4. Cover Up

1082 Words
Jaebum membuka matanya. “Menolakmu?” Alisnya terangkat menatap wajah Jinyoung yang ada diatas dadanya. “Tawaranku yang pertama tadi!” Jaebum mengeratkan pelukannya setelah mengerti maksud pertanyaan Jinyoung. “Aku idak ingin kau bekerja lembur dan lelah, lalu jatuh sakit.” Ucap Jaebum. “Tapi kenapa aku merasa bukan itu alasanmu menolakku?!” Jinyoung bergumam dan tentu saja Jaebum mendengarnya. “Lalu?” Jinyoung mendengus. “Karena kau tidak ingin waktumu untuk menggangguku terganggukan?” “Ah, apakah aku sudah ketahuan?” Jaebum terkekeh. Jinyoung memukul pelan d**a Jaebum, ia menidurkan kepalanya didada bidang itu mendengarkan irama lambat dari detak jantung pria yang menjadi atasannya. “Jinyoung?” “Hmm…” Ada jeda beberapa saat sebelum Jaebum melanjutkan kalimatnya, Jinyoung yang terheran kembali memandang wajah Jaebum yang sedang menatap kelangit-langit atap. “Apakah kau masih tidak bosan seperti ini terus?” Ada keinginan untuk Jinyoung tidak menjawab pertanyaan itu. Tangan Jaebum mengelus puncak kepala Jinyoung. Ia menyukai ketika tangannya terasa dimanjakan saat menyetuh lembutnya setiap helaian rambut Jinyoung, bahkan warnanya yang hitam sangat memanjakan mata Jaebum. Mendapat pertanyaan yang sama terus menerus dari pasangannya membuat Jinyoung cukup tertekan untuk memikirkan jawabannya, menurutnya akan lebih mudah baginya untuk menjawab jika seandainya kekasihnya bukan seseorang seperti Im Jaebum. Tapi hanya Im Jaebum yang bisa membuatnya merasakan perasaan sepert ini. Pandangan mereka bertemu, Jaebum masih menunggu jawaban ataupun alasan yang akan diberikan Jinyoung kali ini. Terdengar helaan berat dari Jinyoung. “Aku masih belum siap…” Jaebum tahu, untuk Jinyoung situasi mereka memang cukup berat. “Apakah masih karena hal yang sama?” Jinyoung mengangguk, ia bangun dari posisi tidurnya dan begitupun Jaebum. “Kau tahu…” Jinyoung duduk, menatap lurus kedepan sedang menerawang. “Semua orang pasti sangat ingin menunjukkan kepada dunia siapa orang yang mereka cintai, ingin mendapatkan pengakuan tentang hubungan mereka, ingin mendapatkan restu dari setiap orang yang mereka kenal. Tapi…” Jinyoung menghela nafas, Jaebum menyatukan tangan mereka dan menggenggam erat. “Tapi aku tidak ingin hal itu menjadi bumerang untuk hubungan kita.” Jaebum membawa Jinyoung kedalam pelukannya, Jinyoung dapat merasa lebih tenang dalam pelukannya dan hanya pelukannya yang bisa membuat Jinyoung seperti itu. Terbukti dengan Jinyoung yang langsung membenamkan wajahnya didada Jaebum dan mencium aroma maskulin pria itu. Seakan dunia tidak dapat lagi menganggu Jinyoung ketika bersembunyi didada bidang Jaebum. “Aku akan selalu melindungi hubungan kita!” “Aku tahu…” Suara Jinyoung tertahan didada Jaebum. “Aku akan membela hubungan kita!” “Aku tahu…” “Aku akan merelakan apapun untuk hubungan kita!” “Aku tahu dan aku tidak mau!” Jinyoung melihat jam tangannya, “Saatnya kita kembali!” Ia berdiri dan menawarkan tangannya pada Jaebum untuk membantunya berdiri. Jaebum tersenyum dan menggenggam tangannya, perlahan mereka berjalan meninggalkan atap dan berjalan dengan sangat lambat dilorong lantai 10. Masih berharap waktu mereka disiang hari ini belum selesai. “Baiklah waktunya kembali bekerja. Semangat bekerja!” Jinyoung melepaskan genggaman mereka, lalu menekan dua tombol lift berbeda untuk mereka berdua. Jaebum tersenyum dan sedikit mencubit pipi Jinyoung membuat si pemilik pipi cemberut memajukan bibirnya. “Selamat bekerja.”Jaebum menyatukan bibir mereka dan Jinyoung benar-benar tidak siap atas tindakannya itu. Jaebum terkekeh melihat wajah datar Jinyoung. “Aku tahu kau ingin dicium!” Salah satu pintu lift terbuka, Jinyoung mendengus melihat Jaebum yang tersenyum bodoh. “Menyebalkan!” Ia masuk kedalam lift lalu menekan tombol lantai 5, meninggalkan Jaebum yang masih berdiri untuk menunggu liftnya dan memberikan lambaian tangan pada Jinyoung. Begitu Jinyoung sudah menghilang dengan liftnya Jaebum merasakan sekitarnya sudah hening dan merasa kesepian, ia merogoh ponsel disakunya hanya untuk melihat layar terkunci yang menampilkan foto Jinyoung yang tersenyum dengan bibir yang sedang meniup bunga dandelion. “Cute!” Ucapnya tanpa sadar, pintu lift terbuka. “I love you…” Jaebum kembali memasukan ponselnya dan masuk kedalam lift. Dengan sekejap ekspresi wajahnya berubah dari seorang Jaebum yang penuh dengan pandangan cinta menjadi Jaebum yang dingin. Jinyoung duduk terdiam menatap layar komputernya yang berwarna hitam, pikirannya masih melayang memikirkan pembicraan siang tadi dengan Jaebum. Kepalanya mulai memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab olehnya. Selama hidupnya dan sampai sekarang hanya dengan Jaebum ia memilki hubungan seperti ini, hubungan yang bukan hanya sekedar pertemanan ataupun persahabatan. Jinyoung tahu hubungan mereka berada dilevel atas dari kedua hubungan itu, bahkan hubungan mereka adalah pijakan untuk melangkah kelevel yang lebih serius, Jinyoung masih berharap akan hal itu. Sampai saat ini hubungan mereka sudah berjalan 3 tahun, waktu yang cukup lama untuk mereka tetap berada dititik yang sama. Jinyoung sadar tidak ada kemungkinan untuk mereka akan tetap berada dititik yang sama selamanya, tetapi masalahnya adalah mereka juga tidak yakin dan hal ini sungguh membuat Jinyoung frustasi setiap Jaebum menanyakan hal yang sama untuk mereka melakukan pengakuan. Jinyoung memijit keningnya mencoba menenangkan pikirannnya, karena banyak perkerjaan yang menanti untuk ia kerjakan. “Kau masih memikirkan masalah pagi ini?” Nayeon bertanya disebelahnya. Jinyoung mulai menggerakan mouse dan membuka beberapa window dikomputernya. “Tidak, aku sedang memikirkan masalah pribadi yang selalu menghantuiku!” Jawabanya kesal. Nayeon sedari tadi memperhatikan Jinyoung yang termenung dengan pandangan tersesat, ia tahu jika Jinyoung seperti itu maka yang sedang ia pikirkan pasti bukanlah masalah kerjaan. Karena jika berhubungan dengan masalah pekerjaan Jinyoung akan langsung bergerak dan mempercepat kerjanya bukan dengan hanya terdiam dan termenung. “Hei, kau tahu aku siap mendengarkan semua masalahmu!” Jinyoung menoleh dan tersenyum. “Aku tahu, karena aku bisa mengandalkanmu!” Naeyeon mengelus pundak Jinyoung berharap itu bisa menghilangkan sedikit beban sahabatnya, mereka sangat memperdulikan satu sama lain. “Apakah hanya ini semua pekerjannku untuk hari ini?” Jaebum bertanya pada Taekwoon yang berdiri didepannya. “Benar, semua pekerjaan untuk hari ini sudah selesai.” Taekwoon sedang berdiri menunggu Jaebum untuk menandatangani beberapa dokumen yang akan diproses sore ini. “Apakah kau punya rencana untuk hari ini?” Taekwoon bertanya setelah melihat jam dinding yang masih menujukkan pukul 3 sore, masih ada beberapa jam sebelum waktu kerja berakhir. “Tidak...” Jaebum menyerahkan dokumen terakhir yang sudah terbubuh tanda tangan kuasanya. “Aku hanya akan diam diruangan untuk menenangkan pikiran.” Taekwoon mengangguk paham dan segera menuju pintu keluar untuk melanjutkan pekerjaannya. Selama 2 tahun ia bekerja bersama Jaebum sebagai sekretarisnya, Taekwoon sangat paham dan mengerti tentang atasannya itu. Ketika Jaebum berkata ingin menenangkan pikiran, itu artinya ia tidak ingin diganggu. Jaebum berbaring disofa panjang yang ada diruangannya, matanya menatap langit-langit ruang kerjanya. Berharap Jinyoung ada disebelahnya dan menemaninya saat lelah seperti ini. Seperti sudah terbiasa ketika Jinyoung tiba-tiba terlintas dipikirannya, maka Jaebum tidak punya pilihan selain terjebak untuk memikirkan pasangannya itu. Percakapan mereka saat siang tadi bukanlah masalah rumit dan Jaebum hanya manganggapnya sebagai pembicaraan biasa, berbeda dengan Jinyoung yang terlalu menekan pikirannya. Jaebum paham mengapa begitu sulit untuk Jinyoung menyetujuinya membuat pengakuan tentang hubungan mereka, itu semua demi kebaikannya dan Jaebum sangat berterima kasih kepada Jinyoung yang mau memikirkan dirinya hingga seperti itu. Jinyoung terlalu takut jika hubungan mereka sampai mengganggu kehidupan mereka terutama kehidupan Jaebum. Jaebum tertawa kecil ditengah-tengah kegiatannya memikirkan Jinyoung, pikirannya kembali membawa Jaebum untuk mengingat bagaimana awal mereka bertemu. Awal ketika mereka masih menjadi orang asing, awal dimana mereka tidak pernah tahu akan terikat satu sama lain, awal dimana Jaebum sangat berterima kasih atas kesempatan dihidupnya untuk bertemu Jinyoung, dan awal dimana Jaebum jatuh cinta sedalam-dalamnya untuk pertama kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD