DEVON POV
Seharian ini aku mengunci diri di ruang kerjaku. Aku berusaha menenangkan diri dan melupakan kejadiaan saat aku berada di restoran. Rasanya sangat menyakitkan saat melihat Cindy bersama b******n itu. Rasanya aku ingin segera menghabisi pria itu agar ia tidak mengganggu hubunganku dengan Cindy.
Tiba - tiba aku mendengar suara ketukan pintu saat Elise menyuruhku untuk membukakan pintu
" Devon! Buka pintunya! Sudah seharian kau tidak keluar dari kamar! Ayolah, jangan membuatku panik seperti ini! Apa kau tidak kasihan melihat Sean yang sedari tadi menangis karena tidak menemukanmu!"
Saat aku mendengar Elise menyebut nama Sean, aku langsung membukakan pintu dan pergi mencari Sean tanpa menghiraukan perkataan Elise.
" Sean, kenapa menangis?"
" Papa kemana? Sean cari - cari papa tapi gak ketemu"
" Maafkan papa ya. Ayo kita jalan - jalan. Sean boleh beli mainan apa aja"
" Horeeeeeee, Sean beli mainan baru"
Melihat keceriaan di wajah Sean mengurangi kesedihan di hatiku. Hari ini aku ingin membuat putraku bahagia dan aku tidak ingin mengecewakannya.
***
RICHARD POV
Aku sangat bahagia karena hubunganku dengan Cindy semakin baik dan dekat. Aku merasakan jika Cindy sangat nyaman saat berada disisiku.
" Cindy, hari ini kau mau kemana?"
" Aku ingin mengantar mama dan papa ke bandara. Mereka hari ini akan berlibur di bali dan aku sangat senang melihat mereka bahagia"
" Bagaimana jika aku ikut mengantar mereka ke bandara?"
" Apa kau tidak repot?"
" Tentu saja tidak. Aku dengan senang hati mengantar orang tuamu ke bandara"
" Terima kasih Richard. Kau sangat baik"
" Kalau begitu aku sekarang akan menuju ke rumahmu. Tunggu aku"
" Baiklah"
Saat aku ingin menuju ke rumah Cindy, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dan aku mencoba untuk mengecoh orang yang membuntutiku. Tiba - tiba mobil yang membuntutiku berada di depan mobilku dan mencoba menghalangi jalanku.
" Turun kau dari mobil!"
" Siapa kalian?!"
Aku merasa ada yang memukul kepalaku dari belakang dan seketika itu juga aku tidak sadarkan diri.
***
CINDY POV
Sedari tadi aku menunggu kedatangan Richard, tetapi ia tidak juga datang. Aku berusaha menghubungi ponselnya tetapi tidak ada jawaban. Aku mulai khawatir memikirkan keadaannya apalagi ia baru beberapa minggu keluar dari rumah sakit
" Bagaimana Cindy, apa ada kabar dari Richard?"
" Daritadi Cindy mencoba menghubungi Richard tetapi ponselnya tidak aktif"
" Sebaiknya kita berangkat sekarang agar tidak terlambat, Cindy, nanti kau beritahu Richard untuk tidak mengantar kami"
" Baik pa, Cindy beritahu Richard"
Aku mengirim pesan kepada Richard untuk tidak mengantar papa dan mama ke bandara. Aku berharap Richard dalam keadaan baik - baik saja.
***
RICHARD POV
Aku mulai tersadar ketika aku merasakan tangan dan kakiku diikat oleh tali yang sangat kuat. Tiba - tiba aku mendengar suara seorang pria yang sangat familiar di telingaku sedang menertawakan keadaanku yang tidak berdaya
" Hahaha, inilah b******n yang berusaha mengambil wanitaku! Aku tidak menyangka jika semudah ini untuk menghancurkan mu sampai kau tidak ingat namamu lagi!"
" Dasar pengecut! Kau menculikku hanya untuk menyenangkan egomu sendiri!"
" Hmm, hmm, aku rasa perkataanmu sangat tepat. Aku tidak sabar menantikan kematianmu!"
" Kau tidak akan bisa membunuhku!"
" Lihat saja apa yang akan menimpamu sebentar lagi"
Pria itu menyuruh anak buahnya untuk memukulku hingga aku tak sadarkan diri
***
DEVON POV
Rasanya sangat menyenangkan melihat b******n itu lemah tak berdaya. Aku tidak sabar ingin segera membunuhnya dan melenyapkannya dari dunia ini. Tiba - tiba ponselku berbunyi dan aku sangat terkejut ketika melihat nama Cindy tertera di layar ponselku. aku langsung mengangkat telfonnya dan berbicara setenang mungkin.
" Halo sayang, akhirnya kau menelfonku juga"
" Dimana kau sembunyikan Richard?!"
" Apa maksudmu? aku tidak mengerti apa yang kau katakan"
" Sudahlah, berhentilah pura - pura tidak tahu. Aku tau kau yang menculik Richard! Katakan dimana dia berada?!"
" Aku tidak tau sayang. Lagipula aku tidak ada urusan dengan pria itu"
" Devon, aku tau kau berbohong dan sekarang katakan dimana kau menyembunyikan Richard sekarang juga!"
Terlintas dipikiranku untuk memanfaatkan moment ini untuk mendapatkan Cindy kembali ke sisiku
" Hmm, aku ingin tau seberapa penting b******n itu di hidupmu?!"
Cindy terdiam cukup lama sampai ia menjawab pertanyaanku
" Dia sangat penting dalam hidupku. Aku mohon jangan kau sakiti dia"
" Baiklah, aku akan melepaskannya tetapi ada syaratnya"
" Apa yang kau inginkan?!"
" Aku akan melepaskannya asal kau kembali bersamaku dan berjanji akan menjauhinya"
" Baiklah, aku mau menuruti persyatanmu asal kau melepaskan Richard"
" Oke sayang, aku akan melepaskannya asal kau kembali padaku dan menjauh darinya"
" Lepaskan dia sekarang!"
" Oke cantik, nanti malam temui aku di apartemenku jam 7 malam"
Sebelum Cindy menjawab, aku langsung mematikan ponselku. Lalu aku menyuruh anak buahku untuk melepaskan b******n itu dan membiarkannya pergi begitu saja. Rasanya aku tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih hatiku.
***
RICHARD POV
Aku tidak menyangka jika aku akan dilepaskan begitu saja. Rasanya semua badanku sangat sakit dan perih apalagi bekas pukulan yang dilakukan oleh anak buah pria itu. Tiba - tiba aku teringat janjiku dengan Cindy dan aku langsung menghubungi Cindy.
" Halo Cindy"
" Richard, darimana saja kau?"
" Maaf aku baru bisa menghubungimu sekarang. Ceritanya sangat panjang. Maaf aku tidak mengabarimu selama berhari - hari"
" Bagaimana keadaanmu?"
" Aaa..aku baik - baik saja"
" Apa kau yakin?"
" Tentu saja, kenapa kau sepertinya tidak yakin dengan jawabanku?"
" Aku hanya memastikan kau baik - baik saja"
" Kau tenang saja, aku baik - baik saja disini"
" Syukurlah kalau begitu"
" Bisakah besok kita bertemu?"
Cindy terdiam cukup lama sampai ia menjawab pertanyaanku
" Baiklah, besok malam temui aku di rumah. Maaf aku harus pergi"
Aku merasa heran dengan sikap Cindy yang tiba - tiba berubah terhadapku. Entah kenapa aku merasa jika Cindy saat ini sedang berada dalam masalah dan aku harus segera menemuinya.
***
CINDY POV
Aku terpaksa mendatangi apartemen Devon yang dulu pernah kutempati bersamanya saat kami masih berhubungan. Saat aku tiba disana, Devon menyambut kedatanganku dengan senyum khasnya yang dulu membuatku tergila - gila padanya.
" Apa kabar sayang? Sudah lama kita tidak berjumpa. Setiap malam aku selalu merindukanmu"
" Apa maumu sampai kau menyuruhku kesini?"
" Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu"
" Aku tidak sudi berhubungan dengan suami orang!"
" Oh ya? baiklah, aku akan menceraikan istriku dan kita bisa hidup bersama seperti dulu"
" Jangan bermimpi, aku tidak akan pernah kembali padamu!"
Aku pergi tanpa menghiraukan ancaman yang diberikan Devon padaku