5. First Time

2247 Words
Jinyoung menatap ragu, berdiri didepan pintu gerbang raksasa yang terbuka lebar dan langsung mempertemukannya dengan lapangan rumput yang luas. “Kita pasti bisa!” Jinyoung menoleh khawatir, jika bisa ia ingin kabur saat itu juga. “A-aku takut!” Pundak Jinyoung tertarik kini badannya menghadap sang sahabat, dua tangan itu meremas pundak Jinyoung. “Jinyoungah lihat aku!” Youngjae melebarkan matanya agar tidak terlihat sipit dan memastikan Jinyoung bisa melihat kedua bola matanya. “Kita bisa melalui ini! Ini baru hari pertama dan aku yakin tidak akan ada kesialan untuk kita!” Tegas Youngjae. “Kau yakin?” “Setidaknya menurutku Tuhan tidak sejahat itu untuk memberikan kita cobaan dihari pertama!” Jinyoung mendesah. “Kau benar, kita tidak akan tahu sebelum mencobanya.” Youngjae mengangguk disebelahnya, mereka berdua kembali menghadap gerbang raksasa yang diatasnya bertuliskan SIU (Seoul International University). Tidak ada senyuman diwajah mereka, keringat terasa ditelapak tangan mereka yang sudah tergenggam erat. Bersama mereka menghirup udara sebanyak-banyaknya layaknya itu adalah saat terakhir mereka bernafas, mengambil satu langkah awal dan masuk kedalam Universitas baru mereka. Hari ini adalah hari pertama Jinyoung dan Youngjae masuk Universitas. Dan juga merupakan hari pertama mereka terbangun dari tidur dikota besar yang merupakan Ibukota dari Korea Selatan itu. Keduanya merupakan sahabat sejak kecil, hampir selama 17 tahun ini mereka hidup dan tumbuh bersama bagaikan saudara. Dari kecil mereka bersekolah ditempat yang sama, oleh sebab itu Jinyoung memutuskan ikut bersama Youngja ke Seoul yang berjarak lebih dari 300 kilometer dari kota asal mereka untuk berkuliah. Semalam mereka tiba sangat larut di Seoul karena terlambat mengejar kereta sore, butuh waktu sekitar 3 jam untuk menggunakan kereta. Keterlambatan itu disebabkan oleh tangisan Yugyeom yang tidak mau merelakan mereka pergi. Yugyeom yang berumur 14 tahun dan masih berstatus pelajar akhir disalah satu Junior High School di Mokpo itu tentu saja tidak bisa ikut menemani kedua Hyungnya, karena harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir. Youngjae yang tidak tega melihat adiknya menangis dan tidak makan selama 2 hari akhirnya berjanji jika dia akan kembali untuk menjemput Yugyeom dan mereka akan tinggal bertiga di Seoul. Jinyoung juga menjanjikan hal yang sama agar Yugyeom segera mengerti dan bisa membiarkan mereka pergi. Karena datang lebih awal butuh waktu cukup lama untuk Jinyoung dan Youngjae menunggu hingga acara penyambutan dan penerimaan mahasiswa baru dimulai. Mereka bersama ratusan mahasiswa lainnya berkumpul digedung aula, tempat itu terlihat sangat mewah dan eksklusif. “Selamat pagi untuk semua mahasiswa baru…” Jinyoung melihat dari kejauhan pria paruh baya yang berdiri diatas panggung dengan jas hitam dan rambut yang sudah memutih. “Baiklah mari kita memulai penyambutan dan penerimaan tahun ini dengan diwakili oleh beberapa mahasiswa terpilih…” Jinyoung tidak terlalu memperhatikan pidato penyambutannya karena sibuk menilai beberapa orang lain yang ada diatas panggung. “Hei, kau tahu mereka siapa?” Youngjae menyenggol lengan Jinyoung. “Apakah aku terlihat sedang diatas panggung?! Aku sedang disampingmu, lalu bagaimana aku bisa tahu siapa mereka!” Youngjae tidak memperdulikan kalimat ketus Jinyoung karena sudah terbiasa, ia memperhatikan 2 laki-laki dan 2 perempuan yang ia tebak adalah perwakilan mahasiswa terpilih. “Mereka terlihat seperti orang berada.” Gumam Youngjae. “Terlihat biasa saja bagiku.” “Bahkan mereka mengenakan selempang beludru dengan tulisan nama mereka. Berbeda dengan kita dengan name tag kecil.” Youngjae terlihat sangat kagum. “Kim Hanbin… Seo Soojin…” Jinyoung memperhatikan mereka setelah mendengar Youngjae membaca nama mereka satu-persatu. “Im Jaebum… Kim Sojeong. Mereka pasti sangat berpengaruh.” “Atau mungkin hanya sekedar beruntung karena bisa dipilih secara acak.” Tukas Jinyoung yang mendapat tamparan dipantat empuknya. “Yah! Apa kau bodoh kuliah baru saja dimulai, sedari tadi tidak ada acara pemilihan apapun lalu coba kau pikir tentang penyiapan selempang itu?” Perkataan Youngjae terputus karena tepukan tangan, Jinyoung dan Youngjae ikut bertepuk tangan mengikuti keramaian yang lain. 4 mahasiswa terpilih itu membungkuk hormat diatas panggung dan berjalan turun, mereka berada dibarisan paling depan. Jinyoung mendekatkan bibirnya untuk berbisik. “Yah! Bisa saja mereka dipilih secara acak melalui nama para pendaftar lalu disiapkan jauh hari!” Youngjae sulit untuk mengakui bahwa ia juga setuju dengan pendapat Jinyoung. “Tapi mereka semua terlihat sangat sempurna untuk menjadi wajah perwakilan.” Jinyoung berdecak. “Apakah aku tidak terlihat sempurna juga untuk hal kecil seperti itu?” Tanyanya dan sedikit bergaya seperti model, Youngjae memutar mata malas dan hanya mengancungi jempol. Setelah acara penyambutan yang berlangsung hanya setengah hari itu kegiatan selanjutnya adalah perkenalan mahasiswa baru dengan fakultas masing-masing. Jinyung dan Youngjae harus berpisah karena mereka memilih faskultas yang berbeda, Jinyoung memilih Sastra Inggris sedangkan Youngjae mengambil Teknik. Ini tentu saja berhubungan dengan keahlian mereka yang berbeda yaitu Jinyoung yang mampu menguasai banyak Bahasa dan Youngjae yang cepat dalam Matematika. Jinyoung memperhatikan kakak tingkat yang ditugaskan untuk menjelaskan perkenalan mengenai fakultasnya, keningnya mengkerut mendengar berbagai istilah baru yang ia dengar untuk pertama kali. Jika ada kesempatan ia akan mencatat semua yang ia dengar dibuku notenya, walaupun itu bukan hal penting yang perlu dicatat tapi Jinyoung berprinsip untuk menambah pengetahuannya agar lebih luas. Seharian ini Jinyoung mendedikasikan semua tenaga dan pikirannya untuk kegiatan dikampus, hingga tak terasa waktu berlalu cepat dan Jinyoung baru merasakan tubuhnya yang lelah setelah penghujung hari. Beberapa saat yang lalu sudah ada pemberitahuan jika mereka boleh kembali pulang kerumah masing-masing. Sebelum berpisah siang tadi Jinyoung dan Youngjae sudah berjanji untuk bertemu ditaman kecil dekat pintu gerbang utama kampus. Jinyoung mengitari tempat itu dan tidak menemukan keberadaan Youngjae, berarti ia tiba lebih dulu. Jinyoung memutuskan untuk meunggu Youngjae digedung aula karena lokasinya yang berada dekat dengan pintu gerbang dan dari situ Jinyoung dapat melihat taman kecil itu. Tangan Jinyoung sibuk memainkan game dihandphonenya ketika ia melihat seorang perempuan yang berlari dan terjatuh dekat dengan posisinya, semua isi tas dari perempuan itu terlempar berserakan dan bajunya terlihat berantakan. Jinyoung bergegas menghampirinya. “Hei, apa kau tidak apa-apa?” Jinyoung bertanya khawatir, bisa ia lihat raut wajah itu terlihat sangat panik. “A-aku tidak apa-apa.” Dengan tergesa perempuan itu merapikan semua barang-barangnya, Jinyoung yang semula berlutut diam kini ikut membantunya. “Te-terima kasih.” Suranya masih terbata-bata. “Apakah ada sesuatu yang terjadi?” Jinyoung bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, apalagi jika hal itu bisa merugikannya. “Ti-tidak, tidak ada yang ter-” “Well, well, well! sicantik bertemu dengan pangerannya.” Sebuah suara menginterupsi mereka, sekarang mereka dikerumuni oleh orang-orang yang terlihat seperti kakak tingkat. “s**t!” Jinyoung bergumam kesal, baru saja hari pertama dan ia sudah melibatkan dirinya kedalam sebuah masalah. “Hai pangeran! kau terlihat sangat manis mengapa kau mau dengan putri buruk rupa ini?” Salah satu wanita membuka suara lalu menendang buku yang terjatuh dilantai. Jinyoung berusaha bersikap tenang dan tidak terlihat menantang, matanya memeriksa keadaan. Ternyata mereka tidak hanya dikelilingi oleh wanita, tetapi ada 5 orang pria dan 4 orang wanita. Benar-benar lawan yang tidak sebanding. “Maaf, apakah ada masalah?” Jinyoung merasakan helusan lembut dibalik kepalanya. “Awalnya tidak ada masalah, denganmu…” Ia merasakan nafas hangat ketika wanita yang berdiri dekat dibelakangnya berbisik. “Tapi ketika tuan putri ini menghampirimu maka seorang pangeran harus terlibat juga bukan?” Jinyoung yang tidak tahan karena memiliki sensitivitas pada telinganya memutar badan kasar menyebabkan wanita itu terdorong dan menabrak dua pria lainnya. “Kurang ajar!” *plak Jinyoung merasa sangat perih dipipi kirinya, bukan hanya tamparan telapak tangan wanita itu yang menyakitkan tetapi gesekan kuku tajamnya juga menggores pipi Jinyoung. “HENTIKAN!” Perempuan yang tadi ditolongnya kini berdiri, air mata sudah membasahi pipinya. Area kampus yang sepi membuat keadaan semakin sulit untuk mendapat pertolongan. “Kau diam saja p*****r!” Jinyoung menyaksikan dengan matanya, perempuan itu menahan sakit dengan menggigit bibirnya ketika rambutnya ditarik keras. “Yeri-ya kenapa kau sangat suka ikut campur, hmm?” “To-tolong lepaskan.” Jinyoung berusaha menggapai Yeri ketika melihat wajahnya yang mulai terlihat memerah karena cekikan dilehernya. “Tahan dia!” Mengikuti perintah wanita itu, dua orang pria menahan lengan Jinyoung setelah memberikan pukulan keras pada pundaknya. “Lepaskan aku!” Jinyoung berusaha membentak. Mereka semua tertawa mendengar suara bentakan Jinyoung, bagi mereka bentakan Jinyoung adalah sebuah rengekan. Jinyoung kalut ketika melihat Yeri yang semakin sulit untuk bernafas. “Kalian berdua ikut bersama kami dan kita akan bersenang-senang! Well, maksudku kami yang akan bersenang-senang!” Mereka kembali tertawa membuat Jinyoung semakin panik dan gugup, tapi ia tidak ingin terlihat takut ataupun harus pasrah dengan keadaan. Sekuat mungkin ia masih berusaha untuk melepaskan dirinya walau akan menerima pukulan dari dua pria yang menahannya. Melihat Jinyoung yang masih melawan membuat salah satu wanita berusaha bergegas dan menggeret Yeri. “Ayo!” “JINYOUNG!” Jinyoung menoleh ketika mendengar suara Youngjae yang memanggilnya, ia melihat Youngjae yang berlari menghampiri dari arah taman. “JANGAN MENDEKAT!” Jinyoung berusaha menghentikan Youngjae tetapi ia kembali mendapatkan tamparan. Youngjae yang sudah berlari mendekat seketika berhenti ketika melihat Jinyoung yang ditampar sangat keras oleh salah satu wanita itu. Mata Youngjae memerah menahan emosi ketika melihat sahabatnnya yang kesakitan, tangannya mengepal siap memukul siapa saja yang berani menyakiti Jinyoung. Ketika ia hendak berlari dan memberikan pukulan tiba-tiba sebuah suara menghentikannya dan mengambil alih perhatian mereka semua. “Lepaskan mereka semua atau kalian yang tidak akan kami lepaskan!” Suara itu sangat tenang dan lembut bahkan terdengar tanpa ada emosi apapun didalamnya. Jinyoung yang pandangannya terhalangi berusaha melihat wanita yang memiliki suara lembut itu. Youngjae yang juga mendengarnya sudah menunjukkan ekspresi terkejut dan sulit untuk mempercayai apa yang ia lihat. Soojin berdiri dengan anggung, Jaebum, Hanbin dan Sojeong berada dibelakangnya. Ia melipat kedua tangannya didepan d**a dan bermain dengan kuku merahnya yang terukir cantik. “Soojin~na…” Wanita yang terlihat lebih dominan dari pembully yang lain maju mendekat kearahnya. “Manjauhlah…” Suaranya mendesah, “Kau tentu tidak mau pipi cantikmu itu berwarna merah seperti kukumu, hm?” *plak Suara tangan yang beradu dengan pipi itu sangat keras, Youngjae mengelus pipinya yang merasa nyeri melihat tamparan itu. “Nancy… jangan pernah menyebut tentang kuku ku dari mulut kotormu itu karena aku tidak sudi!” Nancy memegang pipinya yang telah berwarna merah karena tamparan Soojin, rasa sakitnya tidak melebihi rasa sakit melihat Soojin yang mamandangnya remeh. “Kalian berdua kemari…” Hanbin menunjuk kearah Jinyoung dan Yeri. Awalnya mereka ragu untuk bergerak tetapi setelah merasakan tidak ada lagi yang menahan, akhirnya dengan perasaan takut Jinyoung menarik tangan Yeri dan berjalan kekelompok Hanbin. Youngjae yang berdiri menonton ditengah-tengah kedua kelompok menyusul Jinyoung untuk berdiri dibarisan paling belakang. Soojin mengambil satu langkah lebih dekat kearah Nancy. “Now get your ass off, before it gets worts!” Soojin berbisik. “Aku tidak akan membiarkan hal ini!” Nancy dengan kelompoknya yang berjumlah 9 orang itu pergi, Jinyoung menatap heran. Mereka tentu saja bisa menang jika bertarung, karena jumlah mereka lebih banyak dan dari proporsi badan para pria yang kekar itu terlihat bisa saja melipat badan Jinyoung kapanpun. “Kalian baik-baik saja?” Sojeong merangkul badan Yeri yang masih bergetar menahan tangis, Soojin membalikan badannya dengan anggun tidak lupa ia menghempaskan pelan helaian rambut panjangnya. Gerakan kecilnya itu membuat Jinyoung terpana, ia adalah ilustrasi dari wanita pujaan hati yang Jinyoung impikan. Hampir menyerupai wanita pujaan hati Jinyoung, tidak sampai ketika dengan lentiknya jari itu mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari dalam tas, saat itu juga Jinyoung menutup mulutnya yang semula terpana. “Kalian b*****h kecil, sangat lemah.” Ejek Soojin menghembuskan hasap rokok kearah mereka. Oh-oohh Ucap Jinyoung dalam hati, tidak hanya luarnya saja yang berbeda dari tampilannya yang anggun. Sepertinya bagian dalamnya lebih hancur. Sojeong mengelus pundak Yeri. “Sudah-sudah lupakan semua yang baru saja terjadi, kalian sudah aman.” Mustahil untuk Jinyoung melupakan hal sial yang baru terjadi kurang dari 10 menit yang lalu. “Nama kalian?” Hanbin menginterupsi setelah terdiam cukup lama. “Youngjae!” Mereka terkejut menyadari kehadiran orang lain yang berdiri dipojok belakang. Soojin dengan telunjuknya mengangkat dagu Yeri. “Kalau kamu cantik?” “Ye-yeri…” Suaranya susah keluar karena menahan tangis, Soojin mengangguk pelan mencoba memasukkan nama Yeri kedalam otaknya. Matanya beralih menatap Jinyoung yang membalasnya dengan tatapan lebar, Jinyoung yakin sempat melihat seringaian Soojin dibibirnya sebelum ia melangkah mendekatinya. “And you baby boy?” Soojin mendesah ditelinga Jinyoung. Leher Jinyoung terasa geli ketika nafas hangat dari bibir Soojin menyentuh kulitnya, punggungnya merasakan rasa hangat dari bawah dan perlahan menjalar naik kearah pundaknya. Jinyoung melirik dan menyadari bahwa ternyata itu tangan Youngjae yang sedang mengelus punggungnya. Sial kau Youngjae!. “Aku Jinyoung. Park Jinyoung.” Jinyoung merasa aneh dengan aroma mint yang keluar dari bibir Soojin, apakah itu aroma alami mulutnya atau berasal dari rokoknya. “Hm, nama yang imut.” Soojin kembali mengangguk berusaha memasukkan nama Jinyoung kedalam otaknya agar ia tidak lupa. Tapi selain dia, disisi paling kanan seorang pria berdiri dan melafalkan nama Jinyoung dengan bibirnya tanpa bersuara. “Well…” Soojin menggerakan tangannya yang memegang putung rokok untuk menunjuk. “Aku Soojin. Wanita simpanan yang berdiri disebelahmu itu, bernama Sojeong. Pria yang selalu h***y ini, bernama Hanbin. Dan satu lagi pria yang masih saja perjaka, Jaebum!” Youngjae melongo mendengar perkenalan Soojin, ia merasa Soojin bisa mengiris daging salmon dan membuat sushi hanya dengan perkataan tajamnya. Yeri yang sudah mulai menenangkan diri sedikit tertawa mendengar Soojin dan membuatnya menarik perhatian. “Kau tertawa cantik?” Soojin berkata lembut tapi tetap dengan wajah mengintimidasi. “Ma-maaf.” Merasa telah lancang, Yeri menunduk menyembunyikan wajahnya. “It’s okay cupcake, semua orang berhak untuk tertawa.” Kembali Jinyoung dibuat terpana dengan senyuman tipis Soojin. “Asalkan kau tidak asal tertawa seperti orang gila.” Dan lagi Jinyoung merasa diiris mendengar Soojin. “Baiklah kita harus pergi sebelum melewatkan pertemuan penting nanti.” Hanbin bersuara dan mendapat anggukan dari 3 temannya. “See you later.” Masih dengan keanggunannya Soojin membalik badan dan seperti biasa memimpin didepan. “Bye bye cupcake dan yang lain juga!” Sojeong melambaikan tangannya dan dibalas oleh Yeri Jinyoung dan Youngjae. Jaebum melangkah kedepan Jinyoung, tanpa suara ia menadahkan tangannya membuat Jinyoung mengernyit bingung. Tidak mungkinkan Jaebum sedang meminta uang padanya. “Berikan ponselmu.” Jinyoung masih berpikir untuk beberapa saat sampai ia paham dan mengeluarkan ponselnya, ia menyerahkannya pada Jaebum tanpa ragu dan melihat pria itu menekan tombol dan melakukan panggilan keluar. Jigeumcheoreom manmanmanmanman man Isseojumyeon nannannannannan Baralge eopseuni neon amugeotdo Bakkuji mamamamama Amu geokjeongmamama- Jaebum mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mematikan panggilan masuk yang ternyata nomor ponsel Jinyoung. Jinyoung menatap Jaebum aneh. “Hubungi aku kapanpun saat ada masalah lagi, jika tidak ada masalah tetap hubungi aku.” Dengan begitu Jaebum pergi dan bergegas menyusul teman-temannya. Sedangkan Youngjae, Yeri dan Jinyoung hanya berdiri diam tidak mengerti apa yang baru saja mereka alami, bukan pembullyan yang membingungkan mereka tetapi 4 penolong itu yang membingungkan mereka. Youngjae yang merasa baru saja menyesal telah memuji mereka habis-habisan pagi tadi, Jinyoung yang terheran karena sikap Jaebum padanya dan Yeri yang masih berusaha menyadarkan telinganya jika suara nada tunggu Jaebum adalah lagu dari Idolnya. Sepertinya awal mulai perkuliahan mereka akan sangat diluar dugaan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD