“Persiapan pernikahan apa? Kenapa Jasmin harus bersiap menikah dengan Emir?” ujar sebuah suara emosi. Menjawab pertanyaan Bu Aishe melalui sambungan telepon.
“Kamu bicara apa Clarissa? Jangan bercanda seperti ini, nggak baik.” ucap Bu Aishe bingung pada wali Jasmin, calon istri Emir. “Jangan bercanda seperti ini saat Emir dan Jasmin menikah besok.” ucapnya tidak terima.
“Bu Aishe, saya tidak bercanda.” ucap Clarissa tegas. “Besok Jasmin dan Emir memang tidak jadi menikah. Mereka sendiri yang membatalkannya. Apa Emir tidak bicara dengan anda?”
“Emir tidak mengatakan apa-apa. I-ini tidak mungkin, kalian pasti hanya bercanda kan?” Bu Aishe berjalan mondar-mandir di ruang keluarga, hatinya seketika berubah gelisah dan gundah. “Emir dan Jasmin tidak mungkin tiba-tiba membatalkan pernikahan ini, mereka terlihat akur dan baik-baik saja.” ucap Bu Aishe. ”Sebentar-sebentar, ini tidak mungkin terjadi. Pasti ada kesalah pahaman antara kita.”
“Bu Aishe, tidak ada kesalahpahaman diantara kita. Yang bermasalah itu Jasmin dan Emir. Dan saya tidak habis pikir dengan sikap Emir, kenapa kemarin dia membatalkan pernikahannya dengan Jasmin hanya karena masalah sepele.”
“Masalah sepele? Apa itu? Kalau kamu tahu mereka kemarin bertengkar, kenapa tidak kamu tengahin? Kenapa kamu membiarkannya? Mereka masih muda Clarissa, cara berpikir mereka belum matang.”
“Memangnya saya bisa apa? Saya bukan siapa-siapanya Emir. Kalau dia bilang sudah tidak mencintai Jasmin, dan memutuskan pernikahannya, saya bisa apa? saya tidak bisa membujuknya, andalah yang harus membujuknya.”
“Baiklah-baiklah, aku akan mengurus Emir. Akan ku pastikan dia tidak membatalkan pernikahannya besok.”
“Maaf, tidak bisa Bu Aishe. Pernikahan mereka terlanjur batal. Dan kami semua disini sepakat tidak akan melakukan pernikahan ini besok.” Tut… Telpon tiba-tiba dimatikan oleh Clarissa.
"Clarissa? Clarissa? Kita belum selesai bicara, aku…." Bu Aishe menghentikan ucapannya, sadar jika ia bicara sendirian.
Bruk….
Tubuh Bu Aishe seketika lemas, terduduk tak berdaya di sofa. Pandangan matanya melayang kosong, menatap gontai luar rumah yang sudah berisi beberapa tumpukan kursi untuk pernikahan Emir yang akan dilakukan di rumah itu tiga hari setelah melakukan pernikahan di rumah Jasmin.
“Ada apa Ma? Kamu sakit?” Pak Ridwan yang baru saja datang, duduk di samping istrinya, memegangi bahunya yang bergetar menahan tangis.
Bu Aishe seketika memutar tubuhnya, duduk menghadap suaminya, ia lalu memeluk erat Pak Ridwan, menangis sesenggukan. “Mereka membatalkan pernikahan. Emir kita, Pa. Dia…, aku nggak tahu apa yang harus ku lakukan.”
Pak Ridwan menjauhkan tubuh istrinya darinya. Memandang bingung wajah istrinya yang berurai air mata. “Kamu ngomong apa sih, Ma? Ngomong yang jelas, aku bingung.”
“Aku…, barusan telpon Clarissa kakaknya si Jasmin. Kata dia…, Emir dan Jasmin…, nggak jadi nikah.” ujar Bu Aishe tersendat sendat di sela tangisnya.
“Apa?” Wajah Pak Ridwan seketika berubah merah padam. Amarah seolah siap meledak. “Keterlaluan sekali mereka, membatalkan pernikahan saat kurang satu hari. Mereka ingin mempermalukan kita di depan seluruh indonesia?”
“Bu-bukan seperti itu, Pa. Bukan mereka yang membatalkan pernikahan ini, Emir kita yang membatalkannya.”
“Emir? Anak bodoh itu membatalkan pernikahannya?” Mata Pak Ridwan terbuka lebar, Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia lalu berdiri, Bu Aishe cepat memeluk kembali tubuh suaminya saat pria itu hendak melangkah.
“Tenangkan hatimu dulu, Pa. Kita harus bicara baik-baik sama Emir. Aku nggak mau ada pertengkaran.” ucap Bu Aishe.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan baik-baik, Ma. Anak itu harus menjelaskan semua, kenapa dia tiba-tiba membatalkan pernikahannya. Aku harus menghukumnya.”
“Tidak, Pa. Jangan menghukumnya. Dia sudah dewasa. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, kita hanya perlu bicara baik-baik. Emir pasti punya alasan kenapa memutuskan Jasmin.”
“Tetap saja ini benar-benar keterlaluan, Ma. Tidak ada penjelasan manapun yang bisa di maklumi. Apapun alasan dia mutusin Jasmin semua salah. Aku malu, Ma, dia sudah menabur kotoran di wajahku.”
Sambil memeluk tubuh suaminya, Bu Aishe mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Aku tahu itu, Pa. Aku bisa memahami perasaanmu. Tapi tetap saja kita harus bicara baik-baik sama Emir. Jangan sampai karena kita marah-marah justru membuat masalah baru. Kamu tahu sifat Emirkan? Aku takut dia jadi sakit kalau kamu membentak dan memarahinya malah menambah beban masalahnya.”
Pak Ridwan pun terdiam, membenarkan ucapan istrinya. Ia lalu mengatur nafasnya, berusaha tenang dan menyingkirkan amarahnya, menggunakan akal sehat untuk menghadapi putranya. Ia akui Emir memang sedikit lemah, jantungnya yang dulu bermasalah, sedikit atau banyak mempengaruhi jasmani maupun rohani nya. Emir kecil dulu selalu berkeringat dingin lalu demam ketika sedang tertekan maupun takut. Untuk membujuk nya, menumbuhkan semangat hidup putranya, ia dan istrinya terpaksa menuruti apapun kemauan Emir. Efek buruknya, mau tak mau putranya jadi anak yang keras kepala, apa yang dia inginkan harus dituruti. Mudah sekali marah jika apa yang dia inginkan tidak dikabulkan. Namun ada sedikit perbaikan karakter putranya sejak pulang dari Turki. Ia mulai terlihat lebih dewasa, berani mengambil keputusan dan menanggung resikonya sendiri sejak tinggal dengan neneknya di Turki. Sepertinya menjauh dari orang tua membuat Emir semakin dewasa dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, ia dan istrinya mengabulkan permintaan Emir sewaktu dia memutuskan ingin membangun rumah sendiri dan tinggal di sana, selain karena agar Emir lebih dewasa, sebentar lagi dia akan menikah dan membutuhkan rumah baru.
Pak Ridwan lalu memegangi lengan istrinya, menggenggamnya lembut, “Ayo kita temui Emir.” ujarnya tenang. Bu Aishe tersenyum menyambut suaminya yang sudah bisa menguasai emosi. Mereka lalu segera ke rumah Emir.
***
Emir duduk menunduk di atas sofa rumahnya, bibirnya saling menggigit gugup, tak berani menatap wajah orang tuanya yang duduk di kursi di seberang meja, duduk saling bersebelahan menatap dirinya penuh tanya. Emir bisa menebak apa yang ada di dalam kepala mereka.
“Kudengar dari Clarissa. Kamu membatalkan pernikahanmu, benar?” tanya Bu Aishe lembut, mencairkan keteganagan antara anak dan bapak. Seolah itu hanya sebuah masalah kecil.
“Maafkan aku, Ma” jawab Emir, kepalanya menunduk semakin dalam.
“Kenapa Emir?” tanya Bu Aishe lagi.
“Aku kecewa, Ma. Jasmin ternyata…, sudah tidak perawan lagi.” jawab Emir lirih.
“Apa? Jasmin sudah tidak perawan?” Pak Ridwan bersuara, merasa salah dengan pendengarannya.
“Jangan asal menuduh, Emir. Belum tentu berita itu benar.” sangkal Bu Aishe tak setuju. Setahu dirinya Jasmin adalah gadis baik. Ia sangat menghargai dirinya sendiri hingga pria lain tidak boleh menyentuh dirinya sembarangan, termasuk juga Emir. Suatu kali, dirinya pernah mendengar Emir minta agar diizinkan mencium pipi Jasmin sekali saja, namun Jasmin bersikeras tidak mau, melarang Emir melakukannya. Bu Aishe pun sempat berpikir jika Jasmin jual mahal sekali pada calon suaminya sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti jalan pikiran wanita itu, bahwa ia hanya mau disentuh oleh suaminya sendiri, walau itu hanya sekedar pegangan tangan, apalagi mencium pipi, itu jelas tidak boleh. Namun akhirnya mata Bu Aishe melotot terkejut, Emir ternyata nakal juga, dia mencuri cium pipi Jasmin tanpa izin.
“Aku tidak asal menuduh, Ma. Ada saksinya, dia mendengar jelas Jasmin bicara dengan temannya, kalau dia sudah tidak perawan.” jelas Emir.
“Anak jaman sekarang benar-benar kelewatan ya pergaulannya. Hanya segelintir orang yang bisa menjaga harga dirinya.” Pak Ridwan geleng-geleng kepala keheranan. “Aku tidak menyangka, pergaulan Jasmin ternyata sangat bebas.”
“Mama nggak percaya sama kamu Emir. Pasti ada yang menghasut biar kamu putus sama Jasmin.” Bu Aishe tidak menerima penjelasan Emir yang tanpa bukti apapun.
“Awalnya aku juga pikir begitu. Aku dengar cerita ini dari salah satu teman Jasmin, saat itu ku pikir dia pasti punya maksud jelek kenapa mengatakan ini padaku, hingga akhirnya ide mengetes keperawanan Jasmin adalah jalan terbaik agar aku tidak dihantui rasa penasaran yang menggila.”
“Dan kamu beneran membawa Jasmin ke dokter?” tebak Bu Aishe. Dari sini saja Bu Aishe bisa merasakan perasaan Jasmin. Dia pasti sakit hati.
“Dokter bahkan belum sempat mengetesnya tapi Jasmin sudah mengakuinya duluan kalau dia sudah tidak perawan, dia takut dokter memeriksanya.” terang Emir. “Aku…, tidak percaya waktu Jasmin bilang, kalau dia adalah korban, dia dikerjai temannya, diberi minuman alkohol dan obat perangsang hingga seserang memerkosanya. “
“Apa? Ini artinya Jasmin pernah minum Alkohol kan? Itu tidak baik Emir. Wanita tidak boleh seperti itu.” ucap Pak Ridwan.
“Jangan gitu, Pa. Jasmin katanya korban, itu artinya dia tidak sengaja kan? Ada yang memanfaatkannya.” sahut Bu Aishe.
“Tapi tetap saja, Ma. Aku tidak setuju dengan Jasmin, harusnya sebagai wanita dia bisa jaga diri, jangan sembarangan cari teman.” Pak Ridwan tidak setuju dengan pendapat istrinya. “Kamu masih perjaka kan, Mir?” Tanya Pak Ridwan pada putranya. Jangan sampai ia menjelekkan orang lain, sedangkan putranya sendiri sama tidak benarnya.
“Aku masih perjaka, Pa. Aku masih suci dan menjaga imanku.” ucap Emir.
“Sudahlah, jangan membesar-besarkan masalah ini. Bagaimanapun, Jasmin tetaplah korban. Dia nggak bersalah Emir, harusnya kamu nggak mutusin dia gitu aja. Ayo cepat minta maaf, dan katakan padanya, besok kalian tetap akan menikah.”
“Maaf, Ma. Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan.” Emir menggeleng.
“Apa?” Wajah Bu Aishe pucat. “Apa maksud kamu, Nak? Sekarang belum terlambat. Masih ada waktu untuk kalian berbaikan. ingat Emir, pernikahan itu bukan main-main. Saat kamu sudah memutuskan setuju untuk menikah, tidak hanya ada satu keluarga yang akan terikat tapi ada dua keluarga besar yang akan terikat. Semua sudah berproses menyatu. Kalau kamu membatalkan pernikahan ini, tidak hanya sanak keluarga yang menganggap keluarga kita gagal mengurus anak, akan ada rekan bisnis papa dan kolega-koleganya yang memandang papa mu sebelah mata. Kamu mau mencoreng nama Papa mu di depan orang banyak?”
“Maaf, Ma.” wajah Emir merunduk, semakin merasa bersalah. Suaranya pelan menahan emosi yang bergejolak di dadanya. “Aku tetap tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
Bu Aishe mendekat, duduk di samping putranya. Jemarinya lalu menggenggam kedua tangan Emir yang sejak tadi saling meremas. “Dengar Emir, ini belum terlambat, Sayang. Bicaralah baik-baik dengan Jasmin. Mama tahu kalian saling mencintai, Jasmin pasti bisa mengerti dan memaafkanmu.” ujar Bu Aishe sungguh-sungguh.
Emir menggeleng. Enggan menatap wajah ibunya. Lebih memilih melihat tangannya sendiri yang sedang di genggam ibunya. “Kami sudah tidak bisa bersatu lagi. Begitu aku memutuskan Jasmin, Dosen di kampus yang sudah lama mengejar Jasmin langsung mengajukan diri menjadi penggantiku.”
“Hah? Sudah ada dosen yang menggantikanmu? Kenapa bisa begitu? Apa dia hantu? Kenapa langsung tahu kamu memutuskan Jasmin?” Jadi ini sebabnya Clarissa sama sekali tidak merasa keberatan ketika Jasmin tidak jadi menikah dengan Emir? Rupanya mereka sudah punya pengganti Emir. Segampang itu kah Jasmin melupakan putranya?
“Aku tidak tahu kalau rumah sakit itu milik dosen sementara itu, sebenarnya dia bukan dosen tapi dokter, mengajar sementara untuk menggantikan adiknya yang sedang cuti. Dan karena kebisingan yang kubuat dengan Jasmin. Dosen itu muncul. Dan begitu ia tahu aku memutuskan jasmin. Dia langsung mengajukan dirinya pada Clarissa, ia siap menggantikan posisi ku. Aku tahu, sejak awal kemunculan dosen itu, dia sudah mengincar Jasmin. Aku kalah, Ma.” Emir menangis dalam diam, bahunya yang bergetar hebat jadi petunjuk bahwa ia pun sedang merasa sakit. Menyesal telah memutuskan calon istrinya hanya karena emosi.
“Kamu menyesal, Sayang?” Tanya Bu Aishe, Emir pun mengangguk, bahu nya semakin kuat bergetar, menahan tangis yang kian menyesakkan d**a. Bu Aishe lalu memeluk bahu Emir. “Lain kali, pikirkan matang-matang sebelum bertindak, Sayang.”
“Maaf. Aku mengecewakanmu, Ma. Pernikahan ini batal karena kebodohanku. Aku sendiri yang akan meminta maaf pada keluarga dan seluruh tamu yang sudah Mama beri undangan, kalau mereka tidak perlu datang ke pernikahanku.”
“Tidak, Emir. Jangan katakan apapun pada mereka. Aku tidak akan membiarkanmu mencoreng nama baik ku, aku tidak mau tahu kamu harus tetap menikah.”
“Aku sudah bilang kan, Pa. Aku dan Jasmin tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
“Kamu tetap harus menikah, tapi bukan dengan Jasmin.” ucap Pak Ridwan tegas.
“Jangan aneh-aneh kamu, Pa. Memangnya Emir nikah sama siapa?” sela Bu Aishe, tidak bisa menebak isi pikiran suaminya.
“Tidak hanya Jasmin yang jadi korban pria tak bertanggung jawab ini. Rindu juga korban. Iya kan, Mir?”
Tubuh Emir seketika membatu di tempatnya. Sepertinya ia akan mendengar sesuatu yang sangat tidak ingin dia dengar. Berita terburuk dalam hidupnya.
“Papa tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan Rindu. Gadis itu menangis sepanjang hari di rumahnya karena kamu sudah memeluknya semalaman. Mungkin bagi kamu pelukan itu tidak ada artinya, tapi bagi wanita seperti dia, dia pasti merasa kamu mengambil sesuatu dari hidupnya. Kamu harus tanggung jawab Emir, nikahi dia, jadikan dia sebagai ganti Jasmin.”
Jleger….
Petir besar terasa menyambar kepala Emir. Berita itu benar-benar yang tidak ingin ia dengar sama sekali, Pernikahan yang awalnya akan bermuara pada kebahagiaan impiannya, kini berubah menjadi mimpi terburuk dalam hidupnya. Dan ia tahu, ayahnya tidak akan menerima kata tidak darinya.
Bersambung….