menuju dapur dilantai bawah dengan genggaman tangan yang hangat. Jaebum melihat Ibunya sudah menanti mereka dimeja makan. Wanita itu mengenakan pakaian santai tapi tetap terlihat mewah, jarinya sibuk bermain dilayar Tab dan berselancar dengan benda itu. “Eomma.” Panggil Mark pelan. Sunmi menghentikan kegiatan dengan Tabnya, ia memusatkan perhatian pada dua anaknya terutama Jaebum. “Selamat pagi.” Sunmi adalah wanita yang formal dan memiliki sedikit selera humor. “Selamat pagi.” Jawab Jaebum dan Mark bersamaan, mengambil posisi duduk berhadapan dan Sunmi duduk diujung meja. Sunmi melirik Jaebum. “Bagaimana kabarmu?” “Kabarku baik Eomma.” “Bagaimana pekerjaan dikantor, apakah ada yang menyulitkan?” Mark terdiam memperhatikan Ibu dan Adiknya. Jaebum berdehem, merasa dirinya sedang ditanya saat kecil dulu apakah nilai dirapotnya diatas rata-rata atau tidak. “Semuanya berjalan lancar.” Sunmi mengangguk. “Kau terlihat semakin kurus, jangan melewatkan waktu untuk makan.” Jaebum mengiyakan. “Maafkan Eomma yang jarang mengunjungimu dan melihat keadaanmu.” “Tidak masalah Eomma.” Sunmi menghela nafas. “Eomma masih berharap untukmu kembali pulang dan tinggal bersama, agar pikiranku tidak selalu terpecah antara memikirkanmu yang tinggal sendiri dan pekerjaan kantor yang selalu menumpuk.” “Maaf sudah membuatmu khawatir Eomma.” Ucap Jaebum. “Ayo kita mulai sarapan.” Ujar Mark yang semakin tidak tahan dengan pembahasan mereka. Tanpa jawaban, mereka mulai menikmati sarapan yang sudah disiapkan pelayan rumah dengan kesunyian. Sunmi menjadi Ibu yang sangat mengajarkan sopan santun kepada Mark dan Jaebum, bahkan ketika berada diatas meja makan jarang ada yang berbicara selama kegiatan makan berlangsung untuk menjaga etika. “Appa menitipkan salam untuk kalian.” Sunmi memecahkan keheningan setelah membalikan sendok dan garpunya memberikan tanda bahwa ia telah selesai. “Appa baru saja menghubungi dan meminta Eomma untuk mendatanginya ke New York.” “Eomma akan menyusul Appa?” Tanya Mark dengan suapan terakhirnya. “Iya, Eomma akan berangkat lusa dan kemungkinan akan berada disana selama 2 minggu. Selain karena masalah perkerjaan, Eomma dan Appa butuh waktu untuk honeymoon lagi.” Mark menganga mendengar kata honeymoon, Jaebum hanya memperhatikan dan masih terus bertarung dengan sarapannya. “Maka dari itu perusahaan selama dua minggu kedepan Eomma serahkan pada kalian berdua.” Sunmi menatap Mark dan Jaebum bergantian. “Eomma percaya dengan kalian berdua.” “Baik Eomma!” Jawab Mark dan Jaebum hanya mengangguk mulutnya penuh dengan makanan pipinya sudah terlihat seperti hamster. “Oh ya, aku juga ingin menyampaikan salam Jackson. Lima hari lagi ia akan datang ke korea bersama adiknya.” Mendengar nama Jackson membuat Sunmi dan Jaebum memusatkan perhatian pada Mark. “Bagaimana kabar Jackson calon menantuku?” Mendengar kata calon menantu Jaebum jadi merasa iri. “Kabarnya baik, Jackson kesini karena masalah pekerjaan. Dia sedang mencoba mencari agensi yang bisa membuatnya menatap disini.” Mark melirik Jaebum yang menunduk. “Itu berita yang baik.” Sunmi terlihat bersemangat. “Berarti kalian tidak perlu lagi memiliki hubungan jarak jauh, dan Jackson bisa menetap disini.” Mark mengangguk setuju. “Dan adiknya akan melanjutkan kuliah disini, jadi mereka berdua akan menetap di Korea.” “Apa mereka sudah mendapatkan tempat?” Tanya Jaebum. Mark menggeleng ragu. “Belum, Jackson berkata untuk mempersiapkan semuanya secara perlahan dan bahkan menolak bantuanku. Dan Jaebum…” Mark menatap Jaebum lekat, membuat Jaebum mengkerutkan alisnya. “Jackson bertanya apakah untuk sementara ia dan adiknya bisa tinggal dipenthousemu?” Jaebum terkejut mendengar Mark. “Kenapa ia tidak tinggal disini?” Sunmi menjawab setelah melihat ekspresi terkejut Jaebum. Jaebum sangat setuju dengan pendapat Ibunya. “Iya, kenapa ia tidak tinggal disini saja? Bukankah kalian juga sudah bertunangan?” “Jackson merasa malu dan tidak enak untuk itu, selain itu adiknya juga pasti akan canggung dan agak tidak nyaman.” Sunmi menyadari hal ini sebagai sebuah peluang bagus. “Lalu bagaimana jika Jaebum kau tinggal disini sementara Jackson menempati penthousemu?” Jaebum terdiam mendengar tawaran itu, ia merasa tidak enak ketika Ibunya terus saja mengajaknya untuk tinggal bersama. Tetapi jika ia merelakan penthousenya maka tidak ada tempat untuknya dan Jinyoung bisa bebas menikmati waktu bersama. “Tidak bisa Eomma, aku tidak bisa meninggalkan tempatku!” Sunmi tidak merespon penolakan Jaebum. “Tidak masalah Eomma, nanti aku akan bicarakan lagi dengan Jackson mungkin dia punya rencana yang lain.” Jaebum berdiri. “Kalau begitu aku mohon permisi untuk kembali kekamar.” Sunmi mengangguk memandang punggung Jaebum yang berlalu. “Aku juga permisi Eomma.” Mark bergegas menyusul Jaebum. Sunmi melongo menyadari dirinya ditinggal sendiri diruang makan. “Ah, kedua b******n itu benar-benar menyebalkan!” Dengan anggun Sunmi menyumpahi kedua anaknya dan berjalan dengan ketukan heels menuju ruang kerjanya. Mark menorobos masuk sebelum Jaebum menutup pintu kamarnya. “Apalagi Hyung?” “Kau sungguh tidak bisa membantuku untuk menitip Jackson?” “Bukannya aku tidak ingin membantu.” Jaebum membuka lemari pakaian melihat-lihat pakaiannya. “Bukankah kau bisa membantunya? Selain itu Jackson memiliki banyak uang, tidak bisakah ia mencari tempat tinggal?” Jaebum mengambil beberapa Jas lamanya yang akan ia kenakan untuk bekerja, karena di penthousenya hanya terdapat beberapa pasang. Mark melemparkan tubuhnya keranjang king size Jaebum, membuat aroma tubuh Jaebum menyebar disekitar indra penciumannya. Ini wangi yang menunjukkan hormonnya sedang tinggi. “Kau tidak dengar tadi? Aku sudah katakan jika Jackson dengan kesombongannya menolak bantuanku dan juga ia masih memiliki masalah dengan karirnya.” Jaebum memasukan pakaian terakhir kedalam kopernya, Ia berkacak pinggang melihat Mark yang terlentang diatas ranjangnya dengan lengan yang menutupi matanya. Jaebum yakin Mark saat ini sedang menahan tangisannya, Mark adalah kakak yang cengeng. “Baiklah.” Jaebum sedikit terloncat melihat reaksi Mark yang langsung terbangun. “APAKAH KAU MENERIMANYA?” “Tapi…” Mulut Mark terbuka tangannya menangkup penuh harap, Jeabum dengan telunjuknya menggerakan dagu Mark agar mulutnya menutup. “Aku tidak ingin dia mengganggu privasiku, menanyakan berbagai hal tentang kehidupanku, menyebarkan gosip apapun tentangku…” Jaebum menatap Mark yang masih berkaca-kaca dengan puppy eyesnya. “Ah, dan berlaku juga untuk adiknya. Aku tidak mau mereka mengganggu waktuku bersama-” Oh s**t!. Mark mengernyit. “Bersama?” Jaebum mengalihkan pandangannya. “Be-bersama Nora! Ya bersama Nora.” “Nora?” “Nora, kucing peliharanku.” Mulut Mark kembali terbuka. “Kau? Im Jaebum! Hidup dengan seekor kucing?” Kedua alis Jaebum terangkat melihat reaksi Mark. “Ada yang aneh?” “Bukannya kau tidak bisa tinggal dengan makhluk hidup lain? Karena itu kau pindah?” Jaebum melipat kedua tangannya. “Wah, aku baru saja memberikan penawaran terbaik untukmu! Apakah aku harus menariknya kembali?” “AH! JANGAN! Hehe.” Mark terkekeh. “Aku hanya bercanda adik kecil.” Mark turun dari ranjang dan bergelantungan dilengan kekar Jaebum. “Janganlah terlalu kaku dengan Hyungmu ini.” Jaebum meringis melihat mereka yang sepertinya tertukar posisi antara siapa yang pantas menjadi kakak dan adik, apalagi Mark yang sekarang sedang bergelantungan seperti monyet dilengannya. “Baiklah, aku harus kembali ke penthouse untuk menyiapkan kamar mereka.” Jaebum merapikan kopernya. “Aku akan segera memberitahu Jackson mengenai berita baik ini.” Mark menemani Jaebum sampai kehalaman depan menuju mobilnya dan membantu untuk memasukkan koper adiknya itu, Jaebum masuk kedalam mobil dan Mark berdiri diluar pintu mobilnya. “Katakan pada Eomma jika aku pergi sekarang.” Mark mengangguk. “Dan kabari aku kapan tepatnya Jackson datang.” Mark mengangguk. “Dan siapa nama adiknya itu? Aku lupa.” “Bambam!” “Ah iya, karena dia akan melanjutkan kuliahnya disini. Apakah dia akan berkuliah ditempat kita dulu?” Mark kembali mengangguk. “Baiklah, aku pergi Hyung.” Jaebum melajukan mobilnya menuju pintu gerbang utama rumah mereka, melewati taman dan beberapa bangunan selain bangunan utama. “Berkendara dengan hati-hati.” Teriak Mark dengan lambaian tangannya. Selama perjalanan menuju penthousenya Jaebum menyusun rencana ketika teman-temannya dan Jackson yang akan datang diwaktu yang sama nanti. Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis, sangat tipis. Ia memiliki rencana untuk Jinyoung dan tentu saja ini mengenai hubungan mereka nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD