CINDY POV
Hari ini orang tuaku datang ke Jakarta. Aku dan Richard menyambut kedatangan mereka. Mamaku terlihat sangat senang ketika melihat Richard
"Cindy, apakah dia kekasihmu?"
" Bu...bukan ma. Dia temanku"
Richard terlihat kecewa saat aku menganggapnya sebagai teman. Aku tahu cepat atau lambat aku harus menegaskan hubunganku dengannya karena aku tidak ingin dia terlalu berhara.
" Papa dan mama sangat senang kamu bisa menjemput kami di bandara. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
" Mohon maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut makan siang"
" Kenapa Richard?"
" Kebetulan saya ada urusan yang harus saya selesaikan"
" Baiklah kalau begitu. Jangan lupa mampir ke rumah ya"
Saat Richard hendak pergi, aku langsung mencegahnya dan mengajaknya untuk berbicara empat mata.
" Richard, tolong jangan pergi. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
" Maaf, aku harus segera pergi"
" Tolonglah, dengarkan penjelasanku. Aku minta maaf jika membuatmu tersinggung dengan perkataanku"
Richard terdiam mendengar penjelasanku dan tiba - tiba ia memelukku sangat erat.
" Aku tidak marah jika kau menganggapku sebagai temanmu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu"
" Terima kasih Richard. Aku tahu kau orang baik"
" Aku akan selalu menunggumu sampai hatimu bisa menerimaku"
Tiba - tiba aku mendengar suara kaki dan Richard berteriak kesakitan dan ia jatuh tersungkur ke bawah. Aku melihat banyak darah berceceran dan aku langsung memanggil bantuan untuk menyelamatkan Richard.
***
DEVON POV
Aku sangat senang melihat pria itu jatuh tersungkur ke tanah. Akhirnya rencanaku berhasil untuk melumpuhkan pria yang telah merebut Cindy dariku.
" Kerjamu sangat bagus. aku akan membayar mahal"
" Terima kasih bos."
" Fred, kau pantau pria itu dan pastikan dia mati!"
" Baik Bos"
" Kalau begitu antar aku ke kantor"
Rasanya hari ini aku sangat puas dan aku tidak sabar menanti kabar kematian pria itu.
***
CINDY POV
Aku dan orang tuaku langsung membawa Richard ke rumah sakit. Rasanya aku tidak bisa membayangkan jika aku kehilangan Richard
" Kau harus banyak berdoa agar Richard selamat"
" Iya ma, Cindy selalu mendoakan keselamatan untuk Richard"
Tidak beberapa lama kami tiba di rumah sakit dan Richard dibawa ke ruang operasi. Aku dan orang tuaku menunggu di luar. Hampir sekitar satu jam kami menunggu diluar dan tidak beberapa lama dokter keluar dari ruang operasi dan memberitahu jika Richard membutuhkan donor darah.
" Tuan Richard saat ini membutuhkan donor darah golongan A. Apakah ada di antara anda yang bisa mendonorkan darah?"
" Saya saja yang mendonorkan darah untuk Richard. Kebetulan golongan darah saya A"
" Baiklah kalau begitu ikut saya"
Setelah aku selesai mendonorkan darah, aku beristirahat sejenak, lalu aku menunggu di depan ruang operasi. Orang tuaku terlihat sangat khawatir memikirkan kondisi Richard
" Mama berharap semoga nyawa Richard terselamatkan"
Tidak beberapa lama kami mendapat kabar jika operasi Richard berjalan dengan lancar. Aku dan orang tuaku sangat bersyukur karena nyawa Richard terselamatkan.
" Bersyukur nyawa Tuan Richard bisa terselamatkan"
" Terima kasih dokter telah menyelamatkan teman saya"
" Kalau begitu saya permisi"
Aku dan orang tuaku melihat keadaan Richard yang sedang terbaring di ranjang. Rasanya aku tidak tega melihat Richard terbaring lemah.
" Sebaiknya kau beristirahat di rumah, biar papa dan mama yang menjaga Richard sampai ia siuman"
" Lebih baik papa dan mama pulang ke rumah. Biar Cindy saja yang menjaga Richard"
" Baiklah kalau begitu, mama dan papa pulang ke rumah. Jangan lupa kabari kami tentang kondisi Richard"
Setelah orang tuaku pulang, aku menjaga Richard dan selalu berada disisinya. Aku berharap Richard segera membaik
***
CINDY POV
Aku bersyukur karena Richard sudah siuman. Ia terlihat sangat pucat dan rasanya aku tidak tega melihatnya terbaring lemah seperti ini.
" Cindy, aku sekarang ada dimana?"
" Kau sudah dua hari terbaring di rumah sakit"
" Apa yang sebenarnya terjadi?"
" Ada seseorang yang menembakmu"
" Aaah, sakit sekali"
" Lebih baik kau istirahat."
" Kau mau kemana?"
" Aku ingin memanggil dokter"
" Cindy, tolong jangan pergi. Aku mau kau menemaniku disini"
" Baiklah, aku tidak akan pergi"
Tidak beberapa lama dokter dan perawat memeriksa keadaan Richard
" Syukurlah Tuan Richard siuman jadi anda dalam beberapa hari bisa pulang ke rumah"
" Terima kasih dokter"
" Kalau begitu saya permisi dulu"
Aku sangat senang karena beberapa hari lagi Richard diperbolehkan pulang ke rumah
***
DEVON POV
Aku sangat emosi saat mendengar pria itu masih hidup. Rasanya aku ingin menghancurkannya dengan tanganku sendiri.
" Maaf Tuan, kami mendapat kabar jika pria itu masih hidup"
" b******k kalian semua! Menghabisi satu pria itu saja kalian tidak becus!"
" Maafkan kami, Tuan."
" Maaf maaf katamu! Aku sudah membayar kalian dengan harga yang tidak murah! lebih baik kalian pergi dari sini! Aku muak melihat kalian!"
Saat mereka pergi, aku langsung membanting barang - barang di sekitarku dan rasanya aku sangat marah karena tidak berhasil membuat pria itu mati. meskipun begitu aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Cindy kembali ke sisiku.
***
RICHARD POV
Aku bersyukur karena Cindy yang menemaniku saat aku berada di rumah sakit. Hari ini aku diperbolehkan pulang oleh dokter untuk beristirahat.
" Terima kasih karena kau selama beberapa hari ini menemaniku di rumah sakit"
" Sama - sama Richard"
" Aku sangat lapar. Sebaiknya kita makan malam di luar saja"
" Terserah kau saja"
Aku mengajak Cindy makan malam di sebuah restoran ternama. Ia terlihat sangat senang saat aku mengajaknya ke restoran itu.
"Sepertinya kau senang sekali ku ajak kesini"
" Tentu saja, aku sangat senang kau mengajakku kesini"
" Sekarang kau pilih menu makanan yang kau suka"
" Baiklah, aku akan memilih menu makanan yang aku suka"
Setelah memilih makanan, kami melanjutkan obrolan. Tiba - tiba ada seorang pria menarikku dari belakang dan dia memukulku seketika sampai aku terjatuh ke lantai.
" Dasar b******k kau! Jauhi Cindy atau kalau tidak nyawamu jadi taruhannya!"
" Aku tidak takut dengan ancamanmu, b******k!"
Tidak beberapa lama, dua pihak keamanan membawa pria itu pergi dan Cindy menolongku untuk duduk di kursi.
" Apa kau baik - baik saja?"
" Aku tidak apa - apa. Kau jangan mengkhawatirkan aku"
" Sebaiknya kita pulang saja. Wajahmu terluka"
" Aku baik - baik saja. Sebaiknya kita tunggu pelayan membawa pesanan kita"
Tidak beberapa lama pelayan datang membawakan pesanan dan dia memberi obat untuk Richard.
" Ini saya bawakan obat untuk mengobati luka di wajah anda"
" Terima kasih"
" Kalau begitu saya permisi. jika anda membutuhkan bantuan, saya bersedia menolong anda"
Setelah pelayan itu pergi, Cindy berusaha mengobati luka di wajahku. Rasanya aku sangat bahagia bisa bersama dengan wanita yang kucintai.
" Terima kasih kau sudah mengobati wajahku"
" Sama - sama. Sebaiknya kita segera habiskan makanan kita dan setelah itu kita baru pulang"
Perhatian yang Cindy berikan padaku membuatku yakin untuk berjuang mendapatkan hatinya