Kini jenazah Mas Fahmi yang tak utuh itu segera ditutup dengan selebaran daun pisang lalu diangkat menggunakan sebuah tandu milik warga, sekilas ku tatap jenazah itu Seperti sedang meraung kesakitan, mungkin jenazahnya yang tak utuh membuatnya seperti itu. Herannya kenapa hanya isi perutnya yang hilang dan yang lainnya masih utuh? Biasanya kalau binatang buas menyerang mereka tak pilih-pilih dalam memakan mangsanya. Disini aku mulai curiga kematian Mas Fahmi bukanlah kematian yang diakibatkan oleh binatang buas, tapi memang sengaja di lakukan oleh seseorang. Siapakah itu? Aku sekilas mencari tau dibalik teka-teki ini, apa jangan-jangan kali ini pelakunya adalah Nyai Ratih? Seketika aku berpikir mengarah kepadanya.
Segera ku raih tangan Fabian, aku mencoba berbicara dengannya tapi dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan, aku frustasi saat itu. Aku mencoba untuk tetap tenang, kali ini aku harus bisa sembuh, seklebatan ku lihat Arjanta yang saat ini menatap ke arahku, entah kenapa aku berpikir laki-laki ini mempunyai Rahasia yang cukup banyak tentang desa ini.
Saat Fabian sibuk mengurus jenazah Mas Fahmi, segera ku datangi Arjanta di ujung pohon besar yang ada disitu.
“ Kau belum bisa bicara?” tanyanya tanpa menatapku
Aku menggelengkan kepalaku
“ Aku bisa membuatmu berbicara lagi dengan ramuan yang aku punya.” Jawabnya dengan menatapku sinis
Aku mencoba berbicara dengannya, namun dia tak merespon ku sama sekali karena suaraku tergagap-gagap saat itu
Dengan cepat dia meraih tanganku lalu mulai mengajakku ke suatu tempat.
“ Kamu jangan takut, ini Rumahku, meski ini kecil tapi aku merasa nyaman berada disini.” Ucapnya dengan mendudukkan diriku diatas kursi
“ Aku hanya tinggal sementara disini, sampai urusanku benar-benar selesai kali ini.”
Aku mencoba untuk menjadi pendengar yang baik untuknya kali ini, entah kenapa aku penasaran dengan apa yang dia katakan saat ini
“ Tunggulah sebentar, aku buatkan ramuan untukmu.” Ucap nya dengan berlalu dari hadapanku
Aku dari awal memang tidak suka dengan pemuda ini, namun aku terpaksa kali ini harus meninggalkan egoku demi kesembuhan ku.
Tak lama kemudia ia pun kembali dengan membawsh ramuan, aku srkilad mrlihat ramuan itu persis yang Nyai Ratih oleskan kepadaki saat itu, seketika wajahku memucat, entah kenapa aku berpikiran buruk terhadapnya kali ini.
Arjanta yang melihatku ketakutan hanya menyunggingkan senyumannya sebelum akhirnya dia berbicara.
“ Kau tak perlu takut, aku bukan anak buah Nyai Ratih, percayalah aku sudah lama disini dan aku mengandalkan pengobatan dari tumbuh-timbuhan yang ada disini. Kemarilah “
Ucapnya dengan menyuruh ku mendekat kearahnya
Sempat aku tak mau melakukan pengobatan dengannya, namun pada akhirnya aku pun terpaksa mau melakukan pengobatan dengan dirinya demi kesembuhan diriku.Arjanta mulai perlahan mengolesi leherku dengan ramuan itu.
Entah kenapa saat tangannya mulai menyentuh leherku pertama kali aku merasakan ada keanehan dalam diriku, aku menikmati sentuan tangannya yang kian lama kian membuatku terbuai saat itu, aku menggigit bibir bawahku seolah aku sedang merasakan kenikmatan dari sentuhannya.
Tubuhku seketika berdesir dan badanku tiba-tiba mulai memanas saat seketika, melihat keanehan yang aku rasa, Arjanta mulai tersenyum menyeringai, ia seolah tau bahwa saat ini aku sudah mulai terangsang oleh sentuhan tangannya.
Tiba-tiba wajahnya mulai mendekat kearahku, aku yang tak kuasa menahan gejolak hasratku hanya bisa pasrah saat dirinya sudah mencium bibirku, aku menikmati ciuman darinya , aku merutuki kebodohanku saat itu Namun apalah dayaku, aku terbuai dalam kenikmatan yang luar biasa yang berhasi ia ciptakan.
Kembali dia mencium dan melumat bibirku hingga akhirnya aku kehabisan nafasku , seketika dia melepaskan pagutan kami.
Kami mengatur nafas sejenak, sungguh aku malu saat ini, bagaimana jika Fabian tau akan hal ini, seketika aku mengingat kekasihku itu.
Saat dia mulai mendekatkan tubuhnya kembali ,aku dengan cepat mencondongkan tanganku kedepan agar dia tak mendekatiku lagi.
“ Stop jangan dekati aku lagi.”
Aku seketika kaget saat mendengar suaraku kembali, sungguh ini luar biasa , ternyata ramuannya mampu untuk mengembalikan suara ku yang hilang dulu.
“ Aku bisa bicara lagi?” ucapku dengan menatapnya
“ Tentu saja, kau sudah bisa bicara lagi.” Ucap Arjanta
“ Terima kasih.” Ucapku datar lalu aku mulai beranjak untuk pergi, namun saat aku akan pergi tiba-tiba tanganku dicegal olehnya
“ Tunggu.” Ucapnya dengan terus memegang erat tanganku
Akupun meronta-ronta saat dia memegang erat tanganku tanpa tau tujuannya apa saat ini.
“ Lepaskan, lepaskan aku Arjanta. Kauau apa?” ucapku dengan memukuli lengannya
Tanpa basa-basi, Arjanta meraih sebuah kain lalu membersihkan leherku saat itu, aku yang tak ingin ramuan ini dihapus seketika aku menggelengkan kepalaku.
“ Jangan Arjanta, aku tak mau jadi bisu lagi jangan kau hapus ramuan ini.” Ucap ku dengan nada memohon
“ Kau tenang saja , ramuan ini beda dengan ramuan milik Nyai Ratih, suaramu tak akan hilang lagi “ ucapnya dengan meyakinkan diriku
Akupun percaya dengan apa yang dia katakan saat ini, dengan cepat kain itu di usapkan ke leherku.
“ Bicaralah.” Ucapnya dengan memintaku berbicara
Akupun mencoba untuk berbicara seperti yang dia perintahkan
“ Terima kasih.”
Aku sangat senang saat mengetahui diriku sudah bisa bicara kembali, tak hentinya aku bersyukur mengucapkan Alhamdulillah saat itu, hingga tak terasa air mataku sudah mulai basah di pipi ku.
Arjanta tersenyum ke arahku, namun kali ini dia tak lagi mendekati ku.
“ Aku sarankan kau dan teman-teman mu untuk segera pergi dari Desa ini.” Ucapnya dengan memperingatiku
“ Apa kau tau tentang apa yang terjadi dengan teman-teman ku saat ini?” tanyaku dengan tatapan menelisik
Arjanta hanya diam membisu, dia tak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, cukup aneh memang saat dia tiba-tiba mengatakan itu, aku yakin dia tau sesuatu saat itu
“ Pergilah, jangan sampai terjadi fitnah jika kau ditemukan disini bersamaku.” Ucapnya kali ini tanpa memperdulikan lagi pertanyaanku
Akupun terpaksa mengangguk, dan segera kulangkahkan kakiku untuk pergi dari Rumah nya, aku tak mau nanti jika aku kena grebek lalu dikira berbuat m***m dengan pemuda aneh ini.
Dengan langkah secepat kilat aku berlari menuju Balai Penginapan ku, aku segera masuk kedalam Kamarku, namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara aneh dikamarku, saat itu aku sedang sendirian dikamar.
Wuuusshhh....
Angin tiba-tiba menerpa begitu kencang dibalik jendela kamarku, seketika bulu kuduku menjadi merinding, samar-samar aku mendengar suara seseorang seperti diterpa angin kadang terdengar kadang menghilang.
“ Laras..tolong aku Laras..”
Deg
Tubuhku langsung lunglai mendengar suara yang aku kenal itu, suara itu adalah suara Mas Fahmi
Aku seketika mengedarkan seluruh pandanganku di ruangan itu. Berharap aku menemukan sosok yang saat ini berbicara denganku.
“ Siapa Kau.” Tanyaku untuk memastikan bahwa itu adalah suara Mas Fahmi
“ Aku Fahmi Laras, tolong ambil isi perutku yang di simpan Nyai Ratih didalam Rumahnya saat ini, aku tak mau jenazahku dikuburkan dalam keadaan tak utuh seperti ini Laras.Nyai Ratih dengan kejam mengambil seluruh isi perutku lalu dimakanlah Jantungku saat itu Laras.”
Bersambung