The true fact

1867 Words
"Jangan katakan 'tidak' ketika waktu nya aku berkata Cinta. Karena, hanya ada dua opsi yang bisa kamu pilih, antara 'Iya' dan 'belum'." ••• Rea menyedot minuman chocho-jelly nya tanpa ekspresi, sembari mengayun-ayunkan kedua kaki nya bergantian yang memang tidak sampai untuk mencapai tanah rerumputan dari kursi taman. Cewek itu gelisah, setelah kemarin mendapat penjelasan mengejutkan tentang Kasa. Rea baru tahu, Kirana adalah single parent seperti Desi. Selama ini, Rea lebih fokus dengan Kasa hingga tidak menyadari bahwa ia belum pernah melihat bagaimana wajah ayah dari Kasa. Sebelum nya, Rea pikir bahwa Ayah Kasa adalah seorang laki-laki karir yang sedang mengurus pekerjaan nya di luar negeri. Rea seperti bahwa diri nya ada dialam mimpi, mengira bahwa ini tidak pernah terjadi. Tetapi kenyataan lagi-lagi menampar nya, Rea sadar bahwa ini sudah menjadi sebuah takdir. Segelas plastik dengan tanda 'M' di badan gelas minuman nya telah tandas tidak tersisa, Rea melempar gelas bekas minuman nya ke tempat sampah yang ada di setiap samping kursi taman. Rea menjadi tidak berani melihat wajah Kasa, ia masih merasa bersalah dengan cowok itu. Rea sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kasa ketika cowok itu tahu tentang penyebab kematian Ayah nya. Mengingat cerita Kirana tentang kedekatan Kasa dengan Farell dulu, Rea semakin merasa bersalah. Tuk Sebuah tongkat dengan garis merah dan putih, disusul harum parfum Vanila yang membuat darah Rea seketika berdesir. Kasa terkekeh sendirian, merasa bahwa sudah mengejutkan Rea dengan muncul tiba-tiba dari belakang dengan ujung tongkat diatas kepala Rea. Mendengar Rea tidak tertawa atau mengomel seperti biasa nya, Kasa mulai menghentikan tawa nya dan melompat dari belakang kursi ke hingga dalam beberapa detik saja Kasa sudah duduk disamping Rea. Heran, cowok tunanetra itu seolah adalah ahli akrobat. "Lo kenapa, dah?" Tanya Kasa usil, sekaligus jenuh karena tidak ada percakapan diantara mereka berdua sejak tadi. Rea menggeleng, "N-nggak, nggak ada apa-apa." "Lo masih mikirin omongan gue yang waktu itu?" "Apa?" "Gue ngelarang lo suka sama Ken." Ujar Kasa gemas, heran saja kenapa mendadak otak Rea menjadi selemot ini. Rea ber-oh ringan, "Enggak, aku nggak mikirin apa-apa." "Lo tu, bilang aja kalo lo Baper kan pas gue bilang gitu?" Rea menatap kearah Kasa malas, lalu memukul lengan Kasa geram. "Apa, sih! Sok tau," "Iya, kan?" "Enggak, Kasaa!" Seru Rea jengkel. "Males, deh." "Iye, gue juga males sama lo." balas Kasa tidak mau kalah, terkekeh pelan. Rea memutar bola mata nya, ia mulai sedikit melupakan rasa bersalah nya. Kemudian, mata Rea mengarah ke wajah Kasa. Kalau dilihat-lihat, wajah Kasa memang sempurna dengan rahang kokoh dan bentuk wajah yang bagus. Bibir nya tipis, merah lembab dan berhidung runcing. Sayang nya sampai sekarang, Rea belum pernah melihat bagaimana bentuk kedua mata Kasa yang selalu tertutup dengan kacamata hitam atau topi. Apakah seindah wajah nya, atau malah sebalik nya. Rea mengalihkan pandangan nya kearah lain, takut Kasa menyadari bahwa sedari tadi Rea mengamati nya diam-diam. Hal itu pernah terjadi beberapa kali, dan sukses membuat Rea memerah. "Kasa," "Iya?" Tanya Kasa tanpa menoleh. ".. Kenapa, sih?" "Kenapa apa nya?" Rea menghembuskan napas panjang, "Kenapa aku nggak boleh lihat mata kamu?" Tidak begitu lama, Kasa tertawa terbahak-bahak hingga memperlihatkan gigi geraham atas nya. "Kok ketawa?" "Asli, lucu aja. Segitu penasaran nya kah elo sama mata gue?" Rea beringsut, melipag kedua tangan nya didepan d**a jengkel. "Menurut kamu?!" "Lah iya, ya.. Lo nggak sama sekali pernah liat wajah gue secara full ya?" Pikir Kasa kepada Rea, seraya mengusap dagu nya beberapa kali. "Lah, emang!" "Gimana?" tanya Kasa, jemari nya membentuk sebuah hati ala korea. "Gue ganteng 'kan meskipun nggak keliatan fullface?" Rea menoyor kepala Kasa pelan, lalu mendengus. "Nyesel ngomong gitu," Kasa tersenyum lebar, lalu memendekkan tongkat nya agar lebih praktis. Cowok itu kali ini tidak memakai sepatu kets seperti biasa nya, melainkan sepasang sandal jepit berwarna hitam. "Gimana sama Ken?" tanya Kasa akhir nya. Rea menoleh, tidak mengerti. "Gimana apa nya?" "Lo.. Suka sama dia?" "Jangan mulai, deh. Aku lagi nggak mau ngomong hal yang gak ada faedah nya," "Jadi tadi omongan lo tentang gue menurut lo berfaedah gitu?" Rea bungkam, skak mat istilah nya. Cewek itu kembali mengayunkan kedua kaki nya bergantian. "Menurut lo?" gumam Rea sepelan mungkin, sebisa nya agar Kasa tidak mendengar. Tetapi seperti nya Rea lupa, bahwa kasa memiliki indera pendengaran yang tajam. Cowok itu mendengar dengan jelas gumaman Rea, walau diantara riuh suara anak-anak yang memenuhi taman. Kasa tersenyum simpul, "Hari ini panas, ya?" "Enggak, tuh." Rea menghadap ke atas, langit kemerah-merahan. Cewek itu kemudian menatap kearah Kasa, "Biasa aja," "Lo mau minum?" Seperti Deja vu, telinga Rea seperti nya sudah pernah mendengar pertanyaan ini oleh orang yang sama. Masih teringat juga jawaban Kasa yang membuat nya jengkel setengah mati, hal itu benar-benar membuat Rea kesal setiap mengingat nya. "Iya, mau!" "Beli aja di warung nya Mbak Siti," Rea menggelengkan kepala nya, mengusir jauh-jauh ingatan menjengkelkan itu dari kepala nya. "Aku bisa beli di warung nya Mbak Siti!" Jawab Rea sinis, membuat Kasa tertawa keras. "Abis nostalgia, ya?" cibir nya meledek. Rea mencebikkan bibir nya kesal, "Kamu kok sok tau, ya?" "Ya udah, sih. Gue mau nawarin minum aja, sans." Rea menekan bibir nya kedalam, hingga hanya terlihat seutuas garis saja. Lagi-lagi, Rea mengingat cerita Desi dan Kirana kemarin tentang fakta bahwa Desi telah menabrak Farell tanpa Kasa tahu. Rea lesu, masih tidak percaya saja. "Diem lagi? Kenapa, sih?" "Gak apa-apa," "Jangan-jangan lo suka ya sama Ken?" "Nggak ada hubungan nya, jangan ngawur!" Rea mencubit pedas pinggang Kasa hingga cowok itu menggaduh karena belum siap mendapat serangan Rea. "k*****t, sakit banget sih!" sungut Kasa, mengusap pinggang nya sendiri. "Berasa digigit macan gue!" "Halah, lebay mas nya!" Kasa mendengus, mencibir Rea. "Kasa," panggil Rea pelan, ragu-ragu. "Apaan?" sahut Kasa sewot. "Papa kamu udah nggak ada?" Tubuh Kasa menegang, cowok itu sangat terkejut dengan pertanyaan Rea. Tiba-tiba saja, Cewek itu menanyakan tentang sesuatu yang tidak pernah Kasa jelaskan pada nya. "Tau dari mana?" tanya Kasa, dengan ekspresi serius. "Mama aku," jawab Rea ragu. Kasa ber-oh pendek, lalu mengangguk seraya mengulum senyuman. "Iya, Ayah gue udah lama meninggal." "Sejak kapan?" tanya Rea lagi. Sebenarnya Rea sudah tahu sejak kapan Farell meninggal dari Cerita Desi dan Kirana, tetapi ia tetap bertanya untuk sekedar basa-basi saja. Akan terlihat aneh jika Kasa tahu bahwa sebenarnya Rea sudah tahu tentang cerita kematian Farell sebelum cewek itu menanyakan hal ini. Kasa menengadahkan wajah nya, menerawang jauh. "Yah, sekitar lima belas tahunan lah. Udah lama juga, dia korban tabrak lari." Rea mengangguk, cerita dari Desi dan Kirana memang sama persis dengan penjelasan Kasa. Kirana memang berbohong kepada Kasa, dengan menutupi cerita yang sebenar nya bahwa Farell bukan lah korban tabrak lari. Hati Rea teroris melihat wajah Kasa, ia sangat bersalah. "Apa yang bakal.. Kamu lakuin kalo misal nya kamu ketemu sama orang yang udah nabrak Ayah kamu?" Pertanyaan itu akhir nya terucap juga dari bibir Rea, cewek itu menahan napas panjang sesekali menelan saliva nya susah payah yang seolah mencekik leher nya. Kasa tertawa pelan, "Nggak banyak, sih yang pengen gue lakuin.. Cuman mau bunuh orang nya aja. Hahaha!" Rea menahan napas, gelisah. Pembicaraan nya kali ini benar-benar tidak membuat nya nyaman. "Lo berpikiran gue psikopat, ya?" Kasa tertawa renyah. Rea tersenyum paksa, lalu menggeleng. "Eng-nggak kok, biasa aja." "Gue sebenernya belum siap kehilangan Bokap, gue masih sangat sangat butuh dia. Sampe denger kabar kalo Ayah udah nggak ada pun, gue masih nggak percaya. Tapi Bunda buat gue kuat. Apalagi setelah ayah nggak ada, gue sempet stres. Gue nggak bisa kontrol diri sendiri, dunia bikin gue jadi korban emosional." Jelas Kasa, tersenyum paksa dengan sudut bibir bergetar. Rea terdiam, memberikan kesempatan untuk cowok itu melanjutkan kata-kata nya. Lagipula, Rea ingin mendengar langsung dari mulut Kasa sendiri. "Lo tau nggak, Ayah selalu bilang ke gue kalo cewek itu ibarat nya Ratu. Dan cowok bukan Raja atau panglima nya, tapi cuman pelayan aja." Jelas Kasa, tertawa lebar. Walau Rea melihat sebuah tawa pahit dari bibir Kasa, cewek itu malah ikut tersenyum lalu terkekeh. "Kok gitu?" "Ayah bilang, Dia pengen jadi suami terbaik buat Bunda. Dia selalu menuhin permintaan Bunda, walau sesekali Ayah sendiri yang kerepotan. Ayah nggak pernah nyuruh Bunda ini-itu, kalo ditanya kenapa.. Dia nggak mau Bunda sakit kata nya. Ayah nggak pernah bikin Bunda nangis, kecuali pas Ayah pergi. Kali pertama Ayah bikin Bunda nangis hebat!" Rea mengerjapkan mata nya beberapa kali, tidak percaya. Cewek itu melihat setitik air bening yang muncul melewati kacamata hitam nya, Kasa tidak menyeka nya. Cowok itu berusaha untuk mengalihkan wajah nya. "Ah, si t*i! Angin nya datang dari mana, sih. Gue sampe kelilipan!" dengus Kasa, tertawa keras. Rea lagi-lagi hanya melakukan apa yang sudah Kasa lakukan. Rea terkekeh, walau sebenar nya dia tahu bahwa alasan Kasa hanya lah sebuah alibi. Kasa tidak mau membuat Rea mengasihani nya. Rea sadar akan hal itu, "Kas, kayak nya aku harus pulang." Satu-satu nya alasan kenapa Rea ingin sesegera pulang adalah untuk menjauhi Kasa sementara. Hati kecil nya merasa bersalah, ia tidak mau mengingat hal ini untuk beberapa waktu. Kasa mengangkat kedua alis nya, "Kok tumben?" "Nggak apa-apa, Aku juga mau ngerjain tugas sekolah. Hehe.." Jawab Rea beralasan, menunjukkan kekehan palsu nya lalu bangkit berdiri dari kursi putih panjang taman. Kasa yang mengerti pergerakan Rea tidak bisa berkata apa-apa. Cowok itu tidak bodoh, ia yakin pasti ada alasan kenapa Rea memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasa nya. Tapi seperti nya, bertanya pun percuma. Seperti yang Kasa pikirkan sebelum nya, Rea memang tidak pernah mengumbar kegelisahan nya kepada orang lain. Apalagi terhadap diri nya. Kasa memilih untuk bangkit dari tempat duduk nya, menyamai Rea. Dengan gesit, Kasa memanjangkan tongkat nya. "Ayo, gue anter." Terdengar suara tawa dari samping nya, tempat dimana Rea berdiri sesuai perkiraan Kasa. Siapapun tahu, Rea tidak sedang ingin tertawa, tetapi malah membuat tawaan yang sengaja dibuat-buat. "Nggak usah, kok. Rumah aku deket kali, Haha!" Sahut Rea menjawab, masih dengan kekehan 'palsu' yang sama. "Lah? Biasa nya kan--" "Ya allah! Harus cepet-cepet pulang, nih. Mama pasti nyariin aku!" Kasa menghela napas, Ia tahu bahwa Rea sengaja menyela nya. Semakin kesini, Kasa menjadi sangat yakin kalau Rea memang berniat sengaja menjauhi nya. Tetapi Kasa tidak tahu alasan nya, dan cowok itu berharap itu hanya perasaan nya saja. Kasa tersenyum singkat, lalu bibir nya membuka sedikit. "Oke," Setelah itu, terdengar suara derap langkah cepat yang menjauh dari dekat nya. Disusul wangi parfum yang sedikit menyerbak karena pergerakan Rea yang mungkin sedikit cepat dari biasa nya, dari itu.. kasa tahu Rea sedang berlari. Cowok itu diam-diam bertanya dalam hati, sebenarnya apa tugas sekolah nya memang benar-benar sulit dan banyak sehingga Rea harus terburu-buru begitu? Kasa menghembuskan napas nya, lalu memutuskan untuk duduk kembali di kursi taman. Kali ini, cowok itu melepaskan kacamata hitam nya lalu menyisir rambut bagian depan nya keatas dengan sela-sela jemari nya. Dia tidak perduli, dengan suara-suara disekeliling nya yang tidak jarang membawa nama nya. Walau sebagian besar, apa yang ia dengar dari suara disekeliling nya adalah pujian. Kasa hanya diam, seolah tidak tahu menahu. 10 menit Kasa duduk di sana, Cowok itu merasa aneh. Kasa merasa, ada sesuatu yang hilang. Terlebih ketika telapak tangan nya menyentuh kursi kosong disamping nya, yang beberapa jam lalu seseorang telah duduk disamping nya. Ya, ada yang hilang. Tentu saja, Kasa kehilangan sesuatu. Tepat setelah seorang gadis pergi tadi, tanpa alasan. #
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD