6. Slowly

2381 Words
Sungai Han salah satu sungai terpanjang di Korea Selatan dan jalur alirannya melewati tepat jantung kota Seoul melengkapi keindahan yang dimiliki kota itu. Sore ini Sungai Han dipenuhi oleh warga sekitar yang melakukan berbagai aktivitas disepanjang alirannya, keindahannya yang memantulkan cahaya keemasan dari matahari sore sangat memanjakan mata. Jinyoung berdiri dipinggir pagar pembatas, menumpu berat badannya pada besi dingin itu. Sore ini air sungai sangat tenang karena angin sore yang tidak terlalu kencang, dikejauhan Jinyoung dapat melihat tenda terapung yang merupakan arena tempat melakukan aktivitas water sport seperti Jet Ski, Banana Boat bahkan Parasailing. Jinyoung miris melihat tempat yang ramai oleh anak muda itu, ia pernah mencobanya sekali bersama Jaebum. Mereka berada disana hanya tidak lebih dari 15 menit karena ia yang tenggelam saat mencoba selancar air dan berakhir didalam ambulance menuju rumah sakit. Jaebum terlalu bodoh karena tidak bisa melakukan CPR untuknya dan ia terlalu emosi ketika petugas penyelamat setempat berusaha memberikan Jinyoung CPR, maka berakhirlah ia tersadar didalam ambulance yang menuju rumah sakit. Ketika Jaebum menceritakan apa yang terjadi padanya, dengan sangat tidak ada rasa manusiawi Jaebum berkata lebih memilih Jinyoung tersiksa karena tersedak air dan meregang nyawa daripada harus membiarkan orang lain melakukan CPR padanya. Setelah itu Jinyoung tidak berbicara pada Jaebum selama 1 minggu penuh, mereka tetap bertemu tetapi tidak berkomunikasi. Jinyoung menyuruh Jaebum untuk berpacaran dengan arwahnya saja. Jinyoung bergidik mengingat salah satu pengalaman memalukannya bersama Jaebum dan masih banyak pengalaman memalukan lainnya yang terkadang masih menghantui Jinyoung. Sebuah tangan tiba-tiba menutup pandangan Jinyoung, telapak tangan yang lebar itu bahkan hampir bisa menutup area pernapasannya juga. “Berapa kali harus kukatakan padamu untuk berhenti menggunakan parfumku!” Jinyoung menggeram. “Aisshh…” Yugyeom menurunkan tangannya dan berdiri disebelah Jinyoung. “Aku suka dengan wanginya.” “Lalu kenapa tidak kau beli sendiri untukmu?” “Untuk apa menghamburkan uang jika Hyung punya yang sama?” Jinyoung memutar mata sangat percuma berargumen dengan Tuan Pelit berkedok irit itu. “Bagaimana dengan kuliahmu?” Yugyeom mendesah menjatuhkan dagunya diatas tangan yang menumpu pada besi pembatas. “Aku harus memikirkan proyek untuk semester akhir.” “Apakah sulit?” Yugyeom menggeleng. “Terlalu banyak yang harus dikerjakan?” Yugyeom menggeleng. “Lalu?” “Aku harus memikirkan cara untuk dana proyeknya yang sangat banyak.” Jinyoung paham akan hal itu, Yugyeom adalah salah satu mahasiswa yang belajar ditempatnya dan Youngjae dulu. Tentu saja banyak pengeluaran mengingat reputasi kampus itu yang sangat terkenal, dan Yugyeom adalah mahasiswa seni yang mengambil jurusan fotografi. “Sudah berbicara dengan Youngjae?” Yugyeom kembali menggeleng. “Aku terlalu takut…” Ia menegakkan badannya dan menghela nafas kasar. “Kau kan tahu Hyung ia sangat menentangku ketika mengambil jalur ini. Tapi aku sangat menyukai. Bukan, sangat mencintai kegiatan ini.” Jinyoung mengangguk kembali teringat dibenaknya ketika Youngjae dan Yugyeom berkelahi selama satu minggu hanya karena masalah pendidikan. Youngjae adalah kakak yang keras. Ia ingin Yugyeom menjadi seperti dirinya, sukses dengan caranya, menjadi bangga seperti dirinya. Tapi Yugyeom adalah anak yang bebas, ia lebih suka mencoba berbagai cara dan teknik ketika mengambil gambar, mecoba berbagai warna yang cocok untuk membuat gambarnya lebih bermakna, bahkan bakat melukisnya diatas kanvas kosong sudah tidak diragukan. Ia tidak ingin seperti kakaknya yang harus berpatokan pada rumus, harus mengikuti peraturan matematika yang diciptakan orang-orang lampau dan tidak bisa menciptakan dengan caranya sendiri. “Ayo, sudah malam sebaiknya kita pulang.” Jinyoung berjalan bersebelahan dengan Yugyeom yang lebih tinggi darinya, mereka berjalan pelan melawan aliran arus Sungai Han menuju halte bus terdekat. Senja sudah berakhir, matahari telah pergi menyinari bagian lain dari bumi yang bulat ini karena Jinyoung bukan termasuk kaum Flat Earth. Jinyoung dan Yugyeom tiba tepat saat makan malam, mereka masuk kedalam rumah dengan rasa letih dan segera ingin bermalas-malasan. “Aku pulaaang~” Jinyoung berputar-putar mendekap tangan dengan senyuman sumringah yang menggelikan. “Hyung kau datang?!” Yugyeom meninggalkan Jinyoung yang masih dengan adegan princess disneynya didepan pintu masuk. Jinyoung membeku dengan posisinya, melihat Jaebum dengan pakaian kasualnya duduk disofa ruang tamu dengan bibir yang sibuk menyesap teh hangat. Lagi hal memalukan baru saja Jinyoung lakukan. Jinyoung menormalkan dirinya menghampiri Jaebum yang menatapnya dengan tatapan penyesalan, merasa menyesal telah memiliki hubungan cinta dengannya. “Apa kabar Hyung, sudah sangat lama.” Yugyeom memberikan salam dengan mengadu dua kepalan tangan mereka. “Kabarku baik, bagaimana denganmu?” “Aku juga baik Hyung, cuman sedikit khawatir…” Jaebum memandangnya bingung, Jingyoung mengambil posisi duduk didepan Jaebum meja kaca membatasi mereka. “Jinyoung Hyung sepertinya makin parah, kau lihat tadikan?” Tangan Yugyeom menutupi sisi wajahnya dari Jinyoung, seolah-olah sedang berbisik. Jaebum mengangguk ragu karena menurutnya Yugyeom benar. “Kim Yugyeomshi~t!” Tidak ada benda yang dapat Jinyoung lempar kecuali ponselnya dan ia tidak mau melempar benda pipih itu. “Kalau begitu aku keatas dulu Hyung.” Sekarang hanya tersisa Jaebum dan Jinyoung diruang tamu, Yoona sedang sibuk menyiapkan makan malam. Sebenarnya Jaebum hendak membantunya tapi Yoona melarangnnya karena ia takut makanannya menjadi tidak enak karena fokus memasaknya teralihkan oleh ketampanan Jaebum. “Untuk apa kau kemari?” Jinyoung bersuara mengalihkan pandangan Jaebum dari layar ponselnya. “Hanya ingin melakukan tugas rutinku untuk mampir kesini sebagai pasangan yang baik.” Jaebum bersuara pelan karena tidak ingin ada yang mendengarnya. Jinyoung mengangguk, karena tidak adanya keromantisan Jaebum ia beranjak untuk kekamarnya dan membersihkan diri. Meninggalkan Jaebum dengan kekakuannya. Pertolongan terakhir untuk hari yang berat ini adalah berendam dengan air hangat, membayangkannya saja membuat Jinyoung sudah tidak sabar. Masuk kedalam kamar Jinyoung merasakan pintu kamarnya yang tertahan saat hendak menutupnya, ia mengintip dan melihat Jaebum yang berdiri diluar dengan tangan yang menahan pintu. “Menyingkir!” Jaebum mengangguk dan segera mendorong pintu itu lalu masuk keadalam kamar. Jinyoung menghela lemah, memang dirinya tidak akan pernah bisa menang dari seorang Im Jaebum. Jinyoung terlalu malas untuk mengeluarkan sepatah katapun pada Jaebum, dan Jaebum sepertinya tidak ingin mengeluarkan suara jadi ia segera merapikan tas dan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air panasnya. Jaebum duduk bersandar di kepala ranjang Jinyoung kembali sibuk dengan layar ponselnya, Jinyoung tebak ia masih berkutat dengan diagram keuangan perusahaan. Tanpa peduli akan keberadaan orang lain, Jinyoung melepaskan pakaiannya satu-persatu menyisakan celana dalamnya yang terlihat mengetat karena ukuran pantatnya. Jaebum berpaling dari ponselnya dan melihat semua adegan striptis itu dari awal. “Dasar pengintip!” Jinyoung juga memperhatikan pantulan Jaebum dari kaca lemarinya, melihat ekspresi tertahan Jaebum dan bagaimana pria itu menjilat bibirnya memandang p****t Jinyoung. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” “Sebaiknya besok saja, karena aku akan berendam sangat lama.” Jinyoung meninggalkan Jaebum kedalam kamar mandi, tidak lupa ia menyiapkan lilin aromaterapinya dan mengecek suhu air yang mulai hangat sangat pas untuk kulitnya. Perlahan ia menyentuhkan ujung kakinya dan masuk kedalam bathub, ia membasuh wajah dan rambutnya merasakan kehangatan yang merilekskan tubuh dan pikirannya. Jinyoung sempat memikirkan Jaebum yang berada didalam kamarnya, tapi perhatian pria itu pasti cepat teralih dengan kesibukan ponselnya. Jinyoung memejamkan mata kembali memikirkan kejadian pagi tadi ditempat kerja, ia pusing memikirkan bagaimana harus menghadapi Changmin besok. Tapi setidaknya masalah sudah teratasi yang tinggal ia lakukan hanyalah memastikan kesalahan itu tidak terulang lagi. Ia mengutuk Jaebum karena malam sebelumnya pria itu menelpon dengan panggilan video selama hampir 3 jam dan tidak membiarkan Jinyoung melakukan pekerjaannya. “Kau harus istirahat dari pekerjaanmu.” Ucapan Jaebum semalam membuatnya dongkol, tentu saja ia ingin istirahat salah satunya seperti tidur lebih awal, tidak dengan menerima panggilan video Jaebum hanya karena pria itu ingin Jinyoung memperhatikannya ketika sedang membaca buku. “Im f*****g Jaebum.” Jinyoung membasuh wajahnya berusaha merilekskan pikirannya. Ia merasakan gelombang air dalam bathubnya. Kedua tangan dan kaki Jinyoung tidak bergerak tetapi air bathub bergerak menimbulkan gelombang cukup kencang. Jinyoung membuka mata dan terkejut melihat Jaebum yang sudah duduk disisi bathub dengan tangan yang bermain-main dengan air hangatnya. “YAH!” Jaebum memandang Jinyoung datar lalu menyipratkan air kewajah kekasihnya yang kesal. “Bisakah-” Jinyoung menggeram. “Bisakah kau keluar sebentar dan memberiku sedikit privasi? Aku akan sangat berterima kasih untuk itu!” Jaebum terdiam, masih mempertahankan pandangan datarnya pada Jinyoung. Dikeadaan seperti ini Jinyoung sangat ingin bisa membaca pikiran Jaebum, karena ia selalu gugup menunggu Jaebum yang terdiam dengan pandangan datarnya. Dengan tergesa-gesa Jaebum melepas hoodie dan kaos dalamnya, memperlihatkan tubuh sempurnanya. Menyadari siutasi yang terjadi Jinyoung menenggelamkan dirinya pasrah dengan Jaebum yang memang tidak bisa ditebak, ia merasakan tarikan ditubuhnya dan kepalanya kembali keatas permukaan dan Jaebum sudah duduk dibelakangnya membuatnya bersandar pada d**a bidang pasangannya itu. Mereka berdua berada didalam bathub membuat air hangat itu berubah menjadi panas. “Baiklah katakan.” Melanjutkan pembicaraan mereka dikamar tadi, sepertinya Jaebum tidak sabar ingin membahasnya. Tangan mereka bertautan didalam air, Jaebum memeluk perut Jinyoung dan Jinyoung bermain dengan jarinya. “Hanbin dan yang lainnya kembali.” Jinyoung berhenti memainkan tangan Jaebum. “Lalu?” “Mereka akan menatap disini lagi.” “Bukan kah itu bagus?” Jinyoung merasakan bibir Jaebum yang mencium pundaknya. “Apakah tidak masalah jika aku kembali berkumpul bersama mereka?” Jinyoung mengangguk singkat. Hanbin, Soojin dan Sojeong akan kembali ke Korea setelah dua tahun mereka berpetualang liar mengelilingi dunia. Jinyoung tidak pernah membenci mereka, mereka adalah orang yang baik dan Jinyoung tahu itu. Hanya saja ada sesuatu yang membuat Jinyoung keberatan jika Jaebum terlalu sering bersama mereka, yaitu pergaulannya yang terlalu bebas. Semua kesenangan remaja dan hal-hal yang pada dasarnya dilarang oleh orang tua, mereka lakukan dengan alasan untuk hiburan dan pelarian dari penatnya hidup. Jinyoung tidak mengerti dengan penatnya hidup mereka, karena hidup mereka nyaris sempurna. Jinyoung dan Jaebum mengeringkan tubuh mereka setelah berendam cukup lama, Jinyoung melihat pantulan wajahnya dikaca seukuran badan yang berdiri disudut kamar. Ia mendesah kesal melihat bibirnya yang tebal dan memerah karena hisapan, pantulan Jaebum yang sedang memakai baju dibelakangnya membuatnya tambah kesal. Mereka berdua segera turun untuk menuju meja makan. “Wow, apakah kau berendam dengan air panas?” Jinyoung mengernyit mendengar suara Youngjae. Dimeja makan sudah ada Yugyeom, Youngjae dan Yoona. Tiple Y yang selalu menghantui Jinyoung dan takdir hidupnya. “Untuk apa kau datang?” Jinyoung mengambil posisi duduk disebelah Yugyeom dan berhadapan dengan Youngjae. Yongjae meringis “Aku lupa betapa kasarnya mulutmu itu!” Jaebum duduk disebelah Youngjae dan berhadapan dengan Yugyeom yang melemparkan senyuman manisnya. “Lalu kau sendiri untuk apa ada disini?” Lanjut Youngjae. Jinyoung yang meminum airnya merasa bodoh dengan pertanyaan sahabatnya itu, ia menoleh kearah Yoona yang duduk diujung meja menunjukkan posisinya yang berkuasa ditempat itu. “Eomma sejak kapan kita menerima pengemis dirumah ini?” Ucapnya sarkastik melirik Youngjae. “Oh, apakah pengemis yang kau maksud itu adalah Im Jaebum?” Youngjae menunjuk Jaebum dengan ibu jarinya. “YAK!” “Sudah cukup!” Yoona menggebrak meja, membuat Yugyeom nyaris menumpuhkan kuah sundubu jjigae dari sendoknya. “Aku tidak mengerti dengan kalian berdua! Kalian sudah berteman dari kecil dan sekarang sudah dewasa tapi masih saja bertingkah seperti bocah. Aku heran bagaimana cara kalian bertahan saat hidup berdua dulu! Apa aku perlu menempatkan kalian untuk hidup bersama lagi?” (Sundubu Jjigae = Sup tahu sutra pedas) “Nikahkan saja mereka!” Ujar Yugyeom cuek kembali menyendok supnya, sukses membuat Jaebum mendelik kearahnya. Yoona menjentikkan jari. “Ide yang bagus!” “AHJUMMA!” Mereka terkejut mendengar suara tinggi Jaebum, menyadari semua mata kearahnya Jaebum gelagapan dan menepuk tangan pelan dengan senyuman aneh. Jinyoung menatapnya khawatir dan yang lain memandang bingung. “Masakanmu sangat enak sampai membuatku menjadi bersemangat untuk memujimu!” Yoona menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan aneh. “Kau bahkan belum mencicipinya Jaebum, bahkan piringmu masih bersih.” Jaebum melihat piringnya yang kosong s**t!. “Ma-maksudku, aroma! Ya aromanya!” Kini Jaebum menggerakan tangannya seolah-olah meraih aroma makanan didepannya untuk dihirup. “Aromanya sangat menggugah selera.” Youngjae terkikik menyadari keanehan Jaebum. “Ahjumma sepertinya ada yang cemburu.” Jinyoung menatap tajam Youngjae, ia yang menyadari tatapan tajam itu tersenyum miring. “Sepertinya Jaebum cemburu karena kita nyatanya bersahabat bertiga dan yang menikah hanya aku dan Jinyoung.” Diam-diam Jinyoung mengelus dadanya bersyukur Youngjae tidak mengatakan hal yang aneh-aneh. “Sudah ayo kita mulai makan.” Yoona mempersilahkan para pria itu untuk makan dan menikmati masakannya, kecuali Yugyeom karena ia sudah hampir menghabisi bagiannya. Anak termuda itu memang tidak tahu diri. Jaebum melirik Jinyoung yang juga sedang mencuri pandang kearahnya, pandangan mereka bertemu. Jinyoung tersenyum kearahnya dan Jaebum mengalihkan pandangan pada japchae didepannya. Jinyoung terdiam mendapati reaksi Jaebum, ia tahu Jaebum sedang memikirkan hal yang sama dengan apa yang mereka bicarakan siang tadi. (Japchae = Sohun sayur dan daging) Jinyoung menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang, bahkan dari Yoona yang merupakan satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengan Jinyoung. Yang mengetahui hubungan mereka hanyalah Youngjae, selain karena fakta Youngjae dari awal mengenal Jaebum bersamaan dengan Jinyoung. Jinyoung hanya merasa belum siap untuk membiarkan hubungan mereka menjadi konsumsi publik walau itu hanya dilingkungan pertemanannya, karena ia merasa takut akan pemikiran mereka tentang dirinya ataupun Jaebum nantinya. Lagipula hubungan mereka sudah berjalan cukup lama dan tidak ada masalah yang terjadi selama ini, jadi tidak ada pentingnya untuk memberitahu semua orang. Setidaknya itulah kemauan Jinyoung, tapi Jaebum memiliki pemikiran lain. Jaebum yang lebih dominan dihubungan ini sangat ingin memberitahu semua orang tentang cintanya dan jika ia bisa dan sebenarnya ia sangat bisa, untuk memberitahu dunia bahwa Jinyoung adalah miliknya walau itu terdengar klise. “Bagaimana dengan pekerjaanmu Jaebum?” Yoona memecah keheningan. Jaebum merapikan sendok dan meneguk airnya sebelum menjawab, ia selalu bersikap formal kepada siapapun. “Berjalan dengan baik, walau ada beberapa masalah tapi aku bisa menanganinya.” Tangan Yoona menggapai pundak lebar Jaebum dan mengelusnya. “Jangan bekerja terlalu keras dan ingatlah untuk istirahat, bukankah Jinyoung juga bisa membantumu kalian kan di departemen yang sama walau berbeda perusahaan?” Jaebum mengangguk pelan. Yoona tersenyum tulus kearahnya. “Aku tahu semua atasan itu sangat menyebalkan tapi jangan menyerah, Jinyoung juga sering menceritakan bagaimana menyebalkan atasannya yang b******k itu.” *huk-huk Jinyoung tersedak nasinya. “Aigoo, aigoo! Makannya pelan-pelan nak!” Youngjae memberinya segelas air dengan senyuman jahilnya. (Aigoo = Ya tuhan) Meneguk airnya rakus Jinyoung kembali tersedak melihat tatapan tajam Jaebum kearahnya. “Aku tidak pernah mengatakan itu Eomma!” “Ah iya!” Yoona menyendok kuah sup buatannya dan menyirami kemangkuk nasinya. “Kau memang tidak pernah mengatakannya langsung, tapi aku selalu mendengarmu memakinya didalam kamar.” Youngjae tertawa terbahak-bahak karena tidak tahan dengan pembahasan mereka, menjadi satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran memang sedikit menyiksa. Dan Youngjae adalah orang yang sulit untuk berpura-pura tidak seperti Jinyoung yang pandai berakting. Jaebum semakin menatap nyalang Jinyoung, membuat pria manis yang ditatap tajam itu gugup dan berdiri beranjak kekamar mandi. Mereka kembali melanjutkan untuk menyelesaikan makan malamnya, Youngjae masih sesekali terdengar tertawa bahkan sampai air matanya keluar. Jaebum disebelahnya hanya tersenyum kecut dengan emosi yang menggebu-gebu didalam dadanya. Jinyoung memang sulit untuk dipahami sampai sekarang, tidak hanya hubungan mereka yang jadi korban kebohongannya. Tetapi identitas Jaebum juga menjadi korban, ia mengatakan pada Yoona dan Yugyeom jika Jaebum hanyalah orang menengah seperti mereka yang juga beruntung untuk bisa berkuliah dikampus elite sepertinya dan Youngjae. Kebohongan itu berlanjut hingga mereka lulus. Yoona bertanya apa yang akan Jaebum lakukan setelah lulus nanti. Jaebum sudah bersiap untuk menjawab “Aku akan mewarisi salah satu saham appa diperusahaannya.” Itu yang hendak menjadi jawaban Jaebum sebelum Jinyoung dengan cepat memotongnya. “Ia akan menjadi karyawan biasa seperti kami dan kami akan mencari lowongan bersama!” Ujung bibir Jaebum berkedut mendengar Jinyoung. “Bagus kalau begitu, jangan menyia-nyiakan waktu kalian setelah lulus kuliah. Harus segera mencari pekerjaan secepatnya.” Nasihat Yoona. Youngjae dan Jinyoung tersenyum lebar, sedangkan Jaebum hanya bisa pasrah. Yang membuat Jaebum semakin kesal adalah sampai sekarang diperusahaannya yang sudah memiliki 15 cabang seasia itu, Jabum masih belum bisa menjadi wajah perusahaan dan dikenal orang sebagai salah satu pemegang jabatan tertinggi. Sampai sekarang hanya Ayah, Ibu dan Kakaknya yang menjadi wajah perusahaan. Kebetulan yang sangat mengesalkan ini sangat menguntungkan untuk Jinyoung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD