Bab 9 Flashback On Fahmi

1130 Words
Flashback on Saat itu terlihat seseorang tengah mrngintip dibalik celah bilik balai penginapan Larasati, dia mrlihat dan mendengar bagaimana Fahmi bercerita dan merasakan kejanggalan yang aneh pada Desa ini, terutama kejadian dimana Laras kehilangan suaranya dengan tiba-tiba dan juga dimana Rani menghilang secara misterius. Semua teman-teman nya pun percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fahmi. Lalu seseorang itu datang melapor kepada Nyai Ratih tentang apa yamg didengarnya kala itu “ Maaf Nyai, sepertinya ada yang sudah mencurigaimu saat ini. “ ucap seorang pria paruh baya dengan pakaian khas jawa. “ Apakah gadis itu? Cukup berani dia melawan ku saat ini.” Ucap Nyi Ratih dengan nada geram “ Maaf nyai, kali ini bukan dia tapi teman dari den Fabian.” Jawabnya dengan mata tertunduk “ Hmm, rupanya ada yang bernyali besar. Segera bereskan sebelum matahari terbit.” Titah Nyai Ratih “ Tapi Nyai. Bagaimana caranya? “ tanya Lelaki paruh baya itu dengan tubuh bergetar “ Kau bawah pemuda itu dihadapanku, nanti baru kau selesaaikan sisanya.” “ B-Baik Nyai Ratih. “ lelaki itu lanjut berlalu dari hadapan Nyai Ratih Tersungging senyuman di bibir Nyai Ratih, kali ini dia akan menjadikan tumbal lelaki itu sebagai nafsu birahinya. Sudah lama Nyai Ratih tak merasakan nikmatnya bercinta dengan pria muda, apalagi tampang Fahmi yang lumayan tampan. *** Tepat pukul empat pagi, Fahmi sudah bersiap untuk pergi ke mushola sebelah, disana yang melaksanakan sholat hanya segelintir orang saja. Fahmi termasuk Mahasiswa yang rajin untuk melaksanakan sholat tepat waktu dibanding dengan yang lainnya. “ Aku berangkat ke musholla dulu ya.” Pamitnya kepada Rayhan yang masih tertidur pulas “ Hmm, masih pagi belum adzan juga, kenapa buru-buru berangkat? “ celetuknya ditengah kantuk yang mendera “ Mau bikin candi karena ayam berkokok sebentar lagi.” Candanya saat itu Tak ada yang aneh dari Fahmi saat itu, seperti biasa dia selalu berangkat ke musholla pagi-pagi. Dengan berjalan kaki. Saat dirinya berjalan cuku kljauh dari Balai Penginapan, tiba-tiba dia mendengar seperti ada orang yang mengikutinya. Ia pelankan langkah kakinya berharap agar dia lebih jelas mendengar nya. Kreeees..kreeees...kreees Semakin lama semakin dia mendengar suara daun yang terinjak oleh seseorang. Segera dia edarkan pandangannya disekelilingnya, berharap yang datang bukanlah hewan buas. “ Siapa disana? Jangan bersembunyi.’ Ucapnya dengan suara lantang Terdengar suara itu semakin lama semakin mendekat, himgga Fahmi mulai waspada tatkala orang tersebut menyerangnya dengan tiba-tiba Saa itulah terlihat kemunculan seorang lelaki paruh baya sedang menghampiri dirinya. Terlihst pris tua itu sedang tergesa-gesa menuju ke arah Fahmi. “ Loh Pak Dul, ada apa? Kok kelihatan panik gitu? “ ucap Fahmi dengan merangkul tubuh rentanya saat itu. “ Den Fahmi tolong cucu kakek, dia sekarang lagi diserang hewan Buas disana.” Cicitnya dengan menujukkan arah dimama cucunya kini tengah berjuang melawan hewan buas.” “ Baik Kek, fahmi akan kesana, tapi kakek harus tetap tenang, saya akan mrncari sesuatu untuk menghalau hewan tersebut.” Ucapnya dengan mencari sesuatu yang dia gunakan untuk menghalau hewan buas tersebut “ Terima kasih Cu.” Jawabnya disertai dengan senyuman menyeringai Fahni yang tak menaruh curiga pada orang paruh baya yang ia kenal saat ini, langsung dengan cepat dia melangkah kakinya kedepan, namun saat beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya sudah ambruk Bruuuuggg... Pak Dul telah memukul tengkuk Fahmi dengan kayu . pukulan yang tiba-tiba dan juga sangat keras saat itu membuat fahmi langsung tak sadarkan diri seketika. Dirasa sudah aman, Pak Dul segera manggil ketiga temannya yang bersembunyi dibalik pohon ,untuk keluar dan mengangkat tubuh Fahmi dengan tandu yang sudah ia siapkan sebelumnya. Mereka menggotong tubuh Fahmi ke Rumah Nyai Ratih yang tak cukup jauh dari TKP. Setelah sampai, tubuh Fahmi lalu dibaringkan disebuah pembaringan yang sudah disiapkan Nyai Ratih sebelumnya. Dengan taburan bunga tujuh rupa ia letakkan di sana, aroma semerbak wangi bunga membuat di Empu perlahan membuka matanya, ia terlihat meringis kesakitan saat tiba-tiba ia mulai tersadar, samar-samar ia melihat sosok wanita yang sangat Cantik bak bidadari datang kepadanya. Dengan pakaian kebaya minim wanita itu berjalan perlahan-lahan, menuju Fahmi. Dadanya yang terluhat menonjol kedepan, dengan belahan d**a yang cukup jelas dilihatnya, mbuat pemuda sholeh iti tak henti-hentinya mengucapkan Istighfar. Nyai Ratih tampak senang dengan mangsa barunya kini, ia tau apa yang bisa dilakukannya untuk menggoda Fahmi. “ Bukalah matamu tampan.” Bisik Nyai Ratih yang membuat bulu kudik Fahmi meremang. Ia rasakan betapa hangat sentuhan-sentuhan yang diberikan Nyai Ratih kepadanya, meski dalam hati dia selalu berdoa agar dijauhkan dari Makhluk dunia yang akan menjerumuskannya dalam sebuah dosa besar, Nyatanya Fahmi adalah manusia biasa. Gelora jiwanya seakan sudah memanas, ia mencoba menghalau saat Nyai Ratih akan menyatukan bibirnya yang sexy ke bibir Fahmi, namun sia-sia, hasratnya tiba-tiba membuncah tatkala bibir mereka saling bertautan. Nyai Ratih bersorak kegirangan saat lelaki itu akhirnya menyerah dan berada dalam buaian yang ia ciptakan saat ini. Perlahan Nyai Ratih mengucapkan beberapa mantra, sebelum dia mulai Ritualnya. Saat ia mulai mengucapkan mantra itu, Pikiran Fahmi dibuat melayang, hingga lelaki itu akhirnya sudah berada dalam pelukannya. “ Lakukanlah sekarang Sayang, tubuh Nyai sudah siap menyatu dengan tubuhmu.” Bisiknya saat itu. Terlihat Fahmi yang masih terdiam, dalam hatinya masih menjadi penentang dengan apa yang dia lakukan kali ini, namun disisi lain Tubuhnya sudah tak bisa menahan hasrat untuk segera ia tuntaskan. Perlahan-lahan, Nyai Ratih membuka pakaiannya dihadapan Fahmi, tubuhnya yang sexy membuat Pria itu menelan ludahnya sendiri.ternyata Nyai Ratih cukup piawai dalam melakukan ritual ini. Tangan Fahmi perlahan ia letakkan di dadanya berharap pria itu meremas gundukannya yang padat dan besar itu, sungguh ini adalah kali pertamanya Fahmi melakukan ini dengan seorang wanita. Dengan nalurinya ia perlahan mulai menciumi setiap inchi tubuh Nyai Ratih hingga wanita itu menggelinjang keenakan. Saat itulah tiba saatnya mereka melakukan proses penyatuan tubuh mereka hingga Mereka merasakan puncaknya secara bersama-sama. Saat itulah Nyai Ratih mulai dengan ganasnya merobek bagian tubuh Fahmi, dan mengambil semua isi perutnya untuk dijadikan santapan ritualnya. Seramgan mendadak itu membuat Fahmi tak bisa melawan dan mati seketika ditangan Nyai Ratih. Setelah selesai dengan Ritualnya. Nyai Ratih pun memanggil Pak Dul kembali untuk meletakkan mayat Fahmi ditengah-tengah Dusun yang tak jauh dari musholla dimana dia saat itu hendak melakukan Sholat shubuh. Saat itu Nyai Ratih dengan santainya memasukkan isi perut Fahmi dalam botol ukuran besar. Pak Dul dan teman-temannya nampak begidik ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Nyai Ratih saat ini. Meski ini bukanlah yang pertama kali bagi mereka melihat kejadian ini. “ Seperti yang sudah-sudah, kau bawah mayat pemuda ini disebuah dusun seolah-olah dia dimakan hewan buas, Kamu mengerti kan Pak Dul?” ucap Nyai Ratih dengan santainya dengan tetap melanjutkan memasukkan isian tubuh Fahmi kedalam botol Terlihat Pak Dul yang saat itu gemetaran, tak berani dia menatap wanita yang masih setengah telanjang itu, meski dalam hatinya ingin melihat kemolekan tubuh sang Nyai. Pak Dul tau siapa Nyai Ratih saat ini, wanita berdarah dingin yang siap melakukan apa saja untuk mewujudkan obsesinya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD