"Kamu membenci ku tanpa alasan yang nggak pernah aku mengerti."
•
Play Now: Tinggal kenangan?
•••
"Yeayy, Papa mau ngajak Rea jalan-jalan!" Seru bocah perempuan dengan dua gigi yang baru tumbuh didepan. Badan nya yang mungil memeluk leher Seorang Pria yang berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan bocah itu. Daniel, seseorang yang ia sebut Ayah itu membalas pelukan Rea lebih erat lalu mengecup lama pucuk kepala Rea.
Daniel mengangkat tubuh Rea, membawa nya kedalam gendongan nya ketika Daniel berdiri. Rea menangkup wajah Daniel, lalu mengecup pangkal hidung Daniel.
"Papa mancung banget, sih?! Kesel!"
Daniel tidak menjawab apa-apa, hanya tersenyum tipis lalu memperbaiki gendongan nya yang mulai mengendur.
Daniel mengunci pintu rumah nya dengan tergesa-gesa, lalu mendekati mobil nya. Daniel mendudukan Rea kecil ke kursi samping pengemudi sembari mengerut kan dahi tidak mengerti, kenapa Daniel tampak begitu tergesa-gesa.
Daniel berjalan mengitari mobil nya dari depan, lalu masuk kedalam mobil. Daniel menghela napas, terlihat sekali kalau laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu yang buruk.
"Papa.."
Daniel mengacak rambut nya, tidak menghiraukan panggilan Rea atau bahkan menoleh sedikit pun. Daniel menghembuskan napas kasar, menghidupkan mesin mobil nya.
"Papa..!"
"Sebentar, sayang. Papa lagi pusing,"
Rea bingung sendiri, "Pap--"
"Rea, diam di tempat duduk dan jangan ganggu Papa ya!" ujar Daniel dengan intonasi sedikit meninggi tanpa menoleh kearah Rea, membuat Rea kecil terkejut.
Rea terisak, bocah itu masih tidak percaya Daniel membentaknya. Ini yang pertama kali nya Daniel membentak Rea, tanpa Rea mengerti apa kesalahan nya.
Sebelum Daniel menjalankan mobil nya, Laki-laki itu memutuskan untuk melirik Rea yang masih terisak. Ada rasa bersalah di hati nya. "Sayang, maafkan Papa."
Rea semakin terisak sesenggukan, menyeka air mata nya yang turun deras. "Apa Rea nakal?"
Daniel tersenyum tipis, menggeleng kan kepala nya beberapa kali. Kali ini, laki-laki itu benar-benar menoleh kearah puteri semata wayang nya dengan ekspresi menyesal. Daniel mengulurkan tangan nya, mengelus pucuk kepala Rea.
"Rea nggak nakal, Papa yang nakal karena nggak mau dengerin Rea." Tutur nya lembut.
Rea menyeka air mata nya dengan kelima jari menggenggam, lalu mendongak menatap Daniel. "Rea cuman mau bilang kalo Papa belum masangin sabuk nya," tunjuk Rea kearah sabuk pengaman di kursi yang ia duduki.
Daniel terkejut, ia sudah benar-benar bersalah dengan puteri nya itu.
"Maafin Papa," Kata nya setelah memasangkan sabuk pengaman Rea.
Rea mengangguk lalu tersenyum, "Iya, ayo jalan-jalan!"
"Sayang, Papa nggak ngajak kamu jalan-jalan." Jelas Daniel setelah menghela napas panjang. "Kita mau kerumah nya Om Radit yang di sini,"
"Di prancis?"
Daniel terkekeh, "Yang ada disini. Kamu sementara tinggal sama dia, ya?"
Dahi Rea mengerut, tidak paham. "Loh? Kenapa nggak sama Mama, Papa dan Mbak Fani?"
Fani adalah nama pengasuh Rea. Daniel memperkerjakan Fani karena Desi cukup sibuk dengan pekerjaan nya. Meskipun Daniel sudah beberapa kali membujuk Desi agar resign dari kantor untuk mengasuh Rea, nyata nya Desi tidak mau. Wanita itu terus ingin membantu perekonomian Daniel yang sedang menurun.
"Papa ada urusan, sayang.."
"Mama?"
Untuk beberapa saat, Daniel terdiam. Laki-laki itu menahan napas, mencoba tersenyum paksa. "Kayak nya juga sibuk,"
"Mbak Fani?"
"Kamu nurut, ya?" Jawaban Daniel sekaligus menjadi perintah bagi Rea membuat gadis kecil itu mau tidak mau mengangguk patuh.
Daniel tersenyum, "Rea emang pinter,"
Laki-laki itu mulai menjalankan mobil nya, membunyikan klakson hingga gerbang rumah Rea yang disetel secara otomatis itu terbuka dengan sendiri nya.
Tidak ada pembicaraan lain ketika diperjalanan. Semua nya tampak sedang mengheningkan cipta. Daniel bersama dengan pikiran-pikiran nya, Rea dengan segala tanda tanya yang memenuhi kepala nya.
"Mama lagi dikantor ya, Pa?" tanya Rea, memecah keheningan didalam mobil itu.
Daniel tidak menjawab, hal itu membuat Rea memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Bocah itu mungkin tidak tahu alasan kenapa Daniel bersikap aneh, tetapi yang Rea tahu pasti ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
Rea mengalihkan pandangan nya kearah pemandangan luar jendela mobil, dengan mata memanas. Kali pertama nya Daniel tidak membuat Rea tertawa karena candaan nya, melainkan dibuat bingung lalu menangis.
Bukan karena Daniel tidak mengajak nya jalan-jalan seperti yang Rea harapkan, tetapi karena perubahan Daniel yang membuat Rea sedih.
Tidak selang begitu lama, Rea menyandarkan kepala nya lalu tertidur dengan sisa air mata dikelopak mata nya.
•••
"Gimana bisa? Ya allah, Desi!"
Seorang Wanita yang mendapat seruan itu hanya terduduk dilantai rumah sakit sambil menutup mulut nya tidak percaya. Desi, wanita itu masih shock.
Daniel mengacak rambut nya tidak tahu lagi, lalu membantu Isteri nya berdiri. Jujur, Daniel juga tidak kalah shock nya dibanding Desi. Daniel berpikir, bahwa semua ini salah nya. Andai Daniel bisa menghidupi keluarga nya dengan baik, mungkin Desi tidak akan bekerja sekeras ini untuk membantu nya. Dan tidak akan terjadi kecelakaan yang akhir nya meminta satu nyawa.
Sementara itu, Kirana yang sedari tadi duduk dikursi tunggu hanya menutup wajah nya dengan bahu bergetar. Wanita itu terguncang, ketika mendapat kabar bahwa Suami nya kecelakaan. Kirana tidak berhenti menangis, wanita itu juga sama shock nya seperti Desi.
Daniel mendudukan Desi ke kursi dekat Kirana, teman SMA nya yang sudah tidak asing lagi. Laki-laki itu beralih kearah Kirana, lalu mengusap bahu Kirana yang masih menahan tangisan nya.
"Kirana, kami minta maaf. Kami tahu, ini akan terlalu berat buat kamu." lirih Daniel.
Pertanyaan Daniel yang ada dikepala nya, 'mengapa harus suami teman nya? Mengapa harus Farell? Atau mengapa harus Desi?'
"Kirana, maafkan aku. Aku.. Nggak bisa fokus nyetir tadi, ini salah aku!" Desi menggenggam tangan Kirana, histeris.
Kirana masih enggan menjawab, ia begitu terluka. Dia belum siap kehilangan Farell, mengingat betapa masih terlalu Kecil anak nya untuk kehilangan seorang ayah. Kirana tidak bisa membayangkan apa yang akan ia katakan kepada Kasa saat anak nya itu menanyakan tentang Farell, yang sekarang ini sudah tidak ada lagi.
Farell benar-benar pergi, meninggalkan dua malaikat di dunia yang masih begitu membutuhkan nya.
"Kirana.." Daniel menahan napas, "kalau kamu berniat mengusut perkara ini lebih panjang lagi, aku yang bakal tanggung semua nya. Desi nggak salah,"
Desi menggeleng kan kepala nya, "Aku yang salah.."
Daniel beralih kearah Desi, wajah nya memerah. "Lalu kamu mau ninggalin Rea yang jelas-jelas masih butuh kamu disamping nya?!"
"Aku.. Maafkan aku," Desi seperti orang yang linglung, dia menangis lebih histeris.
"Daniel.. Aku tahu ini kecelakaan. Aku nggak akan nuntut pertanggung jawaban dari Desi atau pun kamu, Dan." Kirana menatap Daniel dan Desi bergantian dengan wajah penuh luka.
"Enggak! Aku udah--"
Kirana menggeleng, menyela. "Desi, cukup aku yang kehilangan orang yang aku cintai. Kamu nggak perlu kehilangan Daniel hanya karena aku nuntut pertanggung jawaban dari kamu!"
Desi mendekap Kirana, dengan tangisan yang semakin mengurai. "Ya allah, aku.. Nggak tau gimana lagi. Maafin aku, Na!"
"Desi, udah. Jangan tangisin Farell lagi," Kirana menyeka air mata nya, "InsyaAllah, aku bisa nerima ini.."
"Gimana sama Kasa?"
Pertanyaan Daniel membuat Kirana terdiam. Kirana juga bingung, karena Kirana tidak mungkin menjelaskan nya kepada Kasa. Pasal nya, Anak laki-laki nya itu tidak bisa mengontrol emosi nya.
"Aku bisa.. Bikin dia yakin kalo ini cuman kecelakaan," Isak Kirana pelan.
"Aku nggak bisa liat wajah polos Kasa, aku nggak bisa ngebayangin gimana reaksi Kasa pas tau kalo aku adalah penabrak Ayah nya." Tangis Desi pecah.
Daniel mendekati Desi, mendekap Desi erat. Ia tahu sekarang ini Desi sedang shock berat.
"Aku nggak akan sangkut pautin hal ini ke kamu, Desi.. Jangan nangis lagi,"
Suasana rumah sakit tampak sedang berduka, ditemani gerimis hujan seolah langit juga sedang menangis.
Di tempat yang berbeda, Rea menatap kearah langit yang mulai gerimis. Perasaan nya tidak nyaman, anak perempuan itu menangis tanpa alasan.
"Papa.. Mama.."
#
Aku tau, kalian pasti nggak baca semua nya :') jadi aku cuman bisa ngingetin aja kalo chapter ini sangat berpengaruh bagi cerita :)
Ok, semoga sukaaaa :)