The Best Love

1134 Words
"Ketika kamu dan aku bertemu, aku percaya bahwa ada alasan tuhan kenapa saat itu kamu terlihat begitu sempurna dimata ku." • Play Now: Cinta luar biasa? ••• "Waktu pertama kali, ku lihat dirimu hadir. Rasa hati ini ingin kan diri mu. Hati tenang mendengar, suara indah menyapa. Gelora nya hati ini tak ku sangka. Rasa ini ku tak tertahan, hati ini selalu untuk mu." Kasa menghela napas panjang, jemari nya menari lincah diatas piano hitam milik mendiang Ayah nya itu. Tanpa melihat, Kasa sudah hapal tuts-tuts piano diluar kepala karena lebih dulu ia suka diajarkan Sang Ayah. Mengingat Almarhum sang Ayah, seorang pemilik tempat kursus piano dan biola itu membuat Kasa tidak begitu kuat ketika ia harus menerima Fakta bahwa sang Ayah telah menjadi korban tabrak lari 15 tahun silam. Selama ini, Kasa dan Kirana tidak pernah mengungkit tentang kematian Farell Kenzha dengan harapan mereka bisa mengikhlaskan Farell dari hidup nya. Tetapi tetap saja, rasa nya sulit. Tiap hari, Kasa dan Kirana hidup dalam pura-pura. Ya, pura-pura baik-baik saja tanpa Farell padahal yang terjadi adalah sebalik nya. Dirumah ini, Kasa dan Kirana selalu mencoba untuk melupakan Farell. Kedua nya terlalu rapuh oleh keadaan, selepas kepergian Farell. Tetapi hari ini, Kasa tiba-tiba saja ingat akan sang ayah ketika ia sadar bahwa hari ini yang tepat nya pada tanggal 19 Agustus, adalah ulang tahun Farell Kenzha. Biasa nya, tidak ada acara untuk memperingati nya. Namun Kali ini Kasa benar-benar merindukan Farell, ia kehilangan sesuatu dari bagian hidup nya. Ketika Kasa mencoba untuk kuat dan menganggap kematian Farell tidak pernah terjadi, hal itu semakin membuat Kasa sakit. Membohongi diri sendiri adalah cara paling kejam untuk membunuh kondisi batin nya. "Terima lah lagu ini, dari orang biasa. Tapi cinta ku pada mu luar biasa. Aku tak punya bunga, aku tak punya harta. Yang ku punya lah hati yang setia, tulus pada mu." Kasa tersenyum. Walau dibalik kacamata hitam nya, cowok itu jelas-jelas mengurai air mata. Ini menyakitkan. Ketika harus terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Ketika ia harus tertawa, padahal sebenarnya hati kecil nya tengah terluka. Itu akan membuat diri semakin lumpuh oleh keadaan, tertekan. Kasa menangis tanpa suara. "Hari hari berganti. Kini cinta mu hadir. Melihat mu, memandangmu bagai bidadari. Lentik indah mata mu, manis senyum bibir mu. Hitam panjang rambut mu, Anggun terikat. Rasa ini ku tak tertahan, hati ini selalu untuk mu." "Terima lah lagu ini dari orang biasa, tapi cinta ku pada mu luar biasa. Aku tak punya bunga, aku tak punya harta. Yang ku punya hanyalah hati yang setia, tulus untuk mu." Kasa menyanyikan nya dengan bibir bergetar. Kejadian beberapa tahun silam, ketika Farell menyanyikan lagu yang sama untuk Kirana. Saat itu Kirana sedang ulang tahun, dan Farell melupakan itu. Tetapi saat Kirana meminta hadiah dari Farell untuk memastikan Farell mengingat hari ulang tahun nya atau tidak, Farell tersenyum dan menuntun Kirana ke ruangan ini. Farell kemudian membawa kan sebuah lagu yang sama seperti yang di nyanyikan Kasa saat ini untuk Kirana, hingga Kirana menangis terisak. Ini bukan kirana nya yang terlalu Baper, Wanita itu sempat mengira bahwa Farell tidak mengingat nya. Walau kenyataan nya, Farell baru ingat ketika Kirana meminta hadiah ulang tahun nya. Lucu memang, dan satu-satu nya yang tahu bahwa Farell memang tidak ingat kapan ulang tahun Kirana hanya lah Kasa kecil. Ke sepuluh jari Kasa menari-nari bak ballerina diatas tuts-tuts putih piano, sesekali menekan tuts piano hitam yang ukuran nya lebih kecil. Hingga Kasa menyudahi permainan piano nya, lalu berdiri dari kursi bundar mungil tanpa sandaran yang sempat ia duduki beberapa jam lalu. "Ayah, Kasa belum pernah tahu wajah Ayah gimana. Kasa juga belum sempat ngeraba wajah Ayah, tapi Ayah malah secepet itu pergi. Semua nya udah berlalu lama, tapi rasa nya baru kemarin Bunda nangis dirumah sakit sendirian, tanpa sandaran bahu Ayah kayak biasa nya. Baru aja kemarin Kasa ketakutan pas Bunda nangis didepan gundukan tanah penuh bunga bernisan nama Ayah. Nggak Kerasa ya, Yah? Ayah udah nggak disini lagi dari beberapa tahun silam. Padahal Kasa selalu ngerasa Ayah masih ada dirumah ini, hidup sama Bunda dan Kasa sama-sama." Lirih Kasa, tangan nya terangkat untuk menyentuh badan piano yang mulai berdebu didepan nya dengan jari telunjuk nya lalu menyeret jari nya pelan hingga debu di badan piano itu beralih ke kulit jari telunjuk nya. "Sini Ayah ajarin main piano, biar bisa nyanyiin lagu buat Bunda juga." "Loh, tapi kan Kasa nggak bisa liat?" "Emang kenapa kalo nggak bisa liat? Nggak boleh gitu main piano?" "Kasa pasti susah diajarin, soal nya nggak bisa liat." "Kamu nggak perlu liat dengan mata kamu buat bisa, kamu tinggal liat tuts piano nya dengan jari kamu. Nih, Ayah kasi tau cara nya. Liat baik-baik yaa.." Kasa seolah mendengar suara Farell di telinga nya, cowok itu tersenyum tipis. "Harus nya Ayah ada disini, nemenin Kasa sama Bunda." ••• "J-jadi kamu udah ngasih tau ke Kasa, Na?" Pertanyaan Desi akhir nya terucap juga, walau dengan bibir yang bergetar. Desi merasa was-was, membuka telinga nya lebar-lebar untuk menanti jawaban Kirana. Pertanyaan yang sudah lama mengganggu kepala Desi, tetapi Desi selalu lupa saat ada kesempatan untuk menanyakan ini. Sore ini, Desi menelpon Kirana untuk datang karena Rea kebetulan sedang tidur. Tetapi, Kirana hanya menggelengkan kepala nya pelan lalu menyesap teh tawar yang disediakan oleh Desi sebagai jawaban. "Belum," jawab nya singkat. "Aku nggak bisa bilang ke dia," Desi menunduk lesu, dengan mata memerah. "Beberapa hari yang lalu, aku mimpi.." "Lagi?" "Iya, Rea sempet tanya kenapa mata aku sembab malam itu. Untung nya aku jawab kalo mata ku nggak tahan sama radiasi laptop," Kirana tersenyum penuh luka, menatap kearah wajah Desi yang tidak jauh berbeda dengan Kirana. Mereka sama-sama terluka. "Maafin aku, Na.." Cicit Desi menyesal, air mata nya tidak dapat terbendung lagi. Pertahanan nya mulai roboh ketika mengingat sesuatu yang menyakitkan itu lagi. Kirana menekan bibir nya kedalam, dengan mata memerah. Wanita itu menahan tangisan nya, memcoba tersenyum dengan sudut bibir yang mulai bergetar. Air mata nya berjatuhan, tetapi bibir nya masih tahan dengan membentuk senyuman palsu. Tidak begitu lama, pertahanan Kirana juga runtuh. Kedua wanita yang berteman sejak SMA itu menangis tertahan, penuh luka. "Aku minta maaf," kata Desi lagi. "Udah, nggak usah minta maaf lagi. Aku tau kamu juga nggak mau semua nya terjadi," sanggah Kirana, seraya menggelengkan kepala nya. Kirana berdiri dan duduk disamping Desi, mendekap erat tubuh rapuh Desi. "Kita temenan udah lama, jangan karena hal ini kamu ngerasa aku beda nganggep kamu apa. Kamu tetep sahabat aku, Des!" "Aku nggak tau, aku bingung, aku masih nggak bisa lupa.." Isak Desi, suara nya mulai terdengar sedikit keras. "Des, jangan dibahas lagi. Udah cukup," Kirana mendekap tubuh Desi lebih erat. "Aku nggak bisa tenang sebelum Kasa tahu kalo aku yang udah nabrak ayah nya, Na! Aku ngerasa jahat setiap aku liat wajah Kasa!" "Apa, Ma?" #tebece Maapkeun kalo pendek :))
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD