Bab 8 Kecurigaan

1184 Words
Seminggu kemudian Sudah hampir sepekan aku tak bisa bicara, berbagai pengobatan sudah aku coba datangi, ingin rasanya aku segera kembali ke Kota saat ini, namun itu tidaklah mungkin, berbagai cara Nyai Ratih menahanku disini. Bukan tanpa alasan dia melakukan ini, karena semua kartu AS sudah ku kantongi, aku mau segera lapor ke pihak berwajib. “ Makanlah, jangan kau seperti ini terus Laras.” Yuni mencoba membujuk diriku untuk makan makananku, sejak aku kehilangan pita suaraku, aku pun kehilangan selera makanku.aku hanya bisa mengurung diriku didalam kamar, segala kegiatan KKN sudah tak akubikuti hingga sepekan, aku sudah tak mood lagi untuk belajar. “ Laras, kita coba mencari pengobatan di seberang Desa, aku dengar disana ada Dukun yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.” Rio berceletuk Aku sekilas hanya melihat ke arahnya, lalu ku pandangi diriku di cermin yang terlihat menyedihkan, dengan mata yang sembab. Sungguh aku kehilangan selera hidup saat ini. Fabian yang sudah sepekan ini mrmbantuku untuk berobat kesana kemari namun tidak ada hasilnya, sangat mrmbuatnya frustasi, ditambah dengan kegiatan KKN yang menumpuk membuatnya terkadang kesal kepadaku tanpa sebab. Aku mengerti dengan apa yang dipikirkan kekasihku saat ini, cukup berat beban yang ia pinggul saat ini, aku yang sudah tak bersamangat Lagi setelah kehilangan pita suaraku membuatnya sedikit frustasi, sebenarnya aku tak ingin seperti ini, tapi kehilangan suaraku tiba-tiba membuatku menjadi sangat down. “ kau tak mencoba untuk mengobati kekasihmu sama Nyai Ratih? “ Aku cukup kaget saat mendengar pertanyaan dari teman kami, Rayhan. Dari awal aku menolak untuk berobat dengannya , apalagi dialah yang menyebabkan aku seperti ini. Suasana menjadi hening, Fabian menatapku lekat seolah tak tega melihatku seperti ini. Ku lihat teman-teman ku yang saat ini datang untuk mensuportku, apa aku harus terus seperti ini? Aku berpikir kembali tentang kehidupan yang aku jalani saat ini. Bagaimanapun juga aku harus bisa mengungkapkan kebejatan dang Kepala Desa yang sudah menjadikan Rani sebagai tumbal. Aku mencoba meraih pena dan ku tuliskan sesuatu pada secarik kertas tersebut, lalu aku berikan kepada Yuni. [ Yun, apa kau pernah melihat Rani?] Ku lihat wajah Yuni yang sudah pucat pasi, ia tau kalau saat ini dirinya sedang ketakutan akan bernasib sama dengan teman kami Rani. Yuni lalu menatap Fabian dan kembali menatapku, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Fabian yang terlihat sedang menatap wajah kami dengan aneh, lalu mengambil kertas yang aku tulis tadi dari tangan Yuni. “ Rani menghilang, kami sedang mencarinya , terakhir dia memgatakan akan pergi ke pondok yang ada di Desa wades.” Ucap Fabian kepadaku Aku bingung, siapakah yang berwujud sebagai Rani saat itu? Ini kekuatan mistis yang baru aku tahu saat ini. Ingin aku mengatakan kepda semuamya bahwa Rani sudah meninggal, dan mayatnya sudah disembunyikan oleh Nyai Ratih saat ini. “ Kau tenang saja, kami akan meminta bantuan warga untuk mencarinya, mungkin saja dia terhanyut saat akan menyebrang.” Rayhan menimpali Tak hiraukan apa yang mereka ucapkan, segera aku bangkit dari tempat tidurku, aku mencuci mukaku berkali-kali, saat itu aku berkir aku harus bangkit, sebelum Nyai Ratih akan mencari tumbal lagi. Ku lihat Fabian tengah tersenyum ke arahku, tak henti-hentinya dia menghujaniku dengn mencium pucuk kepalaku, aku bersyukur saat ini , ditengah kondisiku saat ini, Fabian masih setia mendampingku saat ini. “ Kau mau makan?” tanyanya dengan tersenyum Aku mengangguk, dan memberikan isyarat kepadanya agar dia menyuapiku. “ Kau manja sekali sekarang Laras.” Ucapnya dengan mengacak pucuk kepalaku Aku cukup senang karena pada akhirnya, dia bisa tersenyum kembali. Oh Tuhan, Kenapa aku sampai seputus asa ini ? Ini bukan diriku, ini bukan Laras yang aku kenal. “ Aku senang melihatmu seperti ini Laras, aku yakin kamu akan sembuh dan suara mu akan kembali lagi.” Ucapnya dengan terus menyuapi diriku. “ Fabian, apa kau gak merasa bahwa ada sesuatu yang aneh yang terjadi dengan Laras? Bagaimana tiba-tiba dia kehilangan suaranya? “ akhinya Mas Fahmi membuka suaranya Aku cukup senang, saat Mas Fahmi akhirnya mengatakan itu, selama ini Fabian tidak pernah berpikir bagaiaman aku kehilangan suaraku. “ Maksudmu apa Fahmi? “ “ Berpikirlah, kenapa tiba-tiba dia kehilangan suaranya sedangkan saat itu dia tidak kenapa-kenapa, apa dia kena serangan mistis dari seseorang? “ Fabian terlihat berpikir, entah kenapa dia selama ini tak pernah kepikiran sampai sejauh ini. Ada benarnya juga yang dikatakan oleh Fahmi, namun siapa yang melakukan ini kepada Laras. “ Aku tidak tau Fahmi, pikiranku Blank saat ini. Aku kira dia kehilangan pita suaranya karena salah makan dan demacamnya, sungguh aku tak pernah berpikir sejauh itu.” Jawabnya dengan sedikit bingung “ Apa kau tidak mengetahui desas-desus Desa ini? Desa ini pasalnya terkenal dengan Desa pencari Tumbal, beberapa Mahasiswi yang sempat KKN disini tiba-tiba menghilang misterius “ icap Mas Fahmi dengan serius “ kau pikir ini ada hubungannya dengan Laras? Dia hanya kehilangan pita suaranya bukan raganya.” “ Tentu saja , suara Laras itu merdu, siapa tau ada yang menjadikannya sebagai tumbal pita suara.” Ucap Fahmi “ Kita tidak boleh berpikiran seperti itu Fahmi, asal menuduh bisa menjadi Boomerang bagi kita sendiri.” “ Aku tau Bian, tapi dengarkan aku dulu, tidak mungkin Laras kehilangan pita suaranya tiba-tiba, Rani yang menghilang Tiba-tiba, aku rasa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan Desa ini, apa kau masih ingat saat Laras berselisih dengan Bu Ratih?” Bian mengangguk lalu sejekan menatap wajah Fahmu dengan serius “ Maksudmu , kau mencurigai Nyai Ratih? Sang Kepala Desa ini? “ tanya Fabian tidak percaya “ Iya aku mencurigainya, kau lihat saja wajahnya sangat muda diusia 45 tahun, aku sedikit aneh melihatnya.” Ucap Mas Fahmi yang hampir membuat seluruh Ruangan itu bergidik ngeri “ Kau jangan asal menuduh sebelum ada buktinya Fahmi.” Rayhan menimpali “ Kita akan cari buktinya sama-sama.” Ucapnya dengan meyakinkan yang lainnya Aku cukup terkejut dengan keberanian Mas Fahmi saat inj, semoga apa yang tarrjadi kepadaku dan Rani tidak akan tetulang kembali, dan aku harus bisa mulai bangkit untuk sembuh kembali. ... Ke esokannya, samar-samar aku mendengar suara Riuh dari depan Balai Penginapan kami.segera ku kumpulkan nyawa setelah aku terlelap dari tidurku. Aku segera keluar dari kamarku setelah selesai mencuci muka terlebih dahulu . Kepanikan terjadi disana, aku lihat teman-temanku sudah berkumpul disana, mereka memangis histeris tanpa aku tau sebabnya. Ku lihat orang sudah ramai berkerubung disana, aku penasaran drngan apa yang terjadi disana, ku dengar banyak yang sedang memanggil nama Fahmi saat itu. Ya Allah, apa yang terjadi dengannya ? Aku segera melangkah untuk mendekati kerubungan itu. Perlahan aku berjalan hingga aku sudah dihadapkan dengan sosok Mayat yang sudah tak berbentuk lagi. Isi perutnya sudah tak ada lagi dan ku lihat banyaj sekali darah segar yang bercecer disana, tubuhku lunglai, saat ku ketahui pakaian miliknya yang masih menempel di tubuhnya saat ini adalah benar-benar milik Mas Fahmi. Seketika aku menangis histeris, aku sungguh ketakutan bagaimana bisa tiba-tiba Mas Fahmi sudah tak bernyawa dalam keadaan tragis seperti ini. Banyak yang bilang bahwa dia diserang binatang buas, tapi aku tak percaya akan hal itu, Mas Fahmi adalah orang yang aku kenal sangat hati-hati jika harus melewati hutan, lagi pula ini kejadian pas Shubuh, dimana dia berpamitan ke mushollah untuk sholat shubuh berjamaah disana, itulah yang aku dengar dari Rayhan saat itu. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD